“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN

 

SciMind_Eye

“Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you “look” at how situation might turn out, using a “questioning attitude” : to ask “WHAT could happen IF the unexpected occurs?” and HOW can this job be done more safely?”

–Tutorial Training STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision (copyright by Dupont, 2004)

Minggu lalu (Jum’at 23/1) , saya dan sejumlah kawan menjadi peserta pelatihan sehari STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision yang dilaksanakan secara internal dikantor tempat saya bekerja oleh Divisi Health, Safety & Enviroment. Modul pelatihan diambil dari materi pengantar STOP for Supervision yang dibuat oleh Du Pont. Suasana pelatihan berlangsung lebih interaktif karena disajikan pula video pengantar tiap membahas sebuah bab dari modul.

Pelatihan yang saya ikuti ini memberikan begitu banyak pemahaman dan wawasan baru tentang bagaimana usaha yang dapat kita lakukan untuk tetap memelihara spirit “Safety is Yours” yaitu tanggung jawab keselamatan adalah berada pada diri kita masing-masing. Pak Erick Wattimena, HSE Manager PT. NOV Indonesia menyampaikan materinya secara santai, komunikatif dan memikat disertai contoh-contoh aplikatif di lapangan.

Saya tertarik dengan uraian soal “Mind Eye” seperti yang diutarakan pada awal artikel ini. Kemampuan deteksi untuk “membaca” tanda-tanda awal bahaya bila sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, secara sensitif melalui “mata fikiran”, perlu senantiasa diterapkan dalam kehidupan keseharian dan tidak sebatas pada aktifitas dikantor atau di pabrik saja.

Kemampuan ini dibangun dengan senantiasa bertanya pada diri sendiri, dampak apa yang timbul jika sesuatu yang tak diharapkan terjadi? Bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara lebih aman dan selamat dengan antisipasi lebih dini atas kemungkinan buruk yang dapat terjadi?

Sebenarnya ini bukanlah sebentuk sikap paranoid, namun lebih pada sebuah sikap waspada pada kemungkinan terburuk dengan membaca gejala-gejala tak wajar yang ada disekeliling kita. Kondisi lantai yang licin dan basah misalnya, merupakan sebuah gejala awal yang berpotensi menyebabkan seseorang celaka karena tergelincir. Dan untuk itu dibutuhkan upaya preventif untuk menghindari kecelakaan fatal itu.

Sekitar 3 Minggu lalu, saya sempat mengalami kejadian yang cukup membuat jantung berdebar. Bis Tunggal Daya yang saya tumpangi dari Bekasi Timur menuju kantor saya di Cilandak mengalami masalah pada sistem pengeremannya. Sang supir nampaknya memiliki kemampuan “mind eye” yang cukup bagus.

Diatas tol JORR Cikunir mendekati daerah Pondok Gede, ia menghentikan bisnya lalu turun dan memeriksa bersama sang kondektur. Beberapa penumpang terlihat kesal karena dengan adanya kejadian tersebut, berakibat banyak diantara mereka yang terpaksa terlambat masuk kantor. Umpatan kesal dan gerutuan terdengar riuh. Apalagi ketika mendengar informasi dari sang supir tidak berani melanjutkan perjalanan dengan kondisi rem bis yang blong seperti itu.

Saya mencoba untuk mengerti.

Ini adalah upaya konstruktif dari sang supir untuk menjaga serta bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpangnya. Sebenarnya, bis masih bisa dipaksakan jalan, meski pelan-pelan, namun tentu saja itu tak lantas berarti resiko kecelakaan bisa hilang. Beberapa penumpang memaksakan untuk meminta bis tetap dijalankan saja. Tapi sang supir berkeras. Ia menyatakan akan menunggu bis Tunggal Daya yang lewat berikutnya dan akan mengalihkan penumpang dibisnya pada bis tersebut.

Saya sepakat serta sangat menghormati tindakan dan sikap tegas sang Supir. Terlepas apakah sebelum berangkat ia belum memeriksa kondisi kendaraannya, namun pada situasi yang begitu riskan seperti yang tengah dialami, ia mengambil sebuah keputusan yang tidak populer, tapi tepat. Ia menggunakan kemampuan “mind eye”-nya untuk menganalisa kemungkinan buruk yang bakal terjadi bila kendaraan kami yang tak laik jalan itu tetap dipaksakan untuk berjalan. Akhirnya, setelah menunggu setengah jam, kami akhirnya ikut pada bis Tunggal Daya yang datang berikutnya dan Alhamdulillah, tiba dengan selamat ditempat tujuan.

Masih lekat dalam ingatan kita terbakarnya depo minyak Plumpang Minggu (18/1) pekan lalu yang menyebabkan tangki nomor 24 buatan tahun 1974 dilalap api dan mengakibatkan 1,5 juta liter Premium yang disimpan di tangki tersebut lenyap sia-sia menjadi gumpalan asap (Majalah Tempo Edisi 26 Januari – 1 Februari 2009). Penyebab kecelakaan seperti yang diumumkan polisi dan diungkapkan pada majalah tersebut cukup menyentak kalbu: katup pengaman tekanan didalam tangki tidak berfungsi baik.

Terjadinya malfungsi pada katup pengaman seyogyanya tidak terjadi jika manajemen perawatan obyek vital seperti depo minyak Plumpang dilaksanakan secara teliti dan tentu saja dengan menggunakan kemampuan “mind eye” yang tajam. Bila gejala-gejala awal kerusakan terbaca sejak dini dan bertanya secara kritis “WHAT could happen IF the unexpected occurs?” maka kemungkinan terburuk seperti terbakarnya tangki yang menyebabkan satu orang tewas serta menyebabkan kerugian pada Pertamina sekitar Rp 15 milyar ini tak perlu terjadi.

Upaya-upaya pencegahan tentu segera dilakukan untuk mengantisipasinya. Penerapan audit total atas keselamatan dan keamanan pada 26 tangki raksasa di obyek vital depo Pertamina Plumpang menjadi hal yang niscaya adanya. Audit yang dilakukan pada depo yang berkapasitas 10 juta liter per hari tersebut, mesti dibarengi dengan analisa mendalam dan tentu tindak lanjut secara konsisten. Terlebih bahwa depo ini menyalurkan 20 persen kebutuhan bahan bakar nasional khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Diharapkan audit yang kemudian ditindaklanjuti tersebut tidak maju mundur seperti jogged poco-poco, atau naik turun seperti main yoyo atau malah berputar tak terarah seperti gasing.

Sebelum kejadian terbakarnya depo Plumpang, tanggal 11 Januari 2009, kita mendengar kabar yang sangat memilukan. KM Teratai Prima yang mengangkut 230 penumpang tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat. Seperti yang disinyalir dari tulisan Pak Chappy Hakim (mantan KSAU RI yang juga seorang blogger) di Kompasiana, kapal ini tenggelam karena kelebihan penumpang.

Sebuah fenomena yang klise sebenarnya. Karena dari beberapa kecelakaan transportasi yang terjadi (terutama transportasi laut) selalu masalahnya adalah ketidaktaatan mematuhi aturan dengan membawa penumpang melebihi batas yang dibolehkan. Dikabarkan ada 45 penumpang yang hilang tidak terdapat dalam manifest kapal bahkan konon malah lebih dari jumlah itu.

Kalau saja setiap pihak yang berkompoten menggunakan “Mind Eye”-nya menganalisa secara kritis kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi, maka tentu dapat dihindari kejadian yang fatal nanti. Bila pihak pengusaha kapal menggunakan “mind eye”-nya dengan tetap mematuhi aturan maksimum beban muatan kapal demi keselamatan penumpang diatas keuntungan materi yang bakal diraih didepan mata, atau pihak nakhoda kapal–lewat “mind eye”–nya tidak akan memberangkatkan kapal bila muatan kapal yang dipimpinnya melebihi batas, maka tentu resiko buruk dapat dihindari lebih awal.

Kesigapan melakukan antisipasi atas kemungkinan terburuk berkat “penerawangan” Mind Eye akan menumbuhkan kesadaran spontan dalam diri kita untuk melakukan tindakan reaktif dan konstruktif guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sejak dini.

Jadi, sudahkah anda mengasah “mind eye” anda?
Sumber Gambar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *