KETIKA POTENSI ITU “MENETAS” DI “IDENTITAS”

katasambutandlmhut-identitas-resize.jpg

 

Saya menyampaikan kata Sambutan sebagai Redaktur Pelaksana “identitas” pada acara ramah tamah HUT Identitas ke 18 di kediaman Rektor UNHAS Prof.DR.Basri Hasanuddin, 16 Januari 1992

 

TAK pernah sekalipun terlintas dalam benak saya sebelumnya dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah penuh dinamika Penerbitan Kampus tertua di Indonesia Timur “Identitas” Universitas Hasanuddin. Ketika masuk menjadi mahasiswa baru Fakultas Teknik UNHAS tahun 1989, saya berkenalan pertama kali dan langsung “melahap” seluruh isi Penerbitan Kampus yang berdiri tanggal 16 Desember 1974 ini dari sebuah lembaran bekas alas duduk seseorang yang tak saya kenal di koridor Fakultas Teknik.

Surat Kabar Kampus yang memang dibagikan gratis ke seluruh Civitas Academica UNHAS ini tergeletak dalam kondisi kumal. Itu karena nasibnya begitu malang : setelah dibaca, justru menjadi alas duduk.Setelah membaca seluruh isinya, dalam hati, saya seketika mengidap “kegeraman” pada orang yang sudah begitu tega menduduki sekaligus menyia-nyiakan begitu saja Koran kampus yang berisi tulisan-tulisan bagus dan berbobot itu. Perlahan, saya melipat Koran itu lebih rapi dan memasukkannya ke tas ransel saya. “Walaupun Koran ini dibagikan secara gratis, tetap mesti dihargai secara proporsional dong, masa’ cuma jadi alas duduk?” gerutu saya kesal. Tapi dalam hati saja

Sepanjang perjalanan pulang dari Kampus Tamalanrea menuju rumah saya di Maros, diatas pete-pete, saya berulang kali membaca lembar demi lembar Surat Kabar Kampus “Identitas” dengan rasa takjub dan antusias. Saya terkesima pada kolom “GONG”-nya Daeng Nyonri (nama pena dari Kak Moch.Hasymi Ibrahim) yang begitu “mencubit” sekaligus mengelus hati atau Cerpennya Kak Ryana Mustamin dan Asmara Dira (nama pena Kak Asmadi) yang memikat atau esei yang ditulis oleh Kak Judy Raharjo yang tajam dan mencerahkan.

Sesampai dirumah, saya tercenung lama memandangi Koran kampus “Identitas” yang kian lecek lantaran terlalu sering saya dibolak-balik itu. Terbersit keinginan untuk menjadi penulis atau jika memang dimungkinkan menjadi jajaran redaksi “Identitas”.

Sebenarnya “rekam jejak” saya sebagai calon penulis tidak jelek-jelek amat .

Waktu saya masih duduk di kelas 6 SD Negeri 1 Maros, saya sering membuat komik cerita silat dari kertas bekas yang terinspirasi dari bacaan komik-komik saya karya Ganes TH dan RA.Kosasih serta serial silat Kho Ping Khoo yang biasa saya pinjam dari penyewaan buku komik didekat rumah. Terkadang, agar bisa menyewa buku komik dan serial silat, uang jajan yang diberikan ayah dan ibu saya sebelum berangkat sekolah tidak saya pakai membeli makanan namun saya simpan dan dipergunakan untuk menyewa buku. Tak ayal hanya dalam jangka waktu sebulan saja, koleksi buku-buku ditempat penyewaan itu sudah saya “lahap” habis semuanya.

ultahidentitasbersamapakbasri-resize.jpg

 

Berpose bersama Rektor UNHAS Prof.DR.Basri Hasanuddin, disela-sela acara ramah tamah HUT Identitas ke 18, 16 Januari 1992

 

Pembaca komik amatiran itu terbatas pada orang tua saya dan keluarga terdekat. Oleh paman saya, Miki Igirisa, saya sering dibawakan kertas kosong yang sudah “dibuat” seperti bentuk buku untuk dijadikan media saya mencorat-coret komik hasil imajinasi saya sendiri. Ketika menjadi Ketua OSIS di SMA Neg.1 Maros (1987-1988), saya sudah merintis pembuatan bulletin sekolah stensilan. Saya dan seorang kawan saya, Kurniawan, menjadi anggota redaksi, tukang ketik sekaligus loper bulletin itu. Bulletin setebal 2 halaman folio bolak-balik itu di-stensil di bagian tata usaha sekolah dan diedarkan sebanyak 100 exemplar saja setiap bulan. Terkadang, jika sang petugas stensil letih, saya mengambil alih tugasnya “menggoyang” engkol stensil hingga lengan saya pegal.Tapi saya dan Kurniawan cukup puas. Bulletin sekolah yang kami edarkan mendapatkan atensi yang cukup baik dari siswa (dan terutama siswi) SMA Negeri 1 Maros ketika itu. Kehadiran bulletin, yang sayangnya hanya hadir selama masa jabatan saya sebagai Ketua OSIS itu senantiasa ditunggu apalagi kami selalu menghadirkan topik penulisan yang beda dan beragam.

Keinginan saya untuk bergabung di “Identitas” semakin menggebu. Ini ditunjukkan dengan sikap antusias saya menunggu penerbitan tabloid itu tiap dua minggu sekali. Saya menanti pembagian Koran kampus tersebut tiap kali jadwal terbitnya, tepat didepan meja khusus pembagian yang terletak dilantai satu perpustakaan UNHAS. Jadi saya senantiasa tidak melewatkan untuk memperoleh “identitas” edisi terbaru.

Saya juga mulai diam-diam tergoda untuk “mengintip” ruang redaksi Koran kampus“Identitas” UNHAS yang ketika itu juga berada di lantai pertama dibawah perpustakaan universitas, saat mengambil “identitas” edisi terbaru.

Saya kemudian memberanikan diri membuat karya perdana saya berupa cerpen yang berjudul “Mahasiswa dan Konglomerat”. Cerpen ini saya buat dengan penuh kehatian-hatian. Hampir sepuluh kali revisi untuk memperoleh hasil yang saya anggap paling sempurna.

Dengan langkah sedikit gemetar saya memasuki tempat dimana jajaran redaksi “Identitas” selalu berkumpul itu. Sebagai Mahasiswa yang baru memasuki tahun kedua, saya masih canggung dan kurang percaya diri untuk berhadapan dengan senior-senior ‘Identitas” apalagi beberapa diantaranya seperti Kak Ryana Mustamin dan Kak Hasymi Ibrahim adalah sosok penulis idola saya.

Tak disangka-sangka, saya disambut hangat oleh seorang pria murah senyum yang belakangan saya tahu dia adalah Kak Syahrir “Riri” Rasyid (kini redaktur senior Koran Seputar Indonesia) yang ketika itu menjabat sebagai redaktur pelaksana “Identitas”. Dengan agak gugup saya mengutarakan maksud saya kesana yaitu selain menyetor tulisan juga menyatakan minat untuk bergabung sebagai jajaran redaksi penerbitan kampus itu.

Tanpa saya duga sama sekali, Kak Riri menyambut baik permintaan saya. “Kamu sering-sering aja kesini, nanti kita berikan penugasan untuk meliput dan menulis berita,” kata Kak Riri ramah. “Tidak usah mi malu-malu bertanya kalau ada yang tidak dimengerti. Nanti kita bantu,” timpal seorang anggota redaksi lain, seorang perempuan muda berkacamata, yang kemudian saya tahu dia adalah Kak Ryana Mustamin, penulis cerpen idola saya. Kegembiraan saya kian lengkap karena cerpen perdana saya dimuat di “Identitas” edisi 25 Oktober 1990.

Saya semakin bersemangat. Ternyata “Identitas” tidak se-“seram” dalam bayangan saya sebelumnya dengan jajaran redaksi bertampang sangar, kejam dan siap “menerkam” para reporternya yang tidak menepati deadline. Menuruti nasehat Kak Riri, sayapun sering nongkrong di sekretariat “Identitas” yang saat itu masih “nebeng” di kantor Humas UNHAS. Saya menunaikan tugas-tugas peliputan ,mewawancarai narasumber dan menulis berita/tulisan. Saya juga tidak malu-malu untuk bertanya kepada sejumlah senior agar kualitas tulisan yang saya hasilkan terus meningkat.

Di “identitas”pun, saya mulai berkenalan dengan kawan-kawan reporter lain seperti Lily Yulianti, Sukriansyah.S.Latief, Farid Ma’ruf Ibrahim, Nasrullah Nara, Anil Hukma, Nasru Alam Aziz, Nasrun A Samaun, Sudirman Odding, Fajar S Jongong, Erni Kusumawaty, Andi Ajramurni, Mukhlis Amans Hady, dan lain-lain. Beberapa diantara nama-nama diatas saat ini, telah dan pernah menjadi wartawan kawakan di media lokal dan nasional.

Perlahan tapi pasti, saya mulai mendeteksi dan menemukenali potensi yang saya miliki : sebagai penulis. Di “identitas”lah potensi itu “menetas”. Dalam kurun waktu 1992-1994 tulisan-tulisan saya seperti Cerpen dan artikel sering dimuat dimedia massa seperti Harian FAJAR, Harian Pedoman Rakyat, Harian Suara Pembaruan, Harian Republika, Majalah FEMINA, dll. Hampir tiap bulan, pasti ada tulisan saya “nongol” baik dimedia lokal maupun nasional. Kompensasi honor yang saya dapatkan cukup lumayan bahkan selama dua semester berturut-turut saya pernah membayar SPP (Rp 120,000/semester) dari kantung sendiri dan tidak meminta kepada ayah saya. Uang pete-pete Tamalanrea-Maros pulang pergi juga saya bisa dapatkan dari honor penulisan di “Identitas”.

kumpul-kumpulidentitasdirumahku.jpg

kumpul2-dirumahamril-1-resize.jpg

Acara kumpul-kumpul redaksi “Identitas” di rumah saya, tahun 1993

Rasa kekeluargaan yang kental terjalin selama saya berinteraksi dengan teman-teman di “Identitas”. Tak ada sekat-sekat antar fakultas. Kami semua berbaur dalam kebersamaan layaknya sesama saudara senasib. Ketika perkelahian massal dan konflik antar fakultas meletus, kami justru semakin mempererat jalinan persaudaraan kami. Saling mendukung dan saling menguatkan.

Salah satu “ritual” paling seru adalah ketika kami melakukan lay-out pra terbit di Percetakan SULAWESI Jl.A.Mappanyukki. Tidak seperti tataletak koran sekarang yang sudah “full-computerized”, pada sekitar tahun 1991-1995, penataan letak “Identitas”masih sangat “tradisional”. Yaitu menempelkan lajur-lajur tulisan diatas “dummy” layout Koran. Tentu saja ini butuh keahlian khusus. Yang menjadi spesialis dibidang ini adalah Nasru Alam Aziz sementara saya serta teman-teman lain kebagian tugas sebagai tukang gunting sekaligus “supporter”.

Tak jarang sempat terjadi perdebatan sengit tatkala sang peñata letak memutuskan memangkas tulisan karena ruangan tidak cukup. Biasanya tercapai kata kompromi ketika sang layouter dengan bijak mempersilakan sang penulis untuk mengedit tulisannya sendiri dan disesuaikan dengan ruangan yang tersedia. Apa boleh buat, demi kepentingan bersama, saya dan kawan-kawan lain terpaksa dengan pasrah melakukan “penyunatan” tulisan asal tidak mengubah esensinya.Meski kerap logika antar paragraf sering “tidak nyambung” satu sama lain karena ada bagian yang hilang. Tapi disitulah letak romantikanya. Usai melay-out “Identitas” yang biasanya berlangsung hingga usai sholat Maghrib, kami beramai-ramai nongkrong bersama sambil makan pisang epe’ di pinggiran pantai Losari yang tak jauh dari lokasi percetakan

Kenangan berkesan lainnya adalah ketika kami melay-out “Identitas” edisi Pengumuman UMPTN. Berbeda dengan biasanya, Koran “Identitas” edisi khusus ini tidak diedarkan secara gratis. Mengingat tingkat kerahasiaannya, hanya beberapa orang tertentu saja yang dibolehkan mengikuti proses tataletaknya. Namun demikian, kami, redaksi “identitas” diberikan jatah khusus untuk mengedarkan Koran tersebut dijalan (tentu dengan harga khusus pula).

Tatkala koran “Identitas” edisi Pengumuman UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) selesai dicetak kami sudah siap-siap berkumpul menunggu jatah. Dapat dipastikan Koran ‘Identitas” ini punya potensi bisa lekas terjual dan diserap pasar karena satu-satunya koran kampus yang menayangkan pengumuman UMPTN. Suasana riuh rendah terjadi saat pembagian jatah redaksi itu. Kamipun, jajaran redaksi “identitas” mendadak menjelma menjadi loper Koran dadakan, mengedarkan “identitas” dijalan-jalan. Alhasil, penjualan amatiran yang kami lakukan di jalan-jalan (biasanya usai Maghrib) berlangsung dengan sukses. Biasanya ini berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Saya tiba di rumah saya di Maros menjelang tengah malam dan sudah menenteng oleh-oleh Martabak Telor dan kue “Terang Bulan” buat orang tua dan adik-adik saya.

Beberapa kali saya sempat mengundang kawan-kawan redaksi “identitas” datang kerumah saya di Maros (yang berjarak kurang lebih 30 km dari Makassar). Kebetulan pula, salah satu anggota redaksi “Identitas”, Anil Hukma tinggal di Maros. Jadi kami sekalian kumpul-kumpul baik dirumah saya maupun dirumah Anil. Selain acara makan-makan, kami menggunakan kesempatan itu untuk bersendau gurau dan menjalin keakraban satu sama lain, sekedar “refreshing” dari aktivitas redaksional di “identitas”. Dua tahun silam, saya bertemu dengan kawan saya sesama redaksi “Identitas”, Mukhlis Amans Hady di Jakarta. Saya sangat gembira saat dia menceritakan bahwa pohon mangga dirumahnya, yang bibitnya diambil dari kebun dirumah saya sekitar 14 tahun silam, tumbuh subur dan berbuah sangat lebat.

Saya akhirnya berhasil menjabat “posisi puncak” yang biasa dipegang oleh Mahasiswa di “Identitas” sebagai Redaktur Pelaksana pada periode tahun 1992-1993. Sungguh sebuah jabatan yang penuh tantangan karena saya mesti pandai-pandai mengakomodir aspirasi mahasiswa UNHAS dan juga keinginan Universitas sebagai “penyandang dana” penerbitan kampus ini.Pada sebuah kesempatan, saya “ditantang” oleh Pemimpin Redaksi “identitas” yang juga adalah Kepala Humas UNHAS saat itu, Pak M.Dahlan Abubakar. “Kamu coba-coba bikin Tajuk Rencana edisi depan ya?” ujar Kak Dahlan (demikian sapaan akrab saya kepada beliau). Saya tersentak kaget, seketika jantung berdetak cepat dan lutut saya gemetar. Bagi saya, menulis “Tajuk Rencana”, yang selama ini rutin ditulis oleh Kak Dahlan, sebagai suatu kehormatan tersendiri, karena tulisan tersebut menjadi “refleksi” suara “identitas” secara keseluruhan kepada publik pembacanya. Ada nilai “sakral” yang terkandung didalamnya. “Tidak usah takut, saya yakin kamu bisa. Coba bikin dan kita lihat sama-sama ya?,” tambah Kak Dahlan seperti mengerti kegundahan yang saya hadapi saat itu. Saya hanya mengangguk pelan dan masih tak yakin. Malam harinya, saya tak bisa tidur memikirkan “tugas” berat itu.

Akhirnya, dengan susah payah saya berhasil membuat draft “Tajuk Rencana” perdana saya dan langsung saya diskusikan dengan Kak Dahlan. Alhamdulillah, tidak terlalu banyak yang direvisi dan bisa langsung ditayangkan. Dan begitulah—selama masa jabatan sebagai redaktur pelaksana– secara bergantian, saya dan Kak Dahlan menulis Tajuk Rencana di “Identitas”. Kini saya merasakan manfaat yang sangat berharga dari hasil pengalaman beraktivitas di “Identitas”. Potensi saya benar-benar bisa “menetas” disana. Memasuki usia “identitas” ke tiga puluh tiga yang jatuh pada tanggal 16 Desember 2007 nanti, koran kampus ini telah menghasilkan jajaran jurnalis-jurnalis dan penulis-penulis handal asal Makassar. Semoga “Identitas” tetap eksis dan menorehkan kiprah lebih berarti.

SELAMAT ULANG TAHUN KE TIGAPULUH TIGA“identitas” ! 

Related Posts
THERE’S SOMETHING PINKY IN MY HEART
Saya dan Rahman bernyanyi duet dalam acara perpisahan SMPN 2 Maros, Juli 1986 "ADA bagian merah jambu yang romantis dalam hatimu, pik" ,ujar kawan saya di SMP Negeri 2 Maros, Abdul Rahman pelan ...
Posting Terkait
DARI DEKLARASI KOMUNITAS BLOGGER ASEAN-INDONESIA: MENDUKUNG INTEGRASI ASEAN BERBASIS KERAKYATAN
Babak baru dalam jagad blog Indonesia telah dimulai tadi malam (10/5) setelah dilaksanakan Deklarasi Komunitas Blogger ASEAN-Chapter Indonesia. Bertempat di Kedai Es Teler 77 Jl.Adityawarman Jakarta Selatan dan dihadiri oleh ...
Posting Terkait
FILM TIGA SEKAWAN : MENGUNGKAP MISTERI HANTU DI RUMAH TUA
aya akhirnya memenuhi keinginan 2 buah hati tercinta untuk menonton film ini, Sabtu (26/1) di XXI Mall Lippo Cikarang. Mereka penasaran melihat aksi 3 sekawan mengungkap misteri hantu setelah menonton ...
Posting Terkait
FILM “NIGHT AT THE MUSEUM-SECRET OF THE TOMB” : MENYINGKAP MISTERI TABLET EMAS
ari Sabtu (27/12) saya mengajak istri dan kedua anak saya, Rizky & Alya menonton film "Night At The Museum-Secret of The Tomb" di Studio-4 Blitz Megaplex Bekasi Cyber Park. Ada ...
Posting Terkait
CATATAN DARI LOKAKARYA ENERGI NASIONAL : KETAHANAN ENERGI UNTUK KEDAULATAN & KEMAKMURAN NEGERI (Bagian Pertama)
agi terasa begitu sejuk dan terlihat cerah ketika saya memasuki area Hotel JS Luwansa Jl.HR Rasuna Said Jakarta Selatan, Rabu (3/12). Setelah mengarungi kemacetan yang cukup panjang dari Cikarang, saya ...
Posting Terkait
PUISI : MENYIBAK BAYANGMU DI TEPIAN MUSI
Kaki-kaki Jembatan Ampera yang kokoh menghunjam pada dasar batang sungai anggun mengalir, seakan bertutur tentang kisah-kisah yang berlalu dari musim ke musim, tentang cinta, harapan, impian, juga kehilangan Dan di tepian Musi, mengenangmu bersama ...
Posting Terkait
BLOG KOMIK UNIK
Ini adalah sebuah hasil Poli-Blog-ami saya lagi.Setelah blog foto jadul masa kuliah, kini saya baru saja membuat blog khusus komik-komik iseng saya yang diolah dengan software ComicLife versi Windows dari ...
Posting Terkait
CATATAN KECIL JEJAK LANGKAH DI SINGAPURA (2)
Ini adalah kali ketiga dalam bulan Juni saya kembali ke Singapura. Sebenarnya berat rasanya hati meninggalkan anak-anak dan istri lagi, setelah dua minggu berturut-turut sebelumnya saya ke bertandang ke Singapura(Kali ...
Posting Terkait
JADI GURU DAN SISWA, SAMA SUSAHNYA!
Ketika tengah asyik "tidur-tidur ayam" diatas bis 132 jurusan Bekasi-Lebak Bulus yang adem tadi pagi, mendadak saya dikejutkan oleh gosip dua orang ibu separuh baya yang duduk persis di sebelah ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2010 (3) : NUANSA MERAH MUDA MEREBAK DI BANTAR GEBANG
Bis yang mengangkut peserta Amprokan Blogger bergerak dari Tugu Bina Bangsa menuju UKM (Usaha Kecil Menengah) Boneka di kawasan Bantar Gebang. Lumayan jauh juga, sekitar 15 km dari lokasi kunjungan ...
Posting Terkait
THERE’S SOMETHING PINKY IN MY HEART
DARI DEKLARASI KOMUNITAS BLOGGER ASEAN-INDONESIA: MENDUKUNG INTEGRASI ASEAN
FILM TIGA SEKAWAN : MENGUNGKAP MISTERI HANTU DI
FILM “NIGHT AT THE MUSEUM-SECRET OF THE TOMB”
CATATAN DARI LOKAKARYA ENERGI NASIONAL : KETAHANAN ENERGI
PUISI : MENYIBAK BAYANGMU DI TEPIAN MUSI
BLOG KOMIK UNIK
CATATAN KECIL JEJAK LANGKAH DI SINGAPURA (2)
JADI GURU DAN SISWA, SAMA SUSAHNYA!
AMPROKAN BLOGGER 2010 (3) : NUANSA MERAH MUDA

19 comments

  1. Lama juga ya kak, saya sekarang kru barunya Ident…Kalo baca cerita kk, rasanya, it’s been so long ago, but the athmosphere never change…

    Thanks sudah mampir disini, dik Yunita

  2. Hello, dear colleagues. it is pleasant forum daengbattala.com very much class and is stylishly made! It seems to me here there is no section clever councils.
    Yours faithfully, Nastja.

  3. Iya, Selamat Ulang tahun buat identitas..
    Terima kasih juga atas kunjungannya kak ke rumah kecil kita
    pada malam pemilihan redpel baru minggu lalu. Sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *