PUISI : PADA PENGHUJUNG TITIAN RINDU


Langit senja ini seakan merenda batas cakrawala

dengan rona merah jambu serupa ranum pipimu

yang diterpa bias cerah cahaya fajar

Pada titian rindu dimana kaki kita gamang menapak

kamu acapkali berkata dengan mata berbinar,”Di ujungnya kita akan menemukan

apa yang kerap kita impikan, walau derai hujan atau pekat kabut

menghalangi pandangan dan langkah kita”

Perjalanan yang menggetarkan ini tak jua membuatmu bimbang

jejak yang tersisa dibelakang adalah segala ingatan dan kenangan indah

tentangmu, tentang kita

berpendar terang, berkelindan, berputar pelan dan memancar pada sisi titian

Semesta seakan bersekutu bersama malam, bulan dan gemintang, membawa kita dengan debar menyesak dada

pada tempat kita kelak membuang sauh, mendamparkan hasrat yang terjerat

Hingga kemudian kita sadar, waktu telah membentangkan jarak, begitu jauh

Meski tangan lelah menggapai, sosokmu telah lenyap dari pandangan

Barangkali, ujung titian itu telah kau raih lebih dulu, sembari matamu tetap mencari

sosokku di kelam malam dan badai yang menderu kencang

Barangkali, segala yang kau impikan telah tergenggam erat dalam lentik jemarimu

sementara serpih-serpih penyesalan luruh berjatuhan lalu hilang dibawa angin

Atau mungkin, penghujung rindu itu hanyalah fatamorgana semu yang tercipta atas

segala imajinasi kita tentang musim semi yang tak kunjung usai

dengan gelora cinta yang berkobar selamanya

Dan kita akhirnya akan menyadari, perjalanan ini tetap harus diteruskan, segetir apapun itu

meski harus membangun kembali titian rindu yang tak bertepi

Cikarang, Midnight. 20 Juli 2011

Sumber Foto : Yusnawir Yusuf

Dapatkan Buku Kumpulan Puisi Cinta “Menyesap Senyap”. baca disini caranya

 

Related Posts
PUISI : RESIDU RINDU
Ketika harapan tak terjelmakan dan ilusi tentangmu hanyalah bagian dari noktah kecil yang bersinar redup di langit malam, maka segala impian yang telah kita bangun mendadak sirna diterpa angin sementara kerlip kunang-kunang tetap tak ...
Posting Terkait
PUISI : SEBARIS BIANGLALA DI SELASAR JIWA
Kelam langit senja telah membawa kita Pada sebuah cerita tentang kenangan yang terdampar di sudut hati tentang cinta yang mengapung rendah antara harapan dan kenyataan serta  sebait kidung lirih bersenandung dengan syair rindu ...
Posting Terkait
PUISI :  PADA TETES PERTAMA EMBUN PAGI RAMADHAN
Pada tetes pertama embun pagi bulan Ramadhan tahun ini Kita menyaksikan pantulan cinta tak bertepi dariNya yang memancar kemilau dari kebeningan permukaan di rerumputan menyongsong fajar yang muncul malu-malu seusai Subuh dengan getar pesona ...
Posting Terkait
PUISI : KITA, KATAMU…
  Kita, Katamu Bagai dua ilalang liar yang tumbuh di hamparan rumput halus dimana embun enggan beranjak  dari selusur daunnya walau terik mentari hangat menyengat Kita, Katamu Adalah bau tanah basah seusai hujan pagi yang meruap perlahan mendekati jendela ...
Posting Terkait
PUISI : SEBUAH RUANG TANPA RATAP
Seperti mendengarkan dongeng cinta yang absurd Kita selalu terbuai dalam pesona yang kerap kita sendiri tak bisa menafsirkannya Dan pada malam, ketika bintang berkelip genit di rangka langit serta rembulan perlahan meredup dibalik ...
Posting Terkait
PUISI : SEPERTI LANGIT BERSELIMUT BIANGLALA
Deru angin bulan Juli Mengantar surat terakhirmu dengan lampiran rindu di tepiannya juga duka di kusam lembarannya Ada lara lekat disana juga api asmara yang menyala sia-sia "Seperti langit berselimut bianglala, dimana segala warna dan rupa, berpadu ...
Posting Terkait
PUISI : TENTANG SENJA, DETIK YANG BERGUGURAN DAN ALUNAN MUSIM
Langit dan senja, katamu, adalah paduan cerita tentang harapan dan rindu yang terserak antara tepian cakrawala hingga batas dimana mentari meredupkan cahayanya Kita menyaksikan detik-detik berguguran bersama alunan musim yang berlalu dengan ...
Posting Terkait
Ya Allah, Pada Teduh MaghfirahMU Aku luluh terharu dalam sujud panjang Mengharap ampunan dan RidhaMU yang tak bertepi Pada bentang cakrawala, lengkung bianglala, bening kilau embun direrumputan bahkan pada jernih airmataku yang menitik pelan diujung sajadah di ...
Posting Terkait
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN TERMANGU
  Riak air berwarna kusam mengalir pelan di sepanjang batang tubuhmu, Kalimalang Pada tepiannya aku termangu dan menyesap segala cerita tentang anak-anak yang tertawa riang menceburkan diri ke dalammu tentang sampah yang mengapung disekitarmu tentang tawa ...
Posting Terkait
VIDEO PUISI, SEBUAH EKSPERIMEN BARU
einginan saya untuk membuat musikalisasi puisi-puisi yang pernah saya tulis masih tetap membara dalam hati meskipun hingga saat ini masih belum jua terwujud. Sebuah ide mendadak terbit di benak seusai ...
Posting Terkait
PUISI : RESIDU RINDU
PUISI : SEBARIS BIANGLALA DI SELASAR JIWA
PUISI : PADA TETES PERTAMA EMBUN PAGI
PUISI : KITA, KATAMU…
PUISI : SEBUAH RUANG TANPA RATAP
PUISI : SEPERTI LANGIT BERSELIMUT BIANGLALA
PUISI : TENTANG SENJA, DETIK YANG BERGUGURAN DAN
PUISI : LURUH DALAM TEDUH MAGHFIRAH-MU
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN
VIDEO PUISI, SEBUAH EKSPERIMEN BARU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *