KOPDAR II KOMPASIANA : KEHANGATAN SEBUAH “RUMAH SEHAT”

Edi Taslim (General Manager Kompas Cybermedia) didampingi Pepih Nugraha memberikan penjelasan soal Kompas Phone dan QR Code Kompas dalam kesempatan Kopdar kedua Kompasiana bertempat di

JHCC, Minggu,14 Juni 2009


Hari Minggu siang, 14 Juni 2009, saya bersama Mas Eko Eshape (plus istri tercinta Mbak Yenni dan si bungsu Lilo) dan Mas Ceppi (plus sang anak sulung Andra–teman sekelas Lilo) berangkat menuju area pameran Indonesia Celular Show 2009 dan Festival Komputer Indonesia di kawasan JHCC (Jakarta Hilton Convention Center) Senayan Jakarta Selatan. Kami datang untuk menghadiri Kopdar kedua Kompasiana yang diadakan di booth Kompas Cyber Media di area yang sama.


Pengunjung yang datang di akhir pekan itu sungguh padat. Kami cukup susah memperoleh area parkir kendaraan. Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam, kami akhirnya mendapatkan tempat parkir yang cukup layak. Setelah membeli karcis masuk Rp 5000/orang, kami memasuki area pameran. Suasana hiruk pikuk menyambut kedatangan kami sesaat setelah memasuki ballroom JHCC dimana sejumlah produsen selular serta produk-produk ikutannya berpameran.


Kami langsung menuju area Kompas Cybermedia tempat dimana kawan-kawan penggiat Kompasiana (penulis, komentator, pembaca dan admin) yang kemudian akan saya sebut Kompasianers, berkumpul dan berkopdar. Ini adalah Kopdar kedua Kompasiana setelah sebelumnya dilaksanakan Kopdar Pertama di Bentara Budaya Jakarta tanggal 21 Februari 2009. Kang Pepih Nugraha, admin Kompasiana, menyambut kedatangan kami, rombongan Kompasianers Cikarang dengan hangat.


Saya lantas berkenalan dengan Kompasianers lain yang sudah lebih dulu datang. Salah satunya adalah Pak Ragile, Pak Raharjo, Pak Unang Muchtar, Pak Agus Hamonongan (moderator milis Forum Pembaca Kompas), Pak Ichwan Kalimasada, Pak Dwiki Setiawan, dan Pak Zainul. Nama-nama yang senantiasa familiar dalam interaksi online dan diskusi di Kompasiana, kini telah berwujud nyata. Pak Ragile yang biasanya berkomentar kritis di Kompasiana ternyata adalah sosok yang humoris dan murah senyum. Juga Pak Ichwan yang belakangan ini getol mempopulerkan salah satu capres lewat sejumlah postingnya di Kompasiana, ternyata satu almamater dengan saya di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. Hanya saya kuliah di Fakultas Teknik dan Ichwan di Fakultas Sospol.


Saya sempat berseloroh padanya. “Ternyata tidak salah anda mendukung si Kumis, karena anda juga berkumis ya?”, kata saya sambil menepuk pundak Ichwan yang kini bekerja di Medan itu.


“Makanya, karena saya lihat anda berkumis juga, walaupun tipis, marilah kita sama-sama mendukung si kumis ya?” sahutnya dengan tawa berderai seraya ikut memilin kumisnya. Ternyata Kumis pun bisa jadi komoditas politik..hehehe


Kami lalu terlibat pembicaraan akrab tentang banyak hal, sampai kemudian Kang Pepih mengajak kami semua ke sebuah ruangan tersendiri untuk berkopdar.


“Disini terlalu berisik, jadi daripada konsentrasi terpecah, mari kita pindah keruangan lain yang lebih tenang,” kata Kang Pepih.


Kamipun bergerak menuju lokasi, sebuah ruangan kecil berukuran sekitar 5 x 8 meter persegi yang terletak di area belakang pameran. Di dalam ruangan sudah disiapkan sekitar 30-an kursi serta fasilitas layar dan Overhead Projector.


Tak lama setelah kami berkumpul, datanglah Guest Blogger yang juga salah satu sesepuh Kompasiana Pak Prayitno Ramelan. Mantan Perwira Tinggi TNI AU yang banyak menulis soal politik di Kompasiana menyapa kami semua dengan akrab. Perbincangan kami tentu lebih banyak membahas soal suasana politik menjelang Pilpres yang kian memanas. Ketika Pak Pray–demikian nama panggilan akrab beliau–menyebut nama Sapri Pamulu, komentator artikel beliau yang berasal dari Brisbane, sebagai salah satu komentator terfavoritnya, saya spontan nyeletuk bahwa Sapri adalah “kawan seperjuangan” saya dulu di kampus Teknik Unhas ketika sama-sama mengelola Penerbitan Kampus Identitas Unhas dan merintis Surat Kabar Mahasiswa Channel 9 Fakultas Teknik tahun 1991. Sapri yang kini menjadi dosen di Jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia tengah menempuh pendidikan Doktoral (S-3) di Brisbane, Australia.


Menyusul kemudian datang kawan-kawan Kompasianers yang lain seperti Mas Yulyanto yang datang bersama istri dan anaknya, Pak Wijayakusuma atau akrab disapa Om Jay yang juga datang bersama istri dan kedua anaknya, Mbak Novrita dan putrinya Nabila, yang masih duduk di bangku SMP dan juga menjadi blogger muda Kompasiana, Mbak Linda Djalil mantan wartawan Tempo & Gatra, Mas Elha, Mbak Henny, Mas Abi yang datang bersama anak dan istri serta Mas Honny Maitimu.


Tepat pukul 15.00 acara dimulai dengan pengantar dari admin Kompasiana Kang Pepih Nugraha. Pada kesempatan tersebut Kang Pepih mengungkapkan rencana launching tampilan baru situs Kompasiana dengan tambahan sejumlah fitur menarik antara lain halaman posting berbahasa Inggris, Komunitas dan juga halaman “Muda” yang diperuntukkan bagi siswa/i SMP/SMA. Rencananya tampilan baru tersebut dilaksanakan pada bulan Agustus 2009. Kang Pepih juga mengungkapkan sebagai admin Kompasiana, sedapat mungkin untuk tidak melakukan intervensi editing pada posting-posting blogger Kompasiana. “Saya tidak akan melakukan itu, dan membiarkan sebagaimana adanya dan merupakan ciri khas sang penulis. Sebagai ruang berbagi sesama jurnalis warga, Kompasiana tidak akan melakukan penyuntingan berlebihan sebagaimana yang terjadi di media mainstream,” tegas Kang Pepih yang disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.


Setelah Kang Pepih, giliran Pak Edi Taslim General Manager Kompas Cybermedia, memperkenalkan Kompas Phone. Piranti telekomunikasi teranyar hasil kerjasama dengan Telkom Flexi ini menyajikan konten Kompas online secara “built in” di handphone tanpa memerlukan instalasi tambahan lebih lanjut. Sang pemilik KompasPhone memiliki akses 400-600 berita aktual setiap harinya cukup dengan biaya Rp 2,000/minggu untuk dapat mengakses seluruh artikel di 13 rubrik Kompas.com serta tambahan Rp 1000/minggu untuk setiap kanal tambahan yang diinginkan.


Hal menarik lain diungkapkan oleh Pak Edi adalah, hari ini, secara resmi Kompas akan meluncurkan QR Code..


Seperti dikutip dari situs ini, QR code adalah sebuah kode matriks atau barcode 2 dimensi yang diciptakan perusahaan Jepang, Denso-Wave tahun 1994. Kata QR, kependekan dari quick response, sesuai tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dan mendapatkan respons dengan cepat.


Kode ini amat populer di Jepang. Banyak perusahaan menggunakannya untuk aktivitas pemasaran dan promosi. Hampir semua jenis ponsel di Jepang dan Korea bisa membaca QR code. Kode ini mulai digunakan di berbagai media Eropa.

Di Indonesia, kode ini belum begitu dikenal. Karena itulah, Kompas berinisiatif memperkenalkan kepada pembacanya.

QR code berfungsi sebagai ”jembatan” penghubung secara cepat antara konten offline dan konten online. Kode ini memungkinkan audiens berinteraksi dengan media yang ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan efisien. QR code bertindak seolah-olah hyperlink fisik yang dapat menyimpan alamat web (URL), nomor telepon, teks, dan SMS.

Untuk dapat memanfaatkan teknologi QR code, ponsel wajib memiliki akses internet. Dengan bantuan ID (nomor digit), QR code tidak hanya dapat dibaca lewat ponsel berkamera, tetapi juga dengan ponsel tanpa kamera.

Pada ponsel berkamera, QR code bisa dibaca melalui aplikasi jenis QR code reader. Khusus ponsel keluaran Nokia seri N & E, aplikasi reader ini sudah tersedia (pre-installed) dan langsung bisa digunakan.

Untuk ponsel lainnya, aplikasi reader wajib diinstalasikan. Di internet tersedia berbagai aplikasi reader yang bisa diunduh cuma-cuma. Anda dapat mengunduh lewat sarana yang disediakan KOMPAS.com, di alamathttp://dakode.mobi. Jenis ponsel Anda akan dideteksi secara otomatis dan kemudian sistem Kompas akan memberikan pilihan beberapa aplikasi reader. Unduh salah satu aplikasi dan instalasikan di ponsel Anda.

Untuk membaca QR code, jalankan aplikasi reader dan arahkan kamera ponsel Anda ke letak QR code. Dengan cara memotret barcode dua dimensi itu, Anda akan mendapatkan konten digital yang relevan, merupakan pengayaan berita, kalau QR code ditempelkan dengan berita. Konten situs jaringan tersebut bisa berupa berita lebih lengkap, grafis, foto-foto tambahan, bahkan videonya. Lebih dari itu, Anda juga dapat menyampaikan respons Anda berupa masukan atau opini ke reporter/editor.

Pada ponsel tanpa kamera, QR code tetap dapat diakses. Pertama, jalankan aplikasi browser yang ada di ponsel Anda dan ketikkan URL http://qrcd.kompas.com. Pada halaman yang muncul, masukkan ID atau 7 digit nomor yang tertera di bawah kode. Klik tombol “Go” dan selesai, Anda akan mendapatkan informasi atau konten digital terkait.

Pemakaian QR code juga bisa untuk memberikan konten multimedia sebuah iklan. Pengiklan dapat memanfaatkan untuk memperluas product knowledge pelanggan; dengan penjelasan tekstual atau penayangan video interaktif. Melalui QR code, pengiklan bisa mendapat respons pembaca lewat polling.

Dengan adanya inovasi QR Code ini, maka kata Pak Edi Taslim, Kompas menjadi pelopor pengguna code multimedia ini di Indonesia setelah sebelumnya yang pertama kali teknologi digital berupa e-paper.


Setelah uraian Pak Edi, moderator dadakan Mas Iskandar, meminta kami semua memperkenalkan diri satu-satu. Acara ini berlangsung penuh rasa kekeluargaan, santai dan penuh canda. Beberapa kali celetukan-celetukan nakal berseliweran termasuk kutipan-kutipan jargon kampanye Pilpres yang lagi marak belakangan ini.


Setelah semuanya memperkenalkan diri, Pak Pray didaulat untuk maju kedepan menyampaikan testimoni selama ngeblog di Kompasiana. Pak Pray menyatakan mulai ngeblog di Kompasiana sejak Oktober 2008 dan atas usulan beliau kepada jajaran admin Kompasiana, maka sejak November 2008 sampai sekarang, Kompasiana dibuka untuk posting-posting non jurnalis Kompas alias warga masyarakat biasa. Pak Pray mengingatkan agar tetap memelihara spirit Kompasiana sebagai “rumah sehat” bagi kita semua yang menginginkan pergulatan ide dilakukan secara santun dan elegan. Uraian Pak Pray dilakukan dengan gaya bahasa yang “gaul” dan kocak serta kerapkali mengundang tawa hadirin.


Setelah Pak Pray, giliran mbak Linda Djalil, mantan jurnalis senior Majalah Tempo dan Gatra mengungkapkan testimoninya. Beliau menyatakan sangat bangga menjadi bagian dari keluarga rumah sehat Kompasiana. Harapan Mbak Linda sama dengan Pak Pray yaitu meminta agar semangat kekeluargaan yang hangat antar sesama Kompasianers tetap terjaga. Kompasiana adalah sebuah modal sosial berharga untuk berinteraksi satu sama lain tidak hanya lewat posting di dunia maya namun juga berinteraksi di dunia nyata, seperti yang dilakukan dalam acara kopdar ini. Persahabatan yang terjalin menjadi aset berharga dalam mengembangkan hubungan sosial dikemudian hari.


Setelah uraian Mbak Linda dilanjutkan dengan pengundian Doorprize berupa dua unit KompasPhone.

Sayangnya, saya belum beruntung. Tapi tak apa. Saya masih bisa membawa pulang tas goodie bag yang berisi kaos Kompas dot com dan sebuah tiket nonton bioskop Gratis di studio 21.

Terimakasih Kompasiana juga kawan-kawan Kompasianers atas kopdar yang hebat dan mengesankan kemarin.


Sampai ketemu di Kopdar berikutnya!







 

Related Posts
ALHAMDULILLAH, DAPAT HADIAH NOKIA C-3 DARI LOMBA IB BLOGGING DAY KOMPASIANA
Berulang kali saya berucap Syukur kepada Allah SWT saat tadi malam membaca Pengumuman Hasil Lomba IB Blogging Day Kompasiana yang menyatakan saya menjadi Pemenang Harapan V atas satu-satunya tulisan saya ...
Posting Terkait
FILM “NIGHT AT THE MUSEUM-SECRET OF THE TOMB” : MENYINGKAP MISTERI TABLET EMAS
ari Sabtu (27/12) saya mengajak istri dan kedua anak saya, Rizky & Alya menonton film "Night At The Museum-Secret of The Tomb" di Studio-4 Blitz Megaplex Bekasi Cyber Park. Ada ...
Posting Terkait
DARI KOPDAR MILIS CIKARANG BARU : SILATURRAHMI ITU MEMPERPANJANG UMUR & MENAMBAH REZEKI
"ilaturrahmi itu memperpanjang umur dan menambah rezeki," kalimat ini diungkapkan oleh Pak Wawan, begitulah nama "mesra" Darmawan Syaefullah, saat membuka kopdar (kopi darat) warga mailing list Cikarang Baru, Minggu pagi ...
Posting Terkait
MERINDUKANMU, IBU…
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya ; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.." (QS Lukman 31:14) Dalam ...
Posting Terkait
SELASAR DAN GAIRAH YANG MENJELMA
Cuaca terlihat mendung, saat saya tiba di kantor Selasar, Como Park, Jl.Kemang Timur Raya No.998, Selasa (17/8), tepat sehari sebelum warga ibukota melaksanakan Pilkada putaran kedua. Sehari sebelumnya, saya sudah ...
Posting Terkait
AHA MOMENTS SKYSCANNER : APRESIASI KEARIFAN LOKAL, KEHANGATAN KOLEGIAL DAN BELAJAR HAL BARU
“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson enar adanya apa yang ...
Posting Terkait
FILM KARBON DALAM RANSEL DAN PESAN PERUBAHAN IKLIM
ewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) baru saja meluncurkan film "Karbon Dalam Ransel" (KDR) pekan lalu (19/12)  di Jakarta Theater XXI. Film ini diluncurkan secara serentak di tiga kota yakni Jakarta, Denpasar ...
Posting Terkait
DESPERATE SEEKING CHILD – AN EPIC STORY
Di pucuk alam, saya menyaksikan kedua anak saya, Alya dan Rizky, tertidur pulas. Putra tertua saya. Rizky, meringkuk bersama guling disampingnya. Dengkur halus terdengar dari bibirnya yang mungil. Tak jauh ...
Posting Terkait
KISAH PERJALANAN KE PERTH (2) : CAMAR YANG GENIT DI SISI DERMAGA FREMANTLE
ari Rabu (28/8) kami berkesempatan untuk mengunjungi Fremantle. Hari itu, training kami memang hanya setengah hari saja, sehingga kami memanfaatkan waktu berjalan-jalan menuju kota kecil yang berjarak 19 kilometer arah barat ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (6) : KEMERIAHAN UPACARA PETIK LAUT & DAHSYATNYA JAMU MADURA!
ujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata ...
Posting Terkait
ALHAMDULILLAH, DAPAT HADIAH NOKIA C-3 DARI LOMBA IB
FILM “NIGHT AT THE MUSEUM-SECRET OF THE TOMB”
DARI KOPDAR MILIS CIKARANG BARU : SILATURRAHMI ITU
MERINDUKANMU, IBU…
SELASAR DAN GAIRAH YANG MENJELMA
AHA MOMENTS SKYSCANNER : APRESIASI KEARIFAN LOKAL, KEHANGATAN
FILM KARBON DALAM RANSEL DAN PESAN PERUBAHAN IKLIM
DESPERATE SEEKING CHILD – AN EPIC STORY
KISAH PERJALANAN KE PERTH (2) : CAMAR YANG
WISATA BUDAYA MADURA (6) : KEMERIAHAN UPACARA PETIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *