SEPASANG TELINGA SELUAS SAMUDERA

Listening

“When you listen, you offer a package of the most valuable healing gifts you can give: compassion, consolation, and forgiveness”.
 — James Kullander, taken from Gaia Community Website

Menjelang tidur malam, usai menceritakan dongeng, saya selalu menyediakan sepasang telinga saya dan membukanya lebar-lebar, untuk mendengarkan anak-anak bercerita.

Tentang apa saja.

Seremeh apapun itu.

Rizky sebagai anak terbesar akan bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya hari itu.

Baik aktifitasnya disekolah maupun bermain bersama kawan-kawannya di dekat rumah. Ia menceritakannya lebih tenang, runtut dan terperinci. Namun ia kerap terusik ketika sang adik yang usil menganggunya ketika sedang bertutur.

Sementara si Bungsu Alya, biasanya bercerita lebih antusias, spontan, menggemaskan dengan gestur tubuh yang mendukung kisah-kisahnya, namun tidak sistematis. Ceritanya melompat-lompat, kadang membuat saya mesti lebih tekun dan serius menyikmaknya. Tapi tetap saja menarik dan saya sangat menikmatinya.

Wajahnya yang lucu membuat saya kerap tertawa terpingkal-pingkal melihatnya ketika ia bercerita. Kadang-kadang saat sedang asyik bertutur, tiba-tiba ia tertawa sendiri sambil menutup mulutnya menahan rasa geli tak tertahankan. Dan kami semua jadi bingung apa sebenarnya yang sedang ditertawakan serta apakah ada yang kami lewatkan dari ceritanya.

Menyenangkan rasanya mendengarkan kedua buah hati saya itu mengekspresikan kegembiraan, keresahan, kecemasan, harapan dan juga impian-impiannya, kepada saya, ayahnya, secara terbuka dan tanpa beban. Keharuan menyesak dada saat melihat binar kepuasan dimata jernih mereka usai menyajikan sepotong cerita pada saya.

Se-“tidak penting” apapun itu.

Bagi saya, dengan menjadi pendengar terbaik buat mereka, setidaknya saya bisa tahu apa yang terpendam dalam hati, memahami maksudnya, dan tidak hanya sekedar memberikan jawaban layaknya sebuah acara kuis. Saya berusaha membangun proses dialog diantaranya. Meski kadang-kadang “tidak nyambung” karena tentunya jangkauan pemikiran anak-anak saya itu masih terbatas, tapi bagi saya yang paling penting adalah, saya bisa meningkatkan kualitas hubungan personal dan emosional saya dengan Rizky dan Alya. Membuat mereka merasa berharga, nyaman dan didengar oleh orangtua mereka. Itu sebuah investasi besar buat hati.

Ketika anak-anak sudah tidur, saya dan istri saling ber-curhat ria. Saya bercerita, dia mendengarkan dan sebaliknya, saya mendengarkan dia bercerita. Ada banyak hal yang kami perbincangan, mulai dari soal rencana pendidikan anak-anak kami, bisnis MLM yang digeluti istri saya yang semakin banyak saingan di Cikarang, harga-harga bahan pokok yang kian melonjak walau harga BBM turun, soal pengemudi bis yang saya tumpangi tadi beraksi ugal-ugalan di jalan atau soal menu bekal makan siang apa yang ingin saya bawa dari rumah besok pagi ke kantor. Kami saling mengungkapkan isi hati dan berbagi. Sebuah upaya strategis untuk tetap memelihara cinta dan komunikasi yang intens diantara kami.

 Sewaktu masih sekolah dan tinggal bersama orang tua dulu, kami acapkali berkomunikasi secara intens dimeja makan. Kegiatan ini sering saya bersama ketiga adik serta kedua orang tua kami lakukan usai makan malam dimana seluruh anggota keluarga berpotensi besar untuk kumpul bareng. Yang satu bercerita, yang lain mendengarkan. Rasanya sangat melegakan sudah menuangkan segala uneg-uneg, kekesalan, kegembiraan dan harapan bersama orang-orang tercinta yang mendengarkannya dengan penuh minat. Sayang, saya kerap melewatkan “tradisi” ini setelah jadi mahasiswa karena lebih sering nongkrong dan menginap di kampus.

Peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam ketika pacar tercinta memutuskan hubungan secara sepihak dengan saya, masih membekas dihati. Ketika itu, saya ber curhat ria kepada seorang kawan yang secara sukarela menyediakan kedua kupingnya sebagai “tempat sampah” bagi segala celotehan dan kekesalan saya pada mantan pacar. Ia memang seorang pendengar yang baik dan sabar. Ia tak mengucapkan sepatah kata apapun menanggapi cerita saya, bahkan ketika curhat saya selesai. Ia hanya tersenyum manis dan berkata,”sudah?”. Saya mengangguk pelan. Dan, sungguh menakjubkan, setelah mengungkapkan semuanya mendadak hati saya menjadi lebih lapang dan lega. Walau masih ada sedikit rasa perih tapi setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya. Terasa benar makna “upaya mendengarkan” itu sebagai salah satu bagian dari usaha “pemulihan” seperti ungkapan James Kullander diatas. Kawan saya tadi lalu memberikan sejumlah nasehat penting bagaimana cara “menata hati” setelah sebuah “cinta membunuh”-mu. Tajam dan memiliki analisis tinggi. Sebuah indikasi bahwa dia benar-benar memahami dan menyimak curhat cengeng saya itu.. .

Kebanyakan orang–mungkin termasuk saya dan anda–masih menganggap bahwa keterampilan berbicara jauh lebih penting dari pada kemampuan mendengarkan. Seseorang cenderung dianggap sebagai orang hebat ketika ia mampu menampilkan retorika yang bagus saat berbicara, ia dianggap tahu tentang banyak hal. Namun, ketika ia tak mampu menjadi pendengar yang baik pula, maka kesuksesan atas keterampilan berbicaranya tak akan berlangsung lama.

Tuhan telah menciptakan dua telinga selalu dalam keadaan terbuka dan hanya satu mulut yang bisa terbuka dan mungkin lebih sering terkatup. Sebuah isyarat yang bisa ditangkap sebagai seseorang mesti memiliki kemampuan mendengarkan dua kali lebih banyak daripada kemampuannya berbicara.

Kendala yang kerap muncul ketika seseorang tak dapat menjadi pendengar yang baik adalah, kita sering merasa “sudah tahu jawabannya”–berdasarkan pengalaman-pengalaman serupa dimasa lalu–sehingga membuat kemampuan mendengarkan kita menurun. Karena sering mengalami problem yang sama maka ketika kita mendengar hal serupa diungkapkan, kita merasa sudah tahu seluk beluk persoalan itu. Padahal mungkin saja, penyelesaiannya beda sesuai situasi terkini dan butuh analisa lebih mendalam. Ini sebuah ekses buruk dari sebuah pengalaman.

Hal lain adalah, kita senantiasa tak dapat menahan hasrat diri untuk berbicara. Ini butuh sebuah tingkat “perjuangan” kesabaran tinggi. Saya seringkali mengalami hal seperti ini. Saat mendengarkan, konsentrasi saya mendadak pecah dan justru bersiap-siap untuk berbicara menanggapi.

Upaya menumbuhkan rasa keingintahuan menjadi salah satu kunci agar kita bisa menjadi seorang pendengar yang baik. Acapkali kita mendapati lawan bicara kita mengungkapkan hal-hal “kurang penting” dan kurang menarik untuk diperbincangkan. Jikalau memang topiknya tidak membuat anda tertarik, cobalah tertarik dulu pada pembicaranya. Setiap orang dikaruniai Tuhan pribadi yang unik dan beda. Siapa tahu pada pembicaranya anda menemukan keunikan tersendiri dan perlahan-lahan anda bisa dapat menumbuhkan keingintahuan anda atas apa yang dibicarakan. Bila memang sudah “mentok” dan anda memang betul-betul “be-te” mendengarkan, bersabarlah, paling tidak, komunikasi yang anda lakukan meningkatkan kualitas hubungan dengan lawan bicara anda. Selalu ada hikmah kok dibalik setiap peristiwa.

Pada banyak kasus, hambatan utama seseorang tak bisa menjadi pendengar yang baik adalah justru adanya keinginan besar untuk minta didengarkan juga yang serta merta memicu keinginan untuk berbicara. Cukup susah memang mengendalikan keinginan untuk didengarkan, ingin dimengerti dan ingin dipahami ini.

Saya ingin memberikan secuil pembicaraan singkat saya dengan seorang ibu diatas bis kemarin pagi yang kemudian menginspirasi saya menulis artikel ini. Ibu yang berusia setengah baya itu terlihat menggerutu setelah membaca tulisan di tabloid gossip yang dipegangnya.

“Aduuhh…ini artis “anu” kok cere’ lagi sih?. Masa’ alasannya itu melulu, kurang komunikasilah atau kurang harmonislah,” ujar ibu itu bergumam pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh penyesalan.

Saya yang duduk disebelahnya iseng bertanya,”Emangnya menurut ibu apa sih kira-kira masalah inti yang membuat artis-artis itu cere’?”.

Ibu itu melirik saya tajam. Barangkali sedikit kurang nyaman saya usil bertanya demikian.

“Masing-masing dari mereka hanya mau didengarkan, mau dimengerti, mau dipahami dan tak ada satupun berusaha untuk mau mendengar, mau memahami dan mau mengerti. Itu saja masalahnya. Yang paling penting, kalau komunikasi kedua pihak bisa berjalan baik, tidak ada persoalan. Saya sudah nikah dengan suami saya 20 tahun tidak ada hambatan apa-apa, yang penting kita saling terbuka dan percaya satu sama lain,” sahut ibu itu bersemangat.

Saya manggut-manggut.

Sudah selayaknya, menjelang Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 tahun ini, para calon-calon pemimpin kita mesti lebih sering membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan aspirasi rakyat serta tidak sekedar hanya tebar pesona dan wacana belaka demi meraih simpati yang lebih besar. Rakyat juga perlu dimengerti dan didengar, terlebih ketika beban hidup yang kian menghimpit sekarang pasca krisis finansial global. Saya banyak berharap agar calon-calon pemimpin masa depan di negeri ini tidak hanya dibekali kemampuan retorika dan intelektual yang memadai namun juga kemampuan mendengar yang baik.

Jadi sudah bersiapkah anda, menyiapkan kedua telinga, seluas samudera, untuk mendengarkan?

Sumber Gambar 

Related Posts
SEMARAKNYA HALAL BI HALAL & TEMU ALUMNI “TUKANG INSINYUR” UNHAS
aat membaca pengumuman pelaksanaan acara Halal Bi Halal & Temu Alumni Teknik Mesin UNHAS di grup Facebook "Forum Lintas Generasi", saya langsung menyambutnya dengan antusias. Apalagi jadwal penyelenggaraan acara ini ...
Posting Terkait
MENIKMATI RADIO SIARAN DARI DUNIA MAYA
Sebuah pengalaman baru saya nikmati minggu lalu : mendengar radio siaran suka-suka dari dunia maya Kebetulan, seusai menjalankan ritual ibadah sholat malam, saya membuka akun twitter ,menjelajahi rimba internet dan mendadak ...
Posting Terkait
MENGAYUH SEPEDA ONTEL, MENYUSURI RUANG KENANGAN
Sebulan lalu, Ahmad, adik ipar saya datang membawa berita gembira. Ia akhirnya menemukan sepeda onthel bekas pesanan saya di Yogya dan rencananya akan membawakan langsung ke rumah bersamaan dengan mobil ...
Posting Terkait
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
Seusai Makan Siang, saya langsung "diculik" secara sukarela oleh kawan lama saya satu SMP dan SMA dulu, Muh.Irdan AB dan istri serta Rinsy Nilawati yang juga kebetulan hadir dalam Seminar ...
Posting Terkait
SURAT DARI ORCHARD (3)
Pukul 21.00 malam, Rabu (1/7), sesuai janji, Pak Amid--salah satu blogger Multiply menjemput saya di lobby Hotel Orchard, tempat saya menginap. Kami berpeluk hangat sebagai layaknya sahabat lama yang sudah ...
Posting Terkait
NUANSA PERSAUDARAAN YANG KENTAL DALAM KOPDAR MILIS CIKARANG BARU
inggu sore (7/8), dengan menumpang sepeda motor Honda Revo kesayangan, saya bersama si sulung Rizky menuju kediaman pak Saparjan, di Jl. Antilop IV Blok E.3 No.2 Perum Cikarang Baru, Kota ...
Posting Terkait
LIBURAN SERU : KE MEKARSARI DAN LOMBA E-LEARNING KIDS DI PLAZA JB
Libur panjang selama 3 hari mulai Jum'at (24/12) sampai Minggu (26/12) benar-benar saya manfaatkan untuk menikmati indahnya  kebersamaan bersama keluarga. Kegiatan kami dimulai pada hari Jum'at pagi saat kami semua ...
Posting Terkait
BERSAMA KITA BISA, DI WETIGA
  Si Battala menerima tumpeng dari si Gembul. Sementara Mas Ndoro menyaksikan sembari tertawa terpingkal (foto by Pepih Nugraha)    Jum'at malam (24/10) saya menghadiri perhelatan dalam rangka peresmian ...
Posting Terkait
‘BERAKSI’ DI MAKASSAR
PESAWAT Lion Air seri terbaru yang saya tumpangi mendarat mulus di bandara Hasanuddin Makassar tepat pukul 11.45 WITA pada Hari Sabtu,24 November 2007. Saya segera berkemas dan menyiapkan barang yang ...
Posting Terkait
KEMERIAHAN PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW IKA UNHAS JABODETABEK
uyuran hujan sepanjang jalan Cikarang ke Jakarta menemani saya kemarin, Minggu (1/2), bersama-sama rekan sesama alumni Teknik Mesin, Yusnawir Yusuf-- yang juga kebetulan tetangga saya --saat berangkat menuju Gedung Serbaguna ...
Posting Terkait
SEMARAKNYA HALAL BI HALAL & TEMU ALUMNI “TUKANG
MENIKMATI RADIO SIARAN DARI DUNIA MAYA
MENGAYUH SEPEDA ONTEL, MENYUSURI RUANG KENANGAN
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
SURAT DARI ORCHARD (3)
NUANSA PERSAUDARAAN YANG KENTAL DALAM KOPDAR MILIS CIKARANG
LIBURAN SERU : KE MEKARSARI DAN LOMBA E-LEARNING
BERSAMA KITA BISA, DI WETIGA
‘BERAKSI’ DI MAKASSAR
KEMERIAHAN PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW IKA UNHAS

8 comments

  1. sayangnya telinga saya ndak sebesar samudera hahahaha
    kalau sebesar samudera wedede mati mi…
    *ndak bisa membayangkan*

    eniwei, keren postnya uhuy (dance)

  2. saya sudah baca berulang-ulang tulisan ini.

    Tapi paling saya suka cerita tentang pak Amril dengarkan si kecil cerita. Ah, bahagia sekali rasanya.
    **

    tapi 2 paragraf terakhir bikin saya kaget, karena langsung tiba-tiba ngomongin politik. :))

    –Thanks Mus.. justru biasanya, kejutan-kejutan itu berada di paragraf terakhir..hehehe

  3. mendengarkan memang lebih sulit dibandingkan didengarkan

    cerita yang inspiratif
    seperti yang dibilang Mus_
    apa hubungannya dengan caleg ya
    😀

    –Thanks Ntan, cobalah dihubung-hubungkan, pasti ada itu hubungannya… hehehe 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *