GULLIVERS TRAVELS : RAKSASA CENTIL DI NEGERI LILIPUT

image-4d1bff0ca697d-gulliver-1

Sebuah motivasi romantik menjadi alasan saya untuk penasaran menonton film Gulliver’s Travel ini tanpa perlu membaca resensi filmnya lebih dulu di beberapa media, seperti biasa. Kisah Gulliver di Negeri Liliput yang ditulis oleh Jonathan Swift dan merupakan sebuah novel klasik di abad 18, telah terpatri dengan baik di benak saya dan pernah menjadi kisah favorit mengesankan masa kecil saya dulu sebagai “bekal” menonton film ini.

Saya membayangkan sebuah kisah menarik tentang sosok raksasa yang tiba-tiba terdampar dalam sebuah tempat yang dihuni oleh manusia-manusia super mini dimana kemudian terjadi sensasi heboh dan dramatis diantara kedua jenis manusia berbeda ukuran itu ketika saling berinteraksi.

Jack Black yang berperan sebagai Lemuel Gulliver “si raksasa” juga menjadi harapan saya untuk mendapatkan tontonan memikat lewat film ini. Reputasinya sebagai artis komedi handal dan berhasil memainkan perannya di film “School of Rock” serta mengisi suara pada film “Kungfu Panda” membuat saya menaruh ekspektasi lebih untuk film yang disutradarai oleh Rob Letterman (“Monster vs Alien”, “Shark Tale”) dan diproduksi oleh Twentieth Century Fox Film Corporation tersebut.

Film ini memang mengadaptasi unsur “raksasa” dan “liliput” pada novel klasik Jonathan Swift serta mengeksplorasi seluas-luasnya kemampuan Jack Black menggelitik saraf humor penonton. Dikisahkan Lemuel Gulliver adalah seorang karyawan bagian pengantar dokumen di sebuah suratkabar harian terbitan New York yang memiliki karakter suka membual. Ia tertarik pada seorang editor travel di harian tersebut, Darcy Silverman(diperankan oleh Amanda Peet) tapi sayangnya tak memiliki cukup keberanian untuk mengajak idaman hatinya itu untuk berkencan.

Alhasil, untuk menutupi sikap rendah dirinya itu, Lemuel berbohong bahwa dirinya adalah seorang penulis, khususnya artikel mengenai travelling/perjalanan. Darcy terkesan dan menugaskan Lemuel untuk membuat laporan perjalanan di sebuah tempat di Segitiga Bermuda.

Badai ganas dengan pusaran air mengerikan menghempaskan perahu yang dipakai Lemuel dan membuatnya terdampar di negeri liliput. Lemuel menemukan pengalaman baru di tempat dimana dirinya menjadi satu-satunya orang yang memiliki tubuh paling besar diantara yang lain dan memanfaatkan posisi sebagai pusat perhatian tadi dengan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Lemuel menjelma sebagai raksasa centil dengan memimpin kawan-kawan barunya, melawan musuh-musuh mereka.

Lemuel merepresentasikan dirinya sendiri sebagai pahlawan di negeri liliput karena memiliki tubuh yang paling besar. Tidak hanya itu, Lemuel juga berhasil menjodohkan Horatio (Jason Segel) dengan Princess Mary (Emily Blunt), putri King Theodore (Billy Connoly). Jenderal Edward (Chris O’Dowd) si tokoh antagonis mengharapkan Princess Mary mau menikahinya, namun dengan dibantu Lumeul, Horatio yang akhirnya dipilih oleh Sang Putri.

Secara efek sinematografis, film ini cukup unggul apalagi sudah menggunakan format teknologi 3-D. Manusia liliput yang besarnya hanya segede telunjuk Lemuel terlihat begitu nyata dan mengesankan. Kekonyolan-kekonyolan yang ditampilkan si raksasa centil dan pembual yang diperankan oleh Jack Black juga sungguh kocak. Sebagai aktor komedi, ia menampilkan akting dan gestur tubuhnya secara maksimal melalui adegan-adegan lucu dan menggugah tawa. Saya sempat tertawa lepas saat melihat adegan liliput memainkan I-Phone Lemuel dengan penuh rasa takjub.

Adegan pertempuran melawan kerajaan musuh juga digarap apik dan seru, terlebih ada pula robot yang terlibat didalamnya. Sayangnya, saya merasa porsi penampilan kocak Jack Black terlalu berlebihan, bahkan cenderung membosankan. Penampilan Jack Black di “School of Rock” masih lebih memikat dibanding pada film ini. Lelucon mengenai tubuh raksasa yang dimilikinya lama-lama seperti kehilangan gregetnya. Tapi tidak apa-apalah setidaknya saya agak terhibur mendengarkan lagu “Sweet Child of Mine”-nya Guns N’ Roses atau lagu “War”-nya Bruce Springstein yang ikut menyemarakkan film yang berdurasi 93 menit ini.

Hikmah yang tertinggal dibatin seusai menonton film ini adalah sebuah kutipan bagus “There’s no small job, only small people” . Seuntai kalimat yang mengingatkan untuk kita senantiasa menghargai dan menekuni pekerjaan yang kita miliki dengan sepenuh hati. Ukuran tubuh bukanlah sebuah halangan untuk mengerjakan pekerjaan besar sepanjang dikerjakan secara sungguh-sungguh dan ikhlas.

Dimuat pula di Yahoo OMG! Indonesia 

Related Posts
CATATAN DARI LAUNCHING CITI PRIORITY : LAYANAN PERBANKAN UNGGULAN DENGAN TIGA PILAR UTAMA
ari Rabu, 7 September 2016, saya menyempatkan diri hadir dan memenuhi undangan untuk mengikuti peluncuran layanan perbankan Citi Priority dari Citibank bertempat di Hotel Kempinski, Jl.MH.Thamrin, Jakarta. Saya hadir agak ...
Posting Terkait
1. Tip Menulis Novel ala Luna Torashingyu Penulis Novel "Dua Rembulan" dan "Angel's Heart" Luna Torashingyu menyajikan tips-tips menulis cerita disitusnya. Bisa baca disini. Disitus yang sama juga disajikan tips menulis ...
Posting Terkait
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
Setelah sebelumnya saya membuat artikel tentang perkenalan Kamusitas atau Kamus Komunitas di Kompasiana, kali ini saya ingin memperkenalkan kepada anda dengan Kategio. Bingung dengan istilah ini?. Sama, saya juga pada awalnya. ...
Posting Terkait
FILM COBOY JUNIOR : TENTANG JADI YANG TERBAIK DAN DEMAM UNYU-UNYU
eusai mengikuti hari terakhir ujian kenaikan kelas, Sabtu (8/6) saya menunaikan "janji" kepada kedua anak saya, Rizky dan Alya, untuk menonton film Coboy Junior di XXI Mall Lippo Cikarang. Yang ...
Posting Terkait
MENIKMATI KUALITAS ACER ONE 10 DENGAN HARGA TERJANGKAU
Saya selalu percaya, kalau bekerja tangkas dan cerdas itu adalah salah satu jalan terbaik menuju sukses. Target yang kita tetapkan akan tercapai dengan rencana aksi yang efektif dan terukur melalui ...
Posting Terkait
FILM MAN OF STEEL : SUPERIORITAS HUMANIS SANG MANUSIA BAJA
ejak kecil saya selalu menggemari tokoh Superman. Komik-komik tokoh legendaris ini selalu saya baca tuntas dengan antusiasme meluap. Saya kian bersemangat untuk segera menonton film yang mengangkat kisah hidup si ...
Posting Terkait
FILM JENDRAL KANCIL : REFLEKSI CERIA ANAK MASA KINI
Hari Sabtu (7/7) lalu, kembali saya, istri dan kedua buah hati tercinta menonton film. Saya bersyukur pada masa liburan panjang anak-anak sekarang ada begitu banyak pilihan tontonan untuk mereka di ...
Posting Terkait
Gegap gempita Pesta Blogger 2008 yang bertajuk "Blogging for Society" baru saja usai. Pada Video Montage diatas yang saya ambil dari blog Mas Iman Brotoseno, sungguh menggetarkan digambarkan terdapat begitu banyak ...
Posting Terkait
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA DJALIL
Judul Buku : Cintaku Lewat Kripik Balado Penulis : Linda Djalil Prolog : Putu Wijaya Epilog : Jodhi Yudono Penerbit : Penerbit Buku Kompas , Juni 2011 Halaman : xii + 244 Halaman Ukuran : 14 ...
Posting Terkait
FILM 9 SUMMER 10 AUTUMNS : TENTANG HARAPAN YANG TAK PERNAH PUTUS
edung bioskop Hollywood XXI yang terletak tak jauh dari Hotel Kartika Chandra, Jl.Gatot Subroto, terlihat begitu ramai oleh penonton ketika kami sekeluarga tiba disana, Minggu Siang (28/4) lalu. Mayoritas penonton ...
Posting Terkait
CATATAN DARI LAUNCHING CITI PRIORITY : LAYANAN PERBANKAN
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (11)
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
FILM COBOY JUNIOR : TENTANG JADI YANG TERBAIK
MENIKMATI KUALITAS ACER ONE 10 DENGAN HARGA TERJANGKAU
FILM MAN OF STEEL : SUPERIORITAS HUMANIS SANG
FILM JENDRAL KANCIL : REFLEKSI CERIA ANAK MASA
MEMAKNAI “BLOGGING FOR SOCIETY” : JUST DO IT,
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA
FILM 9 SUMMER 10 AUTUMNS : TENTANG HARAPAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *