CATATAN TERTINGGAL DARI SUMPAH PEMUDA 2.0 (Bagian Kedua)

Sang Pemenang Grup Lomba Historia dalam Sumpah Pemuda 2.0

Lapangan hijau yang terletak didepan aula Museum Kebangkitan Nasional usai deklarasi Sumpah Pemuda 2.0 terlihat ramai oleh para blogger yang begitu antusias mengikuti lomba Historia, sebuah lomba interaktif bernuansa napak tilas sejarah Sumpah Pemuda yang dipersembahkan oleh XL bekerjasama dengan KHI (Komunitas Historia Indonesia).

Ada 10 kelompok yang dibentuk dengan jumlah anggota antara 7-10 orang. Saya sendiri bergabung dengan kelompok “Jong Celebes” yang mengenakan pita putih di lengan beranggotakan 7 orang bersama rekan-rekan blogger Mbak Indah Juli, Mas Bradley, Syaifullah “Daeng Gassing”, Mas Naive, dll.

Sebelum Lomba, mejeng dulu bersama kawan-kawan Komunitas Blogger Multiply Indonesia

Permainan pertama adalah menyusun puzzle. Dua orang anggota tim diminta untuk mengambil kotak puzzle di sebuah ruang bersejarah di gedung museum Kebangkitan Nasional yang dikenal sebagai gedung STOVIA. Ruang itu ternyata adalah ruang praktek laboratorium patalogi klinik dokter Belanda zaman dulu. “Awas lho ada hantunya,” seloroh seorang kawan. “Ah, ngapain takut, nanti biar saya yang ambil untuk kelompok kita,” kata Mas Naive bersemangat.

Tak lama kemudian, pluit pun dibunyikan. 20 orang perwakilan tim berlari menuju ruangan yang dimaksud. Kami yang tidak ikut bersiap disalah satu selasar gedung. Beberapa saat kemudian, kotak yang ditunggupun datang. Kami lalu menyusunnya satu-satu kepingan puzzle untuk menjadikannya utuh. Poin tertinggi adalah tim yang berhasil merangkai puzzle paling cepat.

Merangkai Puzzle

Akhirnya, dengan bahu membahu kami merangkai puzzle yang diberikan kepada kami. Agak susah memang pada awalnya, namun akhirnya berhasil juga. Kami mendapatkan anugerah sebagai peserta kedua tercepat setelah kelompok hijau.

Hasil Lomba Puzzle kelompok Pita Putih

Berikutnya kami mengikuti lomba di Museum Sumpah Pemuda yang berjarak sekitar 3 km dari Museum Kebangkitan Nasional. Sebelumnya, masing-masing kelompok diberikan satu amplop berisi gambar salah satu bagian di Museum Sumpah Pemuda. 3 orang perwakilan kelompok akan mencari lokasi tempat tersebut kemudian memotretnya dengan salah seorang menjadi “model” kemudian mengunggahnya ke Twitter dan menyertakan link @indberprestasi. Dengan menumpang 3 bis, kami menuju ke Museum Sumpah Pemuda.

Didepan Museum Sumpah Pemuda

Sssampai di Museum Sumpah Pemuda kamipun langsung bergerak mencari gambar yang ada dalam amplop. Syukurlah kami mendapatkannya. Setelah memotret, dengan menggunakan MacBook Mas Naive kami mengunggah foto tersebut ke Twitter. Untunglah koneksi internetnya lancar sehingga bisa lebih cepat masuk.

Upload Foto Lomba Historia lewat Mac Book ke Twitter

Kegiatan selanjutnya kami secara bergiliran diminta masuk bersama-sama kedalam ruang Museum Sumpah Pemuda. Oleh kawan-kawan Komunitas Historia, kami dijelaskan mengenai gedung bersejarah yang berada di Jl.Kramat Raya 106 dan menjadi tempat deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Gedung ini pada awalnya adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Terdapat foto-foto bersejarah penyelenggaraan Kongres Pemuda tahun 1928 juga patung yang menggambarkan suasana ketika itu termasuk saat WR Supratman memperkenalkan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk pertama kalinya.

Ternyata setelah mengikuti Tour keliling museum, kami mesti mengikuti kuis lagi yaitu mengucapkan bersama-sama secara komplit dan kompak deklarasi Sumpah Pemuda. Untung saja, kami kebagian rombongan terakhir yang masuk sehingga masih sempat “berlatih” mengucapkan sumpah sakral tersebut. Dan begitulah, kami bertujuh dengan mantap dan lantang menyuarakan Sumpah Pemuda secara lancar dan kompak. Suara kami bergema keras dalam ruangan tersebut.

Kelompok Jong Celebes Pita Putih menyuarakan Sumpah Pemuda dengan kompak

Senja telah berganti malam, saat kami tiba kembali di Museum Kebangkitan Nasional. Setelah Sholat Maghrib dan Makan Malam, acara yang ditunggu-tunggu itu telah tiba: Pengumuman Pemenang Lomba. Betapa senangnya kami saat diumumkan bahwa kelompok Jong Celebes Pita Putih berhasil mengungguli kelompok lainnya dengan skor 900. Kami bertujuh lalu naik ke atas panggung menerima hadiah berupa Travel Bag XL dan Voucher Belanja Carrefour yang diserahkan oleh Ibu F.Nadira perwakilan dari XL-Axiata.

Berfoto bersama seusai penyerahan hadiah

Rangkaian acara Sumpah Pemuda 2.0 akhirnya berakhir dan meninggalkan jejak kenangan di batin tentang bagaimana memaknai kebhinekaan dan persatuan bangsa di era digital. Salut buat XL-Axiata yang sudah menggagas kegiatan ini dan mengikutsertakan blogger sebagai ujung tombaknya. 

Related Posts
Talkshow tentang Sumpah Pemuda 2.0, dipandu oleh Jaya Suprana
Sudah lewat seminggu lalu acaranya, namun kenangan masih membekas begitu nyata di benak. Ya, acara Sumpah Pemuda 2.0 yang digelar oleh XL, sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka negeri ini bertempat di ...
Posting Terkait
CATATAN TERTINGGAL DARI SUMPAH PEMUDA 2.0 (Bagian Pertama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *