marah2.thumbnailYang Paling saya tahu tentang Marah adalah, dia lebih banyak melukai diri sendiri ketimbang orang yang kita marahi  

— Oprah Winfrey, Pembawa acara TV Terkenal (dikutip dari Majalah Intisari Maret 2007)

Kejadian 12 tahun silam itu masih membekas di ingatan.

Dari tempat kos di Cawang, saya bermaksud menumpang Metromini ke Mall Kalibata untuk membeli buku.

Matahari bersinar sangat terik waktu itu. Rasanya ubun-ubun kepala bagai terbakar. Saya merutuk kesal lupa membawa topi yang sudah saya siapkan sebelumnya dikamar kos.

Saat akan turun, terjadilah musibah itu.

Bis yang saya tumpangi itu melaju kencang sebelum kaki saya benar-benar menapak kokoh dijalan. Tak ayal saya pun jatuh terguling-guling diatas aspal. Masih untung, saya memiliki “peredam kejut” yang lumayan mumpuni berupa bokong yang padat montok sehingga ketika tubuh jatuh berdebum di aspal tidak terlalu menghasilkan akibat yang parah.

Tapi tetap saja sakit.

Celana Jeans saya kotor dan ditambah rasa malu bukan main disaksikan sejumlah orang yang berada di depan mall.

Kemarahan saya seketika memuncak. Saya lalu berlari mengejar Metromini itu yang kebetulan sedang berjalan pelan karena tepat didepannya ada pintu perlintasan kereta api.   Akhirnya saya berhasil naik ke atas metromini dan langsung menuju tempat pengemudi berada.

Dengan geram saya langsung mencengkram kerah kaos kumal supir yang berperawakan lebih kecil dari saya itu seraya menatap tajam kepadanya. Sang kondektur mencoba membantu tapi ia tidak berani ketika saya sudah memasang kuda-kuda untuk menghajarnya bila ia mau mendekat. Saya telah siap menerapkan ilmu beladiri yang pernah saya pelajari untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Termasuk resiko bila dikeroyok.

Sang supir sangat ketakutan. Saya lalu melontarkan sejumlah makian pedas dan sumpah serapah terhadapnya telah memperlakukan penumpang secara tidak manusiawi, masih untung saya—lelaki muda, kekar dan sehat  😀 —yang jadi korban, bagaimana jika seorang ibu hamil, anak-anak atau orang cacat yang mengalami nasib serupa?.Bukankah hasinya akan lebih fatal?.

Berkali-kali si supir menyampaikan permohonan maaf dengan suara lirih. Ia menyatakan sedang mengejar setoran sehingga buru-buru menekan pedal gas sebelum saya betul-betul menjejakkan kaki dengan sempurna.Hampir saja tinju saya melayang ke wajahnya ketika beberapa orang penumpang datang melerai. Saya turun dari Metromini dengan rasa puas telah melampiaskan kemarahan. Saat bis itu bergerak maju, saya masih sempat menendang bumper belakang bis dengan gemas.

Saya memutuskan untuk membatalkan niat saya ke toko buku. Dengan kondisi celana kotor dan rasa sakit di bagian punggung serta bokong, maka pilihan terbaik adalah kembali ketempat kos, menenangkan diri sekaligus beristirahat. Sudah hilang “mood” saya mencari buku hari itu.

Sebelum tiba ke tempat kos, saya mampir sejenak di wartel terdekat. Menelepon orang tua saya di Makassar .

Di telepon, saya menceritakan apa yang baru saja saya alami pada ayah. Berapi-api dan penuh semangat, juga sekaligus menunjukkan “legitimasi” dan kebanggaan bahwa putra sulungnya yang merantau jauh ini berhasil “menaklukkan” Jakarta dengan menundukkan supir metromini yang ceroboh. Ayah hanya mendengarkan saya nyerocos panjang ditelepon.

“Kamu belum bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, bahkan untuk dirimu sendiri sekalipun,” suara bariton ayah tiba-tiba terasa menikam hati begitu tajam di ujung telepon.

Saya melongo.

Tak menduga malah mendapat tanggapan mengejutkan seperti ini.

“Kualitas kepemimpinanmu berada di level paling rendah, karena kamu tak mampu mengendalikan amarah. Camkan itu,” tegas ayah saya lagi.

Saya mencoba berapologi bahwa apa yang saya lakukan tadi adalah bagian dari upaya saya untuk memberikan pelajaran pada sang supir Metromini untuk lebih berhati-hati, agar kejadian fatal serupa tidak terjadi lagi pada orang lain. Cukuplah saya saja yang jadi korban.

“Tindakanmu sudah benar,” kata ayah,”tapi coba kamu pikir bagaimana bila kamu melakukannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan cara koboi yang seperti kamu lakukan tadi?”,

“Cara berbeda? Maksudnya, Pa?” tanya saya kebingungan.

Saya mendengar helaan nafas panjang ayah saya diujung telepon.

“Kamu tetap mengejar dan menemui supir tadi lalu mengingatkannya—dengan kalimat yang lembut, bukan dengan rasa marah—bahwa tindakannya salah dan lebih berhati-hati dikemudian hari. Buka hatimu lebar-lebar dan cobalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Boleh jadi supir tadi mengejar setoran yang ditargetkan untuk biaya makan anak istrinya sehingga mesti buru-buru mencari penumpang lebih banyak atau supir tadi tidak mendengar aba-aba kondekturnya kamu mau turun atau ia sedang berada dalam fikiran yang kalut sehingga tak bisa berkonsentrasi penuh saat menurunkanmu sebagai penumpang, atau justru begini, coba kamu evaluasi kembali cara turunmu dari bis tadi, apakah sudah benar?. Dengan memahami ketidaksempurnaan yang terjadi pada supir itu dan pada kamu sendiri, tak akan ada alasan bagimu untuk marah begitu rupa”, tutur ayah saya panjang lebar di ujung telepon.

Saya menggigit bibir.

Tapi jiwa muda saya memberontak, bagaimanapun saya tetap beranggapan, mesti dilakukan sebuah tindakan yang drastis serta sedikit anarkis, untuk menyadarkan tindakan ceroboh yang dilakukan oleh supir tadi.

“Kamu sudah sholat Dhuhur belum?” tanya ayah lembut, beliau seperti tahu apa yang sedang bergolak di batin saya .

“Belum,” sahut saya pelan.

“Coba kamu sholat Dhuhur dulu dikamar kos. Semoga dengan begitu, amarah yang melanda hatimu segera reda. Setan selalu berada didekat orang-orang marah. Telepon Papa lagi kalau kamu masih belum bisa tenang,” ujar ayah saya.

Setelah menutup telepon dan membayar biaya wartel, saya kembali ke kamar kos menunaikan sholat Dhuhur.

Diatas sajadah, usai sholat, saya menangis tertahan. Pelupuk mata saya basah dan dada disesaki keharuan mendalam.

Rasa sesal menyelinap perlahan dari hati. Saya segera memohon ampun kepada Allah SWT atas kelalaian yang telah saya lakukan tadi. Emosi telah menguasai pikiran dan hati saya sehingga mengabaikan kesadaran untuk melakukan hal yang lebih rasional.

Ketika itu terjadi, tak ada satu pilihanpun dalam fikiran saya, kecuali membalas dan melampiaskannya. Rasa marah yang saya alami pada akhirnya menutup semua kemungkinan pilihan yang bisa saya raih seperti ketika saya tidak sedang marah.

Bila kemudian tadi saya berhasil memukul sang supir, se-“benar” apapun alasan tindakan saya, tetap saja faktanya saya telah menganiaya seseorang dan itu sudah melanggar hukum. Beruntunglah, Allah SWT masih melindungi saya dari tindakan konyol yang kontraproduktif itu.

Filsuf besar Yunani Aristoteles pernah mengatakan “Siapapun bisa marah, tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”.

Saya memahami makna dari nasehat ayah saya : Bila marah cobalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan manusia justru berada pada ketidaksempurnaannya. Persoalannya—seperti kata Aristoteles—adalah tak mudah “mengelola” rasa marah yang “baik dan benar”.Ujian pengendalian diri tidak selamanya kita dapatkan pada saat kondisi yang damai dan tenang. Kemarahan senantiasa mengandung emosi aktif untuk mendorong orang segera melakukan tindakan dengan mengabaikan logika.

Diane Tice, Psikolog dari Case Western University pernah meneliti strategi seseorang menurunkan amarah seperti menyendiri, mendengarkan music, berjalan kaki, berolahraga dan relaksasi. Sementara Nabi Muhammad SAW menyatakan sebuah tips berharga :”Kalau kamu sedang marah padahal kamu berdiri, cobalah duduk, Kalau belum reda, cobalah berbaring atau mengambil air wudhu”.

Krisis financial global yang melanda dunia saat ini dan telah berimbas pada negeri kita seperti merebaknya PHK dan tutupnya sejumlah pabrik karena kehilangan order serta naiknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok, tak urung menyuburkan situasi seseorang menjadi lebih mudah marah. Belum lagi Pesta Demokrasi yang akan kita selenggarakan tahun ini turut menambah ketegangan dan kerapkali memicu rasa marah.

Saya ingin membagi sebuah kisah menarik yang ditulis oleh Suryana Abdurrauf berjudul “Menahan Marah” yang saya kutip dari Buku Kumpulan Hikmah Republika “Pahala Itu Ibadah” (Penerbit Republika,2005).

Suatu Hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shiddiq. Ketika sedang bercengkrama, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abubakar dan langsung mencelanya. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun Abubakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.

Kemudian orang Arab Badui itu kembali memaki Abubakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abubakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum,

Semakin marahlah orang Arab Badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abubakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, sebagai manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abubakar tak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abubakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, Abubakar sebagai tuan rumah tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai ke halaman rumah. Kemudian Abubakar berkata: “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, tolong jelaskan kesalahanku”.

Rasulullah menjawab:”Sewaktu ada seorang Arab Badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat disekelilingmu yang akan membelamu dihadapan Allah. Begitupun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum kembali. Namun ketika yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya lalu membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Karena Iblis hadir disisimu. Oleh karena itu aku tak ingin berdekatan dengannya dan aku tidak memberikan salam kepadanya”.

Sungguh ini sebuah pelajaran berharga bagi kita semua untuk tetap memelihara hati dan jiwa kita dari rasa amarah. Dunia akan menjadi lebih baik dan tenteram bila setiap orang dapat mengendalikan rasa marahnya serta pada akhirnya kita akan dapat mencari solusi atas setiap persoalan dengan jernih dan elegan.

Sumber Gambar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed