RIVER’S NOTE : CATATAN REFLEKTIF SEORANG AYAH

Judul Buku : River’s Note 

Penulis : Fauzan Mukrim

Penerbit : Noura Books

Tebal  :  xii + 255 halaman

Cetakan : Pertama, April 2012

Saat pertama kali membaca buku ini, ingatan saya melayang 10 tahun silam ketika saya pertama kali ngeblog dengan motivasi mengabadikan kisah-kisah kelahiran putra pertama saya–yang sudah kami tunggu setelah 3 tahun menikah–Muh.Rizky Aulia Gobel. Ketika itu saya menulis cerita seolah-olah Rizky sedang bercerita tentang dirinya, sejak lahir hingga berusia 7 tahun. Alhamdulillah catatan-catatan tersebut dibukukan oleh Penerbit Gradien pada tahun 2006 dengan judul “Warna Warni Hidupku”.

Buku River’s Note (selanjutnya saya singkat dengan RN) ditulis dalam perspektif berbeda. Fauzan Mukrim, seorang jurnalis Trans TV menuturkan cerita kepada sang anak dengan sudut pandang sebagai seorang ayah. Dengan gaya bahasa yang sederhana, Fauzan–yang akrab dipanggil Ochan–dengan jernih bertutur beragam hikmah kehidupan yang dikemas dalam cerita keseharian kepada sang anak, River Ifham Asfari, secara memikat dan menyentuh. Ochan menyimpan catatan-catatan tersebut dalam blog www.riversnote.blogspot.com.

Yang paling berkesan buat saya adalah, Ochan menampilkan kisah River bahkan sejak masih dalam kandungan sang ibu.  Cara bertuturnya mengingatkan saya pada dongeng pengantar tidur yang kerap disampaikan ibu atau ayah, dulu saat saya masih kecil. Lugas. Spontan. Menyentuh. Membuai imajinasi pembaca dalam sejumlah pengalaman-pengalaman sederhana sarat hikmah.

Lihatlah bagaimana Ochan bercerita pada River dalam tulisan “Oleh-Oleh Ayah” (halaman 199)

Malam itu, Nak, aku membawa pulang oleh-oleh untukmu. Aku bawa melintasi sisa gerimis. Malam masih sibuk. Orang-orang yang tadi sempat terhalang pulang, mulai beranjak. Seorang tamu agung baru saja datang ke negara kita. Obama namanya. Presiden Amerika Serikat itu akhirnya benar-benar tiba di Jakarta setelah beberapa kali gagal datang. Ada yang senang. Ada yang gusar. Mereka yang terhalang pulang itu yang gusar. Jalan mereka ditutup selama satu hingga dua jam untuk memberi jalan kepada sang presiden. Pengendara motor membawa anak-anak kehujanan tak sempat berteduh. Ibu-ibu terpaksa berjalan kaki. Pedagang-pedagang kaki lima digusur. Sementara katanya. Lalu keesokan harinya, Obama berpidato bahwa Indonesia tak seperti dulu lagi. Jalan-jalan lancar, katanya. Pak Beye yang berdiri di sebelahnya tersenyum mesem-mesem seperti anak gadis baru dilamar.

Ini bukan cerita tentang Obama, Nak. Insya Allah, dia orang yang lebih baik dibanding pendahulu-pendahulunya. Mari kita doakan.

Teman-temanku dibuat sibuk. Pagi-pagi sekali mereka sudah mengantri di logistik untuk mengeluarkan alat-alat liputan, siap memberitakan apa saja tentang kedatangannya. Seperti biasa, kami pekerja stasiun TV harus berlomba. Euforia Obama di mana-mana. Mungkin bila ada anak yang lahir hari itu, bisa jadi dia diberi nama Obama. Sejenak kita dibuat lupa pada Wasior, Mentawai dan Merapi yang baru saja dihantam bala.

Narasi bernuansa sastra disajikan Ochan dengan sangat menarik seakan membawa pembaca larut dalam kisah-kisahnya. Tak ada kesan menggurui dalam buku ini. Ochan dengan lincah merangkai kata-kata dalam harmoni yang indah. Petuah-petuah yang disampaikan begitu membumi, karena begitu dekat dengan keseharian, begitu lekat dengan rutinitas kita sesungguhnya. Saya merasa buku ini menjadi “gue banget” karena merefleksikan cinta sejati sang ayah kepada anaknya. Menyajikan sebentuk romansa keluarga yang inspiratif dan penuh makna. Saya seakan menyaksikan diri saya di “cermin” sepanjang membaca buku ini. Tak salah bila sutradara terkenal, Riri Riza menyampaikan testimoni mengenai “River’s Note”: “Cerita tentang kota, bangsa, dan berbagai peristiwa. Lebih dari itu, ini surat cinta yang menyentuh dari seorang ayah kepada anaknya. Saya sangat menikmatinya”.

Ochan yang lahir di Watampone Sulawesi Selatan, 13 November 1978 dan 2 tahun lalu menerbitkan novel “Mencari Tepi Langit” (Gagas Media), juga mengangkat sisi-sisi yang akrab dengan kebudayaan Bugis, tempat ia tumbuh besar. Pada tulisan “Malaikat yang Terinjak Sayapnya” (halaman 217) misalnya, suami dari Desanti Sarah ini menulis

Di kultur ayahmu ini, Nak, ada yang disebut pattola palallo. Arti kata per katanya aku tidak paham benar, yang pasti kalimat itu sering diucapkan sebagai doa. Ketika orang-orang tua melihat anak kecil, mereka biasanya berucap “tannapodo pattola palallo ko wa, Na’.” Artinya seorang anak diharapkan menjadi pattola palallo, tumbuh dengan menjadi lebih baik daripada orangtuanya. Jika bapaknya doktorandus, sang anak diharapkan akan menjadi doktor, misalnya. Kalau bapaknya dulu ranking 39, sang anak bolehlah ranking 38 atau 37. Intinya, menjadi lebih baik. Maka, bisa jadi orang Bugis yang paling sial adalah yang bapaknya profesor, karena mau jadi apa lagi dia yang lebih hebat dari profesor? Kompresor, mungkin.

Sebagai orang bugis, Nak, dari lubuk hati yang paling dalam aku juga berharap kamu menjadipattola palallo, menjadi lebih baik daripada kami di segala aspek. Pendidkan, soisal, ekonomi, religi, dan lain-lain. Tapi kamu tak perlu merasa terbebani, toh standar kami juga tidak tinggi-tinggi amat. Kalau tadi aku menyinggung orangtua yang ranking 39, ketahuilah, Nak, bahwa itu adalah aku, ayahmu ini sewaktu berguru di bangku SMA.

Sampai di sini, mari kita coba mendiskusikan sesuatu. Bila Allah SWT memberi umur panjang, mungkin pada saat kamu membaca ini, aku masih ada di ruang tengah membaca buku, atau di teras belakang rumah kita memberi makan ikan koi. Bila kamu tidak sedang sibuk pacaran, hampirilah aku. Insya Allah, aku adalah ayah yang selalu membuka ruang diskusi. Bahkan ruang debat, bila perlu. Open mind for different view. Begitu kata Metallica dalam lagu Nothing Else Matters, Nak.

Tulisan-tulisan Ochan di buku ini tidak melulu menyajikan hal-hal serius dan menerbitkan rasa haru pada pembacanya. Bagai seorang koki handal, penulis yang menjadi participant writer dalam Makassar International Writers Festival 2012 ini, memberikan sentuhan humor yang renyah pada tulisannya yang membuat pembaca tersenyum-senyum sendiri.

Buku ini terdiri atas 7 Bab (dengan isi masing-masing 7 – 8 tulisan) yaitu “Mencintai & Mensyukuri Hidup”, “Kehormatan dan Integritas Diri”, “Cinta yang tak kenal batas”, “Bisik Nurani”, “Ujian vs Kesabaran”, “Asa dan Doa”, dan “Melihat Lebih Dekat”.  Beragam setting peristiwa tersaji dalam ulasan yang cerdas dan bernas. Juga kritis. “Surat Cinta” sang ayah ini tidak hanya sekedar menjadi catatan kenangan Ochan kepada sang putra namun menjadi rujukan bermanfaat buat kita semua dalam menjalani hidup dan kehidupan, dengan lebih baik dan bermakna. Terimakasih Ochan!

Related Posts
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (18)
1. Bila Calon Presiden Indonesia Pasang Tampang di Facebook 3 Calon Presiden Indonesia yaitu M.Fadjroel Rahman, Ratna Sarumpaet dan Rizal Mallarangeng, rupanya begitu jeli melakukan penetrasi kepada para calon konstituennya lewat ...
Posting Terkait
1. Selamat Datang Komunitas Blogger Bengawan! Jagad blogosfer Indonesia kian semarak dengan hadirnya Komunitas Blogger Solo dan Sekitarnya, Bengawan. Peresmian komunitas ini diselenggarakan secara meriah Sabtu malam lalu (21/2) bertempat di ...
Posting Terkait
1. Lorem Ipsum ala Indonesia Mungkin anda sudah cukup familiar dengan "Lorem Ipsum". Lorem Ipsum adalah contoh teks atau dummy dalam industri percetakan dan penataan huruf atau typesetting. Lorem Ipsum telah ...
Posting Terkait
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (3)
1. Tips Menulis Fiksi by Adhitya Mulya Penulis buku laris "Jomblo" (sudah difilmkan serta disinetronkan) dan "Gege Mencari Cinta", Adhitya Mulya, memaparkan pengalaman dan tipsnya dalam menulis cerita fiksi disini. Menarik dan patut ...
Posting Terkait
FILM “AMBILKAN BULAN”: MENGABADIKAN KENANGAN LAGU MASA KECIL
ejak pertama kali iklan film "Ambilkan Bulan" tayang di televisi, kedua anak saya, Rizky dan Alya sudah mematok tanggal kapan waktu menontonnya (film ini ditayangkan perdana di bioskop Indonesia, tanggal ...
Posting Terkait
“MEMBANTING” KEMURUNGAN DI BANTIMURUNG
edang murung atau sedih? Jangan risau. “Banting saja kemurunganmu di Bantimurung,” seloroh kawan saya saat kami bercakap mengenai obyek wisata andalan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya lebih kurang 45 km ...
Posting Terkait
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
Setelah sebelumnya saya membuat artikel tentang perkenalan Kamusitas atau Kamus Komunitas di Kompasiana, kali ini saya ingin memperkenalkan kepada anda dengan Kategio. Bingung dengan istilah ini?. Sama, saya juga pada awalnya. ...
Posting Terkait
1. Tip Menulis Novel ala Luna Torashingyu Penulis Novel "Dua Rembulan" dan "Angel's Heart" Luna Torashingyu menyajikan tips-tips menulis cerita disitusnya. Bisa baca disini. Disitus yang sama juga disajikan tips menulis ...
Posting Terkait
FILM ICE AGE-4 (CONTINENTAL DRIFT): KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN JANJI YANG MENYENTUH
ari Sabtu (14/7) lalu, kami sekeluarga nonton bioskop. Ya, kami benar-benar doyan mengisi akhir pekan dengan menikmati tayangan film-film animasi dan anak-anak sepanjang liburan sekolah. Setelah Madagascar 3, Ambilkan Bulan, ...
Posting Terkait
MADAGASCAR 3 : TENTANG MENYALAKAN NYALI DAN UPAYA BERFIKIR “BERBEDA”
ari Sabtu (23/6), saya bersama istri dan anak-anak menyempatkan diri menonton film Madagascar-3 di XXI Mal Taman Anggrek, Jakarta. Kedua anak saya, Rizky & Alya, memang sudah "menagih" saya ...
Posting Terkait
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (18)
YANG “MELENGKING”DARI BLOGWALKING (30)
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (17)
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (3)
FILM “AMBILKAN BULAN”: MENGABADIKAN KENANGAN LAGU MASA KECIL
“MEMBANTING” KEMURUNGAN DI BANTIMURUNG
MARI BERSELANCAR MENELUSURI KATA DI KATEGIO !
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (11)
FILM ICE AGE-4 (CONTINENTAL DRIFT): KISAH PERSAHABATAN DAN
MADAGASCAR 3 : TENTANG MENYALAKAN NYALI DAN UPAYA

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *