CINTA YANG MENUMBUHKAN, CINTA YANG MEMBERDAYAKAN

15095523_1225545894147476_3470712065486097069_nSaya selalu terpukau pada kemampuan ayah merawat tanaman.

Pada saat pulang ke Makassar November tahun lalu, saya kaget melihat bibit bunga Anthurium yang beliau bawa saat menengok kami sekeluarga di Cikarang 10 bulan sebelumnya, sudah beranak pinak dan tumbuh subur di beberapa pot yang diletakkan didepan rumah orang tua saya itu (Perumahan Bumi Antang Permai Makassar).

Beberapa pot tanaman hias terlihat “mejeng” secara atraktif memperlihatkan bunga-bunganya yang bermekar indah sementara pot-pot kecil tanaman kaktus berjejer rapi disebuah rak tersendiri yang disediakan khusus dan diletakkan dibagian atas. Sungguh sangat indah untuk dinikmati.

Saya masih ingat betul, saat kami masih tinggal di Bone-Bone dulu, ayah saya begitu tekun memelihara tanaman disamping rumah dinas yang kami huni. Kebetulan terdapat tanah kosong yang cukup luas dan disana selain tanaman hias juga ketela rambat, pisang serta singkong.

Karena tinggal didaerah yang terpencil, kerapkali gaji ayah saya datang terlambat. Kami lalu memanfaatkan hasil kebun berupa singkong dan ketela rambat itu menjadi makanan kami. Ibu saya yang jago memasak, meramunya begitu dashyat menjadi makanan yang menggugah selera.

Beberapa kali saya membantu ayah menanam tanaman-tanaman tersebut dikebun. Sensasinya terasa luar biasa saat ayah mengajak saya dan Budi, adik saya, menarik keluar pohon singkong yang sudah besar. Kami bersusah payah mencabutnya hingga ngos-ngosan. Saya bahkan beberapa kali sampai terjatuh. Kami tertawa riang dan akhirnya ayah ikut membantu kami lalu memberikan aba-aba untuk bergerak.

Tepat dihitungan ketiga, pohon singkong itu akhirnya benar-benar tercabut dengan sukses. Budi sampai ikut terjengkang sementara saya sempat limbung kekanan sebentar karena beratnya singkong yang kami cabut itu. Kedua adik perempuan kami yang masih kecil-kecil dan menonton dari kejauhan tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua kakaknya “kalah” bertarung “melawan” pohon singkong. Mereka berdua lalu bertepuk tangan penuh suka cita didampingi ibu kami yang tersenyum manis.

Rasa puas membuncah didada, apalagi bila menyaksikan singkong hasil panen kami berbuah cukup besar. Keletihan kami sirna oleh kegembiraan atas kerja bersama dalam suasana riang penuh keakraban.

Saya segera membayangkan ibu nanti akan membuat kolak singkong atau sup ubi kegemaran kami. Hidangan sederhana yang justru merupakan sebuah sajian sangat mewah buat kami yang tinggal didesa (ah..sambil menulis ini, mata saya tiba-tiba basah mengingat masakan khas ibunda terkasih yang sungguh nikmat disantap karena dimasak dengan penuh rasa cinta).

Kini, setelah beliau pensiun, selain memancing ikan di kolam khusus pemancingan didekat rumah, ayah tidak pernah melupakan hobinya merawat tanaman.

“Merawat tanaman itu seperti merawat cinta. Diperlukan ketekunan dan ketelatenan setiap hari untuk melakukannya dan ini juga yang ayah dan ibumu lakukan untuk selalu merayakan kasih sayang diantara kami, juga buat kalian, setiap hari” kata ayah suatu waktu.

Saya trenyuh. Sebuah filosofi hidup yang sederhana, dalam dan memikat.

Sambil mengelus daun Anthurium kesayangannya, ayah melanjutkan.”Senang sekali rasanya melihat tanaman yang Papa dan Mamamu rawat ini tumbuh subur. Sama seperti kebanggaan kami, orangtuamu, melihat kalian semua, anak-anak kami, tumbuh besar, berkeluarga, dan memberikan cucu-cucu yang lucu-lucu. Kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata,” ujar ayah saya dengan mata berbinar.

Saya tiba-tiba teringat tulisan Arvan Pradiansyah dalam bukunya “The 7 Laws of Happines, Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia”(Kaifa,2008) tentang Cinta yang Menumbuhkan. Menurutnya, Seorang ibu yang mencintai anaknya akan merawat sang anak penuh kasih sayang. Ia menjaga anaknya, bahkan bisa terbangun hanya oleh suara paling halus yang digumamkan oleh anaknya. Si ibu mengorbankan dirinya, kesehatannya, waktunya dan seluruh hidupnya, hanya demi pertumbuhan anak yang dicintainya.

Dalam cinta yang menumbuhkan kata Arvan, kebahagiaan tertinggi tidaklah dicapai ketika orang yang kita cintai membalas cinta dan kasih kita. Kebahagiaan tertinggi tercapai melalui pertumbuhan itu sendiri. Bahkan secara lebih esensial lagi, kebahagiaan itu sebenarnya berkaitan dengan tindakan menumbuhkan itu sendiri, terlepas dari bagaimana hasil yang akan kita dapatkan kelak.

Inilah cinta yang sejati, sebuah cinta yang tidak memaksakan kehendak. Cinta yang membebaskan.Cinta yang memampukan,menyadarkan dan memberdayakan. Semuanya itu diawali dengan pemahaman apa yang perlu ditumbuhkan.

Dengan empat orang anak, kedua orang tua saya berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk kami. Namun sama sekali tidak berusaha mengekang kehendak kami bila bermaksud menempuh jalan yang berbeda. Saya masih ingat sekitar tahun 1988, ketika adik saya Budi menyatakan ingin bekerja saja setelah menamatkan sekolah analis kimia di Makassar. Kebetulan, lulusan SAKMA (Sekolah Analis Kimia Makassar) sangat mudah terserap di lapangan kerja karena ketika itu tenaga analis relatif langka. Ayah saya sebenarnya berkeinginan besar agar Budi melanjutkan kuliah.

Secara demokratis, kami sekeluarga berkumpul membicarakan soal ini. Budi diminta memaparkan argumennya dan diadu dengan pendapat kami semua, termasuk saya sebagai kakak tertua. Kesimpulan akhirnya, kami menyetujui niat Budi (sekarang menjabat sebagai Quality Manager Kalimantan PT Geoservices Coal Laboratory di Balikpapan) untuk bekerja dan tidak melanjutkan kuliah. Meski berat rasanya, saya melihat secercah senyum diwajah ayah. Beliau lalu memeluk pundak ibu saya yang menangis tersedu tak rela melepaskan putra keduanya itu merantau ke Kalimantan Timur.

“Biarkan dia tahu bagaimana resiko atas pilihannya dan bagaimana mengatasinya. Bisa jadi itu yang membuatnya lebih dewasa dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Barangkali ini memang yang terbaik buat Budi untuk menempuh takdirnya dan juga terbaik buat kita semua,” kata ayah saya tenang. Dari berbagai lowongan kerja yang diterima Budi waktu itu—sebagai bentuk kompromi dan juga menenangkan hati ibu yang gundah—ia akhirnya menerima lowongan kerja di PT Sucofindo, Sangatta yang menjadi mitra PT Kaltim Prima Coal untuk analisis batubara. Kebetulan, ada adik ayah saya (alm) Ridwan Gobel yang bekerja di PT Kaltim Prima Coal dan bisa mengawasi Budi selama bekerja disana (walau Budi kelak akan tinggal di Mess Karyawan).

Saya melihat keputusan itu sebagai bentuk cinta orang tua kami yang menumbuhkan, yang membebaskan, yang memberdayakan Budi untuk menghargai pilihannya serta siap menempuh segala resiko atas pilihannya itu. Tentu setelah melihat juga sejauh mana kesiapan mental dan spiritual Budi menghadapinya. Saya yakin ada hikmah yang terkandung dibalik semuanya. Usai diskusi malam itu, kami semua memeluk Budi yang akan mempersiapkan keberangkatannya seminggu kemudian.

Saya terharu, kedua orang tua saya tidak memaksakan keinginannya sendiri, menjadikan Budi menjadi orang “tertentu” sesuai “skenarionya”. Mereka berdua sangat memahami kemampuan dan keunikan Budi untuk menjalani pilihan hidupnya dari hasil diskusi keluarga kami yang intens.

Meskipun begitu, penerapan cinta yang menumbuhkan tidak melulu lewat cara yang halus atau lembut. Penerapan disiplin untuk menjaga “pertumbuhan” itu tidak “melenceng” dari arah komitmen semula kerapkali dibutuhkan. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan disini, akibat kesibukan saya beraktivitas di kampus, ayah saya mengkhawatirkan kegiatan perkuliahan saya akan terganggu.

Sebelum terjun di kegiatan kemahasiswaan, kedua orang tua saya telah memberi izin dan peluang bagi saya sebesar-besarnya untuk berekspresi dan berkreasi di kampus. Bahkan menginap berhari-hari dikampus sekalipun. “Ayah percaya padamu bahwa kamu mampu menjaga amanah dan tidak bikin malu orang tua,” tegas ayah saya suatu ketika.

Sebelumnya, sejak awal saya sudah berkomitmen meski aktifitas non kurikuler saya di kampus meningkat tajam, saya berjanji untuk tidak mengabaikan tugas saya untuk belajar sebagai mahasiswa. Komitmen ini yang dipegang oleh kedua orang tua saya.

Dan ketika ayah saya mendesak saya untuk meminta “Surat Izin Khusus Orangtua” saat saya mendapat promosi spesial sebagai Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa “Channel 9” Fakultas Teknik Unhas tahun 1992, saya memaknainya sebagai sebuah bentuk “cinta yang menumbuhkan” dari orangtua saya. Bukan sikap paranoid yang berlebihan.

Sebuah ekspresi implisit yang menyatakan, meski saya sudah diberikan kebebasan untuk beraktifitas di kampus, saya tetap mesti disiplin menjaga komitmen saya yang lain, menyelesaikan kuliah dengan sukses dan tepat waktu sesuai harapan kedua orang tua saya.

Ini yang kemudian membuat saya tersadar dan berusaha keras menjaga kepercayaan mereka, sebaik mungkin, bahkan berhasil membuktikan dapat lulus sebagai alumni terbaik Teknik Mesin Unhas periode wisuda September 1994 dengan IPK tertinggi disela-sela segudang kesibukan saya sebagai aktifis mahasiswa.

Usai prosesi wisuda, saya melihat air muka bahagia di wajah kedua orang tua saya di kursi tamu para wisudawan. Sesampai dirumah, saya dipeluk penuh kehangatan dan kebanggaan oleh orang-orang tercinta. Di kedalaman mata ayah dan bunda saya yang berkaca-kaca waktu itu, saya menemukan sebuah telaga jernih dan menenangkan.

Sebuah telaga penuh cinta.

Sebuah telaga yang “menumbuhkan”.. 

Related Posts
MENANTANG KEBERANIAN LEWAT ADRENALINE RUSH BLOGGING COMPETITION
elakukan aktifitas yang bernuansa ekstrem, yang memicu laju adrenaline tubuh terpacu kencang kerapkali saya ikuti dalam beberapa kesempatan.Meski sempat juga membuat rasa takut saya terbit ketika akan melakukan kegiatan itu, ...
Posting Terkait
KABAR AWAL TAHUN YANG MEMBAHAGIAKAN
Sebuah kabar bahagia tiba di akhir minggu ketiga bulan Januari. Kabar yang membuat saya sempat terpana tak percaya. Ya, saya bersama 3 orang blogger lainnya berkesempatan jalan-jalan gratis ke Hongkong ...
Posting Terkait
BUKU FLYING TRAVELER: “JURUS ANTI MAINSTREAM” ALA JUNANTO HERDIAWAN
Judul Buku : Flying Traveler (Berburu Momen Anti Mainstream) Penulis : Junanto Herdiawan Penerbit : B First (PT Bentang Pustaka) Penyunting : Sian Hwa dan Qha Tebal : 150 halaman ISBN : 978-602-8864-97-8 elalu menyenangkan membaca ...
Posting Terkait
ISTRIKU, KAMU BEGITU CANTIK HARI INI…
Pada Bening Kilau matamu, istriku Selalu kutemukan telaga jernih yang melerai galau hati dan lembut embun pagi menyejukkan jiwa serta gerimis di penghujung musim semi yang selalu menghimbauku untuk lekas pulang Pada merdu suaramu, istriku Senantiasa kurasakan getar dawai ...
Posting Terkait
KECERIAAN RUMAH DENGAN WARNA WARNI CAT DULUX
ebuah “tradisi” yang selalu saya kenang dan pelihara hingga kini, sejak masih kecil hingga memiliki keluarga sendiri seperti sekarang adalah, mengecat rumah menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Saya masih ingat betul, ...
Posting Terkait
MAAFKANLAH, DAN HIDUP AKAN TERASA JAUH LEBIH INDAH
"Rela Memaafkan Adalah Jalan Terpendek Menuju Tuhan"(Gerard G.Jampolsky dalam bukunya "Forgiveness, The Greatest Healer of All") Saya mengelus pipi dengan rasa geram luar biasa. Bahkan oleh ayah sendiri sekalipun, saya tidak ...
Posting Terkait
ABFI 2013 SOLO (3) : LAHIRNYA ASEAN BLOGGER SOLO SPIRIT 2013 & SEMANGAT CINTA LINGKUNGAN DI URBAN FOREST
ari ketiga ASEAN Blogger Festival 2013, Sabtu (11/5), para peserta masih tetap memperlihatkan semangat yang luar biasa, setelah semalam menikmati pagelaran seni di Mangkunegara Art Festival. Pada sesi pagi, adalah ...
Posting Terkait
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2015
Januari 2015 Mengawali tahun 2015, saya berpartisipasi mengisi blog film "Karbon Dalam Ransel" (KDR) yang digagas oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Pada blog tersebut saya menuliskan 14 artikel dalam kurun ...
Posting Terkait
Penjelasan Produk Biofir oleh Pak Ahmad Rivai
esehatan adalah harta paling berharga bagi manusia. Tidak peduli berapapun banyaknya harta yang kita miliki, tapi jika tubuh tak pernah sehat rasanya harta itu jadi tidak berguna. Sejak jaman dahulu ...
Posting Terkait
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
Seusai Makan Siang, saya langsung "diculik" secara sukarela oleh kawan lama saya satu SMP dan SMA dulu, Muh.Irdan AB dan istri serta Rinsy Nilawati yang juga kebetulan hadir dalam Seminar ...
Posting Terkait
MENANTANG KEBERANIAN LEWAT ADRENALINE RUSH BLOGGING COMPETITION
KABAR AWAL TAHUN YANG MEMBAHAGIAKAN
BUKU FLYING TRAVELER: “JURUS ANTI MAINSTREAM” ALA JUNANTO
ISTRIKU, KAMU BEGITU CANTIK HARI INI…
KECERIAAN RUMAH DENGAN WARNA WARNI CAT DULUX
MAAFKANLAH, DAN HIDUP AKAN TERASA JAUH LEBIH INDAH
ABFI 2013 SOLO (3) : LAHIRNYA ASEAN BLOGGER
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2015
JAGA KESEHATAN DAN KUALITAS HIDUP DENGAN BIOFIR
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)

6 comments

  1. Beneran ayahnya??? koq ga segemuk bpk.daeng….he…he…salut buat ayahnya…..seorang anak menjadi baik, karena peran besar orang tua juga…..

    –Dulu pernah gemuk, tapi sekarang langsing. Thanks ya udah mampir lagi dan komentar disini

  2. Kalau kita melihat seorang yang baik, maka biasanya orang tuanya baik juga
    dan demikian juga sebaliknya

    saat melihat orang tua yang baik,
    maka anaknya minimal akan sebaik itu

    intinya berbaik sangka dan terjadilah persangkaan kita itu

    kalau kita berbuat sebaliknya,
    maka begitu pulalah yang akan terjadi

    salam

  3. miss so much to papa tua ..semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat btw kak,ajakin yayuk,yanti dll ke FS atw FB donk ..masa kak upik gak ngajak adik adiknya heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *