NONTON BARENG SEPAKBOLA KORSEL Vs INDONESIA DIATAS BIS

BERBEDA seperti hari-hari biasanya, sepulang dari kantor hari Rabu (18/7), saya begitu memendam harapan dapat bertemu dan akhirnya ikut dengan “shuttle bus” Nomor 121 A jurusan Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Dari tiga alternatif angkutan umum dengan rute Blok M menuju ke rumah saya di kawasan Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka, hanya bis ini saja yang menyediakan fasilitas Televisi untuk ditonton oleh para penumpangnya. Meski untuk itu, kompensasinya adalah tarifnya relatif lebih mahal dari dua bis angkutan alternatif lainnya. Kebanyakan para penumpang bis ini adalah pekerja komuter yang bekerja di Jakarta namun berdomisili di Cikarang.Harapan saya terkabul. Tepat Pukul 17.35, bis 121 A melintas tepat didepan halte bis yang berada didepan Wisma Mulia Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dimana saya telah menunggu kurang lebih sepuluh menit lamanya. Ketika naik dan duduk dikursi penumpang di baris kelima dari depan, saya sudah merasakan aura histeria yang demikian besar dari kurang lebih 30 orang penumpang menyaksikan tayangan siaran langsung laga sepakbola babak Penyisihan Group D Piala Asia antara Indonesia melawan Korea Selatan. Semua mata tertuju pada Televisi 14 inchi yang dipasang diposisi tengah depan tepat diatas bahu kiri sang supir.

Saya bersyukur, pertandingan itu ternyata baru saja dimulai. “Ini partai hidup mati. Indonesia mesti menang dalam pertandingan ini jika ingin lolos ke babak berikutnya,” gumam seorang lelaki separuh baya yang duduk disamping saya dengan mata tak lepas kearah TV yang kualitas gambarnya sangat jelek dan bergoyang-goyang karena penangkapan sinyal gambar yang pas-pasan dari antene TV darurat di bis tersebut.

Saya manggut-manggut mengiyakan. Bambang Pamungkas dkk yang tergabung dalam Timnas Sepakbola Indonesia memang mesti bekerja ekstra keras memenangkan pertandingan ini terlebih disaksikan oleh kurang lebih seratus ribu penonton pendukungnya di Stadiun Utama Senayan serta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan istri. Dapat dipastikan pertandingan ini akan berjalan seru dan ngotot karena partai ini sangat menentukan apakah kedua tim ini bisa lolos ke babak selanjutnya atau tidak.

Sebenarnya, ini adalah kali kedua saya menikmati acara “nonton bareng tak sengaja” pertandingan sepak bola Piala Asia diatas shuttle bis Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Pada Hari Selasa sore (10/7) saya menjadi peserta nonton bareng laga sepakbola diatas bis antara Indonesia melawan Bahrain. Ada kejadian lucu yang sempat terjadi.

Ketika itu seorang ibu, penggemar rutin acara Infotainment di salah satu TV swasta bersikeras agar acara kegemarannya yang ditayangkan dalam kesempatan tersebut. Sang kondektur bis kebingungan memilih saluran TV terlebih ada desakan sebagian besar penumpang meminta justru tayangan sepakbola yang ditampilkan. Namun sang ibu yang kebetulan duduk tepat dibelakang supir tampaknya lebih mendominasi dan bersikeras agar pilihannya yang ditayangkan.

Seorang bapak yang kira-kira umurnya hampir sama dengan ibu itu maju kedepan dan tampil sebagai “pahlawan” bagi kami semua, para penggila bola. “Bu, Ibu..Plis ya..kalau mau nonton gossip selebriti bisa kapan-kapan dan masih ada tayangan ulangnya. Kalau nonton bola Piala Asia apalagi kalau diadakan di Indonesia itu jarang-jarang lho, bu. Jadi tolong ibu mengalah sedikit, apalagi sekarang Tim Indonesia yang main. Kita semua sebagai sesama bangsa mesti mendukung tim sepakbola kita sendiri,” ujar sang Bapak tadi ke Ibu penggemar Infotainment dengan suara pelan berusaha membujuk si Ibu yang ketika itu melipat tangannya didada dan menoleh angkuh kea rah luar jendela bis.

Saya tertawa geli menyaksikan “aksi teatrikal” itu. Dari arah belakang terdengar teriakan kencang,”Ayoo,,Pak ganti aja!.Pertandingannya udah mulai dari tadi!”. Sang Bapak kemudian meraih remote control ditangan si kondektur yang masih terlihat bingung lalu merubah saluran TV ke pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Bahrain. Spontan khalayak pemirsa pecandu bola di bis itu, termasuk saya tentu saja, bertepuk riang. Sang ibu dengan wajah bersungut-sungut akhirnya pasrah –meski tak rela—menonton tayangan sepakbola yang berakhir dengan kemenangan Indonesia 2-1 atas Bahrain.

Kini momen itu terulang kembali. Meski sampai tak ada insiden dramatis seperti sebelumnya, saya merasakan gejolak “heboh”melanda seisi bis. Di menit 38, saat Elie Aiboy, striker Indonesia asal Papua “menusuk” jantung pertahanan Korea Selatan, kami semua menahan napas. “Elie .ayooo..bikin Gol!,” teriak seorang penonton dibelakang saya. Ia ternyata sudah berdiri diatas bangku bis sembari mengacungkan tinju ke udara. Kami tegang. Dan ketika Elie gagal “mengeksekusi” padahal ia memiliki jarak tembak dan peluang yang cukup memadai, spontan helaan nafas kecewa dari para penonton terdengar. “Wah, sayang banget ya Mas. Coba saja Elie bisa lebih tenang dengan mengocek bola lebih dulu didepan gawang seperti waktu melawan Arab Saudi tempo hari, mungkin dia bisa bikin gol,” komentar lelaki yang duduk disamping saya. Kembali saya manggut-manggut setuju dengan mata tak lepas dari layar TV. Bis kami melaju pelan disela-sela kemacetan di tol Pancoran.

Dari semua penumpang di bis memang tidak semua secara serius dan antusias menyaksikan pertandingan sepakbola di TV. Seorang gadis berjilbab yang duduk di baris ketiga dari depan dengan tenang membaca bukunya. Sama sekali tidak terganggu oleh hiruk pikuk supporter Indonesia dadakan didalam bis. Tak jauh dari gadis itu duduk seorang lelaki muda malah lelap tertidur dibawah hembusan AC dan tidak menggubris kehebohan yang terjadi selama acara “nonton bareng” dadakan itu.

Serangan Timnas Korea Selatan dikubu pertahanan Indonesia begitu gencar. Namun berkat kelihaian kiper Markus Horison yang menggantikan Yandry Pitoy, peluang gol dari timnas negeri ginseng sekaligus semifinalis Piala Dunia 2002 itu dapat ditepis. Seorang penonton di baris kedua depan berteriak kencang setiap kali kiper yang memperkuat PSMS Medan itu ber-“jibaku” menghadang serangan Korsel. “Bagus Markus!,” begitu serunya.

Akhirnya gempuran intens Korsel memberikan hasil. Bola datar pendek yang disodorkan Lee Chun Soo dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kim Jung Woo. Tendangan keras pemain bernomor punggung 17 itu kemudian menggetarkan jala gawang Markus Horison. 1-0 untuk Korea Selatan!.

Seketika kami semua terdiam. Hening. Hanya deru suara bis melaju kencang melewati kawasan Cawang mendekati Jatiwaringin. Tidak ada sorakan atau teriakan spontan. Kami seperti merasakan duka dan kepahitan yang dialami Timnas Indonesia yang dilatih dibawah asuhan pelatih Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria itu.

Semangat kami bangkit lagi saat sang Striker Elie membuka kembali peluang gol dibabak pertama. Ia melakukan penetrasi dari sudut kiri kotak penalty Korsel. Kawalan bek lawan berhasil dilewatinya. Kembali kami tegang dan menahan nafas. Saya mendengar penonton dibelakang saya menggeram gregetan. “Eliee…ayooo,” suaranya lirih, lebih mirip rintihan memelas seorang kekasih yang tak ingin ditinggal pergi sang pacar. Saya menggigit bibir. Ini kesempatan besar untuk membuat imbang posisi. Sayang sekali, umpan silang datar pemain asal Papua ini tak ada yang menyambut. Kami kembali mendesah kecewa.

Korsel makin rajin menggempur pertahanan Indonesia. Nampak jelas, kualitas permainan tim yang dilatih oleh Peter Verbeek itu masih diatas timnas kita. Meskipun begitu, saya mengaku salut atas kegigihan Timnas Indonesia yang bertahan mati-matian dan juga seringkali melakukan serangan mendadak ke jantung pertahanan Korsel walau akhirnya gagal.

Saat babak kedua memasuki menit ke 65, bis yang saya tumpangi dan menjadi ajang nonton bareng dadakan itu akhirnya sampai ke tujuan akhirnya, Perumahan Cikarang Baru. Sebuah perjalanan mengesankan nonton bareng diatas bis selama kurang lebih satu setengah jam. Saya melanjutkan menonton tayangan seru itu dirumah, setelah lebih dulu melakukan kompromi mesra dengan istri tercinta yang ketika itu sedang menonton tayangan sinetron kegemarannya.

Update (20/7):

Tulisan ini juga dimuat di situs Jurnalisme Orang Biasa, Panyingkul. Bisa dibaca disini. Thanks untuk Panyingkul!

 

Related Posts
ABFI 2013 SOLO (2) : REFLEKSI WAJAH BUDAYA ASIA TENGGARA UNTUK KEBERSAMAAN MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015
ajah-wajah penuh antusias dari para blogger terlihat pada Hari Jum'at pagi (10/5) di Ruang Tirtasari Hotel Kusuma Sahid Prince Hotel Solo tempat pelaksanaan seminar ASEAN Blogger Festival 2013. Meski pulang ...
Posting Terkait
PUISI : SEMESTINYA, ENGKAULAH SEMESTAKU
Semburat cahaya senja merah jingga menerpa sendu wajahmu ketika jemari lentikmu lemah menuding langit Pada sebuah titik yang engkau namakan "ujung penantian" dan tak pernah bisa kumaknai secara jelas apakah itu akan menjadi akhir ...
Posting Terkait
SELAMAT MENGORBIT SARONDE, KOMUNITAS BLOGGER GORONTALO
emuanya diawali oleh Semangat. Dengan "S" kapital yang menandai lahirnya komunitas blogger baru berbasis daerah ini. Sebuah pertemuan di akhir Mei bersama Agus Lahinta dan Suwito Pomalinggo ketika saya ke Makassar ...
Posting Terkait
MENUJU BLOGLICIOUS 2011 BERSAMA IDBLOGNETWORK
Kopdar atau kopi darat yang dilaksanakan oleh Idblognetwork (IBN) bersama sejumlah blogger di Jakarta kemarin sore (hingga malam) pada hari terakhir bulan Maret 2011 sungguh mengesankan. Hadir lebih cepat di ...
Posting Terkait
CINTA YANG MENUMBUHKAN, CINTA YANG MEMBERDAYAKAN
aya selalu terpukau pada kemampuan ayah merawat tanaman. Pada saat pulang ke Makassar November tahun lalu, saya kaget melihat bibit bunga Anthurium yang beliau bawa saat menengok kami sekeluarga di Cikarang ...
Posting Terkait
NAPAK TILAS KE JEJAK-JEJAK MASA REMAJA DI MASA LALU
enangan masa remaja akan selalu melekat di hati hingga kapanpun juga. Dan ketika kesempatan untuk "melintasi" kembali nostalgia itu dari masa kini, datang, maka tentu peluang itu tak akan disia-siakan. Termasuk ...
Posting Terkait
DARI PESTA BLOGGER 2008 KE ACARA DI MAKASSAR (4)
Spanduk besar acara Blog:Field of Money yang diselenggarakan Komunitas Blogger Anging Mammiri pada Hari Minggu (23/11) bertempat di SPM MTC Karebosi (foto by Syaifullah "Daeng Gassing") Malam makin tua. Saya menyesap ...
Posting Terkait
PROGRAM CSR PT.CSI DIMULAI DENGAN PELETAKAN BATU PERTAMA RUANG KELAS SDN KARANGBARU 06 CIKARANG UTARA
endung menggelayut di langit Cikarang ketika saya bersama rombongan PT Cameron Service International (CSI) tiba di SDN Karang Baru 06, Cikarang, Kamis pagi (6/12). Dalam hati sempat terbersit rasa khawatir ...
Posting Terkait
CIUMAN TERAKHIR DI HARI TERAKHIR
If tomorrow never comes Will she know how much I loved her Did I try in every way to show her every day That she's my only one And if my time on earth ...
Posting Terkait
SUKSES BISNIS ONLINE DENGAN MENGGUNAKAN WEBSITE
  Sumber foto emasuki tahun 2018, bisnis online semakin banyak peminatnya, baik dari sisi konsumen maupun penjual. Banyak konsumen yang memilih berbelanja online karena bisa menemukan harga yang lebih murah dibanding belanja ...
Posting Terkait
ABFI 2013 SOLO (2) : REFLEKSI WAJAH BUDAYA
PUISI : SEMESTINYA, ENGKAULAH SEMESTAKU
SELAMAT MENGORBIT SARONDE, KOMUNITAS BLOGGER GORONTALO
MENUJU BLOGLICIOUS 2011 BERSAMA IDBLOGNETWORK
CINTA YANG MENUMBUHKAN, CINTA YANG MEMBERDAYAKAN
NAPAK TILAS KE JEJAK-JEJAK MASA REMAJA DI MASA
DARI PESTA BLOGGER 2008 KE ACARA DI MAKASSAR
PROGRAM CSR PT.CSI DIMULAI DENGAN PELETAKAN BATU PERTAMA
CIUMAN TERAKHIR DI HARI TERAKHIR
SUKSES BISNIS ONLINE DENGAN MENGGUNAKAN WEBSITE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *