BUKAN GOBEL BIASA : SEBUAH ROMANTIKA BERMARGA BEKEN

Seorang kasir di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Blok M Jakarta memperhatikan dengan seksama Kartu Kredit yang saya sodorkan untuk membayar barang belanjaan yang baru saja saya beli, di suatu siang yang terik beberapa bulan lalu. Keningnya berkerut dan mengamati saya bagaikan seorang hansip baru saja menangkap maling jemuran.

“Bapak ini apanya Rahmat Gobel yang punya Panasonic itu ?”, selidik si kasir. Ia bolak-balik mengamati kartu kredit saya yang dipegangnya.

Spontan saya salah tingkah, istri saya mendelik tajam.

“Eh..Masih satu keluarga sih, emang kenapa?”, saya menjawab kikuk. Dalam hati saya mengutuk ulah kasir yang reseh ini.

“Wah..berarti banyak duit dong, pak. Kan’ punya perusahaan gede banget”, sambar si Kasir sambil nyengir.

“Ooohh..beda doong!”, sahut saya “gak nyambung”.

“Lho, beda ya? Dimana bedanya pak?”

“Beliau lebih kaya tapi saya lebih ganteng,” sahut saya enteng. Si Kasir tertawa ngikik. Cubitan pedas tiba-tiba mendarat di lengan saya, dari istri tercinta yang kurang nyaman atas aksi genit suaminya.

Dan sebuah kejadian lain..

Sekitar tahun 1996, saya–yang ketika itu masih perjaka tong-tong (antitesis dari perawan ting-ting :D)–duduk di samping supir angkot dalam perjalanan menuju ke Perumahan Karyawan National/Panasonic Gobel Lembah Hijau didaerah Cimanggis-Depok. Saya menuju ke rumah tante saya dimana diselenggarakan acara arisan rutin keluarga. Ini adalah kali kedua perjalanan saya kesana.

“Perumahan Lembah Hijau itu kebanyakan dihuni warga Gorontalo yang kerja di National Gobel lho, dik,” kata Sang Sopir yang saya taksir berusia sekitar 50-an tahun itu. Matanya tetap menatap ke arah depan.

“Iya pak memang begitu. Kebetulan saya mau mengunjungi rumah Tante saya disana,” ujar saya menanggapi dengan sedikit acuh.

“Adik bermarga Gobel juga ya?”, tebak si Supir. Saya mengangguk.

“Kok Tahu pak?” saya balas bertanya.

Supir itu tersenyum samar. Ada misteri tersimpan disana.

“Saya pernah kerja di pabrik National Gobel di daerah Gandaria. Sampai pensiun. Saya pernah merasakan bagaimana suka dukanya dipimpin oleh Bapak Alm.Thayeb Gobel yang begitu disiplin, rendah hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Beliau menjadi panutan sekaligus kebanggaan kami semua,” kisah sang supir. Pandangannya menerawang seperti ingin mengais-ngais kenangan indah dimasa lalu.

Sepanjang perjalanan ia banyak menceritakan nostalgianya saat menjadi karyawan di PT National Gobel hingga kemudian pensiun dan akhirnya melakoni karir sebagai supir angkot jurusan Kampung Rambutan-Cisalak.

Ketika turun dari angkot, saya tersentak kaget saat si supir menolak ongkos yang saya berikan.

“Tidak usah bayar, dik. Sebuah kehormatan bagi saya bisa mengangkut salah satu anggota keluarga dari pemilik perusahaan ditempat saya pernah bekerja dulu. Anggap saja perjalanan kita tadi sebagai sebentuk silaturrahmi,” ucap sang supir sembari tersenyum.

Saya terpana dan baru tersadar saat angkot yang tadi saya tumpangi berlalu. Kenangan itu masih membekas dalam benak saya.

Hingga kini.

Sebuah Marga adalah sebuah jejak keluarga. Juga sebentuk doa leluhur dan berkah dari masa lalu. Maka jangan pernah membuang marga yang telah melekat pada namamu, agar “jejak” itu senantiasa terpatri dan sebagai bagian dari usahamu untuk memelihara berkah dari masa lalu tersebut. Tentu jangan pernah lupa pula untuk tetap melekatkan marga tersebut pada anak-anakmu, agar pada dirinya, spirit yang sama tetap terjaga, lestari dari waktu ke waktu. Demikian kata-kata ayah yang diucapkan dengan suara lembut sering terngiang ditelinga saya.

Pesan tersebut beliau utarakan saat kami berbincang-bincang diruang keluarga kami yang kecil dan sederhana di Maros. Waktu itu, saya menanyakan bagaimana hingga marga “Gobel” itu melekat pada nama saya. Marga yang kian terkenal sejak alm.H.Thayeb Muhammad Gobel merintis perusahaan dan pabrik elektronik pertama di Indonesia. Marga Gobel, kata ayah saya, diwariskan secara turun temurun dari leluhur di Gorontalo. Beliau tak tahu persis asal mula marga itu berasal. Namun konon selentingan kabar sempat berhembus bahwa, asal kata Gobel itu adalah “Hubulo” yang kemudian ketika “diplesetkan” oleh orang Belanda menjadi “Gobel” karena lidah mereka tak terbiasa mengucapkan kata “Hubulo”.

Sebagaimana dikutip dari situs Panasonic, Di tahun 1954 Almarhum Drs Thayeb Moh. Gobel mendirikan PT. Transistor Radio Manufacturing, yang merupakan pabrik Radio Transistor pertama di Indonesia, dengan nama brand Cawang. Langkahnya tidak terhenti sampai disitu, namun dilanjutkan dengan bekerja sama dengan pihak Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., Japan pada tahun 1960 untuk “Technical Assistance Agreement.” Kemudian di tahun 1962, perusahaannya diminta untuk merakit Televisi hitam putih dalam rangka Asian Games yang akan diadakan di Jakarta. Bisnisnya pun berkembang sejak saat itu hingga pada tanggal 27 Juli, 1970, terbentuklah joint venture dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. dibawah nama PT National Gobel. Sejak saat itu setiap tahunnya Panasonic selalu menciptakan produk terbaik bagi para konsumennya, sebagai upaya dari melestarikan budaya kedua perusahaan yang telah diterapkan oleh para pendirinya.

Sosok Alm.Drs.H.Thayeb Moh.Gobel yang kemudian kiprahnya kini dilanjutkan oleh putra lelaki tertua beliau, Rachmat Gobel sungguh sangat fenomenal. Kami sekeluarga sangat kagum pada sikap, idealisme dan kerja keras Pak Thayeb Moh.Gobel dalam membangun bisnis dengan susah payah hingga berhasil menjadi pengusaha terkemuka di Indonesia. Sikap nasionalisme yang kental dari Pak Thayeb senantiasa dikenang dan kerap diceritakan oleh ayah saya, sebagai salah satu sumber inspirasi bagi kami dalam meniti langkah kehidupan. Dalam suatu kesempatan Presiden Soekarno bertanya kepada Thayeb Moh.Gobel, “Mengapa memilih usaha radio transistor?’. Beliau menjawab, “Supaya pidato bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat jauh yang terpencil di kaki-kaki gunung, di pulau-pulau meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, pak.” Dan demikianlah, sekitar satu juta unit radio transistor “Cawang” berhasil diproduksi dan dipasarkan dalam kurun waktu 1954-1964.

Sebenarnya jalur keterikatan keluarga saya bersama Bapak alm.Thayeb Moh.Gobel relatif dekat. Kakek saya, alm.Sun Gobel, adalah Paman dari pendiri industri elektronik pertama di Indonesia itu. Dalam otobiografi beliau yang ditulis oleh Ramadhan KH, berjudul Gobel; pelopor industri elektronika Indonesia dengan falsafah usaha pohon Pisang (diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, 1994), nama almarhum kakek saya disebutkan saat-saat Pak Thayeb Gobel masih berada di Gorontalo.

“Kamu juga mesti bisa seperti Om Ebu’ (nama panggilan ayah saya untuk Bapak alm.Thayeb Moh.Gobel). Mewarisi semangatnya, kegigihannya, kerja kerasnya dan juga integritasnya. Tunjukkan kamu bukanlah Gobel biasa,” ujar ayah sembari menatap tajam ke arah saya.

“Yang paling penting”, tambah ayah saya lagi,”kamu harus bisa menjaga nama baik dan martabat marga yang kamu miliki itu dengan senantiasa mempertahankan sikap dan perilaku yang baik sesuai norma dan ajaran agama Islam yang kita anut. Sama seperti beliau yang dengan konsisten dan sungguh-sungguh memberikan keteladanan pada kita hingga akhir hayatnya. Jangan jadikan marga yang kamu miliki itu sebagai beban apalagi sebagai sarana praktis untuk memuluskan ambisi dan mengabaikan kompetensi pribadimu yang seharusnya kamu andalkan!”.

Kalimat ayah saya itu tetap tertoreh tegas dalam batin. Sungguh sebuah hal yang tak mudah untuk menjadi seorang “Gobel” yang tak biasa, tapi tentu hal itu tak mustahil diraih.

Kemarin secara iseng-iseng (untuk sekedar mengetest kepopuleran) saya mengetikkan nama saya di mesin pencari Google dibandingkan nama Rahmat Gobel. Dan hasilnya?. Lumayanlah. Hasil pencarian nama saya adalah sebanyak 10.400 dan Rahmat Gobel sebanyak 12.400.

Ya..beda-beda tipislah.

Saat hal ini saya ceritakan secara berseloroh pada ayah saya kemarin, saya malah kena “semprot”.

“Apa itu Google? Marga Baru ya? Awas ya kalau kamu coba-coba ganti margamu dari Gobel menjadi Google!”, tukas ayah saya dengan nada tinggi.

NB:

Selamat buat Pak Rahmat Gobel yang baru saja diangkat sebagai Komisaris Indosat. Sukses selalu! 

Related Posts
BERBAGI DAN BELAJAR DARI PENGALAMAN MELALUI ABC-P TRAINING PT.CSI
nisiatif pelaksanaan ABC-P (Aftermarket Best Practice Coaching Program) yang akan diselenggarakan pada tanggal 17-21 November 2014 di PT Cameron Services International, Cikarang (PT CSI) merupakan sebuah terobosan baru dalam upaya ...
Posting Terkait
WISUDA RIZKY YANG MENGHARUKAN
arangkali, seperti inilah perasaan yang dialami ayah saya dulu, saat mengikuti prosesi wisuda saya 21 tahun lalu. Ya, hari itu, Minggu (14/6), bertempat di aula President University Cikarang lantai 5 ...
Posting Terkait
Terkait dengan posting saya sebelumnya, bila anda penasaran bagaimana Alya bercerita, ini dia gayanya :
Posting Terkait
TIPS NYAMAN NAIK KERETA API JAYABAYA TUJUAN MALANG TANPA MASUK ANGIN
foto:Wahyu Dewantara/flickr.com (Kereta Jayabaya melintasi sungai) Di antara beberapa kereta yang menuju Kota Malang, Kereta Api Jayabaya adalah salah satu yang paling nyaman. Dengan jalur utara yang melewati Surabaya, Kereta Api ...
Posting Terkait
MENGENANG KH.ZAINUDDIN MZ : DA’I YANG DEKAT DI HATI
anpa terasa pelupuk mata saya basah membaca berita di media online tadi pagi. Kabar soal wafatnya Da'i sejuta umat KH.Zainuddin MZ di Rumah Sakit Pusat Pertamina Selasa (5/7) pukul 09.15 ...
Posting Terkait
ALYA DAN DUNIA CERIA YANG DIBANGUNNYA
Hari ini, 10 November 2009, adalah hari ulang tahun kelima putri bungsu saya, Alya Dwi Astari. Sungguh begitu cepat waktu berlalu. Alya tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan montok. ...
Posting Terkait
Siap On Air !
Kemarin sore, Minggu (27/3) saya berkesempatan menghadiri wawancara bersama radio DFM 103,4 bertempat di ruang siaran studio mereka di Perumahan Buncit Indah, Jl.Mimosa 1 No.A 7 Pejaten. Berangkat dari Cikarang ...
Posting Terkait
UNTUK MEREKA, YANG MENYISAKAN JEJAK INDAH DI BATIN
HARI ini, 2 Mei 2008, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, izinkan saya membagi sebagian serpih-serpih kenangan tentang beberapa orang guru saya sejak SD hingga Universitas yang telah menorehkan jejak ...
Posting Terkait
ABFI 2013 SOLO (2) : REFLEKSI WAJAH BUDAYA ASIA TENGGARA UNTUK KEBERSAMAAN MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015
ajah-wajah penuh antusias dari para blogger terlihat pada Hari Jum'at pagi (10/5) di Ruang Tirtasari Hotel Kusuma Sahid Prince Hotel Solo tempat pelaksanaan seminar ASEAN Blogger Festival 2013. Meski pulang ...
Posting Terkait
TANAMERA COFFEE : CITARASA “MEGAH” & NIKMAT KOPI INDONESIA
ERIMIS siang melanda kawasan Jakarta dan sekitarnya ketika saya tiba di Tanamera Coffee , sebuah kedai kopi yang terletak di Thamrin City Office Park Blok AA 07, tak jauh dari pusat ...
Posting Terkait
BERBAGI DAN BELAJAR DARI PENGALAMAN MELALUI ABC-P TRAINING
WISUDA RIZKY YANG MENGHARUKAN
SAKSIKAN BAGAIMANA ALYA BERCERITA!
TIPS NYAMAN NAIK KERETA API JAYABAYA TUJUAN MALANG
MENGENANG KH.ZAINUDDIN MZ : DA’I YANG DEKAT DI
ALYA DAN DUNIA CERIA YANG DIBANGUNNYA
WAWANCARA DI RADIO DFM 103,4
UNTUK MEREKA, YANG MENYISAKAN JEJAK INDAH DI BATIN
ABFI 2013 SOLO (2) : REFLEKSI WAJAH BUDAYA
TANAMERA COFFEE : CITARASA “MEGAH” & NIKMAT KOPI

37 comments

  1. Akhirnya terjawab pertanyaan saya sekian lama tentang hubungan Amril T Gobel dan Gobel-Gobel lain…
    Cerita ini jadi cara yang asyik utk menjawab pertanyaan serupa… 🙂
    Sukses selalu sobat.

  2. Hahaha,

    Pak Amril memang bagus sekali kalau bercerita. Mengalir bagai air didaun talas (lho 😛 ).

    Maksudnya mengalir bagai air, enak dibaca dan nyaman untuk di ikuti.

    Amril Taufik Google, boleh juga boss 🙂

    –Thanks Kang Vavai. Kalau yang terakhir itu jelas tidak boleh dong! 😀

  3. Salam kenal, Pak.

    Cerita-cerita Daeng Battala kan sudah banyak yang dibukukan, sudah ada juga yang diangkat ke layar kaca.

    Memang bukan Gobel biasa, kok!

    Kapan nih cerita2nya diangkat ke layar lebar?

  4. wah, saya juga ikut bangga nih bisa nyampe ke blog seorang Gobel. Tapi biar bapak beken, bapak orang yang membumi. salut, pak!

    cubitannya sakit ya, pak? hehehe…

    –Thanks mbak Carol. Cubitannya? Hmm..lumayan sakit tuh 😀

  5. MARGA ADALAH SEBUAH AMANAH…….
    MARGA BUKAN UNTUK DI BANGGAKAN….
    MARGA BUKAN UNTUK DI DISOMBONGKAN….
    MARGA ADALAH IDENTITAS YANG SENATIASA HARUS DIJAGA OLEH PEWARISNYA…

    MAKA….

    JANGANLAH MEMBANGGAKAN DIRI….

    –Terimakasih atas tanggapan dan nasehatnya Bung Hasan.

  6. Ada cerita menarik tentang Marga atau kitorang biasa bilang Vam

    Vam Podungge (asal Tapa) pada sekitar tahun 1980-an sempat dianggap sebagai Vam yang memiliki tabiat yang kurang baik, hanya dikarenakan seorang Vam Podungge (laki- laki) melakukan pembunuhan terencana di Suwawa. Cerita ini sempat menghebohkan kota Gorontalo waktu itu. Terjadi perselingkuhan (BAHUGEL) antara Si Podungge (laki-laki)dengan istri seorang polisi di Suwawa. Karena perselingkuhan ini mulai terungkap, Keduanya kemudian merencanakan pembunuhan Polisi tersebut sehingga terjadilah Tragedi berdarah tersebut..

    Jadi jangan membanggakan vam tertentu kalau anda hari ini sukses, siapa tau anak cucu anda malah jadi pembantu yang dikirim menjadi TKW ke Malaysia atau paling tidak menjadi Koruptor yang dihina dan di caci maki..

    — Terimakasih sudah mengingatkan, Bung Fadel Pe Sodara. Apa yang saya posting disini, sesungguhnya tidak diniatkan untuk membanggakan sebuah marga tertentu lebih mulia dari yang lain. Ini hanya sebuah refleksi kontemplatif dari saya tentang bagaimana sebuah marga memiliki nilai historis dan indikator sebuah jejak keluarga sekaligus sebuah bagian dari doa dan berkah dari masa lalu. Kemuliaan bagaimanapun hanyalah milik Allah SWT dan manusia, siapapun dia dan apapun latar belakang yang dimilikinya, harus senantiasa mencapai kemuliaan hakiki dimata Allah SWT dengan berusaha meningkatkan derajat ketakwaannya.
    Insya Allah saya akan berusaha menjaga anak dan keturunan saya, tentu termasuk diri saya sendiri untuk terhindar dari hal-hal yang nista. Mohon maaf jika kurang berkenan bila isi tulisan ini disajikan dengan gaya bahasa yang membuat kurang nyaman bagi sementara orang dan mungkin memiliki tendensi kesombongan didalamnya. Semoga anda.saya dan segenap pembaca blog ini, bisa mengambil hikmah dan manfaat darinya.

  7. hahahahaha, memang bukan nama biasa dari orang yang luar biasa (kilogramnya :D)
    Met menjalankan ibadah puasa buat Pak Amril sekeluarga, mohon maaf lahir bathin kalau selama pertemanan ada yg salah, baik disengaja maupun tidak 🙂

  8. Percaya kok kalau juragan blog ini lebih ganteng 😀

    Memang banyak Gobel-Gobel lainya yang tidak kalah piawainya pada bidang keahliannya masing-masing.. kita doakan saja kontribusinya bisa memberdayakan lingkungan lebih luas lagi.

    -Thanks atas pujiannya Kang Luigi. Sebenarnya masih banyak “bukan Gobel biasa” lainnya yang menorehkan kiprah fenomenal dan berkontribusi memberdayakan lingkungan yg lebih luas lagi (salah satunya adalah anda 😀 ). Dan moga-moga, masih banyak lagi yang akan berkiprah serupa.

    Oya..kartu pos kedua kirimannya sudah saya terima kemarin. Thanks ya. Kalau balik ke Indonesia kabar-kabaro ya, kita kopdar lago dengan makna baru bukan hanya sebagai sesama blogger tetapi sebagai sesama saudara..:D

  9. amanah nama keluarga emang beban yang harus dijaga dan dipelihara, asal jangan disalah gunakan, betul kan pak?

    –Betul sekali Kang gerry, Thanks udah mampir ya

  10. Saat hal ini saya ceritakan secara berseloroh pada ayah saya kemarin, saya malah kena “semprot”.
    “Apa itu Google? Marga Baru ya? Awas ya kalau kamu coba-coba ganti margamu dari Gobel menjadi Google!”, tukas ayah saya dengan nada tinggi.

    (g_lol)

    thanks for sharing! it can be a good story for my friends…

  11. saya punya kawan semasa SD s/d SMA di Gorontalo. Dalam penulisan marga / Vam nampak ada perbedaan satu sama lain :

    1. Azis Van Gobel
    2. Rizal Gobel

    Sekarang ada anda bernama Amril Taufik Gobel (bukan Amril Taufik Van Gobel)..??

    Van Gobel, Van Houtten, Van Derr Sar, Vanderwicth Van tat bahenol (sorry dang baku sedu) apa so depe hubungan..?

    Saya lahir dan dibesarkan di Gorontalo. Dari nenek saya hingga hari ini tidak satu namapun di Gorontalo yang memekai ‘Van’ didepan marganya. sebagai contoh: Habibie, Hatibie, Botutihe, Pakaya, Panigoro, Utiarahman, Rahman, Limonu, Wartabone, dll.
    Mohon penjelasan dari yang empunya marga yang katanya MARGA BEKEN

    –Salam kenal bung Sirjohn, thanks udah mampir dan ‘terdampar’ di blog ini. Sebenarnya saya tak tahu persis sejarah pemakaian “van” didepan Marga Gobel. Kemungkinan besar karena tradisi turun temurun. Pada hakekatnya pake van atau tidak, yang penting memiliki marga Gobel tetaplah merupakan satu rumpun keluarga. Maaf jika penjelasannya saya kurang memuaskan karena memang saya tidak terlalu paham soal istilah ini.

  12. sepanjang pengetahuan saya, marga Gobel memang termasuk marga yang paling populer ya..?, mungkin karena “jasa” pak Rahmat Gobel juga. maksudnya kalo dibandingkan dengan marga Gorontalo yang lain keknya marga Gobel memang lebih dikenal orang Indonesia..

    sy doakan mudah2an suatu hari nanti pak Amril bisa seperti paman Gobel..eh..paman Gober ding..hihihihi…

  13. ahhhh, habis baca ini menyesal saya dulu gak jadi nambahin “Gates” dibelakang nama anak saya, kali2 ajah dikirain masih keturunan “Bill Gates”… cuma pikir2, ntar disangkain anak saya “mbrojol”nya pasti di pintu gerbang (gate) makanya dikasih nama belakang “gates”

    Mo ngasih nama belakang “trump” Donald Trump yg kaya raya itu, tapi rada2 segen, takutnya disangkain usaha emaknya pasti jualan beha “trayem” [Triumph], jadi yahhh, gak jadi lagi deh…

    habis baca ini, saya sungguh menyesal… Oh, andai waktu bisa diputar kemabli nak, tak ganti namamu pake Anya Gobel, biar sodaraan ama pak Amril 😛

    –Hahahaha, bisa aja mbak Silly ini

  14. salam..sungguh interesting bangeet!saya juga jadi keliru ketika teman saya dari Gorontalo memberiahu bahawa orang berasal di daerah itu hanya WAJIB menggunakannya bukan yang lain..tapi Pak Amril kata mula2 baru kenalan …dia orang bugis…saya meneriman seadanya…semalam teman bertanya siapa pak Amril Gobel itu…dia orang Gorontalo…ini hari Pak Amril udah jelasin..makasih pak…hidup ini penuh dengan tanda tanya..gak pa pa kita bertanya ..kalo gak nanti sesak jalan…makasih sekali lagi ya pak..

  15. sy kurang stju dengan asal mula keluarga gobel itu namanya diambil dari kata HUBULO,,,krna knpa,,,?sbnarnya jg sy kurang mngetahui asal usul kluarga gobel namun smpat sy mbaca lwt media bhwa van gobel sama gobel itu mulanya dari HUBULO krna orng blanda susah mngucapkan kata hubulo jdi nama itu jadi trubah…tp,,,anehnya ada di negara blanda,,,orng blanda asli yg pake marga gobel malah VAN Gobel..,,jdi dari stu sy krang stju tapi bkan tdak stuju…krn sjarahnya blum jelas..

  16. Saat ini saya sedang mencoba menyusun silsilah keluarga Gobel, kalo Sdr. Amril memiliki referensi tertulis yang bisa dijadikan tambahan rujukan penyusunan silsilah tersebut, tolong email ke saya. Sekalian buat perbandingan data dengan yang saat ini ada pada saya.

    Rencananya silsilah ini akan saya onlinekan agar dapat diakses oleh seluruh keluarga gobel dimana saja.

  17. salam kenal, klo ditilik dari silsilah keluarga, berarti saya manggil anda, om ya? karena oma saya almh. Dani Gobel adalah adik dari alm. M.Thayeb Gobel..tapi opa saya Edi Olii, jadi saya pakai Olii..tidak ada bedanya,saya jg bangga menyandang marga Olii.

    dua marga besar jadi satu lahirlah ayah saya alm. Zainal Abidin Olii dan akhirnya ada saya deh 🙂 ..cerita ttg Bapu (alm. M.Thayeb Gobel) jg selalu diceritakan oleh papa yang memang pernah merasakan didikan dari bapu..sosok berjiwa besar yang rendah hati. motivasi buat kita semua yang berdarah gorontalo umumnya, dan bermarga Gobel pada khususnya.

    saya selalu teringat saat menapak Tilas ke Gorontalo, walaupun saya hanya keturunan Gorontalo, tapi darah itu terasa kental di badan saya. sampai dengan saat ini saya selalu berusaha mencari tau silsilah keturunan keluarga dan berusaha keras memahami, maklum, keluarga BESAR..heheheh!

  18. cerita,a bapak hebat,,
    biar keadaan kita miskin,,
    tetap semangat dan berusaha terus dengan memakai nama marga gobel,,

  19. baguslah klo qt bisa mengetahui silsilah keluarga gobel,namun sayang,apa dgn marga gobel qt bisa terjalin silaturrahmi???soalnya kloada gobel yg kaya,pasti hanya dekat dgn keuarga gobel yg kaya juga,klo gobel yg miskin????gimana????apa mau di perhatikan?????

  20. sepanjang pengetahuan saya, marga Gobel memang termasuk marga yang paling populer ya..?, mungkin karena “jasa” pak Rahmat Gobel juga. maksudnya kalo dibandingkan dengan marga Gorontalo yang lain keknya marga Gobel memang lebih dikenal orang Indonesia

    1. ya betul mbak, buat saya inilah pentingnya sebuah marga disematkan. Tidak sekedar bagian dari kebanggaan tapi sebagai upaya mensyukuri berkah dan sejarah masa lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *