Pengantar:


Pada Hari Jum’at 24 April 2009 jam 09.00 pagi di Stasiun TV TPI, akan ditayangkan ulang sinetron “Cinta Dalam Sepiring Kangkung” yang diangkat dari Cerpen saya yang berjudul “Cinta Dalam Sepotong Kangkung” dimuat di Harian Pedoman Rakyat tahun 1991. Sinetron yang dibintangi oleh Nabila Syakieb, Indra Bruggman dan Hendra Cipta ini ditayangkan pertama kali di RCTI pada program Maha Kasih 2 tanggal 9 Desember 2006. Saya memang pernah menuliskan beberapa ide cerita sinetron religi bekerjasama dengan kawan saya penulis skenario Sinemart Yeri Hermanto dan Relitha M Hermanto. Bisa baca disini.


Sebelum nonton sinetronnya, mari kita baca cerpennya. Selamat menikmati.


——————-

MALAM tanpa bintang. Jengkerik berderik-derik, bercengkrama. Angin mati dan pepohonan tegak kaku. Saya menatap dalam-dalam tumis kangkung yang tak habis saya lahap. Potongan-potongan kangkung yang ornamental, tercelup dalam kolam kuah yang eksotik berwarna hijau segar, memberi nuansa tersendiri dalam alam fikiran saya. Kangkung itu punya wibawa magis yang membuat saya seakan terlontar pada pengalaman-pengalaman masa silam.Saya membantu upaya “pengumpulan” ingatan itu, dengan melirik istri saya, Mira, yang penuh cinta meneteki anak kami, Fatimah. Ia duduk membelakangi saya dan menikmati fitrah keibuannya, secara bersahaja. Dari mulutnya mengalun lagu Nina Bobok, merdu melenakan. Dengkur halus Fatimah terdengar syahdu. Saya tersenyum sembari melangkah pelan ke arah jendela.

Mira tetap cantik, seperti dulu, saya membatin. Saya merasa beruntung memiliki istri seperti dia : anggun dan mempesona. Saya kemudian menyulut rokok dan menghirupnya penuh perasaan. Rimbun asapnya mengepul-ngepul. Maka kenanganpun berlari ke belakang, pada suatu sore 3 tahun yang silam.

 



* * *


WAKTU itu saya masih ingat betul, Bang Heri, redaktur hiburan tabloid “Gossip Kita” tempat saya bekerja , memanggil.“Firman !”, serunya dari pojok kanan ruang redaksi. Saya menghentikan ketikan berita dan menyahut.

“Ada apa, Bang?”, saya lalu berdiri dan berjalan kearahnya.

“Saya punya tugas untuk kamu”, kata bang Heri seraya mengangsurkan setumpuk berkas kepada saya. Saya meraihnya, lalu menatap bang Heri.“Dokumen tadi adalah data pendukung tugas wawancara kamu dengan Mira Saraswati, bintang film “Cintailah Daku Seutuhnya” yang diperkirakan oleh banyak kalangan bakal meraih piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik tahun ini. Kamu wawancarai dia, dan korek informasi serta tanggapannya tentang nominasi yang diperolehnya termasuk latar belakang keluarganya. Selengkap-lengkapnya. Lekas berangkat dan ingat, lusa sore laporan hasil wawancaramu sudah harus diterima . Jangan sampai terlambat !”, tegas bang Heri.

Saya hanya mengangguk mengiyakan. Bang Heri berlalu tanpa memberi kesempatan saya untuk bertanya lebih jauh. Apa boleh buat, sebagai wartawan muda, saya harus selalu siap mengerjakan tugas-tugas di lapangan.


Copy Cerpen “Cinta Dalam Sepotong Kangkung”



Tidak berapa lama, saya telah “meluncur” ke rumah Mira dengan mengendarai motor butut pinjaman Joko, pegawai bagian iklan. Sepanjang jalan, wajah Mira Saraswati terbayang-bayang. Wajah itu memang cukup populer, sebab selain bintang iklan TV dan artis, salah satu posenya menghiasi kalender yang menggantung di kamar kos saya. Ia memang begitu cantik dan menawan.
Kariernya di usia yang masih cukup belia ini memang melonjak drastis. Dalam waktu singkat, ia telah meraih popularitas yang mencengangkan, sesaat setelah membintangi film Box Office-nya “Cinta dan Dusta”. Walau terus terang, saya kurang begitu tertarik terhadap film-film buatan negeri sendiri lantaran mutu acting pemainnya yang jelek dan logika berceritanya cenderung mengada-ada, saya cukup salut pada cara Mira melakoni karakter yang diperaninya. Wajar dan begitu alami. Sewaktu menonton film pertama Mira tersebut , saya sudah menduga ia bakal menjadi bintang film terkenal. Dan tampaknya, dugaan saya itu tak terlalu melenceng jauh. Terbukti, ia masuk nominasi piala Citra, setara dengan bintang-bintang film lainnya yang lebih dulu tampil di dunia layar perak.Tanpa terasa, saya telah tiba di tempat tujuan.

Saya mencocokkan alamat rumah Mira dengan data alamat rumah yang diberikan Bang Heri. Ternyata pas!. Saya lantas memencet bel yang menempel pada pilar pagar tembok. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki muda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Tampaknya seorang pembantu rumah atau mungkin tukang kebun. Pakaian yang dikenakannya cukup memberi kesan.

“Selamat sore. Apa betul ini rumah Mira Saraswati ?”, saya bertanya.

“Benar, apa Mas mau ketemu dengan mbak Mira ?”, jawab lelaki itu dari balik jeruji pagar.

“Ya, saya wartawan dari Tabloid Gossip Kita..Tolong sampaikan pada mbak Mira, saya mau wawancara. Kemarin kami sudah janji”, kata saya mengungkapkan maksud kedatangan. Lelaki itu manggut-manggut seraya membuka pintu lalu mempersilakan saya masuk.

Rumah Mira betul-betul mentereng. Megah dan Mewah. Taman bunga yang asri terawat rapi, tampak segar dan menyejukkan. Rumah itu bertingkat dua dan bercat putih. Saya diminta duduk di serambi sementara lelaki muda tadi masuk memanggil Mira. Sekitar 10 menit kemudian, sosok Mira Saraswati muncul di depan saya. Ia memakai T-Shirt putih bertuliskan “Public Enemy”dan Jeans biru. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, kelihatannya habis keramas. Saya terpukau sejenak. Mira memang sangat menawan.

Belahan dagu dan dekik pipinya menambah manis penampilannya. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Anda wartawan ?”,tanya Mira mengejutkan keterpesonaan saya. Saya gugup dan menelan ludah. Saya lalu berdiri dan mengulurkan tangan.

“Benar. Kenalkan, saya Firman, wartawan tabloid “Gossip Kita”, saya memperkenalkan diri. Mira menyambut uluran tangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk kembali. Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya sekaligus memohon maaf atas kelancangan saya atas kebohongan : “Sudah janjian kemarin”.Mirna tersenyum. “Tak apa-apa, itu sudah lagu lama wartawan, saya sudah hapal itu. Nah, apa yang anda mau tanyakan ?”, ucap Mira seraya memperbaiki letak duduknya. Saya lantas mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah diberikan bang Heri pada saya.

“Anda rupanya bukan wartawan profesional”, Mira mencibir.

“Kenapa ?” saya penasaran.

“Itu, anda bawa daftar pertanyaan segala. Wartawan profesional tidak memerlukan itu bukan ?”, kata Mira mengajukan alasan. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Saya agak tersipu tapi kali ini sedikit tersinggung.

“Saya memang masih amatir Nona Mira, tapi bukan berarti saya tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang profesional, daftar pertanyaan ini sekedar menjadi panduan saya agar arah wawancara kita lebih jelas.,”kata saya membela diri dengan nada tajam.

Mira tertawa kecil.

Saya merutuk dalam hati.

“Oke, saya minta maaf kalau anda kurang berkenan. Saya tak punya maksud apa-apa dibalik pernyataan saya tadi. Sekedar bergurau, kok. Saya cuma ingin berusaha membuat suasana lebih santai. Anda kelihatannya sangat tegang dan gugup Oh,..ya, kita ber-“saya – kamu”.sajalah. Panggil saja saya Mira,” kata Mira enteng. Tanpa beban.

Saya menghela nafas panjang. Kejengkelan masih tersisa. Belum apa-apa ia sudah meremehkan saya. Tapi dalam hati, saya mengakui kecerdikannya menguasai keadaan.
Saya kemudian tidak memperdulikan “insiden” tadi, pertanyaan-pertanyaan sayapun mengalir lancar. Yang mengagumkan, Mira mampu menjawabnya dengan baik dan sistematis. Omongannya padat dan bernas. Hal ini menunjukkan bahwa selain cantik Mira memiliki otak yang cukup encer.

Menjelang akhir wawancara, Mira melontarkan pujian.

“Ternyata, pertanyaan-pertanyaan kamu cukup profesional juga. Bahkan lain dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah mewawancarai saya sebelumnya. Kamu lebih jeli melihat sosok Mira sebagai pribadi bukan sosok Mira sebagai artis film. Saya suka itu,” katanya tulus.

“Kamu juga, Mira. Jawaban-jawaban yang kamu berikan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Begitu cerdas dan jujur,” saya balas memujinya. Kali ini Mira yang tersipu. Pipinya memerah. Lagi-lagi saya dibuat terpukau.

“Kapan-kapan kita jumpa kembali. Hasil wawancara ini akan saya berikan pada Mira. Terimakasih atas kesediaannya. Permisi”, saya beranjak pamit.

Mira tersenyum manis. Ia kemudian mengantar saya sampai ke pintu gerbang depan rumahnya. Kami berjabat tangan. Sorot mata kami bicara. Di ufuk barat langit merah jingga. Perlahan berubah menjadi merah jambu.

 


* * *


KALAU kemudian saya dan Mira jadi sering bertemu. Semata-mata karena kenekadan saya. Saya betul-betul terjerat oleh panah asmara Mira Sudah menjadi watak saya untuk meraih apa yang saya inginkan. Se-ngotot mungkin..Setelah mengantarkan hasil wawancaranya yang dimuat di tabloid “Gossip Kita”dan Mira menyatakan kepuasannya, saya merasa dapat peluang emas. Dan tanpa ampun, kunjungan demi kunjungan pun saya lakukan.

Saya tak mempedulikan lagi status sosial kami yang berbeda : ia artis, kaya dan public figure sementara saya hanya wartawan miskin yang kamar kost saja sering nunggak. Mirapun menampilkan sikap “tidak keberatan” bahkan sangat senang. Saya berusaha tampil apa adanya dan Mira menerima semua itu dengan penuh pengertian. Tanpa sungkan-sungkan, Mira memilih duduk dibonceng nonton ke bioskop atau makan di warung pinggir jalan diatas motor butut pinjaman dari Joko atau Mas Yono tetangga saya, ketimbang membawa mobil BMW pribadinya. Sebuah sikap bersahaja yang membuat saya makin kagum pada sosok Mira.

Sebagaimana biasa bila artis “agak bertingkah” maka tak ayal lagi ia dijadikan bulan-bulanan gossip. Hal ini juga menimpa diri Mira. Dalam beberapa kejap sejumlah “koran kuning” mulai memuat berita hubungan kami secara vulgar dan blak-blakan. Mira tak ambil pusing, sayapun demikian. Meski belakangan ini beberapa orang rekan wartawan memandang iri pada “keberuntungan” yang saya peroleh. Untuk sementara saya dan Mira tak memperhitungkan masalah apapun. Semua lancar dan beres. Bahkan Bang Heri dan Pak Sofyan, pemimpin redaksi”Gossip Kita”, memberikan dukungan penuh pada “gebrakan monumental” saya ini.

“Maju terus, Fir. Kapan lagi kita-kita ini punya ipar artis. Siapa tahu malah oplah tabloid kita naik”, demikian kata Pak Sofyan memberi semangat. Saya hanya menyambut gurauan tadi dengan senyum penuh arti.

Sampai malam itu.

Saya baru saja melangkah masuk ke rumah Mira, ketika percakapan itu terdengar.
“Wartawan itu profesi tanpa masa depan. Apa yang kamu harap dari dia ?”, terdengar suara geledek Pak Sasmita membahana. Saya terpaku di tempat saya berdiri. Bulu kuduk saya meremang. Saya diselimuti perasaan kurang enak.

“Firman baik, Pak. Mandiri dan siap bertanggung jawab. Dia punya keteguhan pribadi dan kematangan sikap yang sangat saya kagumi, Pak. Firman bukan lelaki yang bisa dianggap rendah,” bela Mira sengit.

Diluar, saya tersenyum getir. Mira sangat membanggakan saya.

“Persetan !.Pokoknya, Bapak tak mau lihat kamu bergaul lagi dengan dia, si wartawan kere itu. Titik !” tegas Ayah Mira. Terdengar langkah-langkah kakinya meninggalkan Mira yang isak tangisnya mulai terdengar.

Saya menghela nafas panjang. Ini sebuah resiko, dan saya sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saya telah siap menghadapinya seperih dan sepahit apapun. Namun meskipun begitu, saya cukup terpukul atas kejadian tadi. Saya memutuskan untuk pulang, agar persoalan tersebut tidak menjadi makin runyam. Sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan kelanjutan hubungan saya dengan Mira.Akhir yang tragis, saya membatin. Nelangsa.

 


* * *


SEJAK “perkara” tersebut muncul, saya tak pernah lagi berusaha menemui Mira Untuk kasus ini, saya mesti melakukan langkah-langkah yang lebih realistis. Saya tahu posisi saya dan kesulitan Mira.Hingga suatu ketika, saat saya tengah asyik melahap tumis kangkung di kamar kost, Mira datang. Matanya menyala.

“Kenapa bang Firman tidak pernah datang menemui saya ?”, semprotnya langsung. Saya meletakkan sendok di mangkuk lalu berdiri dan menatap ke arahnya.

“Ayahmu Mira. Saya dengar semua percakapan kamu dengan ayahmu mengenai saya. Saya tak ingin hanya karena saya dekat dengan kamu, hubungan keluarga kalian retak. Saya tahu bagaimana saya harus menempatkan diri. Saya bukan apa-apa Mira. Hanya wartawan miskin. Tak lebih. Saya sadar, terdapat banyak perbedaan antara kita yang tidak dapat dipertemukan”, saya berusaha menjelaskan dengan tenang.

Mata Mira terlihat mulai memerah. Ia menangis. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya lantas mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Ada cicak berkelahi disana.

“Bang Firman terlalu picik memandang masalah ini. Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya…..”,Mira tak menyelesaikan ucapannya. Tangisnya meledak. Saya menggigit bibir.

“Mira, dengar. Apa yang saya lakukan semata-mata demi kepentinganmu, kebaikanmu dan karir cemerlangmu dimasa datang. Hubungan kita selama ini, boleh jadi, menyebabkan kamu tak leluasa mengembangkan apa yang telah kamu raih selama ini. Kamu artis penuh harapan Mira,” saya meraih dan meremas tangannya. Saya merasa tenggorokan saya tercekat. Ada keharuan yang membuncah.

Mira menengadah. Matanya yang sembab tajam menghunjam. Saya balas memandangnya. Dengan lembut, saya lalu menyeka butir-butir air mata yang mengalir di pipinya. Dalam diam mengalir sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Ia melepas genggaman tangan saya dan berjalan ke arah meja.“Saya lapar. Masih punya tumis kangkung ?”, tanya Mira memecah keinginan. Suaranya terdengar putus asa. Saya lalu menyiapkan segala sesuatunya di meja. Mira memang biasa makan ditempat saya. Ia sangat menyukai tumis kangkung buatan saya. “Lezat dan eksotik”, katanya suatu ketika. Saat itu saya cuma meringis, sebab terus terang hanya menu itu yang dapat saya buat selain menanak nasi dan telur goreng.
Saya menyaksikan Mira dengan lahap menghabiskan hidangan saya yang sangat sederhana. Nasi plus tumis kangkung. Ia terlihat sangat menderita. Wajahnya yang cantik seperti dibaluri kabut. Pekat dan suram. Saya trenyuh.

Mira mengakhiri prosesi makannya dengan meneguk segelas air putih. Saat saya beranjak untuk membenahi. Ia menyentuh lengan saya.

“Sudah, biar saya, bang” katanya. Saya mengangguk. Dengan keanggunan yang sangat alami, ia membenahi meja. Saya terpukau menyaksikannya.

“Tumis kangkung buatanmu tadi betul-betul enak, bang Firman”, puji Mira tulus yang berdiri membelakangi saya. Ada nada getir dalam kata-katanya.

“Itu cuma soal kebiasaan dan kemampuan meramu bumbu”, jawab saya enteng seraya menyalakan rokok.

Mira tiba-tiba berbalik dan menatap saya lekat-lekat.

Saya terkejut.

“Jadi bang Firman masih mempersoalkan perbedaan-perbedaan, sementara tumis kangkung yang seenak ini dibuat hanya dengan kebiasaan dan keandalan meramu ?. Perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dengan membiasakan dan meracik keberagaman”,tutur Mira jernih.

Saya mengerutkan kening.

“Banyak hal yang perlu kita mengerti sebelum kita menyatakan untuk berbuat. Bang Firman perlu banyak belajar dari tumis kangkung itu”,lanjut Mira sembari tersenyum. Ia lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring.

Saya tercenung. Mira benar dan itu membuat saya merasa makin tak ingin kehilangan dia. Sikap saya keliru selama ini. Saya mematikan rokok yang belum sempat saya isap di asbak, lalu berjalan kearahnya.

“Mira”, panggil saya lirih. Ia menoleh memandang saya. Parasnya yang jelita seperti bercahaya.

“Saya cinta kamu Mira Saraswati”

“Saya juga cinta kamu Firman Agus”, sahut Mira malu-malu. Ia menunduk.

Saya lalu memegang bahunya. Mengalirkan keyakinan.

“Kamu mau bersamaku membangun kebiasaan dan meracik keberagaman ?”

Mira mengangguk kencang-kencang.

“Kamu mau membuat tumis kangkung bersamaku, meramunya secara dashyat dan menikmatinya sepanjang hidup ?”

Lagi-lagi Mira mengangguk kencang-kencang.

Kami lalu tertawa bersama.

Diluar, angin bersorak dn pohon akasia bertempik kegirangan.

 


* * *


SAYA membuyarkan lamunan. Kini, saya dan Mira telah bersama-sama selama 3 tahun “membangun kebiasaan dan meracik keberagaman” itu, tanpa ada perbedaan-perbedaan. Saya pun telah meninggalkan profesi sebagai wartawan, dan Mira telah menjadi istri yang setia mendampingi saya sebagai pemilik Restorant Tumis Kangkung paling terkemuka dan paling dashyat di negeri ini.

 


 

Dimuat di Harian Pedoman Rakyat-Makassar, April 1991

 

Related Posts
SATU TAHUN KOMUNITAS BLOGGER BEKASI : SEBUAH MIMPI YANG MENJADI
Gelap Malam telah melingkupi kawasan pintu Tol Jatibening dan sekitarnya saat saya dan Mas Yulyanto yang mengendarai mobil Isuzu Panther melintasinya. Tak terlalu banyak kendaraan yang melewati pintu tol tersebut ...
Posting Terkait
Seperti tahun sebelumnya, kami panitia pesta Blogger mengundang teman teman, para kontributor untuk merancang Logo yang akan digunakan dalam Pesta Blogger 2009.Logo untuk Pesta Blogger 2009 Logo/font untuk tema " One ...
Posting Terkait
CATATAN DARI LAUNCHING CITI PRIORITY : LAYANAN PERBANKAN UNGGULAN DENGAN TIGA PILAR UTAMA
ari Rabu, 7 September 2016, saya menyempatkan diri hadir dan memenuhi undangan untuk mengikuti peluncuran layanan perbankan Citi Priority dari Citibank bertempat di Hotel Kempinski, Jl.MH.Thamrin, Jakarta. Saya hadir agak ...
Posting Terkait
ADA PETISI UNTUK BUPATI BEKASI
Sebuah petisi online yang ditujukan untuk Bupati Kabupaten Bekasi beserta jajaran Muspidanya dan Kapolres Bekasi bertajuk "Petisi Pemberantasan Kemaksiatan di Tegaldanas dan Kalimalang" ditayangkan hari ini di jagad maya. Adalah ...
Posting Terkait
NIKMATNYA BERENANG DI WATERBOOM LIPPO CIKARANG
Sabtu pagi (5/3), kedua anak saya,Rizky dan Alya datang "menghadap" kepada sang ayah yang sedang duduk menyeruput kopi panas pagi hari. "Pa, katanya mau ke Waterboom hari ini" tagih si bungsu ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2010 (5) : MENCINTAI POHON, MENGHARGAI KEHIDUPAN
Semangat para peserta Amprokan Blogger 2010 tak jua sirna saat Panitia mengumumkan perjalanan berikutnya adalah Kota Jababeka Cikarang yang berjarak lebih kurang 30 km dari Bantar Gebang. Waktu sudah menunjukkan ...
Posting Terkait
Berfoto dulu sebelum berangkat ke Hongkong
  Hari Kamis sore 17 Maret 2011, kegairahan saya untuk "menjemput impian" jalan-jalan ke Hongkong Disneyland begitu membuncah. Sebuah impian yang sesungguhnya dapat terwujud secara tak terduga berkat aktifitas dan konsistensi ...
Posting Terkait
NOSTALGIA AGUSTUSAN
Saya (ketiga dari kiri) saat bertugas bersama Pasukan-8 Paskibra mengibarkan bendera pada Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1988 di Lapangan Kassi Kebo, Kab.Maros Setiap Peringatan Hari Kemerdekaan ...
Posting Terkait
Saya menulis blog bersama "Delliani", Netbook Dell Inspiron Mini 9 saya
Beberapa waktu terakhir ini, saya agak tergelitik saat membaca "kicauan" di Twitter bertagar #priyadingebloglagi. Ada yang lucu, ada pula yang serius.  Beberapa "resolusi" terlontar mulai dari "kalau #priyadingebloglagi @budizainer akan cukur ...
Posting Terkait
PUISI CINTA GOMBAL DARI MASA LALU
Dalam dua kesempatan liburan panjang bulan Desember lalu, saya dan istri bergotong royong merapikan arsip-arsip lama kami digudang yang terletak dikamar belakang. Dan luar biasa, kami--secara tak sengaja--menemukan arsip-arsip surat ...
Posting Terkait
SATU TAHUN KOMUNITAS BLOGGER BEKASI : SEBUAH MIMPI
SAYEMBARA LOGO PESTA BLOGGER 2009
CATATAN DARI LAUNCHING CITI PRIORITY : LAYANAN PERBANKAN
ADA PETISI UNTUK BUPATI BEKASI
NIKMATNYA BERENANG DI WATERBOOM LIPPO CIKARANG
AMPROKAN BLOGGER 2010 (5) : MENCINTAI POHON, MENGHARGAI
MENJEMPUT IMPIAN KE HONGKONG DISNEYLAND
NOSTALGIA AGUSTUSAN
JIKA SUATU KETIKA SAYA TIDAK NGEBLOG LAGI.. (Refleksi
PUISI CINTA GOMBAL DARI MASA LALU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed