ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (2) : MENIKMATI SENJA TERAKHIR RAMADHAN DI PANTAI LOSARI

1098143_10151765429343486_1834336305_n

Di penghujung Ramadhan 1434 H, Rabu (7/8), saya menikmati sajian sahur yang dibuat oleh isteri dan ibu saya dengan penuh rasa syukur. Betapa damai rasanya hati ini menyaksikan kedua orang tua saya yang sudah semakin tua tetap bersemangat menjalankan ibadah puasa. Wajah mereka berdua terlihat begitu bahagia, apalagi kehadiran kedua cucu dari Cikarang, kian menyemarakkan suasana. Alya yang menjadi cucu perempuan satu-satunya dari ketujuh cucu, Ayah dan Ibu menjadi “primadona” pada momen lebaran kali ini. Meski masih dalam kondisi mengantuk, kedua anak saya masih tetap antusias menyantap hidangan sahurnya.

Seusai sahur dan sholat subuh, saya dan isteri berjalan-jalan keliling kompleks perumahan. Menikmati kesegaran pagi di Bumi Antang Permai (dahulu adalah Perumnas Antang). Jalan masuk menuju ke rumah orang tua saya di Jalan Romang Tangayya sudah dibeton mulus. Saat pulang ke Makassar tahun lalu, saya sangat prihatin karena jalanannya rusak dan banyak lubang disana-sini. Konon kata ayah saya, kemungkinan besar, karena letak kantor KPU (Komite Pemilihan Umum) Makassar berada di daerah ini sehingga menjelang Pemilu Walikota Makassar bulan September nanti dimana kemungkinan besar para kandidat Walikota/Wakil Walikota serta tim suksesnya akan hilir mudik di Bumi Antang Permai, maka jalannya diperbaiki, tentu ini juga akan mendukung operasional logistik selama Pemilu Walikota Makassar nanti :). Syukurlah kalau begitu.

Suasana sekitar rumah kedua orang tua saya sudah begitu banyak berubah. Semakin ramai dan terus bertumbuh. Nampak dua mini market (Indomaret dan Alfamaret) baru saling berhadapan di sisi jalan. Sepagi itu, hilir mudik kendaraan juga semakin ramai. Saya mengenang bagaimana ketika ayah membeli dan membangun rumah yang sekarang dihuni ini di tahun 1988 sebagai persiapan yang mesti dilakukan jika masa pensiun tiba. Saya ingat betul, ayah bolak-balik ke Antang dan Maros setiap akhir pekan menyelesaikan renovasi rumah ini sebelum akhirnya pindah dari rumah dinas ketika pensiun tahun 1997. Saya sendiri tidak menyaksikan bagaimana ketika kedua orang tua saya pindah dari Maros ke Antang karena sudah bekerja di Jakarta.

DSCN5069

1150400_10151756347538486_1642837194_nSaat tiba kembali di rumah, ibu saya sedang mempersiapkan selongsong ketupat dan siap diisi. Anak-anak sudah bangun dari tidur. Dengan dipimpin oleh ibu serta isteri saya, Rizky, Ruli, Alya, Yayan dan Ivan begitu antusias mengisi ketupat dengan beras kedalam selongsong ketupat.

Mereka saling bercanda namun tetap menjaga “ritme” pekerjaan agar tidak tertunda. Ibu saya bertindak bagaikan inspektur Quality Control untuk memeriksa apakah berasnya masih perlu ditambah ke dalam selongsong ketupat atau sudah kelebihan.

Alhamdulillah, hanya dalam waktu satu jam, seluruh ketupat sudah terisi dan siap dimasak. Ibu saya tersenyum dan memuji kerja keras cucu-cucunya yang rajin menyelesaikan tugas tersebut. “Operasi Ketupat” yang sukses !  🙂

Seusai mandi, saya sekeluarga dan juga keluarga Yayu, berangkat menuju Trans Studio Mall di Tanjung Bunga. Kami rencananya menonton film Smurf-2 disana. Perjalanan menuju ke Trans Studio Mall berlangsung meriah. Didalam mobil kelima cucu Oma dan Bapu ini terus bercanda dan ketawa riang. Kami langsung menuju XXI di lantai 3 mall tersebut untuk membeli tiket The Smurf 2 (3D). Setelah itu, kami menunaikan sholat Dhuhur di Mushalla mall yang begitu luas, indah dan representatif. Saya kagum pada komitmen pengelola mall yang menyediakan fasilitas beribadah yang memadai. Seusai sholat, secara mengejutkan, saya berjumpa dengan kawan satu angkatan saya di Teknik Mesin UNHAS angkatan 1989, Purwanto Nugroho, yang kini menjadi Operational Manager Bank Mega Makassar. Kami saling melepas rindu, bernostalgia sekaligus saling memperkenalkan anggota keluarga masing-masing. Sudah lama sekali kami tidak jumpa, seingat saya kami terakhir ketemu tahun 1994.

DSCN5086

Pukul 14.30 kami masuk studio IV untuk menonton film The Smurf-2 (3D). Ini pengalaman pertama buat kami sekeluarga nonton film 3 Dimensi di bioskop dan sensasinya sungguh luar biasa. Saya akan membuat resensi tersendiri untuk film ini di posting yang lain. Seusai menonton, kami beranjak menuju anjungan pantai Losari Makassar yang kini semakin tertata rapi dan asri. Menjelang anjungan, kami melihat jejeran mobil-mobil hias yang akan melaksanakan pawai takbiran, parkir sepanjang jalan menuju Pantai Losari.

Saya menatap takjub pada Masjid Terapung “Amirul Mukminin” (disebut juga Masjid 99 Al Makazzary) yang baru saja dibangun dan terlihat kokoh “bertengger” diatas permukaan laut. Ini adalah Masjid terapung pertama di Indonesia. Begitu menawan desain arsitekturnya.

Seperti informasi dari tautan ini: 

Masjid 99 Al Makazzary merupakan masjid terapung pertama di Indonesia yang terletak di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid yang melambangkan Asmaul Husna baru didirikan dari dana sumbangan dermawan yang mampu menampung 500 jemaah. Masjid ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Makassar yang melambangkan makna keislaman, kebesaran dan kebanggaan.

DSCN5112

Asmaul Husna melambangkan angka 99 dan Al Makazzary melambangkan salah seorang imam besar Masjidil Haram Syekh Yusuf. Dengan nama 99 Al Makazzary, masjid dengan biaya Rp 6 miliar bisa didirikan dan dana yang terkumpul hingga kini baru Rp 2 miliar. Keunikan Masjid 99 Al Makazzary berlantai 3 berdiameter 45 meter ini terletak di timur laut Pantai Losari yang berhadapan dengan rumah jabatan Wali Kota Makassar di Jl Penghibur, terlihat dari atas membentuk angka 99.

Terdapat dua kubah berdiameter 9 meter yang dibawahnya pengunjung dapat menggunakan tempat bersantai dan beristirahat dengan embusan angin pantai. Masyarakat bisa naik ke atas kubah yang melalui dua tangga samping yang mengelilingi masjid. Bangunan dengan memadukan konsep modern, kontemporer dan islami, Masjid 99 Al Makazzary terlihat indah berdiri di atas permukaan laut.

DSCN5121

DSCN5123

Kami sekeluarga juga menikmati suasana anjungan Pantai Losari yang sudah ditata begitu rapi. Terdapat patung sejumlah pahlawan Sulawesi Selatan, serta patung-patung ikon kebudayaan Bugis Makassar di anjungan yang luas tersebut. Ada patung pemain sepak takraw dan juga becak. Sejumlah pengunjung ramai berdatangan dan memiliki niat seperti kami, menikmati senja di Ramadhan terakhir di Pantai Losari. Alya bahkan sempat berfoto narsis didekat patung becak, sementara Rizky asyik membaca buku yang baru saja dibeli di Gramedia Trans Studio Mall pada tempat duduk yang disediakan dan berhadapan langsung dengan laut. Saya masih ingat, saat masih mahasiswa dulu, tempat ini menjadi lokasi favorit saya menyaksikan mentari tenggelam dengan semburat cahaya merah jingga menerangi langit dengan indah.

Kami lalu bergegas menuju Restoran Es Teler 77 yang persis berhadapan dengan Masjid Terapung. Secara tak terduga, disana saya berjumpa dengan atasan saya, Pak Irham Nusaly, yang juga kebetulan berada di restoran tersebut memesan makanan untuk berbuka puasa bersama keluarga. Saya lalu bercakap-cakap dengan beliau sekaligus mengungkapkan ucapan belasungkawa atas wafatnya ibunda beliau 5 hari yang lalu.

DSCN5142

Setelah memesan makanan untuk berbuka, kami lalu naik ke lantai 2 restoran tersebut. Ruli, saya tugaskan untuk membeli pisang eppe’ 5 porsi pada penjual makanan yang ada dibawah sebagai tambahan hidangan berbuka puasa.

Tak lama berselang, apa yang kami nantikan tiba. Keindahan senja di pantai Losari Makassar terlihat begitu mempesona dari lantai 2 tempat kami duduk. Kilau merah jingga senja di akhir Ramadhan sangat indah dan bersinar lembut, memantul di kubah Mesjid terapung.

Seiring kumandang adzan bergema lantang dari menara mesjid diseberang kami, keharuan mendadak menyelinap di hati saya. Betapa bulan suci penuh berkah ini meninggalkan kami semua, tentu dengan harapan agar segala amal ibadah yang sudah ditunaikan sepanjang bulan Ramadhan diterima disisi Allah SWT serta semoga masih bisa dipertemukan kembali pada Ramadhan ditahun depan.

 (Bersambung)

 

Related Posts
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (1) : SETELAH 4 TAHUN, MELAMPIASKAN RINDU
Rizky dan Alya terlihat masih mengantuk saat sahur di bandara Soekarno Hatta, Selasa (6/8) sebelum bertolak ke Makassar dengan pesawat Garuda Indonesia GA 654 jam 05.00 pagi Pesawat Garuda GA 654 ...
Posting Terkait
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (3) : MERAYAKAN KEBERSAMAAN DALAM KEINDAHAN HARMONI IDUL FITRI
ema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang syahdu pada pagi, Kamis (8/8), seusai kami sekeluarga menunaikan sholat Subuh berjamaah. Ayah saya yang memimpin sholat terbata-bata penuh rasa haru melantunkan takbir dari ...
Posting Terkait
SEMARAKNYA HALAL BI HALAL & TEMU ALUMNI “TUKANG INSINYUR” UNHAS
aat membaca pengumuman pelaksanaan acara Halal Bi Halal & Temu Alumni Teknik Mesin UNHAS di grup Facebook "Forum Lintas Generasi", saya langsung menyambutnya dengan antusias. Apalagi jadwal penyelenggaraan acara ini ...
Posting Terkait
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (4) : PESONA BANTIMURUNG YANG MENGESANKAN !
ada Hari Kamis & Jum'at (8 & 9 Agustus), kami memutuskan untuk tidak kemana-mana selama masa lebaran di Makassar. Tamu-tamu keluarga yang terus berdatangan ke rumah membuat kami senantiasa bersiap ...
Posting Terkait
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (1) : SETELAH 4
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (3) : MERAYAKAN KEBERSAMAAN
SEMARAKNYA HALAL BI HALAL & TEMU ALUMNI “TUKANG
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (4) : PESONA BANTIMURUNG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *