MENIKMATI SEKEPING SURGA DIRUMAH

SAYA selalu menikmati “ritual” harian itu. 

Setiap malam di hari kerja, usai pulang kantor, saat membuka pintu pagar rumah, kedua anak saya, Rizky dan Alya datang menyambut kedatangan saya dengan kegembiraan membuncah. Mereka menghambur ke pelukan saya dan sembari berteriak senang. Alya minta digendong dan Rizky membawakan tas ransel saya. Jalannya terseok-seok karena mesti memanggul tas ransel yang cukup berat itu. 

Semua kelelahan yang saya alami menempuh perjalanan Cilandak-Cikarang sejauh 40 km mendadak sirna sesaat setelah melihat wajah ceria kedua “malaikat” kecil saya itu. Saat duduk terhenyak di sofa kursi tamu, tangan-tangan mungil itu bergerak membantu melepaskan kaos kaki dan sepatu saya. 

“Capek ya Pa?”, tanya Alya prihatin seraya memijit lengan saya. 

“Ya, iyalah..Papa capek,  kantornya jauh banget,” sahut Rizky spontan. Ia lalu merapikan sepatu saya yang telah dilepas ke pinggir. Si sulung itu lantas duduk disamping saya sembari turut membantu memijat lengan sebelah kanan.

“Oh..kasihan ya Papaku,”ujar Alya penuh simpati sambil mendaratkan ciuman di pipi.

Saya tersenyum, kedua buah hati saya bagaikan purnama menerangi kegelapan hati. Mendengar ungkapan keprihatinan mereka atas “derita” ayahnya mesti mencari nafkah jauh dari rumah, bagai setetes embun kesejukan yang membelai sanubari. Lenyap sudah semua keletihan yang melanda tubuh hari ini.

Tak lama berselang istri saya tercinta datang membawa segelas air jeruk hangat serta pisang goreng kegemaran saya. Setelah mencium tangan saya dengan takzim,  ibu Rizky dan Alya itu bertanya lembut, “Bagaimana dikantor? Lancar? Ada masalah? Ayo ceritalah!”. 

Maka sembari minum air jeruk hangat, saya pun berbagi menceritakan hal-hal menarik yang saya temui baik dikantor maupun sepanjang perjalanan. Kadang berupa hal penting, kadang soal-soal remeh seperti ada toko buah yang baru saja dibuka di pinggir pintu tol Cikarang atau rencana saya untuk merapikan pohon jambu didepan rumah yang dahannya sudah mulai memanjang dan menganggu pemandangan . Istri saya, seperti biasa, mendengarkannya dengan antusias dan penuh minat. 

Sementara Alya sibuk membongkar jinjingan/oleh-oleh makanan kecil atau buah yang saya bawakan. Saat sedang asyik bercerita, Rizky diam-diam menyeruput air jeruk hangat saya, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Alya marah dan mengejar kakaknya berkeliling di ruang keluarga. Kami tertawa menyaksikannya.

Saat makan malam, kedua buah hati saya itu turut membantu menyiapkan hidangan. Beberapa kali Alya ikut mencomot perkedel tahu dan mengunyahnya hingga beberapa remah-remahnya tersisa disudut mulut. Usai makan malam, kami lalu menunaikan sholat Isya berjamaah. Kedua buah hati saya mengikuti setiap lafadz ayat Al Qur’an yang saya lantunkan dengan lantang, kadangkala bahkan lebih dulu sebelum saya ucapkan. Pada saat mengucapkan kata “Amiiiinn..” keduanya berseru kencang hingga memantul ke dinding-dinding kamar. Ritual Sholat Isya kami tutup dengan prosesi doa yang khusyuk. 

Setelah itu kami lalu duduk-duduk di beranda rumah, menikmati semilir angin malam yang lembut menerpa. 

Bila cuaca cerah, saya menghamparkan tikar di pelataran rumput dihalaman lalu mengajak kedua buah hati saya bersama-sama menatap dan menghitung bintang di langit. 

Kami bertiga tiduran diatas tikar dan mendengarkan Alya berdendang dengan suara cadelnya “Bintang Kecil dilangit yang Bilu, amat banyaak menghias angkasa, aku ingin telbang dan menali, jauh tinggi, ketempat kau beladaa”. 

Kami lalu bertepuk tangan riuh setelah Alya bersenandung. Rizky meledek kalimat cadel si adik sambil meleletkan lidah,”Lagunya jelek. Mestinya Birrru…bukan Billuuu, Menarrrrii…Bukan Menali!”. Si bungsu membalas dengan bibir manyun,”Bialin ajaaa…ini kan’ mulutku, bukan mulutmu!”. Kami semua lalu tertawa menyaksikan keduanya beradu argumen.

Menjelang tidur, saya mengantar kedua buah hati saya itu ke alam mimpi dengan kisah-kisah dongeng kegemaran mereka. Sebelumnya, saya “menunaikan tugas” rutin membuatkan susu buat Alya. Keharuan terasa menyesak dada saya saat melihat wajah keduanya tertidur pulas dengan senyum damai. 

Saya teringat beberapa kali ketika saya mesti pulang lebih larut karena menyelesaikan pekerjaan dikantor atau ada kegiatan yang terkait dengan aktifitas ngeblog saya di Asia Blogging Network, kedua anak saya itu berkeras ingin tetap menunggu saya pulang. Mereka ingin melihat saya disamping mereka sebelum pelupuk mata terpejam ke alam mimpi. 

Bila kantuk mereka datang mendera lebih dulu, pesanpun disampaikan ke ibu mereka, “Ma..kalau Papa pulang, bangunin ya”. Sang ibu hanya mengangguk pelan dan walau akhirnya janji itu tak tertunaikan karena mereka akhirnya tetap dibiarkan tidur sampai saya pulang. Yang paling penting, saat mereka membuka mata di pagi hari, ada saya, ayahnya, berada disamping mereka.   

Sungguh, saya benar-benar merasakan nikmatnya sepotong surga di rumah, bersama keluarga dan orang-orang tercinta.


 

Related Posts
“MENEMUKAN KEMBALI” SPIRIT WARISAN BUDAYA DALAM MENEGUHKAN PILAR KOMUNITAS ASEAN
ari Senin (25/2) kemarin saya memenuhi undangan dari Kementerian Luar Negeri untuk menghadiri Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tema "Reinventing the Spirit the cultural heritage of south east asian people; ...
Posting Terkait
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
Seusai Makan Siang, saya langsung "diculik" secara sukarela oleh kawan lama saya satu SMP dan SMA dulu, Muh.Irdan AB dan istri serta Rinsy Nilawati yang juga kebetulan hadir dalam Seminar ...
Posting Terkait
INISIATIF KORPORASI UNTUK PEMBANGUNAN PENDIDIKAN INDONESIA
etika ditunjuk langsung untuk pertama kali sebagai Ketua Komite CSR (Corporate Social Responsibility) di kantor (PT Cameron Service International), saya sungguh terkejut. Setelah sebelumnya mengemban jabatan jadi Ketua Panitia Employee ...
Posting Terkait
LIVE REPORT KOPDAR MAILISTER & BLOGGER @ PUSPITEK SERPONG
Rombongan Blogger Kompasiana bersama Menristek Kusmayanto Kadiman (berkaos merah) di Graha Widya Bhakti Puspitek Serpong Pukul 08.00 pagi Sabtu (2/5) rombongan kami (saya, Pak Mas'ud dan Pak Eko) berangkat dari Cikarang ...
Posting Terkait
"Setidaknya ada 3 makna yang berada pada nama depanmu, nak," kata ayah saya suatu hari saat kami sedang duduk-duduk di teras rumah. Saya masih bersekolah di SMA ketika itu. "Apa itu, ...
Posting Terkait
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK KOKITA
inggu pagi (30/6) yang cerah tadi, saya menemani istri untuk mengikuti lomba masak nasi goreng yang dilaksanakan oleh Kokita di Pasar Bersih Cikarang. Awalnya, saya sama sekali tidak ada rencana ...
Posting Terkait
HARI INI, 40 TAHUN..
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, ...
Posting Terkait
SATU TAHUN KOMUNITAS BLOGGER BEKASI : SEBUAH MIMPI YANG MENJADI
Gelap Malam telah melingkupi kawasan pintu Tol Jatibening dan sekitarnya saat saya dan Mas Yulyanto yang mengendarai mobil Isuzu Panther melintasinya. Tak terlalu banyak kendaraan yang melewati pintu tol tersebut ...
Posting Terkait
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2011
Januari 2011 Sebuah tonggak sejarah dalam kehidupan blogging saya dipancangkan di bulan ini. Tepat di Hari Kesepuluh Bulan Januari 2011, buku saya yang merupakan kumpulan cerita Narsis atau Narasi Romantis berjudul “Balada ...
Posting Terkait
JEDA KARIR DAN UPAYA MEREVITALISASI “MOVE-ON”
emberitahuan itu datang tak terduga di Jum'at siang, 18 Maret 2016. Meski terus terang, sebenarnya saya sudah mempersiapkan fisik maupun mental menerima segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan mengamati situasi ...
Posting Terkait
“MENEMUKAN KEMBALI” SPIRIT WARISAN BUDAYA DALAM MENEGUHKAN PILAR
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
INISIATIF KORPORASI UNTUK PEMBANGUNAN PENDIDIKAN INDONESIA
LIVE REPORT KOPDAR MAILISTER & BLOGGER @ PUSPITEK
CATATAN KECIL DI USIA 39
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK
HARI INI, 40 TAHUN..
SATU TAHUN KOMUNITAS BLOGGER BEKASI : SEBUAH MIMPI
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2011
JEDA KARIR DAN UPAYA MEREVITALISASI “MOVE-ON”

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *