KISAH MUDIK 2010 (1) : MENIKMATI PERJALANAN DENGAN TABAH DAN CERIA

Bersiap berangkat mudik ke Yogya bersama Toyota Rush, Rabu,8 September 2010

Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu.  Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai Kota Gudeg tersebut dari kediaman kami di Cikarang (“normal”-nya hanya dibutuhkan kurang lebih 11 jam dari Cikarang menuju Yogya). Berangkat dari Cikarang, jam 08.00 pagi tanggal 8 September 2010 dan baru tiba di tempat tujuan keesokan harinya jam 09.00 pagi. Sungguh sangat melelahkan.

Rombongan kami ada 5 orang. Selain saya, istri dan kedua anak saya (Rizky dan Alya), juga ikut Nia, keponakan perempuan saya (anak kakak ipar, yang kebetulan baru dapat cuti dari kantornya mulai hari itu). Kami menumpang mobil sewaan Toyota Rush yang dikendarai oleh Pak Heru. Sejak “lepas landas” dari Cikarang, kendaraan mulai “memadat” di sekujur jalan tol Jakarta-Cikampek.

Saya terus melakukan update status di Twitter @pulkam untuk berbagi kabar kepada kawan-kawan pemudik lain, meski terkadang harus berebutan dengan Rizky yang ingin main game di Handphone saya. Kami memutuskan lewat Jalur Selatan, setelah dapat informasi bahwa jalur Pantura, sangat rentan kemacetan. “Kalaupun macet di Nagreg, kita masih “sedikit terhibur” oleh teduh dan rindangnya pepohonan disana,” kata Pak Heru.

Memasuki tol Cipularang, kami sempat tersendat oleh antrian kendaraan, namun untunglah beberapa saat kemudian, kamipun bisa bergerak dan kendaraan bisa dipacu hingga mendekati tol Cileunyi. Didepan tol Cileunyi, tanda-tanda “keadaan bakal memburuk” mulai terlihat. Macet terjadi hingga sekitar 4 km menjelang pintu tol. Kami baru mencapai pintu tol sekitar setengah jam kemudian. Dibelakang, anak-anak masih tetap ceria sembari menyantap ayam KFC yang kami beli di rest area tol Karawang Timur tadi. Kursi tengah mobil yang kami pakai ini memang sengaja dikeluarkan dan disitu dihamparkan tikar kasur dan bantal agar kedua anak saya bisa tidur selonjoran. Kursi belakang tetap dibiarkan untuk tempat duduk istri saya dan Nia.

Memasuki wilayah Nagreg, setelah mampir sebentar Sholat Dhuhur di rest area sebuah SPBU, antrian makin panjang. Laju kendaraan berjalan sangat pelan. Saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Pak Heru juga mulai garuk-garuk jenggotnya.  Rasa kesal mulai melanda.

Antrean Kendaraan di Tikungan ke arah Tanjakan Nagreg

“Pelajaran sabar dimulai, pokoknya tetap tenang,” kata Istri saya dibangku belakang.

“Iya bu, perjalanan masih panjang, dan kita mesti punya stok sabar yang banyak ya?” sahut Pak Heru sambil tersenyum pahit.

Saya hanya manggut-manggut prihatin seraya memasang status terbaru di Twitter untuk @pulkam soal kemacetan ini.

Sekitar 2 jam lebih kendaraan kami beringsut, hingga akhirnya mencapai persimpangan Tasikmalaya dan Garut pada jalan turunan Nagreg. Sejumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor ikut “meramaikan” kemacetan yang terjadi. Sembari mengelus dada prihatin saya melihat seorang pemudik sepeda motor membawa sang anak diboncengan dan terpaksa dibaringkan diatas pangkuan sang istri karena si anak tertidur dan letih.

Pemudik Sepeda Motor, dengan anak yang tertidur di pangkuan ibunya. Memprihatinkan!

“Kasihan banget ya anaknya,” komentar si sulung Rizky saat saya mengabadikan adegan tersebut lewat kamera digital yang saya bawa.

“Seharusnya,” kata Pak Heru,”Pemerintah mesti bikin satu bagian khusus di Departemen Perhubungan khusus yang melayani mudik tahunan ini. Sama dengan ritual haji yang dilaksanakan tiap tahun, mudik yang juga rutin diadakan tiap tahun ini, mesti ditangani secara khusus dan serius karena ini menyangkut hak rakyat juga mendapatkan keamanan dan kenyamanan transportasi pulang ke kampung halaman”.

Saya mengangguk setuju. Kami berdua lantas berdiskusi panjang soal “wacana” bagian khusus mudik di Dephub itu.

“Kalau tidak seperti itu,” lanjut Pak Heru lagi,”kondisinya akan begini terus, mulai dari macet panjang, susahnya mendapat tiket transportasi mudik, hingga meningkatnya  kecelakaan di jalan raya khususnya yang dialami pemudik bersepeda motor. Kalau ada transportasi massal yang nyaman dan bisa melayani pemudik serta dikelola profesional oleh bagian spesial mudik tersebut, tentu ritual mudik ini menjadi lebih menyenangkan”.

Diskusi kami tertunda sejenak, ketika akan memutuskan apakah kita akan lewat Tasikmalaya atau Garut ketika melihat antrian panjang kendaraan di depan, pada jalan turunan Nagreg.

“Bagaimana nih Mas? Kalau kita terus lewat Tasikmalaya, kita akan hadapi macet panjang seperti yang ada didepan, kalau lewat Garut relatif kosong dan lancar meski sedikit lebih jauh,” tanya Pak Heru.

Saya menghela nafas panjang.

“Kita lewat Garut aja pak Heru, moga-moga saja lancar sampai didepan,” saya memutuskan, akhirnya.

Macet menjelang turunan Nagreg, didepan persimpangan arah Tasikmalaya dan Garut
Macet menjelang turunan Nagreg, didepan persimpangan arah Tasikmalaya dan Garut

Dan begitulah, kami akhirnya lewat Garut.

Pada awalnya, jalan yang kami lewati lancar. Dalam hati saya berdoa semoga terus begini sampai ke Garut.

Sayangnya, perkiraan salah. Hanya kurang lebih 2 km dari persimpangan Tasikmalaya – Garut di Nagreg, mobil kami terpaksa terhenti karena antrian panjang kendaraan di depan. Saya menepuk jidat dengan dongkol. Pak Heru menggigit bibir. “Ya, sudah mari kita hadapi dan nikmati saja,” kata beliau, lagi-lagi sembari tersenyum pahit.

Saya mengangguk pasrah.

Restorant Cibiut Garut

Dan begitulah, kendaraan kami beringsut pelan dan beberapa kali berhenti karena kendaraan didepan kami tidak bergerak. Hampir 3 jam lebih kami terjebak disana. Memasuki kawasan Leles, kemacetan mulai terurai. Tapi situasi lain kembali terjadi. Hujan deras tiba-tiba turun  dan membuat Pak Heru mesti hati-hati mengendarai karena terhalang pandangan oleh lebatnya hujan dan licinnya jalan.

Perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami memutuskan untuk sholat maghrib dan buka puasa di Restorant Cibiut yang asri beberapa kilometer sebelum Garut.

Suasana Restoran yang ditata rapi dan eksotik ini membuat rasa “Be-Te” kami dihadang kemacetan tadi sedikit terhibur.

Karena suasana dingin, saya memilih memesan Nasi Goreng Ayam, sementara anak-anak makan sate sedangkan istri saya bersama Nia memilih menyantap Nasi Timbel.

Nasi Timbel ala Resto Cibiut

Wah, sungguh nikmat sekali menyantap makanan di Restorant Cibiut ini yang konon terkenal dengan sambelnya yang “nendang”.

Keringat mengucur saat sajian nasi goreng yang saya pesan langsung licin tandas.

Anak-anak terlihat lahap menyantap makanan mereka. Alya juga menyukai hidangan otak-otak bakar yang jadi menu khas restoran itu. Pak Heru memesan Nasi Goreng Kambing.  “Supaya tetap melek nanti nyupirnya,” selorohnya.

Di Restorant ini, saya juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh makanan ringan berupa Lanting (semacam krupuk ketela batang kecil berpilin) dan Kerupuk Kulit.

Seusai maghrib, kami kemudian melanjutkan perjalanan.

Meski hujan sudah reda, tapi udara kian terasa makin dingin menggigit.Mobil kami melaju menembus pekat malam, memasuki Kota Garut.

Bersambung.. 

Related Posts
KISAH MUDIK 2010 (6) : GEMPA, KE KIDS FUN LAGI DAN NAIK ANDONG
Malam baru saja melewati pucuknya, Minggu (12/9) ketika guncangan itu tiba-tiba terjadi. "Gempa !! Gempa !!", seru adik ipar saya, Ahmad, yang "sense of awareness"-nya sudah sangat tinggi karena lama tinggal ...
Posting Terkait
KISAH MUDIK 2010 (5) : PERESMIAN MIE AYAM SEHATI EMIA YOGYA
Perjalanan Mudik kami di Yogya memasuki hari keempat. Dan di hari Minggu (12/9), kami sekeluarga bersama adik ipar saya, Ahmad, menghadiri pembukaan Mie Sehati di Jln.Cungkuk Raya 258.  Sampai disana, ...
Posting Terkait
KISAH MUDIK 2010 (2) : TERHALANG BANJIR DAN DERITA MACET SEPANJANG MALAM
Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya ...
Posting Terkait
KISAH MUDIK 2010 (3) : MALAM TAKBIRAN YANG MERIAH & SHOLAT IED YANG SYAHDU
Tiba di rumah mertua, saya langsung meluruskan badan yang pegalnya minta ampun setelah duduk hampir 20 jam di mobil. Punggung saya sakit sekali dan saya langsung minta bantuan adik ipar ...
Posting Terkait
Warung Baskom alias Bakso Komplit di Sampa'an, Yogya
Hari Sabtu (11/9), merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua anak saya, Rizky dan Alya. Ya, saya memang sudah berjanji pada mereka, saat di Yogya, kami akan mengunjungi Kids Fun, sebuah ...
Posting Terkait
KISAH MUDIK 2010 (6) : GEMPA, KE KIDS
KISAH MUDIK 2010 (5) : PERESMIAN MIE AYAM
KISAH MUDIK 2010 (2) : TERHALANG BANJIR DAN
KISAH MUDIK 2010 (3) : MALAM TAKBIRAN YANG
KISAH MUDIK 2010 (4) : MENYANTAP BASKOM SEBELUM

6 comments

  1. Kayaknya nama restorannya Cibiuk pak, bukan Cibiut. Saya pernah makan disana, yang sebelum Garut dekat pertigaan ke Cipanas kan? Memang enak tempat dan makanannya. 🙂

    –Thanks atas koreksinya Mas Indra, iya memang betul itu harusnya Cibiuk, saya akan segera revisi deh..

  2. Pak, tahun ini aku gak mudik ke Jogja, tapi ke Malang, alhamdulillah aku berangkat dari Pondok Gede selesai sholat Ied, dan perjalanan relatif lancar….. 24 jam sudah sampe Malang… waktu tempuh sama ya dengan kamu dari Cikarang – Jogja..
    tapi pengalamanmu sama dengan bokapku dan keluarga yang mudik ke Jogja jugs berangkat H+1…. muacet total waktu tempuh sama sekitar 24 jam dari POndok Gede – Gunung Kidul… pulangnya dari Jogja ke Pondok Gede pun lebih dari 24 jam karena macet banget… well… this is a beautiful moment of Mudik …. gak akan pernah kapok walau pengalaman gak enak…. met Hari Raya Pak… salam buat keluarga..mohon maaf lahir bathin… wassalam, ekalilis & family – Malang 15-Sep-2010; 21.40.

  3. Iya, mas Indra bener, itu rumah makan cibiuk. memang paling nendang sambelnya. Eh, itu foto anak yang tidur di motor miris sekali ya lihatnya. hiks .. kasian.

    Perjalanan panjangnya seru juga Om. bener2 latihan kesabaran ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *