TAHUN 2095, Kampus Universitas Amburadui (UNBUL), Gempar! Sang Rektor dinilai mengeluarkan tindakan sepihak dengan mengeluarkan surat keputusan dengan mengeluarkan Gedung Jasa Boga dan membangun lagi kantin dari pondok-pondok bambo beratap rumbia. Tak pelak mahasiswa berdemonstrasi, para pengelola jasa boga turut melakukan unjuk rasa serta sejumlah petinggi rektorat mengecam keputusan rector (UNBEL) yang dinilai otoriter.
Sementara itu, Di ruang kerjanya, Sang Rektor UNBEL mengamati arus demonstrasi Mahasiswa bersama pengelola jasa boga dari layar TV Monitor , dengan hati tersayat. Caci maki, sumpah serapah terdengar lantang ditujukan ke arahnya dijejali sikap sentimen penuh provokasi. Rektor Diktator! Rektor Kuno, Batalkan keputusan gila! Demikian antara lain tulisan-tulisan yang tertera pada pamflet-pamflet yang diucapkan para demonstran. Sang rector tersenyum kecut. Ia pun mencoba menabahkan hati. Tergiang di telinganya dialog yang dilakukan bersama para pembantunya melalui fasilitas visual telephone, sejam yang lalu.
“ Bapak terlalu memaksakan kehendak, Kantin gubuk reot bukan lagi zamannya,kita berada di abad modern. Kenapa kita harus kembali ke era primitif, Baheula?. Bapak menghambat kemajuan” kata Pembantu Rektor VII bidang Rekayasa Teknologi dengan wajah tenang, seperti nampak pada layar monitor sang Rektor. Dari layar monitor lain, Pembantu Rektor X bidang Kebersihan Kampus ikut menimpali, “ Benar, pak. Lagi pula keputusan yang bapak keluarkan tidak melalui Musyawarah dengan senat guru besar serta pertimbangan Kompromi Dengan Komputer Induk Universitas. Lebih-lebih bila ditinjau secara higienis, praktis, Pembuatan Kantin Gubuk itu tidak sesuai dengan kebijakan program kebersihan kampus” katanya serius.
Sang rektor diam. Diamatinya satu-satu wajah stafnya itu dengan misterius. Sesaat kemudian ia berkata,
“ No comment. Tunggu penjelasan saya selanjutnya ”, Ia lalu memencet tombol “Off” untuk mematikan TV-Monitor. Ia tiba – tiba jadi muak pada komunikasi antar personal yang terkesan hambar itu.
TV-Phone disarakan sebagai tirai yang menghalangi ekspresi kejiwaan yang penuh muatan-muatan emosinya. Ia tak pernah melihat secara langsung lagi tubuh dan wajah stafnya secara “utuh”.
Yang disaksikan hanya bayang-bayang semu, yang direflesikan melalui layar TV. Monoton dan penuh kepura-puraan .
Ia merasa tiba-tiba kehilangan rasa humor, sebab tawa yang menggema menaggapi lelucon-leluconnya telah “dibungkus” sedemikian rupa pleh piranti Sound system canggih yang memungkinkan suara terdengar lebih jernih, empuk dan “menyenangkan”. Kantin Jasa Boga kini seperti “ tak ramah”lagi. Setiap meja disekat-sekat sedemikian rupa, dan setiap meja yang bersekat itu terdapat fasilitas Video, TV, Karaoke bahkan TV-Phone.
Setiap pengunjung Jasa Boga dilayani oleh Robot Pelayan yang siap menerima komando. Tak pernah lagi ada tawa canda, gurau tentang politik atau diskusi tentang perkembangan bangsa ini. Tragisnya, Gedung Jasa Boga justru dipakai sebagai arena judi dengan komputer sebagai”Bandarnya”. Mereka yang terlihat bagai larut di dalamnya sampai lupa berapa tagihan credit-card melayang sebagi taruhan.
Hidup, bagi mereka, adalah bagaimana dapat meraup keuntungan dari kemenangan – kemenangan di meja judi. Kuliah yang selama ini diikuti terasa menjenuhkan, karena system kuliah yang diberikan adalah Video seminar via satelit. Mereka, Mahasiswa , cukup memelototi wajah dosennya melalui layar TV yang tengah menyajikan kuliah. Suasana familiar tak tercipta lagi. Semua serba kaku, datar tanpa “ nuansa manusiawi”. Universitas harus melalui pertimbangan kompromi dengan komputer induk Universitas yang dianggap sebagai “ penasehat ahli”. Bukan main. Betapa perangkat teknologi telah mengangkangi peradaban manusia.
Sang rektor menghela nafas panjang. Ia mengeluh. Dunia telah banyak berubah, fikirnya prihatin. Perlahan, ia membuka laci mejanya. Diraihnya sebuah Diary usang dengan halaman-halaman menguning ‘dimakan’ waktu. Sebuah catatan harian. Diary tua itu milik kakek moyangnya yang ditulis 103 tahun yang lampau. Catatan-catatan di dalamnya telah meng-ilhaminya melahirkan keputusan controversial tentang pembangunan kembali kantin gubuk reot. Dibukanya satu-satu halaman diary tua itu. Kemudian dibacanya dengan seksama.

Kampus Perjuangan, 4 Januarai 1992.

Anil baru saja menerima honor penulisan puisinya pada sebuah majalah Sastra Ibukota. Ia mengabarkan, dengan bangga, kepada kami. Dirman yang tampan itu, meledek Anil untuk segera mentraktir kami, yang di-amin-I oleh teman-teman lain. Ani menyanggupi. Kami lalu “meluncur” ke Bambo House. Sebuah kantin sederhana dari bamboo, papan dari atap rumbia. “ Mulai dari isyu pacaranya si anu sampai pergumulan ide-ide actual tentang masa depan bangsa ini digulirkan dari sana, ungkap seorang teman suatu hari.
Dan kami tahu itu. Sebab di sana, kami dapat berbicara enak, tanpa tekanan-tekanan, intimidasi sembari mengunyah ubi goreng yang hangat.
Di tempat itu kami ketemu L. Wawan, Moel, Amy, Judi – kawan dan kakak yang progressif yang asyik berdiskusi tentang Lembaga Mahasiswa Kampus kami yang lagi loyo. “ Nah, kebetulan “ seru Wawan yang revolusioner itu menyambut kami. Lalu kami bertukar cerita.
Moel dengan prihatin bicara tentang tentang kasus “pencekalannya” pada Surat Kabar Kampus yang telah digelutinya selama 9 tahun atau Mas Judy tentang teori Berger yang filosofis itu sampai-sampai otakku tak mampu mencernanya atau Lily tentang cerpen terbarunya atau Kak Amy tentang naskah drama yang bakal dipentaskannya dalam waktu dekat ini bahkan Nasrun yang motornya mogok saat ia harus buru-buru asistensi tugas. Semua mengalir begitu saja seperti memperoleh muara. Dan terus terang, kami bahagia untuk itu…

Sang Rektor tercenung. Mereka semua harus diberi penjelasan , ya… mereka yang selayaknya tahu bahwa pembangunan kantin gubuk reot bukan tanpa alasan jelas. Saya tidak ingin membuat monumen atau mengulang nostalgia belaka, desis sang rektor.
“Saya ingin menbangun sebuah “ Bangunan Cinta” dimana transformasinya rasa, emosi dan harapan – harapan tidak diekspresikan melalui media-media yang tak mampu mewakili secara alami apa yang ingin diungkapkan. Saya ingin, “sentuhan manusiawi” melingkupi suasana kita” demikian kata-kata Sang Rektor yang ditulis pada Pamflet yang dipasang di dinding-dinding Universitas Amburadul.
Dibawah tulisan tersebut, ditempel pula salinan Catatan Harian Kakek Moyangnya. Dan Kampuspun tak geger lagi.
Dimuat di Surat Kabar Kampus “Identitas” Universitas Hasanuddin, 23 Juli 1992
Related Posts
CERPEN : PENSIUNAN
Pengantar Cerpen dibawah ini saya tulis untuk menyongsong masa pensiun ayah saya dan dimuat 15 tahun silam di Harian Fajar Makassar edisi Minggu 24 April 1994. Selamat membaca.. ---------- HIDUP tanpa sempat berbuat ...
Posting Terkait
BULAN LUKA PARAH DILANGIT NAGOYA
BANDARA Hang Nadim menyongsong kedatangan saya dengan terik matahari yang menggemaskan. Udara gersang “ kota otorita”,  itu berhembus menerbang selaksa debu-debu, berputar tak teratur kemudian mewarnai Batam dalam nuansa suram  ...
Posting Terkait
PURNAMA DI MATA ARIMBI
LETNAN Dua Aryo Bimo memandang batu nisan didepannya dengan kepedihan tiada tara. Dibacanya berulang-ulang nama yang tertera disana dengan nada pilu. Arimbi Wulansari, bibirnya bergetar menyebut kekasih tercintanya itu penuh kerinduan ...
Posting Terkait
CERPEN : WISUDA
Pengantar: Cerpen ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar, Minggu 2 Oktober 1994. Saya tayangkan kembali disini tidak hanya sebagai arsip digital, namun menjadi bagian dari mengabadikan kenangan, semoga bermanfaat bagi ...
Posting Terkait
FROM CERPEN TO SINETRON : SEORANG PELACUR DAN SUPIR TAKSI
Catatan Pengantar Dibawah ini adalah Cerita Pendek saya yang dimuat di Harian Fajar Makassar 22 Mei 1994. Alhamdulillah, cerpen ini diangkat ke layar kaca dalam sinetron Pintu Hidayah RCTI 6 November ...
Posting Terkait
CERPEN : LUKA SANG BIDADARI
Pengantar: Cerpen ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar tahun 1996 (saya lupa tanggalnya kapan karena arsip klipping saya hanyut dibawa banjir tahun 1998). Untunglah masih menyimpan file arsipnya di Makassar ...
Posting Terkait
CERPEN : SALJU DI KYOTO
YOTO masih seperti dulu, saya bergumam dalam hati ketika menapak tilas perjalanan saya kembali ke kota kebudayaan di negeri Matahari Terbit itu. Gedung kuno dengan ornamen yang sarat imaji kontemporer seperti kuil Higashi Honganji,Sanjusangendo, ...
Posting Terkait
JATUH CINTA DI KILOMETER DUA PULUH TIGA
Cinta adalah sebuah jaring yang menjerat hati bagaikan seekor ikan (Muhammad Ali, Mantan Juara Dunia Tinju Kelas Berat, dari “Reader Digest Indonesia” edisi Januari 2005)           HUJAN masih menyisakan gerimis sore itu. ...
Posting Terkait
CERPEN : PENSIUNAN
BULAN LUKA PARAH DILANGIT NAGOYA
PURNAMA DI MATA ARIMBI
CERPEN : WISUDA
FROM CERPEN TO SINETRON : SEORANG PELACUR DAN
CERPEN : LUKA SANG BIDADARI
CERPEN : SALJU DI KYOTO
JATUH CINTA DI KILOMETER DUA PULUH TIGA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge