WAWANCARA BERSAMA LINDA DJALIL : “NGEBLOG ITU MEMBUAT BAHAGIA !”

Pada awalnya sempat terbersit rasa “deg-deg-an” dan minder dihati saya untuk mewawancarai mbak Linda Djalil, mantan wartawati senior Majalah TEMPO dan GATRA yang sering mewawancarai sejumlah tokoh nasional (bahkan pernah menjadi wartawan khusus Istana Presiden selama 9 tahun) dan kini aktif mengisi blognya sendiri di www.lindadjalil.com itu. Dalam hati, saya sempat mengkhawatirkan kalau-kalau pertanyaan yang saya ajukan  “kurang mengesankan” diri beliau yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik. Syukurlah, keresahan saya itu tak beralasan karena ternyata mbak Linda dengan ramah dan hangat menyambut baik permohonan wawancara saya via email.

Mengenal pertama kali Mbak Linda Djalil dalam kesempatan kopdar Kompasiana tahun 2009 merupakan berkah luar biasa buat saya yang sudah lama membaca tulisan-tulisan beliau di majalah TEMPO yang jadi bacaan langganan ayah.Sikap kritis dan lugas, mbak Linda yang sudah menghasilkan 2 buku dari catatan-catatannya di blog yakni kumpulan puisi “Cintaku Lewat Kripik Balado” dan “Celotehan Linda” ini, menjadi ciri khasnya yang paling kental. “Kalau saya menulis di majalah atau koran seperti ini, bisa-bisa malah tidak dimuat,”katanya berseloroh pada kesempatan peluncuran bukunya bulan Juli lalu. 

Berikut petikan wawancara dengan beliau

Sejak kapan mbak Linda mulai ngeblog? Apa yang menjadi motivasi awal serta harapan mbak Linda menyajikan tulisan-tulisan lewat blog?

Sejak selesai jadi wartawan tahun 2000, saya benar-benar ‘memusuhi’ komputer. Saya tidak mau buka benda itu, tidak mau mencari naskah apalagi mencari berita dari internet. Kenapa? Karena saya ingin meredam gelora menulis saya dalam berburu berita. Kondisi kesehatan saya yang lalu , sangat tidak memungkinkan untuk saya terlalu lelah. Sementara, kerja menulis berburu berita sangat menyita waktu. Terlebih lagi, saya saat itu sangat menikmati kebersamaan dengan anak saya yang berangkat remaja. Saya sempat mengikuti proses pembuatan hotel yang suami bangun. Saya ikut mengatur, mendesain tata letak interiornya. Semua menyenangkan. Lalu lupalah dari dunia kewartawanan.

Lalu, lama-lama keinginan menulis berdasarkan pengamatan kembali menggebu-gebu. Saya menjadi PR (Public Relation) dari beberapa Event Organizer. Ada beberapa proyek besar yang saya tangani dengan seru dan honornya juga asyik. Lalu saya membuat beberapa buku tokoh-tokoh yang akan merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran. Beberapa teman menjadi tim dalam penyususnan buku.

Setelah itu saya mulai lagi membuka komputer. Itu pun setelah anak saya dewasa, dan berhasil lulus dalam waktu singkat. Ada KOMPASIANA. Karena sejak kecil saya memang dekat dengan keluarga Kompas, maka saya lebih memilih blog itu ketimbang yang lain. Saya anggap ajang ini cukup santun dan beredukasi.

Saya menulis tahun 2009 di Kompasiana. Semula dengan nama LINDA saja. Tidak pakai nama panjang. Sebab saya masih ragu-ragu, juga ada rasa tidak percaya diri. Namun untuk memakai nama samaran, PANTANG bagi saya. Sangat pantang ! Apalagi bila memunculkan foto orang lain untuk blog saya di Kompasiana.

Saya hanya menulis dalam komentar , yaitu sekedar menanggapi tulisan/ postingan orang lain. Tapi dasar memang doyan nulis, akhirnya tanggapan saya menjadi jauh lebih panjang ketimbang postingan orang yang tulisannya saya komentari. Maka masuklah tulisan saya dalam ‘gelar komentar’. Lama-lama, admin Kompasiana saat itu adalah Pepih Nugraha, mulai menyimak, dan akhirnya dia tahu bahwa LINDA adalah LINDA DJALIL. Pepih begitu memberi semangat kepada saya untuk lebih percaya diri, dan tidak perlu memakai nama hanya LINDA saja.

Lalu ada kopdar pertama. Seru memang. Saya rasa itulah momen terindah yang pernah saya alami di Kompasiana. Semua berjalan riang, damai, dan tidak ada intrik. Bahwa pada akhirnya dalam perkembangannya berjalan tidak seperti yang saya harapkan, tentu saya sangat kecewa. Saya begitu mencintai Kompasiana bahkan menganggap teman-teman yang berada di dalam harus lebih maju lagi, harus lebih ok lagi dan Kompasiana menjadi lebih besar. Sejalan dengan itu, ada saja saran, kritik, yang saya lontarkan. Namun ternyata tidak semua bisa menerima dengan baik.

Selebihnya, atmosfir di sana pun terasa mulai berubah. Para pengecut semakin bertebaran, karena nama palsu menjadi sah-sah saja di tempat itu, sehingga untuk mengomentari postingan seseorang bisa dihujat dikecam diejek seenaknya tanpa berani menyebut nama asli. Dan itu didiamkan. Lalu foto porno, lalu kata-kata jorok dan alat kelamin dijadikan bahan tulisan. Semua tidak diredam secara sigap. Saya panik dan pedih, karena saya merasa itu adalah rumah saya juga, yang seakan-akan sudah diacak-acak oleh banyak orang baru.

Mbak Linda pertama kali ngeblog di Kompasiana dan sekarang ngeblog di blog sendiri (www.lindadjalil.com), apa perbedaan yang mbak Linda rasakan dengan ngeblog di blog “keroyokan” dan blog sendiri?

Ketika saya mulai mencoba membuat blog pribadi dengan www.lindadjalil.com , inspirasi saya kembali mengalir dengan menulis berbagai puisi yang sudah saya lakoni sejak saya masih di Sekolah Dasar dulu. Sesekali saya menulis opini. Bagi saya, popularitas dan kesuksesan tidak melulu harus diraih dari sebuah tempat yang sudah mapan, hebat, besar, maupun terkenal. Tidak juga menjadi masalah besar bila yang baca tulisan saya tidak sebanyak seperti di Kompasiana dulu. Atau yang mengomentari hanya sedikit. Tetapi bila sehari rata-rata bisa nyaris 200 orang pembaca, itu sudah bagus sekali sebagai pemula. Kritikan tentu saya terima. Namun saya paling tidak suka bila kecaman itu datangnya dari anonim, sebagaimana yang akhirnya sering saya dapatkan di Kompasiana.

Dengan saya ngeblog, tentu manfaatnya banyak sekali. Inspirasi saya bisa langsung masuk ke lahan tulisan tanoa mengenal waktu, tempat bahkan campur tangan editor sekalipun. Tema dan sudut pandang tulisan bisa kita sendiri yang menentukan tanpa ada koridor baku yang harus dilewati sebagaimana yang terdapat dalam dunia jurnalistik dengan segala peringkatnya (Penanggung Jawab Rubrik, Koordinator Liputan, Redaktur Pelaksana, Pemimpin Redaksi bahkan Direksi)

Oya, dalam menulis di blog pribadi, ‘si nenek-nenek’ ini tentu punya hambatan yang menyebalkan. Gaptek !! Aduuuh… saya sering bingung dengan kemajuan teknologi yang kian pesat. Pelan-pelan saya belajar, lama-lama lumayan deh… meski masih bego’ juga hahahhaaa!!!

Sebagai mantan wartawati senior, bagaimana mbak Linda melihat aktifitas blogging di Indonesia dikaitkan dengan kebebasan berekspresi?

Menurut saya dunia maya sekarang yang semakin pesat bisa saja menjadi ancaman bagi dunia, diluar dunia maya. Tapi toh banyak sekali orang yang lebih suka membaca koran dengan dipegang, dibawa-bawa kemana-mana. Buku juga demikian, masih banyak orang yang senang mengoleksi buku. Lagipula dengan segala kemajuan teknologi sekarang ada kalanya malah menyulitkan karena kita tergantung pada listrik, pada batterai, pada human error dan teknologi itu sendiri apabila tulisan/naskah terhapus dan hilang sama sekali.

Apa perbedaan terbesar yg mbak Linda rasakan saat ini setelah menjadi blogger dengan sebelumnya saat berkarir sebagai wartawati–selain lebih leluasa memasang posting tulisan secara langsung tanpa perlu melalui suntingan editor atau pimpinan redaksi?

Tentu menjadi blogger ada bahagianya dong..! Saya sungguh berbahagia bila beberapa kali di pasar tradisional atau di mal dan di supermarket, ada beberapa orang, ibu-ibu atau mahasiswa berkata, “Saya baca lho blog pribad Linda Djalil… tiap hari…” Tentu saja kejutan sekali bagi saya, sebab kenal pun tidak dengan orang-orang itu.

Selamat ya mbak Buku “Celotehan Linda” sudah cetak ulang selama 3 kali. Ini sebuah pencapaian luar biasa, bisa diceritakan bagaimana awalnya mbak Linda menulis buku ini?

Ternyata menyetop gelora untuk menulis adalah salah besar. Tidak pernah sehari pun saya tidak menulis. Berbagai postingan saya yang di luar puisi, yang terdapat di blog pribadi dan di Kompasiana masa lalu, saya bukukan. Juni beberapa bulan lalu diluncurkan, dan siapa yang sangka, buku CELOTEHAN LINDA setebal 426 halaman itu, dengan 98 tulisan, dalam waktu hampir tiga bulan sudah tiga kali cetak ulang. Subhannalllah…! Ini benar-benar di luar dugaan. Tanpa ingin mengungkap ‘riya’, memang semula saya sudah niat betul, andai ada hasil royalti dari buku ini, sebagian terbesar akan saya kirim ke anak-anak yang nyaris putus sekolah di Jateng. Saya melihat mereka sehari-hari, ada yang disuruh orang tuanya tiap hari nyolong ikan di tempat pelelangan ikan, dengan membawa ember-ember kecil. Mereka adalah anak-anak yang angka rapornya rata-rata lumayan bahkan bagus, tetapi tetap tidak mampu meneruskan sekolah.

Gusti Allah mendengar niat saya. Dari buku CELOTEHAN LINDA yang sudah tiga kali dicetak dalam waktu belum sampai setengah tahun itu, anak-anak mulai sekolah kembali. Bantuan saya tentu tidak seberapa dibanding apa yang sudah digelontorkan banyak dermawan lain yang bisa menyumbang secara besar-besaran. Tapi tidak apa-apa. Daripada tidak ada perhatian sama sekali kepada mereka yang kekurangan.

CELOTEHAN LINDA berasal dari tulisan-tulisan saya tiap hari di blog Kompasiana.com dan di blog pribadi Catatan Linda Djalil. Saya juga tidak sangka bisa ‘meledak’ setelah jadi buku, padahal sepengetahuan saya, beberapa yang dimuat di Kompasiana menjadi ajang ejekan banyak komentator yang juga penulis-penulis Kompasiana. Lagi-lagi, (berulangkali saya katakan), mereka berkomentar dengan nama palsu foto palsu. Alhamdulilah Tuhan Maha Adil… terbukti dari buku itu banyak sekali peminatnya dan memberikan apresiasi yang tinggi dengan tulus. Salah satunya adalah pak Jakob Oetama, yang menyesali kenapa buku itu tidak saya terbitkan di grup Gramedia seperti buku Cintaku Lewat Kripik Blado yang terbit tahun lalu. Selanjutnya, Ibu Herawati Diah wartawati senior Indonesia yang sangat dihormati banyak orang sampai berkali-kali menelefon saya, berkata bahwa buku saya sangat menarik dan ia sudah tamat bacanya , diulang sampai dua kali..! 🙂

Juga Titiek Puspa, setelah baca satu artikel, dia telefon saya sambil tertawa-tawa.. nanti baca lagi tulisan lain, dia telfon saya lagi karena senang sekali baca buku itu. Yang saya juga bersyukur adalah, buku itu sudah sampai ke Perancis, Jerman, Italia, Amerika, dan Inggris. Teman-teman yang berada di LN begitu antusias memesan buku itu lewat teman-teman mereka, kemudian buku itu khusus difoto dengan bacground negara masing-masing tempat mereka tinggal.

Gaya bahasa mbak Linda baik di blog maupun di sosial media, cukup lugas, tajam, terbuka dan tegas. Terutama dalam mengkritisi sesuatu. Apa gak takut mbak kalau ada yang merasa tak nyaman dan menggugat ?

Bila ada yang menganggap tulisan saya keras, saya hanya mencoba mengingatkan bahwa apa yang saya tulis sebagian terbesar sumbernya adalah dari media cetak maupun media elektronik yang disiarkan dari hari ke hari. Pengulangan berita itulah yang saya olah lagi, dan untuk yang ‘dangkal’ tentu menganggap tulisan saya adalah membuka aib orang, misalnya. Padahal, itu bukan karangan belaka. Jadi, bila ada yang menggugat, apa tidak sebaiknya menggugat lebih dahulu media-media resmi lain yang sudah lebih dahulu memberitakannya?

Dalam hidup ini tentu kita tidak bisa berhadapan dengan yang bersih-bersih saja. Di sekeliling kita banyak yang kotor, bau anyir, culas, dan penuh ‘setan belang’. Mengapa kita masih berkutat menulis tentang bunga yang indah, gunung yang keren atau sawah menguning? Tidakkah kita menyadari banyak anak miskin borokan kaki dan lengannya karena orang tuanya tidak sanggup membeli obat untuk luka mereka? Tidakkah kita tahu nelayan yang kadang melamun bengong sepanjang hari tidak mampu melaut karena solar mahal sekali… lalu anak-anak pun kekurangan gizi, sekolah tak sanggup karena biaya tidak ada…, belum lagi tukang ojek sepanjang hari berpanas-panas menunggu penumpang di ujung gang, sementara anak istrinya di rumah berhemat makanan? Lalu, mengapa tidak kita tulis hal-hal pahit seperti ini? Mengapa kita NGERI dan TIDAK BERNYALI untuk menulis tentang si koruptor yang jahanam yang kerjanya cuma ingin membeli tas HERMES seharga lebih dari Rp 450 juta tanpa berpikir uang yang ia belanjakan adalah uang rakyat??

Mbak Linda lebih senang menulis puisi atau artikel opini? Apa alasannya?

Saya senang menulis keduanya.Artikel maupun puisi sama besar maknanya. Semua tergantung dari suasana hati saja. Mungkin karena saya terbiasa menulis puisi dari usia 10 tahun, jadi sampai sekarang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Lagipula, saya kan lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia…. di UI saya belajar puisi dari pak Sapardi Djoko Damono. Saya juga pengamat tulisan Putu Wijaya. Sekarang ada seorang penulis puisi yang bagus sekali, Jodhi Yudono. dia adalah wartawan Kompas.com yang selalu berpikir jernih, baik hati, dan puisi-puisinya mencerminkan kematangan jiwanya.

Menurut mbak Linda, blogger yang ideal itu seperti apa sih?

Blogger ideal? Waah, ya itu tadi. Rajinlah membaca dan asah pengamatan secara sensitif. Satu hal yang mungkin sering lupa bagi para blogger, menulis dengan bebas membuat ‘gede kepala’ dan seenak-enaknya, dengan bahasa yang amburadul dan jauh dari kesantunan.

Siapa yang menjadi idola mbak Linda dalam dunia penulisan? Apa alasannya?

Saya mengagumi Putu Wijaya dengan segala karyanya. Tulisan Goenawan mohammad yg kadang ‘njlimet’ tentu amat berguna bagi wawasan saya, sebab apapun dia adalah guru saya saat saya menjadi wartawan TEMPO sejak tahun 1977. Sebagai wartawan, saya banyak sekali belajar menulis dari Fikri Jufri senior saya, dan memotret secara baik dari seorang fotografer terkenal Ed Zoelverdi yang kini sudah almarhum. Bahasa lisan yang hebat, indah dan berwawasan tinggi saya tangkap dari eks Menlu Ali Alatas. Ia sangat pandai merangkai kalimat bila berkata-kata.

Saya memang tidak pernah berambisi menjadi wartawan ‘betulan’ kembali, sehingga tulisan-tulisan saya di blog pribadi maupun di Kompasiana yang lalu memang jarang dalam bentuk reportase murni. Inilah yang menjadikan pembaca salah paham. Mereka masih menuntut saya harus profesional sebagai wartawan murni…. hahahahaaaa..

Kemampuan menulis yang bagus dan “mengalir”adalah salah satu hal penting yang mesti dimiliki seorang blogger, apa saran terbaik mbak Linda untuk mengasah keterampilan menulis ini berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi terdahulu?

Sekarang banyak sarana untuk menulis bagi para pemula maupun generasi baru. Banyak membaca, tentu akan banyak pengetahuan untuk menyusun kata. Talenta memang perlu, tapi kalau semua tidak ada yang diasah, tentu akan percuma. Pengamatan yang tajam sebaiknya mulai dilakukan oleh para blogger. Melihat tukang cendol di pasar, bisa menjadi sebuah cerita. Dan dibaca banyak orang.

Sensitifitas , kejelian kita sebagai penulis/ bloger terhadap lingkungan sekitar juga harus sering diasah, karena dari situlah muncul bahan tulisan. Seorang tukang cendol yang mangkal di pasar dengan dagangannya yang laku, bisa menjadi sumber tulisan kita, dan kita gali apa saja di balik usahanya selama itu. Keberhasilannya, suka dukanya, dan berapa besar penghasilannya yang bisa bermanfaat bagi keluarganya

Teman saya seorang pejabat Bank Indonesia di Tokyo, yang juga blogger Kompasiana dan ia memiliki pula blog pribadi adalah salah satu contohnya. Ia pejabat, tapi pengamatannya pada keadaan sekitarnya sangat tajam. Budaya asing diserap dalam tulisannya, kemudian ia menuliskannya secara baik dan dengan gaya bahasa yang juga tertata. Semua menjadikan manfaat yang besar bagi orang lain yang membacanya. Seharusnya blogger meniru Junanto, si pejabat BI itu. Amril Taufik Gobel juga memiliki daya serap sekeliling yang baik sekali. Tidak ada yang tidak ia manfaatkan dalam kunjungannya ke berbagai daerah. Tahu-tahu sudah dalam bentuk tulisan.

Related Posts
WAWANCARA BERSAMA LUIGI PRALANGGA : “BLOGGER ADALAH ELEMEN STRATEGIS YANG HARUS DIPERHITUNGKAN DALAM DIALOG PEMBANGUNAN !”
osok blogger satu ini mungkin tak asing bagi kita semua. Luigi Pralangga yang kini bertugas sebagai Procurement Officer, United Nations Assistance Mission for Iraq (UNAMI), Iraq sejak Agustus 2010, merupakan ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA MUBARIKA DARMAYANTI (Chief Business Officer IDBlognetwork): “SETIAP TANTANGAN MENJADI “MILESTONES” KAMI DALAM BERKIPRAH!”
ehadiran IDBlognetwork (selanjutnya saya singkat menjadi IBN) di jagad blog Indonesia, sungguh fenomenal. Gebrakannya yang tampil menjadi "jembatan" antara blogger dan publisher dengan beragam fitur yang unik serta tawaran kompensasi ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA OM JAY : “NGEBLOG BUKANLAH PEKERJAAN YANG SIA-SIA!”
aya mengenal sosok Wijayakusumah atau akrab dipanggil Om Jay yang berbodi montok, ramah, bersahaja dan selalu tersenyum ini pada kopdar perdana Kompasiana 2 tahun silam. Rasanya betah ngobrol bersama blogger ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA RISA AMRIKASARI : “MENULIS HARUS TIDAK DENGAN KETERPAKSAAN!”
"epak terjang" Risa Amrikasari, perempuan kelahiran Bogor 22 Oktober 1969 khususnya dalam dunia blogging dan penulisan yang cukup fenomenal, sangat menarik minat saya untuk mewawancarai serta mengetahui lebih banyak pokok-pokok ...
Posting Terkait
Penganugerahan Bapak Blogger Kompasiana kepada Prayitno Ramelah oleh Direktur Kompas.com Taufik H Mihardja, 22 Oktober 2009
Nama Prayitno Ramelan belakangan ini sangat terkenal menjadi sosok yang identik dengan ikon Pengulas soal-soal intelijen dan terorisme di Indonesia. Beberapa kali lelaki yang sejak 2002 menjadi purnawirawan, dengan jabatan terakhir ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA DONNY BU : “JADIKAN BLOGGING SEBAGAI AKTIVITAS DENGAN SEMANGAT UNIVERSAL”
engantar: Tulisan dibawah ini adalah hasil wawancara saya bersama mas Donny BU dan dimuat di majalah online bz! Blogfam  edisi Maret 2012 (silahkan download majalahnya disini ) Sosok Donny Budi Utoyo atau ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA HAZAIRIN POHAN :”RUANG GERAK BAGI KEMAJUAN BLOGGING DI INDONESIA MASIH BESAR”
aya mengenal pertama kali Pak Hazairin Pohan saat bertindak sebagai moderator dalam sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 di Makassar bulan Desember 2010 lalu dimana saat itu beliau menjadi salah satu narasumbernya ...
Posting Terkait
WAWANCARA BERSAMA LUIGI PRALANGGA : “BLOGGER ADALAH ELEMEN
WAWANCARA BERSAMA MUBARIKA DARMAYANTI (Chief Business Officer IDBlognetwork):
WAWANCARA BERSAMA OM JAY : “NGEBLOG BUKANLAH PEKERJAAN
WAWANCARA BERSAMA RISA AMRIKASARI : “MENULIS HARUS TIDAK
WAWANCARA BERSAMA BAPAK BLOGGER KOMPASIANA, PRAYITNO RAMELAN :
WAWANCARA BERSAMA DONNY BU : “JADIKAN BLOGGING SEBAGAI
WAWANCARA BERSAMA HAZAIRIN POHAN :”RUANG GERAK BAGI KEMAJUAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *