JADI ‘PAPI SITTER’, SIAPA TAKUUT ??

alya-gayaHari libur di Sabtu dan Minggu merupakan waktu terbaik bagi saya untuk mendekatkan diri bersama keluarga, orang-orang yang saya cintai. Rasanya ini adalah saat yang tepat untuk “membayar utang” waktu meninggalkan mereka selama 5 hari kerja, karena, tiap hari, saya mesti berangkat pagi dari rumah sekitar pukul 06.30 dan tiba kembali pukul 20.00 WIB.

Di kedua hari spesial itu kami sengaja meminta Bibi pembantu untuk libur saja (biasanya ia datang jam 06.00 pagi, pulang jam 15.00 sore) dan membiarkan saya serta istri bahu membahu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Seperti Sabtu lalu (24/1), dimana saya mesti melakoni tugas sebagai “Papi Sitter” karena kebetulan dihari yang sama, istri saya akan menghadiri Pengajian bersama Majelis Taklim yang diikutinya. Sepanjang itu kegiatan yang positif dan mencerahkan saya sangat mendukung segala aktifitas istri saya.

Pagi itu, setelah mengantar si bungsu Alya ke sekolah dengan motor, istri saya pamit untuk mengikuti acara.
“Jangan khawatir, hidangan makan siang sudah saya siapkan. Paling cuma nyuci baju dikit, menyapu rumah dan ngepel. Hati-hati ya jaga anak-anak,” kata istri saya pamitan seraya mencium tangan saya.

“Beres deh, percayakan saja semuanya pada Papi Sitter yang ganteng ini!,” sahut saya berseloroh. Istri saya tersenyum dan tak lama kemudian ia berlalu menuju gerbang rumah.

Si sulung Rizky yang kebetulan tiap hari Sabtu libur menemani saya. Ia lebih senang menekuni game komputer di laptop saya terutama serial permainan “Anak Cerdas” yang dipersembahkan oleh Akal Interaktif. Kalau bosan, biasanya Rizky memilih nonton Disney Channel lewat saluran Indovision. Makanya, saya bisa lebih leluasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Maka demikianlah, dengan mengenakan baju kaos “You Can See” ala Bang Tigor di Sinetron “Suami-Suami Takut Istri di Trans TV”, saya pun “beraksi”. Sebuah “baju kebangsaan” yang menampilkan otot-otot kekar perut saya yang jika diikutkan kompetisi lelaki “L-Men” akan langsung dipastikan gugur dengan sukses di seleksi awal, karena tidak memiliki perut yang “six pack” tapi “more than sixty pack”..hehehe .

Ditemani lagu-lagu MP3 kegemaran saya di Ipod, saya pun memulai aktifitas sebagai “Bapak Rumah Tangga”. Untunglah cucian terlalu banyak, dan saya bisa melakukan aktifitas “multi tasking”. Setelah memasukkan pakaian yang dicuci tersebut ke mesin cuci untuk dibilas secara otomatis, disaat yang sama saya melakukan pekerjaan lain seperti menyapu dan mengepel. Teknologi benar-benar sangat memudahkan disaat ini. Saya masih ingat betul, saat masih tinggal bersama orang tua dulu di Maros, tugas rutin saya–sebagai anak tertua–adalah mencuci baju.Dan memang ini merupakan sebuah kegiatan yang sangat menghabiskan tenaga. Terlebih ketika harus mencuci seprei. Terasa habis tenaga untuk memerasnya sebelum dijemur. Sekarang? Tidak lagi tuh. Semua dilakukan secara otomatis, termasuk pengeringannya lewat mesin cuci.

Singkat cerita, hanya dalam waktu 1,5 jam saja, semua pekerjaan sudah beres. Setelah beristirahat sejenak sambil baca koran langganan, saya lalu beranjak untuk menjemput Alya di sekolahnya di TK Fithriah Az-Zahra yang terletak 2 km dari rumah kami. Rizky saya ajak bareng menjemput adiknya.

Sepulang dari sekolah, kedua buah hati tersayang ini merajuk minta dibelikan es krim. Biasanya ibu mereka melarang, takut kena pilek atau radang tenggorokan. Tapi tak apalah, sekali-kali. Tak tega rasanya menyaksikan wajah-wajah memelas Rizky dan Alya. .

mylittleangel-4Ini juga sebagai sebentuk “hadiah” atas kesediaan mereka tetap dirumah saja hari itu (biasanya jika saya melakoni tugas sebagai “Papi Sitter” mereka berdua saya ajak jalan-jalan ke Plaza JB yang letaknya tak jauh dari rumah untuk sekedar mandi bola atau main game disana) karena saya beralasan malam harinya saya dapat giliran ronda malam.

Sesampai dirumah, setelah ganti baju, mendadak Alya merajuk minta main boneka. Saya lalu mengambil kotak bonekanya yang saya simpan di kamar depan. Setelah meletakkan kotak itu didepannya, saya lalu menyambar koran yang belum tuntas saya baca. Rizky sudah “aman terkendali” di depan laptop.

“Main bonekanya sama Papa!” cetus Alya nyaring.

Saya menghela nafas lalu meletakkan koran di meja.

“Ya..udah, Papa main boneka sama Alya deh. Terus gimana nih?,” kata saya mengalah dan ikut duduk didepan Alya yang sudah pasang muka cemberut.

“Asyiiik!,” tukas Alya gembira sambil bertepuk tangan.

Saya lalu mengambil beberapa boneka Alya dan meletakkannya dilantai berjejeran.

“Bukaan…main bonekanya bukan begitu, Pa. Tunggu sebentar ya,” ujar Alya spontan, ia lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar. Saya kebingungan.

Tak lama kemudian, ia datang sambil membawa sebuah jilbab ibunya. Ia lalu mengangsurkan jilbab itu ke arah saya.

“Buat apa ini, nak?”

“Papa pake ya?”

“APA?”, spontan saya menjerit kaget.

“Iya Pa, nanti Papa pake, kan’ mau main dokter-dokteran boneka sama Alya,” kata si Alya cengengesan.

Saya menarik nafas panjang.

“Alya sayaaaang, Papa ini laki-laki, nak. Ada kumisnya, ada jenggotnya (walau hanya “jenggot pancasila” alias hanya tumbuh lima helai doang ) juga ada bulu kakinya. Masa’ mau pake jilbab kayak ibu-ibu?” kata saya menjelaskan dengan kalimat sehalus dan setenang mungkin. Saya tak ingin melukai hati putri kecil saya ini.

Seperti sudah diduga Alya merajuk.

“TAPI ALYA MAU MAIN DOKTER-DOKTERAN!!”, tukasnya kencang.

“Ooo…gitu, terus, yang jadi dokternya siapa dong?”

“Alya yang jadi dokter, Papa jadi ibu-ibu yang bawa boneka yang sakit,” ujar putri kecil saya itu merancang skenario.

mylittleangelSaya menepuk jidat.

Bener-bener ini anak mewarisi bakat usil babenya (saya tak tahu apakah ini terjadi gara-gara “ketularan” peristiwa “pengenyotan” tempo hari) dan watak ngambek ibunya. Terbayang sudah bagaimana kelak saya melakoni adegan itu.

Saya spontan menggeleng tegas. “Tidak bisa, Papa tidak mau!,” sahut saya sambil ngeloyor ke sofa sambil bawa koran.

“HUWAAA….HWAAA….HWAA…PAPA JAHAT!”, tangis Alya pecah. Ia meronta-meronta dilantai.

Saya garuk-garuk kepala. Alamak, kalo sudah begini, tak kuasa rasanya menolak keinginan si bungsu yang manja ini. Sembari menabah-nabahkan hati, saya kembali mengalah dan meraih Alya kemudian menggendongnya.

“Yaa…udah nak, cup..cup.., jangan nangis gitu, iya..ya..udah deh Papa mau sekarang pake jilbabnya Mama,” bujuk saya dengan tenggorokan tercekat. Kilat mata ceria terlihat kembali pada wajah putri tersayang.

Tak lama kemudian, ia dengan antusias memakaikan jilbab biru bermotif payet kewajah saya yang sudah pasrah tapi tak rela ini. Sedikit agak sulit memasangkannya. Terutama pada bagian wajah, akibatnya sedikit dipaksa dengan resiko pipi saya yang sebelumnya tembem menggemaskan menjadi lebih “kurus” yang berefek dramatis pada bibir saya yang menjadi rada monyong dikit.Tidak berhenti sampai disitu, secara “brutal” Alya juga memakaikan lipstik yang berasal dari Crayon merah ke bibir saya.

Maka lengkap sudah penderitaan ini.

Tawanya meledak saat melihat hasil dandanannya itu. Alya memamerkan hasil karyanya itu pada Rizky yang langsung disambut pula dengan tawa terpingkal-pingkal. Saya membayangkan, bila bercermin maka tampang saya ketika itu bagai perpaduan antara Dorce Gamalama, Ivan Gunawan, Kenek Metromini dan Preman Tanah Abang (maklum pake baju kaos “you can see” ).

Oh..Maafkan suamimu yang malang ini istriku sayang, jilbabmu pasti molor dengan sukses gara-gara penampang wajah saya lebih besar dari wajahmu, saya membatin kesal.

Setelah tawanya reda, Alya lalu menyelempangkan sarung ke badan saya lalu menaruh sebuah boneka barbienya di gendongan saya.

“Ini Pa..eh..Bu, anaknya yang lagi sakit. Bawa ke dokter nanti ya,” kata Alya sambil merapikan sarung yang diselempangkan itu.

Saya hanya manyun. Tapi tetap diam.

Alya lalu merapikan peralatan dokter-dokterannya. Ia mengatur bagaimana saya mesti masuk ke ruang kerja dokter dengan membawa boneka barbie digendongan. Aduh..jangan sampai deh ada tetangga yang lihat kondisi saya seperti ini, bisa hancur reputasi , pikir saya ketakutan.

Akhirnya dengan gaya ibu-ibu yang panik, saya masuk ke ruang kerja “dokter Alya”. Dengan nafas ngos-ngosan saya melapor kepadanya. Tentu dengan gaya se-kemayu mungkin.

“Aduuh..Bu Dokter tolong anak saya nih”, kata saya dengan sorot mata cemas.

“Ada apa ibu, sakit apa anaknya?”, tanya Alya yang segera memakai steteskop-steteskopan di telinganya.

“Sakit Panu, bu dokter,” sahut saya dengan wajah memelas (sebenarnya sih lebih cocok menahan ketawa)

“APAAA?? SAKIT PANU???”, Alya terkejut sambil menahan nafas. Seakan-akan sakit yang diderita oleh si Barbie adalah penyakit yang tak tersembuhkan dan belum ditemukan obatnya.

“Iya bu Dokter, terus bagaimana nih?” tanya saya panik.

“Ini mesti diambil darahnya buat dicek,” kata Alya dengan gaya seorang dokter profesional. Mendadak ia meraih lengan saya dan menyiapkan suntik-suntikan.

“Lhooo…bu Dokter, yang sakit kan’ anaknya? Masa’ Mamahnya yang diambil darahnya?,” saya protes.

“Anaknya masih kecil, bu. Kasihan. Biar Mamahnya saja yang diambil darahnya,” kata Alya tenang.

Saya tertawa ngakak.

Alya mendelik tak suka. Nampaknya ia keberatan mendengar cara ketawa ngakak saya yang kurang feminin itu.

Saya lalu mengoreksinya dengan ketawa lebih “gemulai” dengan gaya menutup mulut sambil melirik malu-malu.

Dan begitulah…kami bermain dokter-dokteran, sampai istri saya pulang dari pengajian. Untunglah saya dan Alya sudah merapikan arena permainan kami termasuk menyimpan kembali jilbab istri saya yang sudah molor itu ke tempatnya kembali.

Di depan pintu, istri saya tersenyum bangga melihat hasil karya suaminya tercinta yang telah menjadi “Papi Sitter” yang baik.

“Nahh..gitu dong, Pa. Semuanya rapi dan anak-anak senang. Terimakasih ya. Papa memang hebat. Tapi ngomong-ngomong, kok pake lipstik sih?” kata istri saya sembari tertawa berderai. Dan sayapun, kembali manyun dengan sukses.. 

Related Posts
Ustadz Syuhada Memimpin Pengajian
abtu malam, 9 April 2011, bertepatan dengan perayaan ulang tahun saya ke 41, kami sekeluarga berinisiatif melaksanakan pengajian/pembacaan surat Yaasin di rumah sebagai wujud rasa syukur, selain atas bertambahnya usia ...
Posting Terkait
#BATIKINDONESIA : MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL DENGAN KAMPANYE KOLABORATIF DIGITAL MULTI ARAH
aya masih selalu terkenang-kenang perjalanan wisata budaya "Mahakarya Indonesia" ke Madura 3 tahun silam. Salah satunya adalah ketika mengunjungi pengrajin batik gentongan Zulfah Batik di Tanjung Bumi, Bangkalan. Waktu itu, ...
Posting Terkait
MENAKAR POTENSI JOKOWI & JUSUF KALLA
Judul Buku : 9 Alasan Memilih Joko (Presiden-Wakil Presiden 2014) Penulis: Ahmad Bahar Penerbit : Solusi Publishing 2014 Editor : R.Toto Sugiharto Jumlah halaman : 397 engambilan nomor urut Capres/Cawapres sudah dilaksanakan , Sabtu (31/5) ...
Posting Terkait
HADIAH IPOD NANO 8 GB ITU..
Alhamdulillah, kemarin siang, saya akhirnya berkesempatan mengambil hadiah Ipod Nano 8 GB, hadiah dari kontes keempat Mim-Yahoo di kantor Yahoo Indonesia CEO Suite Pasific Place Lt.15 SCBD Jakarta Selatan.  Hadiah ...
Posting Terkait
SUDAHLAH DIK, JANGAN ULANGI KETOLOLAN ITU LAGI!
"Perang batu" antar mahasiswa di UNHAS, Selasa (26/2) (Foto diambil dari situs Panyingkul) "Tidak ada konflik di Indonesia yang tidak diselesaikan orang- orang Unhas. Tetapi, di Unhas sendiri, konflik dan perkelahian tidak pernah selesai" Jusuf ...
Posting Terkait
NIKMATNYA BERENANG DI WATERBOOM LIPPO CIKARANG
Sabtu pagi (5/3), kedua anak saya,Rizky dan Alya datang "menghadap" kepada sang ayah yang sedang duduk menyeruput kopi panas pagi hari. "Pa, katanya mau ke Waterboom hari ini" tagih si bungsu ...
Posting Terkait
JEDA KARIR DAN UPAYA MEREVITALISASI “MOVE-ON”
emberitahuan itu datang tak terduga di Jum'at siang, 18 Maret 2016. Meski terus terang, sebenarnya saya sudah mempersiapkan fisik maupun mental menerima segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan mengamati situasi ...
Posting Terkait
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
Seusai Makan Siang, saya langsung "diculik" secara sukarela oleh kawan lama saya satu SMP dan SMA dulu, Muh.Irdan AB dan istri serta Rinsy Nilawati yang juga kebetulan hadir dalam Seminar ...
Posting Terkait
MERINDUKANMU, IBU…
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya ; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.." (QS Lukman 31:14) Dalam ...
Posting Terkait
BERBAGI PENGALAMAN DALAM PELATIHAN JURNALISTIK HIMPUNAN MAHASISWA SIPIL UNHAS 2016
Hari Sabtu (24/9), cuaca terlihat begitu bersahabat saat saya tiba di Kampus baru Fakultas Teknik UNHAS di Gowa. Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di kampus tersebut, setelah sebelumnya ...
Posting Terkait
DEMI CINTA, JADI TUKANG OJEK SEPEDA PUN TAK APA..
Sebuah kisah nyata di ujung jalan raya Semper, Tanjung Priok, sebelas tahun silam (tanggal tepatnya lupa) : Pemuda itu memandangku dengan tatapan curiga.Ia kemudian melihat sepeda bututnya dan melihat kembali lagi ...
Posting Terkait
JAKARTA ART AWARD 2012 : APRESIASI TERHADAP KARYA LUKIS DAN KEMITRAAN STRATEGIS BLOGGER
um'at sore (28/9) saya dan keluarga berangkat menuju Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol menghadiri undangan pembukaan Jakarta Art Award 2012. Ini menjadi kesempatan berarti buat saya, sebagai blogger, karena ...
Posting Terkait
TERIMAKASIH YA DELL!
3 Degrees Club yang terletak di lantai 7 FX Mall Jl.Jend.Sudirman Jakarta begitu semarak, kemarin malam (16/12). Sejumlah standing banner dan logo DELL, salah satu produsen komputer terkemuka di dunia, berada ...
Posting Terkait
BIARKAN EMAS ITU TERGADAI, ASAL BUKAN CINTA KITA
SETELAH prosesi resepsi pernikahan yang sakral kami jalani di gedung wayang Kekayon Jl.Raya Yogya Wonosari, 10 April 1999, babak baru kehidupan sudah menyongsong didepan mata. Saya telah menjadi suami dari ...
Posting Terkait
Siap On Air !
Kemarin sore, Minggu (27/3) saya berkesempatan menghadiri wawancara bersama radio DFM 103,4 bertempat di ruang siaran studio mereka di Perumahan Buncit Indah, Jl.Mimosa 1 No.A 7 Pejaten. Berangkat dari Cikarang ...
Posting Terkait
KISAH EMPLOYEE GATHERING (2) : OUTBOUND YANG SERU DAN MENYENANGKAN
agi di Bali sungguh menyegarkan. Hari Sabtu (25/2) saya menyaksikan kilau mentari bersinar terang dan cahayanya menyelusup dari sela-sela dedaunan rindang pohon tepat didepan kamar 120 tempat saya menginap di ...
Posting Terkait
KEJUJURAN KUNCI KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA
#BATIKINDONESIA : MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL DENGAN KAMPANYE KOLABORATIF
MENAKAR POTENSI JOKOWI & JUSUF KALLA
HADIAH IPOD NANO 8 GB ITU..
SUDAHLAH DIK, JANGAN ULANGI KETOLOLAN ITU LAGI!
NIKMATNYA BERENANG DI WATERBOOM LIPPO CIKARANG
JEDA KARIR DAN UPAYA MEREVITALISASI “MOVE-ON”
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
MERINDUKANMU, IBU…
BERBAGI PENGALAMAN DALAM PELATIHAN JURNALISTIK HIMPUNAN MAHASISWA SIPIL
DEMI CINTA, JADI TUKANG OJEK SEPEDA PUN TAK
JAKARTA ART AWARD 2012 : APRESIASI TERHADAP KARYA
TERIMAKASIH YA DELL!
BIARKAN EMAS ITU TERGADAI, ASAL BUKAN CINTA KITA
WAWANCARA DI RADIO DFM 103,4
KISAH EMPLOYEE GATHERING (2) : OUTBOUND YANG SERU

17 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.