KEBEBASAN BEREKSPRESI DI INTERNET DAN DINAMIKA SOSIOLOGIS MASYARAKAT KITA

Pada sebuah kesempatan ke Kota Palembang sebagai moderator dalam acara Blogilicious bulan lalu, saya sangat beruntung dapat “oleh-oleh” spesial DVD Film Linimasa dari mas Donny BU, dosen dan Senior Associate Researcher of Indonesian ICT Partnership – ICT Watch, Indonesia yang kebetulan menjadi pembicara Etika Blogging dalam event Blogilicious Palembang tersebut. Film itu saya tonton dirumah sekembalinya dari kota Pempek dan menemukan banyak hal-hal menarik disana.

Perspektif saya kian diperkaya setelah membaca e-book Linimas(s)a yang bisa diunduh secara gratis disini. Kedua media tersebut memberikan wacana konstruktif tentang bagaimana memaknai kebebasan berekspresi di dunia internet, khususnya di Indonesia.

Pertumbuhan spektakuler internet memang sungguh sangat fenomenal di negara kita. Dari profil infografik yang saya tampilkan diatas (dirilis Maret 2011 oleh salingsilang.com & socialbakers.com), terlihat jelas betapa internet bukanlah sesuatu hal yang mewah dan langka lagi di negeri ini (seperti yang pernah saya rasakan di era 1990-an dulu) namun sudah menjelma sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat moderen bahkan menjadi kebutuhan sekunder yang tak terelakkan.

Lihat saja, dengan fakta Indonesia menjelma menjadi pengguna facebook terbesar kedua didunia–bahkan melebihi populasi penduduk di Canada–sejumlah 35.482.400, pemakai Twitter terbesar keempat didunia yang jumlahnya nyaris setara dengan penduduk Singapura 4,883,228, dan berbagai fakta-fakta sensasional lainnya membuktikan penetrasi internet di negara kita telah menjadikan Indonesia bukanlah negara terbelakang lagi dalam penggunaan internet.

Fenomena pertumbuhan internet yang luar biasa ini berbanding lurus dengan semakin luasnya ruang kebebasan berekspresi di dunia maya bagi masyarakat Indonesia. Situasi ini kian kondusif ketika tarif koneksi internet yang disediakan provider telekomunikasi makin murah serta kompetitif. Seseorang bisa dengan mudah menuangkan apa yang terlintas dibenaknya dengan menggunakan piranti sosial media melalui perangkat mobile yang dilengkapi fasilitas internet didalamnya. Intensitas Kicauan di twitter, update status di Facebook, posting di blog yang kian tinggi dan makin sering, menjadi fenomena yang lazim terjadi. Kontribusi konten berbahasa Indonesia di ranah maya pun kian meningkat tajam dari waktu ke waktu.

Berbeda dengan negara-negara lain, rakyat Indonesia cukup beruntung karena pemerintah tidak secara ketat melakukan sensor yang reaktif pada kebebasan berekspresi internet di Indonesia. Keberadaan UU ITE memang bisa jadi akan menjelma menjadi momok menakutkan bagi para penggiat online di negeri ini, meskipun begitu, bersikap bijak dalam setiap interaksi di dunia maya–terutama dengan menerapkan etika komunikasi yang elegan –akan membuat kita bisa terhindar dari hukuman yang berasal dari pasal-pasal yang tercantum dalam UU ITE.

Saya masih ingat apa yang pernah diucapkan mantan Wapres RI Jusuf Kalla dalam sebuah kesempatan kopdar 2 tahun silam, sebagaimana yang saya kutip dari reportase disini:

Ketika ditanyakan bagaimana pendapatnya bagaimana sikap Pak JK jika ada blogger yang mengkritik dirinya, dengan tegas beliau menjawab, “Saya sangat terbuka pada kritik, asal disampaikan dengan cara yang baik dan sopan serta tidak menghina”. Kita tidak boleh seenaknya mengeluarkan pendapat tanpa etika. “Kebebasan seseorang, dibatasi pula oleh kebebasan orang lain,” demikian lanjut calon Capres Pemilu 2009 dari Partai Golkar ini.

Apa yang diungkapkan Pak JK memberikan gambaran bahwa kebebasan yang beretika seyogyanya diterapkan dalam setiap interaksi dengan memaknai bahwa setiap keleluasaan kita mengungkapkan ide, opini atau argumentasi melalui internet seyogyanya mempertimbangkan kesantunan dan aturan-aturan yang berlaku.

Menarik sekali membaca uraian praktisi hukum Anggara Suwahyu dalam buku Linimas(s)a. Pada buku yang bebas diunduh secara gratis tersebut, beliau mengungkapkan 3 prinsip dasar dari seorang pengguna internet dalam memaknai kebebasan berekspresi di internet :

Pertama, Pengguna Internet harus jujur dan adil dalam mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi,

Kedua Pengguna Internet memperlakukan sumber informasi sebagai manusia yang harus mendapatkan penghormatan, dan

Ketiga Pengguna Internet harus dapat terbuka dan bertanggung jawab

Dinamika sosial masyarakat Indonesia yang bergerak aktif khususnya dalam interaksi lewat internet, tentu akan membuka peluang-peluang tidak hanya keterbukaan akses informasi serta kesediaan tempat yang lebih lebar bagi upaya-upaya mengekspresikan pendapat atau opini pribadi di etalase ruang publik, namun juga adanya kemungkinan masyarakat memperoleh informasi yang menyesatkan, aksi penipuan serta peluang terjadinya pelecehan, fitnah dan pencemaran nama baik, terhadap diri seseorang ataupun lembaga.

Hal ini menjadi niscaya ketika kita semua, sebagai pelaku dan penggiat di bidang internet, tidak secara sadar memahami prinsip-prinsip beretika di dunia maya. Keleluasaan menjadi hal yang “kebablasan” ketika norma-norma sosial dan aturan yang berlaku dilibas secara serampangan tanpa mengindahkan dampak-dampak yang mungkin terjadi, atas nama kebebasan berekspresi di Internet.

Apa yang diungkap Anggara Suwahyu dalam artikel di Linimassa tersebut setidaknya menyiratkan pentingnya sebuah kebebasan yang terukur dan bertanggung jawab dimana semuanya berawal dari kesadaran memaknai batas-batas normatif yang melingkupinya. Interaksi di dunia maya tak jauh beda dengan interaksi di dunia “nyata” dimana kita tentunya tak bisa mengabaikan nilai-nilai kejujuran, kesantunan serta senantiasa bertanggung jawab dan menjunjung tinggi integritas sebagai manusia yang beradab. Daya kritis untuk menanggapi fenomena sosial yang terjadi dan menuai kontraversi di masyarakat tentu saja tidak akan lantas berkurang “ketajaman”-nya sepanjang data dan fakta yang mendukung akurat serta menunjang setiap uraian yang disampaikan.

Pada pasal 19 Universal Declaration of Human Rights secara jelas dan lugas dunia telah menegaskan pengakuan untuk keleluasaan mencari, mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi. Pernyataan tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Everyone has the right to freedom of opinion and expression, this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive, and impart information and ideas through any media and regardly of frontiers.”

Kebebasan berpendapat sebagaimana yang disuarakan dalam piagam PBB ini mengandung arti bahwa setiap orang bisa mengutarakan pendapat dan ekspresinya dalam bentuk apapun dan melalui media apapun. Dan kebebasan berpendapat tersebut hendaknya tetap mempertimbangkan etika dan kesantunan, serta tetap bertanggung jawab atas segala hal yang diutarakan dengan data serta fakta yang akurat.

Menarik menyimak apa yang diutarakan Arvan Pradiansyah dalam bukunya “You Are Leader!” (Penerbit Kaifa, 2010). Dalam artikelnya berjudul “Terra Incognita”, Arvan mengutip istilah Futurolog terkemuka didunia Alvin Toffler yang menyatakan Millenium ketiga yang kita masuki saat ini telah berada di tahap”Terra Incognita” yaitu daerah tak dikenal yang merupakan bentangan masa depan yang tak terpetakan. Dalam dunia semacam itu perspektif Newtonian mengenai perubahan yang linier dan dapat diramalkan telah usang dan digantikan oleh Teori Kekacauan (chaos theory). Menurut teori ini, kehidupan bukanlah rangkaian peristiwa yang saling terkait dan susul menyusul justru serangkaian pertemuan yang didalamnya satu peristiwa dapat mengubah–bahkan menghancurkan–peristiwa-peristiwa lain secara tak terduga. Perubahan yang terjadi tidak linier,diskontinu dan tak dapat diramalkan.

Dinamika sosial masyarakat Indonesia saat ini, boleh dikatakan mengalami saat yang sama.  Perkembangan teknologi digital yang berkembang secara tak terduga dan menghasilkan beragam nuansa yang mengejutkan.Termasuk bagaimana kita secara bijak menyikapi kebebasan berekspresi di internet.

Kita mungkin tak pernah membayangkan piranti canggih tablet komputer bisa dengan mudah dioperasikan oleh seorang anak kecil yang masih duduk di bangku pendidikan dasar. Saya sendiri mengalami betapa kagetnya saya ketika anak sulung saya yang masih kelas III SD dengan kemampuan terbatas yang dimilikinya bisa melakukan upload game via ponsel saya dan kemudian memainkannya secara gampang. Dalam hati saya terbersit kekhawatiran bila ia kelak mampu mengakses internet dan tak bisa secara bijak menyikapi kebebasan berekspresi di dunia maya, maka bukan tidak mungkin akan mengalami hal-hal yang bakal menyusahkannya (termasuk saya, orangtuanya) di masa depan.

Seorang Prita Mulyasari mungkin saja tak membayangkan kiriman emailnya yang memprotes layanan Rumah Sakit Omni Internasional bakal menyeretnya dalam sebuah kasus pencemaran nama baik yang membuatnya sempat harus mendekam di penjara. Pun Prita tak pernah menyangka Gerakan masyarakat yang mendukungnya lewat “Koin Untuk Prita” bergerak begitu massif, spontan dan meluas.

Dalam film Linimas(s)a, Seorang Tukang Becak bernama Harry Van Yogya mungkin tak akan pernah mengira kemampuannya gaul lebih intens di internet, membuatnya tak hanya menjadi lebih populer namun mendatangkan begitu banyak berkah dalam kehidupannya. Inilah beberapa contoh kecil fenomena “Terra Incognita” yang melanda di era digital masyarakat kita saat ini.

Edukasi yang dilakukan secara dini dan pemahaman secara komprehensif untuk memaknai kebebasan berekspresi di internet akan menjadi solusi yang tepat dan strategis untuk mencegah hal-hal yang kita tidak diharapkan terjadi dizaman “Terra Incognita” ini. Dan tentunya, ini menjadi tanggung jawab kolektif kita semua. Bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah saja, Mari kita dengan bijak menuangkan segala ekspresi, informasi dan opini di internet, secara bijak, elegan dan bertanggungjawab. 

Related Posts
BUKU “SHOCKING JAPAN” : DAYA KEJUT JEPANG DAN SENSASI YANG MENGIKUTINYA
Judul Buku : Shocking Japan (Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan) Penulis : Junanto Herdiawan Penerbit : B-First (PT Bentang Pustaka) Penyunting : Sophie Mou & Ikhdah Henny Halaman : x + 162 halaman ISBN : ...
Posting Terkait
LOVE AT THE FIRST VOICE
DALAM sejarah percintaan saya dari masa remaja di SMA hingga menyelesaikan kuliah, saya termasuk orang yang gagal melakoni indahnya romantisme itu. Saat masih SMA, seorang kawan yang memiliki reputasi sebagai playboy ...
Posting Terkait
KELEZATAN DASHYAT GUDEG YU JUM
aat melakukan kunjungan dalam rangka Blogilicious ke Yogyakarta bulan lalu, saya berkesempatan menjajal hidangan khas kota tersebut yaitu Gudeg Yu Jum. Gudeg Yu Jum terletak di belokan Selokan Mataram, sebelah ...
Posting Terkait
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
Seusai Makan Siang, saya langsung "diculik" secara sukarela oleh kawan lama saya satu SMP dan SMA dulu, Muh.Irdan AB dan istri serta Rinsy Nilawati yang juga kebetulan hadir dalam Seminar ...
Posting Terkait
CINTA MENGALUN DARI DOA MULUT-MULUT MUNGIL ITU
SAYA selalu merindukan sensasi nikmat itu. Saat mulut-mulut mungil anak saya, Rizky dan Alya, melantunkan do’a keselamatan buat kami, kedua orangtuanya, usai sholat berjamaah. Dengan posisi duduk bersila, Rizky dan ...
Posting Terkait
KE JOGYAKARTA (LAGI)..
Setelah pulang mudik ke Jogya bulan lalu dalam rangka lebaran, besok pagi (8/10), saya akan berangkat ke Jogyakarta bersama-sama tim Pesta Blogger 2010, Mbak Dos (alias Agatha) pengajar blogshop dari ...
Posting Terkait
BERENANG & BERSENANG-SENANG DI SNOWBAY TMII
inggu (28/10), kami sekeluarga berkesempatan untuk menikmati akhir pekan dengan mengunjungi wahana wisata air Snowbay yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dari Cikarang kami berangkat jam 08.00 dan ...
Posting Terkait
PENGALAMAN MENYENANGKAN KE TRANS STUDIO BANDUNG
udah lama sebenarnya keinginan untuk ke Trans Studio Bandung ini menjadi sasaran jadwal kunjungan saat liburan anak-anak, terutama saat pertama kali wahana yang terletak disisi barat dari Bandung Super Mal ...
Posting Terkait
KOPDAR DI WARUNG HAJI MAMINK DAENG TATA
Dari kiri kekanan: saya, Nawir Gani, Bisot, Sultra, ocha, Rara dan Munawir (foto by Daeng Rusle) KAMIS sore, 13 Maret 2008 selepas mengikuti training pengantar untuk kick-off sistem managemen supply chain ...
Posting Terkait
THE A TEAM (2010) : MEREKA BERAKSI LAGI!
"Murdock, ada paket film 3D untukmu, dari Annabele Smith!," kata seorang perawat rumah sakit jiwa di Jerman pada seorang pasien bertopi baseball yang bertampang lugu. Lelaki yang dipanggil itu mendadak terperangah, ...
Posting Terkait
BUKU “SHOCKING JAPAN” : DAYA KEJUT JEPANG DAN
LOVE AT THE FIRST VOICE
KELEZATAN DASHYAT GUDEG YU JUM
OLEH-OLEH PERJALANAN DARI MAKASSAR (2)
CINTA MENGALUN DARI DOA MULUT-MULUT MUNGIL ITU
KE JOGYAKARTA (LAGI)..
BERENANG & BERSENANG-SENANG DI SNOWBAY TMII
PENGALAMAN MENYENANGKAN KE TRANS STUDIO BANDUNG
KOPDAR DI WARUNG HAJI MAMINK DAENG TATA
THE A TEAM (2010) : MEREKA BERAKSI LAGI!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *