MAAFKANLAH, DAN HIDUP AKAN TERASA JAUH LEBIH INDAH

unduhan “Rela Memaafkan Adalah Jalan Terpendek Menuju Tuhan”(Gerard G.Jampolsky dalam bukunya “Forgiveness, The Greatest Healer of All”)

Saya mengelus pipi dengan rasa geram luar biasa.

Bahkan oleh ayah sendiri sekalipun, saya tidak pernah merasakan ditampar seperti ini. Sakitnya terasa sampai ke tulang sum-sum. Harga diri saya seakan dicabik-cabik.Kemarahan berkecamuk dalam dada, namun saya tak kuasa melampiaskannya. Saya tak berdaya. Pasrah.

Saya ketika itu hanyalah satu diantara sekitar 200-an junior-junior lelaki mahasiswa baru berkepala plontos yang sedang menjalani OPSPEK Fakultas Teknik 20 tahun lalu yang memang terkenal keras gemblengannya. Memang bukan hanya saya kena tampar Senior yang galak itu tapi juga kawan-kawan saya yang lain. Tapi saya menandainya. Saya mengingat wajah dan namanya. Kelak, janji saya dalam hati, saya akan membalasnya, yang membuatnya lebih menderita dan menyesal telah melakukan kekejian seperti ini pada saya.
Β 

Begitulah, saya memendam dendam itu dalam-dalam. Berkobar menyala dalam hati, dari waktu ke waktu. Kian membara. Setiap kali berpapasan di kampus, saya selalu membuang muka. Bahkan melihat wajahnya pun saya sangat muak. Sampai dua tahun kemudian, saat itu tiba.

Karena memiliki prestasi akademik yang lumayan bagus, saya diangkat sebagai asisten dosen di salah satu laboratorium di jurusan Teknik Mesin. Saat saya melihat daftar peserta praktikum, sebuah nama yang sudah saya “incar” tertera disana. Sang Senior itu memang tipikal mahasiswa yang malas kuliah dan sering bolos, sehingga saya–yang dua tahun lebih muda usia angkatannya–justru mampu melampaui mata kuliah yang seharusnya sudah dilaluinya..

Saya tersenyum. Berbagai rencana jahat meraja dalam fikiran saya untuk membuat sang senior sadis itu menderita. Termasuk kemungkinan untuk tidak akan meluluskannya dalam sesi praktikum yang berada dibawah tanggung jawab saya setelah sebelumnya “menyiksa”-nya dengan bolak-balik melakukan asistensi. Lebih “sadis” lagi, saya merancang akan membuatnya kian “menderita” dengan pontang-panting pulang pergi Makassar-Maros (rumah kediaman saya yang berjarak 40 km) untuk menemui saya. Dia mesti mendapat balasan yang setimpal atas apa yang sudah dilakukannya.

Adzan Sholat Jum’at telah tiba. Saya bersama beberapa kawan bergegas menuju lokasi Jum’atan di mesjid kampus.

Uraian khatib di mimbar yang membahas tentang Pentingnya Memaafkan membuat saya terpana. Sang Khatib memberikan sebuah teladan menarik dari Rasulullah Muhammad SAW yang memiliki akhlak mulia dan hati seluas samudera dalam menyikapi persoalan. Ketika beliau berhasil menaklukkan Kota Mekkah, tak sedikitpun beliau melakukan tindakan-tindakan balas dendam pada penduduk kota yang sebelumnya pernah memboikot, memusuhi, membenci, mengusir bahkan mengancam akan membunuh keluarga beliau,

Abu Sofyan bin Harb, sang pemimpin kejahatan kaum Quraisyi tidak menjadi sasaran pembalasan dendam Rasul, Malah saat penaklukan tersebut Rasulullah dengan tegas menyatakan dan menjamin “Siapa saja yang masuk rumah Abu Sofyan Bin Harb akan selamat!”. Perlakuan serupa dilakukan oleh Rasul pada istri Abu Sofyan, Hindun Bin ‘Uthbah yang pernah menghina Paman kesayangan beliau Hamzah bin Abdul Mutthalib, dengan mengunyah jantungnya saat perang Uhud.

Pribadi Rasul yang pemaaf ini mencerminkan teladan yang sangat berharga. Memaafkan sesungguhnya bukanlah sebuah pekerjaan mudah, apalagi terhadap seseorang yang telah melecehkan, melukai dan menginjak-injak harga diri. Sebagai pihak yang telah dirugikan atau disakiti, kita akan senantiasa memiliki kecenderungan untuk ingin membalas. Dan ini manusiawi.

Persoalannya kemudian adalah, seringkali tindak pembalasan seringkali melebihi apa yang telah dilakukan pada kita. Ada tambahan “bonus” didalamnya. Contoh : Seorang kawan mencela kita, “Kamu Bodoh!”. Kita lalu membalasnya dengan lebih “kejam” : “Masih mending begitu, dibanding kamu, yang tidak hanya bodoh, juga jelek tak karuan!”. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila pola komunikasi konyol seperti ini berlangsung.

Memaafkan tentu jauh lebih mulia. Karena membalas sakit hati justru berpotensi menghasilkan sakit hati lagi dan tak akan berkesudahan. Ada sebuah mitos yang berkembang dan menyatakan bahwa upaya memaafkan sesungguhnya adalah untuk kepentingan orang yang kita maafkan. Kondisi ini kemudian membuat kita berfikir, kita menjadi rugi dua kali. Yang pertama karena kita telah disakiti dan yang kedua kita mesti memberi maaf kepada orang yang telah menyakiti kita. Fatalnya, ada yang memelihara “luka” itu sepanjang hidupnya dengan berjanji dalam hati tidak akan memaafkan orang yang menyakitnya itu sampai mati.

Memaafkan sejatinya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Memaafkan akan membuat hati kita menjadi damai. Kita akan melepaskan diri dari pengaruh orang yang telah menyakiti kita. Ketidakmauan memaafkan justru akan menggerogoti kebahagiaan kita. Sebuah penelitian pernah menyebutkan ketidakrelaan memaafkan memiliki dampak dashyat pada tubuh kita : mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, menciptakan ketegangan dan meningkatkan tekanan pada jantung serta otak. Rasa marah yang terpendam dapat menyebabkan depresi berat, pusing, susah tidur,cemas, ketakutan dan tentu tidak bahagia. Jadi sebenarnya, orang yang kita maafkan itu tidak mendapat apa-apa dengan kita memaafkannya, justru kita sendiri yang mendapat keuntungan serta manfaat memaafkan orang itu.

Musuh kita sesungguhnya bukanlah orang yang membenci kita, tapi justru orang yang kita benci. Kunci kebahagiaan itu berada pada bagaimana cara pandang kita. Ketika kita meletakkan “bahagia” itu didalam hati dan tidak dipengaruhi faktor-faktor external, kita akan menemukan sebuah kedamaian hakiki. Tidak perlu memusingkan perilaku orang lain, yang penting belajarlah memaafkan.

Memberi maaf sebenarnya tidak harus melalui sebuah proses meminta maaf terlebih dahulu. Ini bisa berlangsung satu arah. Tak perlu menunggu seseorang datang kepada kita untuk meminta maaf dan kita memaafkannya. Pengalaman empiris menyajikan fakta bahwa kerapkali seseorang yang melakukan kesalahan dan telah merugikan kita merasa gengsi atau malu untuk meminta maaf. Bahkan ada diantaranya justru menganggap tidak melakukan kesalahan sama sekali. Lantas sampai kapan kita menunggu? Sementara orang yang kita harapkan justru santai saja?. Siapa yang rugi? Siapa yang menderita? Tentu kita sendiri.

Akan lebih baik rasanya, kita langsung memaafkan orang yang bersangkutan, terlepas apalah dia nanti akan datang meminta maaf atau tidak. Adalah tidak arif menggantungkan kebahagiaan kita dari orang-orang itu. Kita yang memutuskan kebahagiaan untuk diri kita, bukan mereka.

Bila anda ingin berbahagia dalam hidup, kata sang Khatib menutup khutbahnya, jangan pernah menyimpan luka batin dalam diri kita. Konon kata beliau, Luka Batin jauh lebih berbahaya dibanding luka fisik, namun luka batin sebenarnya bisa lebih cepat kesembuhannya jika kita menyadarinya. Dengan lebih awal menyadarinya, luka batin ini tidak akan kian membesar dan justru menggerogoti kebahagiaan kita. Kuncinya adalah memaafkan. Sang Khatib lalu mengutip sebuah hadits yang membuat batin saya bergetar hebat: β€œTidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Al-Bukhari).

Usai Jum’atan, saya kebetulan berpapasan dengan “seteru” saya itu di koridor kampus. Kali ini saya tersenyum ke arahnya dan menyapa. Di lubuk hati terdalam, saya sudah memaafkannya. Walau mulanya sedikit kaku, namun akhirnya kami langsung terlibat perbincangan yang akrab. Saya menyatakan, jika ia menemui kesulitan dalam praktikum, jangan sungkan-sungkan menemui saya. Kapan saja. Sang senior sadis itu mengangguk sembari tersenyum.

Saat itu saya menyadari, ternyata dengan memaafkan, hidup jadi terasa jauh lebih indah…






 

Related Posts
SESUDAH PESTA, TERUS MAU APA?
HISTERIA Pesta Blogger 2007 baru saja usai. Saya masih merasakan betapa gegap gempitanya acara yang diselenggarakan di sebuah bioskop terkenal yang berada di sebuah "kompleks" pertokoan mewah di pusat ...
Posting Terkait
CERAH, PROSPEK LAYANAN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI MIGAS NASIONAL
ari Jum'at siang (8/3) kemarin, saya mendapat kesempatan menjadi keynote speaker dalam internal workshop yang diadakan oleh DHL Indonesia (Oil & Gas/Energy Sector). Bertempat di Ruang Bromo Training Center DHL ...
Posting Terkait
SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU : 15 TAHUN BERSAMA MENGARUNGI SUKA DAN DUKA
Istriku sayang, Saat menulis surat ini, aku sempat menatap wajahmu yang teduh sembari menahan sakit pada bagian kaki kanan yang baru saja mengalami kecelakaan sepeda motor seminggu silam dan belum sepenuhnya ...
Posting Terkait
P3I PII : MERETAS JALAN MENUJU INSINYUR PROFESIONAL
ari Rabu (9/3) saat rona gerhana mewarnai langit pagi Jakarta, saya bersama rekan kantor saya, Ishak Lambang Karunia serta adik angkatan saya di Teknik Mesin UNHAS yang juga tetangga di ...
Posting Terkait
LEBARAN DI RIG : KOKI SEBAGAI IMAM DAN KHATIB
Pengantar Pada tanggal 1 Desember 2006, saya memuat tulisan di situs Panyingkul tentang pengalaman kawan saya Heru Kuswanto yang merayakan lebaran di atas anjungan pengeboran lepas pantai. Menjelang lebaran saat ini, ...
Posting Terkait
KUNJUNGAN SINGKAT KE MAKASSAR
um'at malam (23/12), saat saya bersama istri dan anak-anak tengah menyantap hidangan ala Sunda di Rumah Makan "Dapur Coet" sekedar merayakan hasil Ujian Akhir Rizky dan Alya yang memuaskan, tiba-tiba ...
Posting Terkait
SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU (Refleksi 13 Tahun Usia Pernikahan)
striku sayang, Sudah beberapa hari, peringatan tahun ketigabelas usia pernikahan kita berlalu. Kesibukan mempersiapkan perhelatan syukuran khitanan anak sulung kita, Rizky, telah begitu banyak menyita waktu dan kesempatan untuk sekedar menuliskan ...
Posting Terkait
PERTAMA KALI BERKACAMATA
ari ini, Sabtu (27/8) menjadi sebuah momentum bersejarah dalam perjalanan hidup saya. Mulai hari ini saya memakai kacamata. Entahlah apakah ini sebuah hal yang perlu dirayakan atau tidak, namun menggunakan ...
Posting Terkait
KATA i4 SMARTPHONE : TAMPILAN ELEGAN, KINERJA MENAWAN
enang sekali rasanya mendapat kesempatan eksklusif "mencicipi" smartphone Kata i4. Saat pertama kali tiba di genggaman, saya tak sabar untuk segera membuka kemasan gadget anyar seberat 161 gram ini. Ketika ...
Posting Terkait
KOMPASIANA DAN IKHTIAR MEMBANGUN HARMONI
Kau membuatku mengerti hidup ini Kita terlahir bagai selembar kertas putih Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai Kan terwujud Harmony... Segala kebaikan... Takkan terhapus oleh kepahitan Kulapangkan resah jiwa... Karena kupercaya... Kan berujung indah Suara Gitaris sekaligus Pencipta lagu ...
Posting Terkait
SESUDAH PESTA, TERUS MAU APA?
CERAH, PROSPEK LAYANAN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN UNTUK
SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU : 15 TAHUN
P3I PII : MERETAS JALAN MENUJU INSINYUR PROFESIONAL
LEBARAN DI RIG : KOKI SEBAGAI IMAM DAN
KUNJUNGAN SINGKAT KE MAKASSAR
SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU (Refleksi 13 Tahun
PERTAMA KALI BERKACAMATA
KATA i4 SMARTPHONE : TAMPILAN ELEGAN, KINERJA MENAWAN
KOMPASIANA DAN IKHTIAR MEMBANGUN HARMONI

8 comments

  1. iya mas atg.
    memaafkan hanya bisa dilakukan oleh orang yg berjiwa BESAR, biar kata badan kecil.

    sering kita temui, orang besar tp jiwanya kerdil.
    tp bukan mas atg lho…
    mas atg mah te-o-pe begete dah !

    kapan mas mo ngadain seminar blog di SK?
    dah gatel nih,,,,………..

    ttd,
    nikolas

  2. Thanks…. sudah berbagi….
    Daeng… bisakah itu blog ta dibuat lebih ringan lagi… supaya enak diakses dgn bandwidth kecil atau gampang diakses dgn HP jadul brnodalkan GPRS…. sorry Daeng… suka ka baca tulisannta … tapi mauka juga bayar murahhhhmmm hehehe….
    Sukses buat daeng Upik

  3. assalam..

    kanda senior, saya juga antek, 2007..

    jadi mengingat masa2 maba…^^

    sekarang teknik sudah jauh berubah..
    saya termasuk beberapa orang yang senang
    karena kekerasan sudah makin minim..
    tapi miris
    karena solidaritas dan loyalitas
    justru makin menurun…
    tidak seindah dulu lagi
    *ini kata senior2 terdahulu

    perlahan tapi pasti
    senioritas, loyalitas, solidaritas
    dikalah oleh hedonitas dan individualisme
    yang datang dengan iming2 anti kekerasan…

    entah lah, kanda…

    seharusnya kelembutan pun bisa mengajarkan yang tiga itu
    seperti yang dicontohkan Rasulullah

    tapi sekali lagi, entahlah
    entah manusia2 sekarang yang hatinya tetap beku
    kalao cuma dikasih “kelembutan”…

    parah..

    bgmn menurutta?

  4. seseorang sepanjang hidupnya menyiksa batin banyak orang – termasuk ayah saya yang jadi korban dan keluarga kami. kini org itu sudah jompo, tidak berdaya di tempat tidur puluhan hari bertahun-tahun.

    amarah saya yang bergunung-gunung sejak kami dizolimi, pupus sudah., saya pegang pergelangan tangannya, sembari saya berkata dalam hati, “Tuhan, saya maafkan orang ini… dan semoga Engkau memaafkannya atas yang dulu sudah diperbuatnya kpd kami…!”

  5. Benar mas,….

    Saya pernah merasakan hal yg sama, merasa tersakiti dan menyimpan amarah di dalam hati. endingnya saya merasa lelah sendiri dan memaafkan juga melupakan ternyata jauh lebih melegakan πŸ™‚
    trima kasih mas πŸ™‚

  6. Maafkan saya bang, baru kali ini saya memberi komentar di blogmu. Hehehe. Semoga semakin SuksesMulia dan teruslah menulis. I love you

    Salam SuksesMulia

    Jamil Azzaini, pendiri Akademi Trainer

    1. Terimakasih atas komentarnya Pak Jamil, sungguh ini sebuah kehormatan besar buat saya. Salam sukses mulia juga ya pak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *