“BITER HAMEN” DAN KETANGGUHAN MENGHADAPI PERSOALAN

e8229f3eb9cbc83b888feda3f5115ca2056dd957ENTAH ada dimana akal sehat Ervin Lupoe berada, ketika ia memutuskan membunuh kelima anak, istri dan akhirnya dirinya sendiri hari Selasa (27/1) waktu Amerika Serikat. Ervin menembak seluruh anggota keluarganya karena khawatir pada masa depan suram setelah kehilangan pekerjaan. Anak-anaknya ikut dibunuh karena dia dan istrinya, Ana, tidak yakin pada masa depan mereka bila diasuh orang lain. Alasan bunuh diri ini membuat Los Angeles dan sekitarnya gempar karena ditulis tangan oleh Ervin Lupoe dan dikirimkan via faks ke Stasiun KABC-TV (isi suratnya bisa baca disini)

Di awal suratnya ke stasiun TV KABC ia menulis, “Nama saya Ervin Lupoe, istri saya, Ana Lupoe, putri kami Britney 8 tahun, putri kembar kami Jaszmin-Jassely, dan putra kembar kami, Benjamin dan Christian, 2 tahun 4 bulan”.Pembukaan surat pria berusia 40 tahun itu sungguh menyiratkan ia adalah lelaki yang berbahagia dan memiliki segalanya. Lihatlah foto anak-anak Ervin yang dipajangnya di Facebook .

Setelah menembak mati istrinya, putri sulungnya, putri kembarnya lalu putra kembarnya, masih dengan revolver di tangan, di pagi yang naas itu, Ervin sempat menelepon 911 pukul 08.22 dan mengaku menemukan istri dan kelima anaknya telah tewas dirumah. Empat menit kemudian, polisi tiba dirumah Ervin di Wilmington tak jauh dari Pelabuhan Los Angeles. Jasad Ervin bersama ketiga putrinya ditemukan diruang tidur utama lantai atas sementara mayat istri dan putra kembarnya di kamar tidur belakang. Tragis dan sungguh membuat saya seketika merinding membaca beritanya

“Badai” krisis ekonomi dunia yang menghantam begitu dashyat di Amerika berdampak pada hilangnya mata pencaharian banyak orang disana. Tercatat selama Desember tahun lalu jumlah karyawan yang diberhentikan sekitar 226 ribu dan lebih 3,6 juta orang disana sepanjang tahun 2008 berubah status jadi penganggur. Kejadian itu menimpa pasangan Ervin/Ana yang keduanya tercatat sebagai karyawan pada Rumah Sakit Kiasser Permanente. Pasangan ini dipecat karena dianggap memalsukan penghasilan untuk mendapatkan perawatan anak di lembaga sosial. “Menyadari kami tak lagi punya pekerjaan, dengan lima anak, kami tak tahu lagi harus kemana. So, here we are,” tulis Ervin putus asa, seperti yang saya kutip dari Majalah Tempo edisi 2-8 Februari 2009.

“Hadapi persoalanmu ini dengan Biter Hamen,”kata seorang kawan saat menghibur saya yang tengah gusar ketika saya mesti siap menghadap fakta untuk di PHK dari PT Timori pasca kerusuhan 1998

“Biter Hamen? Apa itu?,” Tanya saya keheranan. Apakah ini sebuah istilah dalam bahasa jerman atau semacamnya?, saya membatin.

Kawan saya tersenyum samar.

“Itu singkatan dari Bibir Tersenyum, Hati Menjerit,” sahutnya spontan

Tawa saya lantas meledak, kawan saya ini betul-betul memiliki selera humor yang lumayan.

“Eit, jangan ketawa dulu. Saya serius. Senyum adalah salah satu cara terbaik mengatasi masalah hati. Senyum, bisa menjadi obat. Menjadi sugesti yang datang dari sendiri untuk mengobati rasa perih, “ kata kawan saya sembari memasang tampang serius.

Saya mendelik kebingungan.

“Senyum”, kata dia lagi,”bagi sementara orang boleh jadi menjadi semacam “masker”atau “topeng” dari rasa luka dihati. Sebentuk apologi. Tapi disadari atau tidak, dengan menyunggingkan senyum—seterpaksa apapun itu—akan memberikan efek “menyembuhkan” , baik secara perlahan-lahan maupun dramatis bagi sebuah jiwa yang terkoyak. Untuk memulihkan, memang butuh waktu, tergantung sejauh mana yang bersangkutan mampu menanggulangi nya antara lain dengan cara lebih ikhlas merelakan kehilangan dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa atas cobaan yang baru dialami serta melapangkan hati untuk siap menghadapi tantangan baru dimasa depan”.

“Tapi, bukankah itu berarti mengingkari kata hati. Mana bisa saya menebar senyum kemana-mana kalau sedang sakit hati?”, sanggah saya sengit.

Kawan saya lagi-lagi tersenyum.

“Pernahkah terlintas dalam benakmu, bahwa hidup ini sesungguhnya begitu indah?. Coba perhatikan hal-hal sederhana saja disekelilingmu. Bintang-bintang yang berkelip terang dibentang lazuardi langit , senja yang memukau dibatas cakrawala ketika matahari tenggelam, atau kebahagiaan saat bercengkrama bersama keluarga, pernahkah kamu merasakan setiap keindahan dibaliknya?. Dengan memusatkan segala pikiran dan tubuh kita pada subyek yang saya katakan tadi, akan menghasilkan sebuah kekaguman yang luar biasa. Terlebih bila kekaguman tersebut dibarengi pula pada ketakjuban pada sang sumber segala keindahan, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tentu lebih indah dari segala yang telah diciptakannya. Ini sebuah cara pandang bermuatan spiritualyang seyogyanya mengembalikan spirit jiwa kita untuk lebih tangguh menghdapi persoalan kehidupan dan lebih bersyukur atas nikmat hidup yang kita miliki, hingga detik ini”.

Saya menggigit bibir. Banyak Tanya merajai benak saya ketika itu.

“ Karena mereka memiliki jiwa yang belum terkontaminasi hal-hal yang bersifat materi, anak-anak senantiasa memaknai segala sesuatu yang diamatinya secara lebih indah dan menakjubkan. Mereka sangat dekat dengan kesejatian diri. Beda dengan kita yang sudah dewasa, yang kerapkali lebih dekat pada hal-hal yang bersifat materi. Hidup yang indah selalu diidentikkan dengan memiliki uang yang banyak. Kita jadi kehilangan kemampuan melihat sesuatu sebagaimana adanya karena kita tak memiliki cara pandang bermuatan spiritual untuk memandang lebih jernih tentang keindahan hidup ini”

Saya manggut-manggut.

“Jadi kawanku, sesungguhnya, tak ada alasan buat kamu dan juga saya untuk tidakselalu tersenyum, karena hidup ini indah. Jangan menjadikan masalah yang kamu hadapi ini sebagai beban. Bersyukurlah, karena dengan adanya masalah itu juga menunjukkan bahwa kita benar-benar hidup. Justru ini adalah sebuah peluang dan tantangan buatmu, bagaimana cara mencari solusi kreatifuntuk keluar dari persoalan. Kamu akan mengerahkan segala daya dan kemampuan yang kamu miliki untuk menyelesaikannya.Bila kamu menghayati semua proses itu, maka saya yakin, kamu akan menemukan serpih-serpih keindahan dan hikmah dibaliknya. Kamu bisa jadi lebih tangguh serta kreatifdan tentu menemukan “mutiara” berharga berupa pengalaman menyelesaikan masalah jika kelak kamu menghadapi persoalan serupa dimasa datang. Jadi Biter Hamen sajalah,” kata kawan saya menutup kalimat filosofisnya seraya menepuk hangat pundak saya.

Beberapa tahun setelah percakapan itu, saya menonton film “Life is Beautiful” (La Vita est Bella, 1997) yang dibintangi oleh Roberto Benigni dan Nicoletta Braschi. Film yang memenangkan 3 Penghargaan Academy Award dan 56 penghargaan internasional itu seketika membuat saya terkenang kembali uraian filosofis kawan saya.

Alkisah, film yang mengambil setting awal Perang Dunia II di Italia ini menceritakan pengalaman seorang ayah bernama Guido Orifice (Roberto Benigni) yang selalu memaknai hidupnya dengan penuh keceriaan. Ia selalu menari dan bernyanyi riang tak peduli seberat apapun masalah yang dihadapinya.

Hal ini menjadi ironi karena apa yang tengah dihadapi olehnya dan keluarganya ketika itu sangat berat dan tak mudah. Nasib naas menimpa Guido dan keluarganya. Mereka ditangkap oleh tentara Nazi Jerman dan dibawa ke kamp konsentrasi yang terkenal kekejamannya. Guido sadar apa yang tengah dihadapinya ketika itu dan ia tak ingin terbawa kesedihan.

Pada Joshua,putra tersayangnya yang baru berusia 6 tahun, Guido mengarang cerita bahwa apa yang sedang mereka lakukan ketika itu adalah sebuah bagian dari permainan. Siapapun yang ada dalam kamp konsentrasi itu adalah para pemainnya.

Dengan kalimat getir namun penuh optimisme, Guido memaparkan bahwa mereka harus mengikutisegala peraturan di kamp konsentrasi itu untuk memenangkan hadiah pertama yaitu sebuah tank. Hadiah itu didapatkan setelah mengumpulkan 1000 poin. Jika Joshua menangis, misalnya karena lapar atau ingin dekat sang ibu, maka seketika poinnya hilang dan akan diberikan kepada yang lain.

Ketika film berakhir , air mata saya perlahan menetes saat menyaksikan Guido akhirnya tewas tertembak, Sang anak dan istrinya selamat. Disela-sela kemenangan tentara Amerika atas Tentara Jerman, perasaan haru saya seketika membuncah saat melihat Joshua, akhirnya mendapat “hadiah atas permainan” yang dilakoninya, berupa naik tank tentara Amerika.

Film itu telah menjelma menjadi sebuah spirit dan motivasi dashyat buat saya untuk lebih menghargai hidup ini dan menikmati segenap warna-warni yang meliputinya, dengan penuh rasa syukur. Mengubah paradigma atau cara pandang kita memang tak mudah disela-sela kepahitan hidup yang kian berat menimpa pasca krisis global yang kini mulai menimpa Negara kita.

Saya ingin mengutip tulisan menarik dari Thich Nhat Hanh dalam bukunya “The Miracle of Mindfulness” (1975). Ia berkata, ada 3 cara yang bisa kita lakukan agar bisa menikmati setiap momen. Pertama adalah Bernafas. Pengendalian tubuh dan pikirantergantung dari sejauh mana kita menguasai nafas kita. Saat kepala kita penuh dengan pikiran, bernafaslah dengan segala kesadaran dengan tubuh kita.Hal ini akan membuat pikiran akan menyaru dengan tubuh kita. Dengan bernafas yang benar, maka kita akan selalu mampu merevitalisasi diri kita.

Kedua adalah Mengamati Diri. Jangan pernah membiarkan setiap pikiran yang masuk begitu saja “nyelonong” kedalam otak kita, tanpa melakukan identifikasi kritis, bagaimana dan apa bentik pikiran itu. Setiap bentuk pikiran yang muncul hendaknya selalu diamati, jangan sampai itu akan membuat kita justru bertindakkontraproduktif. Kalau anda sedang cemburu misalnya, maka seketika anda akan berkata,”Suatu perasaan cemburu baru saja muncul dalam hatiku”. Setiap tindakan yang kita lakukan senantiasa berada dalam tataran rasa sadar, bahwa itu akan menjadi hal paling penting bagi kita.

Ketiga adalah Tersenyum. Bagi Nhat Hanh, tersenyum adalah cara menarik untuk mempertahankan sikap sadar.Tersenyumlah dalam setiap kondisi apapun, mulai dari bangun tidur, beraktivitas sepanjang hari hingga kemudian tidur kembali.Senyum akan membuat kita tak serta merta larut dalam emosi bahkan justru akan senantiasa mengingatkan kita tentang momen terindah yang kita sedang atau pernah lewati.

Krisis ekonomi global sudah mulai terasa dampaknya dinegara kita, tak pelak, akan menimbulkan sejumlah persoalan-persoalan yang membebani hati. Gelombang PHK—seperti yang dialami Ervin Lupoe dan istrinya serta ribuan orang di Amerika—telah terjadi pula di Indonesia. Bukan hal yang mustahil tragedi yang dialami Ervin juga dapat terjadi di Negara kita. Terlebih ketika seseorang, yang dilanda persoalan berat yang bertubi-tubi datang menghantam, namun tak sanggup secara sadar mengendalikan diri untuk tetap berfikir secara jernih menyelesaikannya.

Dengan melihat bahwa masalah yang datang adalah bagian dari kesempatan berharga untuk tumbuh, maka ia dapat menjadikan itu sebagai media belajar untuk lebih tangguh serta kreatif mencari solusi terbaik sebagai jalan keluar dari masalah tadi. Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika ke-16 pernah berkata “Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat”.

Keberhasilan haruslah diupayakan. Kita mesti memandang bahwa urusan hasil adalah urusan Tuhan. Yang dapat kita lakukan sebagai hambaNya adalah berusaha semaksimal mungkin dan sekuat tenaga. Segala usaha berada dibawah kontrol kita, sedangkan soal hasil sepenuhnya berada dibawah kekuasaan Tuhan. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS 53:39 : “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya”.

Seseorang kerapkali merasa stress dan tertekan bila terlalu berorientasi pada hasil sehingga ia sama sekali tidak menikmati setiap proses dan usaha untuk mencapainya. Padahal, soal hasil itu, berada diluar jangkauan kontrol kita. Orang yang gagal sesungguhnya bukanlah orang yang pernah mengalami kegagalan namun orang-orang yang kalah ketika menempuh kegagalan itu sendiri. Keberhasilan terletak pada kerja dan usaha, bukan pada perolehan. Ini bisa menjadi sebuah cara pandang baru kita dalam melakukan dan memaknai setiap ikhtiar.

Maka dari itu, tersenyumlah.

Karena hidup ini begitu indah bila kita melihatnya dari jendela hati yang lebih jernih.

Related Posts
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
Setelah sebelumnya saya membuat artikel tentang perkenalan Kamusitas atau Kamus Komunitas di Kompasiana, kali ini saya ingin memperkenalkan kepada anda dengan Kategio. Bingung dengan istilah ini?. Sama, saya juga pada awalnya. ...
Posting Terkait
ALHAMDULILLAH, MENANG LOMBA “GOKIL DAD” !
  Alhamdulillah, ternyata saya ini punya bakat gokil juga jadi ayah. Pada lomba "Be A Gokil Dad" yang diselenggarakan oleh sang penulis "Gokil Dad" Iwok Abqary dan Penerbit Gradien Mediatama saya berhasil ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2010 (8) : TEGAKKAN KOMITMEN UNTUK E-GOVERNMENT
Seusai Makan Siang dan Sholat Ashar, Acara Seminar sesi kedua Amprokan Blogger 2010 Minggu (7/3) dilanjutkan kembali. Sebelum memasuki acara inti, lebih dulu diperkenalkan gerakan SEBUAI (Sejuta Buku untuk Anak ...
Posting Terkait
SUKSES, PENYELENGGARAAN ROADSHOW BLOGSHOP KOMPASIANA DI CIKARANG
Hari Minggu pagi (5/7), sehari setelah kedatangan saya kembali dari Singapura, saya kembali menghadapi aktifitas baru bersama kawan-kawan komunitas Cimart Cikarang untuk menyelenggarakan acara Roadshow Blogshop perdana Kompasiana yang akan ...
Posting Terkait
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
  “Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you ...
Posting Terkait
DARI PRESS CONFRENCE PESTA BLOGGER 2009: BLOGGER SEBAGAI PEREKAT BANGSA
Ruangan Serbaguna kantor Depkominfo yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Press Confrence Pesta Blogger 2009 sudah mulai dipenuhi sejumlah jurnalis media cetak dan elektronik, Selasa (14/7), saat saya dan Irwin Day ...
Posting Terkait
DEMO BURUH BEKASI, LUMPUHKAN KAWASAN CIKARANG & CIBITUNG
Apa yang saya khawatirkan itu terjadi. asca pernyataan Sofyan Wanandi, sebagaimana yang dikutip oleh Dakta FM online yang sempat memicu kemarahan Buruh di Bekasi menjadi pangkalnya. Dalam situs tersebut disebutkan, Ketua Umum ...
Posting Terkait
SELAMAT DATANG I-TEVE
  Ini adalah sebuah terobosan baru dan sensasional dari dunia jurnalisme warga di negeri kita. Tadi pagi, saya mendapat email japri dari Mas Budi Putra, profesional blogger pertama di Indonesia dan ...
Posting Terkait
KEUNGGULAN PRIMA PRODUK CAT KANSAI PAINT
eusai mengikuti mini workshop yang dilaksanakan oleh Kansai Paint beberapa waktu silam, saya kian tertarik untuk menyingkap lebih dalam pada benefit apa saja yang ditawarkan oleh produk cat yang dihasilkan ...
Posting Terkait
KEGEMBIRAAN YANG MENYEHATKAN, SPIRIT UTAMA FORNAS 2011
ain Layang-layang adalah salah satu hobi saya dimasa kecil, selain sepakbola dan berenang. Saat masih tinggal di Bone-Bone (sebuah kampung yang berjarak 500 km dari Makassar) dulu , permainan ini ...
Posting Terkait
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
ALHAMDULILLAH, MENANG LOMBA “GOKIL DAD” !
AMPROKAN BLOGGER 2010 (8) : TEGAKKAN KOMITMEN UNTUK
SUKSES, PENYELENGGARAAN ROADSHOW BLOGSHOP KOMPASIANA DI CIKARANG
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
DARI PRESS CONFRENCE PESTA BLOGGER 2009: BLOGGER SEBAGAI
DEMO BURUH BEKASI, LUMPUHKAN KAWASAN CIKARANG & CIBITUNG
SELAMAT DATANG I-TEVE
KEUNGGULAN PRIMA PRODUK CAT KANSAI PAINT
KEGEMBIRAAN YANG MENYEHATKAN, SPIRIT UTAMA FORNAS 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *