MENJAGA AGAR KEHIJAUAN ITU TETAP NISCAYA DI KOTA JABABEKA

image011Mailing list Cikarang Baru mendadak heboh terkait demonstrasi warga menolak pengalihan fungsi jalur hijau menjadi ruko. Adalah Pak Mualib Wijono yang kemudian menuliskan aksi warga itu di Kompasiana menjelaskan aksi ini diawali ketika Pengembang perumahan Kota Jababeka merencanakan membangun ruko Thamrin Jababeka diatas selokan dan jalur hijau yang membentang dari Tropikana sampai ke Pertigaan Mekarindah.

“Awalnya saya dan beberapa warga tidak percaya terhadap rencana pembangunan ruko Tamrin ini. Lahan yang ada disamping jalan ini sangat sempit hanya 3 meter saja. Lahan ini ditanami pohon. Setelah lahan baru ada selokan selebar 1,3 m  baru jalan. Kemudian ditengah jalan ada selokan dan lahan hijau selebar 3-5 m. Lahan ini siteplan dari awal adalah berupa selokan dan lahan Hijau. Tentu saja meski tidak tertulis, salah satu alasan kenapa Masyarakat mau membeli rumah di Cikarang Baru Jababeka ini disebabkan daya tarik konsep Kota Hijau yang ditawarkan Jababeka. Dan terbukti ada beberapa jalan dikanan dan kirinya ditanami dengan pepohonan,” tulis Pak Mualib yang juga adalah Direktur di PT Alfa Fikrindo Utama dan PT Fawwazindo Ghina Persada ini.

image012

“Kini Jababeka berulah kembali, mereka mengalih fungsikan selokan dan lahan hijau untuk dijadikan Ruko Tamrin, yang katanya telah terjual laris manis. Saya yakin jika mereka melihat lokasinya, jika mereka menggunakan hati nuraninya mereka tidak akan membeli Ruko Tamrin tersebut. Bagaimana tidak, ruko dibangun diatas selokan lahan hijau dan jalan. Rencana tersebut tentu saja mendapatkan tentangan warga Tropikana dan Mekarindah yang mengetahui lebih dulu rencana ini,” tambah Pak Mualib yang menggalang aksi bersama warga ini tepat di Hari Pahlawan, Minggu 10 November 2013.

jerit1Saya tiba-tiba teringat kenangan 3 tahun silam, saat saya dan teman-teman komunitas Blogger Bekasi menggelar kegiatan Amprokan Blogger. Ketika itu kami mengunjungi Kota Jababeka Cikarang dan mendapatkan pencerahan luar biasa dari Pak Eka Budianta, budayawan terkemuka dan juga ketika itu menjadi Ketua Pengelola Botanical Garden Kota Jababeka Cikarang. Pada kesempatan presentasi beliau mengatakan (seperti saya kutip dari sini)

“Kasihan Indonesia yang memiliki luas area sangat luas dan hanya punya 5 kebun raya, untuk itulah ambisi untuk menjadikan Botanical Garden Kota Jababeka sebagai Kebun Raya tambahan di Indonesia sebagai wujud kepedulian dan aksi nyata untuk melestarikan lingkungan dan kehijauan,” ucap sang “bapak pohon Indonesia” ini bersemangat.

Pak Eka menyampaikan materi dihadapan peserta Amprokan Blogger (foto oleh Om Jay)“Kita mesti berterimakasih pada pohon.  Tidak hanya karena kita sudah memanfaatkan potensi pohon untuk kemaslahatan kita, umat manusia, tetapi lebih dari itu. Pengetahuan dan kearifan hidup kita bisa ambil mulai dari akar, ranting, dahan, daun  dan buahnya. Daun yang gugur adalah refleksi kehidupan manusia. Ia melayang jatuh dari pohon seusai menunaikan tugas mulianya menghasilkan oksigen. Sama halnya seperti kita, manusia, yang kelak akan meninggalkan dunia fana ini. Tak ada yang abadi, namun kita bisa memaknai kehidupan kita didunia ini dengan melakukan hal-hal terbaik bagi diri kita dan masyarakat,” tutur Pak Eka lantang dan sejenak membuat hadirin terpaku diam.

Secara berkelakar, Pak Eka menyatakan, bahwa Tuhan itu sebenarnya bersemayam di pohon. “Bukankah kita selalu memanjatkan doa kepadaNya untuk melengkapi ikhtiar perjuangan hidup yang kita lakukan?. Dan bukankah istilah menaiki pohon adalah “memanjat” pohon? Lantas untuk apa kita memanjatkan do’a?. Tak lain adalah untuk “memohon” segala do’a kita dikabulkan. ,” ujar Pak Eka yang disambut tawa berderai para peserta.

Rombongan Amprokan Blogger kemudian dibawa ke lokasi Botanical Garden Kota Jababeka. Ternyata ada yang istimewa dari kehadiran para blogger disana karena Pak Eka sekalian merayakan ulang tahun kedua Botanical Garden Jababeka yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2010.

Tumpeng dan kue disediakan di area tersebut. Pihak Botanical Garden Jababeka sudah menyiapkan 15 batang pohon untuk ditanam disana dengan perwakilan 15 komunitas blogger seluruh Indonesia. Pohon yang sudah disiapkan antara lain: pohon bintaro ( Cerbera odollam), ketapang (Terminalia catappa), hujan emas (Tabebuea chrysanta), dadap merah (Erythrina variegate), Ki Acret (Sapatodea campanulata), Flamboyan (Delonix regia), daun kupu-kupu (Bauhinia blakeana) dan mahoni (Switenia mahagony).

jerit2

Bagi saya, apa yang diungkapkan Pak Eka sungguh inspiratif. Pohon tak cuma hanya memiliki fungsi sebagai peneduh jalan belaka, menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen namun juga mengisi ruang-ruang terbuka hijau untuk memperbesar peluang mendapatkan udara dengan kualitas yang baik dan menjadi bagian dari upaya strategis melestarikan lingkungan. Area ruang terbuka hijau tentu akan memberikan kontribusi yang sangat besar untuk menebar kesejukan dan menuai keteduhan. Keberadaan pepohonan tersebut menjadi “paru-paru” kota, menjelma menjadi sebuah tempat menghirup udara segar yang alami dan ramah lingkungan.

Sayangnya, saat ini ruang terbuka hijau sudah semakin sedikit. Seperti diungkapkan pada artikel ini:

Jumlah kendaraan pribadi terutama di kota-kota besar terus bertambah. Kualitas udara di semua kota tersebut tidak lagi layak dihirup. Udara segar jadi sulit ditemukan.

Masyarakat tak punya pilihan. Sebisa mungkin memanfaatkan rung terbuka hijau yang tersisa. Ruang terbuka hijau di Jakarta tinggal 9,8 persen. Beberapa diantaranya taman-taman peninggalan Belanda. Sebut saja Taman Menteng yang konon menjadi taman pertama yang dibangun arsitek Belanda. Lalu ada Taman Surapati dan Taman Kebayoran.

Di Bandung, berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup tahun 2007 ruang terbuka hijau hanya tersisa 8,76 persen. Padahal pemerintah kolonial Belanda konon berencana membangun Bandung sebagai kota taman.

Tapi pemerintah daerah membuat tata ruang kota jadi semrawut. Daerah Kawasan Bandung Utara (KBU) sebagai wilayah resapan air, banyak yang kini beralih fungsi jadi permukiman, penginapan, hingga tempat wisata kuliner.

Penelitian di Belanda menyebutkan lingkungan hijau dapat menurunkan risiko manusia terserang berbagai penyakit. Penelitian yang diterbitkan Journal of Epidemiology and Community Health menyebutkan, mereka yang tinggal di radius 1 kilometer dari ruang terbuka hijau lebih rendah terkena serangan jantung, gangguan otot, gangguan mental, dan penyakit pernafasan.

jerit3

Lantas, bagaimana kabar RTH (ruang terbuka hijau) di Bekasi? Kabarnya menyedihkan. Kian Menyusut!. Coba simak tulisan disini:

Ruang terbuka hijau di wilayah Kabupaten Bekasi terus mengalami penyusutan akibat beralih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, dan permukiman. Jumlah luasan RTH di wilayah tersebut saat ini hanya tinggal 4.350 hektare.

“Jumlah tersebut jelas sangat tidak ideal, sebab minimal RTH publik 30 persen dari luas wilayah Kabupaten Bekasi,” kata Kepala Bidang Tata Ruang, Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kabupaten Bekasi, Muchlis, di Cikarang, Selasa (6/12/2011).

Menurut Muchlis, mengacu pada UU Tata Ruang No 26 tahun 2007, dengan luas wilayah kabupaten mencapai 127.388 hektar, RTH yang dimiliki minimal 30 persen, atau 38.216 hektar.

“Untuk itu, dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) wilayah pengembangan (WP) 1 dan 4, menetapkan tidak boleh ada lagi pengalihfungsian RTH,” katanya.

Muchlis menambahkan, WP 1 meliputi wilayah perkotaan Cikarang, sedangkan WP 4 berada di wilayah utara, meliputi Tarumajaya, Muaragembong, Babelan, dan Tambun Utara. Dia menambahkan, di WP 1 dan WP 4 tidak diperbolehkan ada lagi pengalihfungsian lahan RTH.

“Saat ini kita sedang melakukan penyesuaian dengan kondisi di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada bangunan yang berdiri di luar RDTR,” katanya.

Untuk memenuhi target RTH 30 persen itu, pihaknya saat ini sedang mengupayakan lahan pengganti di WP 2 dan WP 3. Hal tersebut masih sangat mungkin dilakukan karena daerah Kabupaten Bekasi masih memiliki banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan.

Muchlis mengatakan, WP 2 dialokasikan untuk pertanian, perkebunan dan pemukiman, yaitu Kecamatan Bojong Mangu, Cibarusah dan Setu. Sementara itu, WP 3 untuk pertanian, yaitu Kecamatan Sukawangi, Pebayuran dan Sukatani.

“RTH itu bukan hanya berfungsi sebagai paru-paru kota atau penguat struktur tanah, tapi bisa dimanfaatkan untuk fasilitas sosial,” katanya.

Adalah menjadi hak pengembang properti dalam menentukan arah pengembangan kawasan dan lahan yang dimilikinya, meskipun demikian, tentu tetap harus memperhitungkan keseimbangan lingkungan termasuk memberikan keleluasaan bagi kehadiran ruang terbuka hijau yang justru menjadi “paru-paru”kota. Terlebih, slogan “Kota Hijau” Cikarang Baru, seakan sudah menjelma sebagai ikon tersendiri dan menjadi “magnet” bagi pembeli rumah, termasuk saya salah satunya, untuk tidak hanya mendapatkan hunian yang layak buat keluarga namun juga lingkungan yang sehat, hijau, teduh, sejuk dan tertata tempat kami berkiprah dan menganyam harapan di kehidupan yang fana ini.

Saya mendukung aksi yang dilakukan oleh Pak Mualib dan kawan-kawan untuk melakukan penolakan atas pengalihan fungsi jalur hijau menjadi ruko. Sebagai kawasan industri yang terus berkembang, perumahan Cikarang Baru yang berdekatan dengan kawasan tersebut seyogyanya mempertimbangkan untuk tak hanya memprioritaskan pembangunan Ruko kemudian mengorbankan pepohonan dan area terbuka hijau disekitarnya. Polusi udara yang terjadi dan sumbernya tak hanya berasal dari aktifitas pabrik di kawasan industri namun juga dari asap kendaraan bermotor sudah semakin mengkhawatirkan pencemarannya. Termasuk di daerah Cikarang Baru Kota Jababeka dan sekitarnya.Keberadaan pohon berperan sangat penting dalam menyerap karbondioksida di udara yang kerap terkandung dalam polusi dan juga menghasilkan oksigen segar bagi lingkungan disekitarnya. Dengan tereduksinya polutan di udara, masyarakat pun akan terhindar dari risiko kemandulan, infeksi saluran pernapasan atas, stres, mual, muntah, pusing, kematian janin, keterbelakangan mental anak-anak, dan kanker kulit. Dengan kata lain, jika kota sehat, warga pun turut sehat.

Fungsi ekologis pohon lainnya ialah melalui akarnya, pohon mampu meresapkan air ke tanah sehingga pasokan air tanah semakin meningkat dan bisa mengurangi banjir. Pohon juga merupakan paru-paru kota karena bisa menghasilkan oksigen (O2). Keberadaan pohon sangat bermanfaat pula bagi burung-burung yang menjadikan pohon sebagai tempat tinggal dan berkembang biak mereka. Tidak hanya itu, pohon juga memiliki fungsi estetis. Banyaknya pohon yang ditanam akan menjadikan kota tampak hijau, sejuk, dan tidak gersang. Selain itu, pohon bisa meneduhkan, terutama ketika matahari bersinar terik.

Saat sepedaan pagi melalui kawasan dimana jalur hijau yang sudah dipangkas dan kemudian akan dialihkan fungsinya menjadi Ruko, saya mendadak sedih. Kekecewaan ini tentunya beralasan, tak hanya karena “paru-paru” kota itu tak lama lagi menjadi “hutan” beton, namun juga konsistensi untuk tetap menjaga slogan “Kota Hijau” yang dulu sangat dibanggakan bahkan menjadi daya tarik Kota Jababeka terasa menjadi terabaikan.

Sekilas terbit kekhawatiran dihati saya, jangan-jangan, Kebun Raya Botanical Garden Kota Jababeka kelak akan ikut digusur dan diganti menjadi kawasan properti mewah yang mungkin secara finansial jauh lebih menguntungkan. Bagaimana gerangan nasib pepohonan dan kawasan hijau yang ada disana, termasuk pohon-pohon yang ditanam oleh teman-teman blogger dari seluruh Indonesia dalam acara Amprokan Blogger 2010?. Bagaimana kami, juga anak-anak kami kelak, yang bermukim di Jababeka ini bisa menikmati kesejukan alami dari pepohonan yang teduh dan hanya pasrah menyaksikan jajaran kokoh bangunan beton yang terasa begitu angkuh menggapai langit?. Bagaimana ketika pencemaran udara akibat polusi industri dan asap kendaraan bermotor “menghantam” tanpa ampun ruang publik bahkan ruang pribadi kita dengan intensitas yang terus meningkat dan membahayakan kesehatan, tak terlerai?

Kita semua wajar untuk cemas. Harapan agar kehijauan pepohonan tetap terjaga di Kota Jababeka tentu bukanlah sebatas wacana belaka. Warga sudah menyuarakan keresahannya lewat aksi nyata 10 November lalu. Dan semoga pihak Jababeka juga memperhatikan aspirasi ini secara obyektif dan proporsional. Bagaimanapun semuanya untuk kebaikan bersama. Kita mesti melihatnya dalam perspektif Kecerdasan Ekologis.

Saya teringat sebuah tulisan berjudul “Kecerdasan Ekologis” di blog Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang merupakan tulisan William Chang dan dimuat di Harian Kompas 9 Desember 2009. Ada uraian dari A Hultkrantz, Ecology The Encyclopedia of Religion (1995), 581-585 dalam tulisan itu:

Kecerdasan ekologis dituangkan dalam bentuk kearifan lokal berwawasan ekologis.

Alam semesta bukan hanya sumber eksploitasi, tetapi sebagai rumah hidup bersama yang terus dilindungi, dirawat, ditata, bukan dihancurkan. Kearifan ini melahirkan sikap setia kawan manusia dengan alam yang mendahului gerakan ekologi modern setelah Perang Dunia II.

Kualitas manusiawi (kebajikan moral) mencerdaskan manusia dalam menggalakkan pembangunan yang ramah lingkungan. Keselamatan lingkungan dan alam diprioritaskan. Hak dasar tiap makhluk untuk mempertahankan diri dan berkembang biak amat dijunjung. Sebagai mitra alam semesta, manusia ikut bertanggung jawab atas masa depan seluruh kosmos.

Kecerdasan ini mengingatkan, manusia tidak boleh membiarkan masa depan planet terancam pemanasan global. Tiap manusia dipanggil untuk memerhatikan mutu anasir alam yang langsung menyentuh hidup manusia, seperti udara, air, dan tanah. Derita dan sengsara bumi akan silih berganti jika manusia tidak arif melindungi jagat raya.

Semoga, kehijauan itu tetap niscaya di Kota Jababeka .. mari kita jaga bersama..

Sumber Foto : Mailing List Cikarang Baru

Related Posts
KE JOGYAKARTA (LAGI)..
Setelah pulang mudik ke Jogya bulan lalu dalam rangka lebaran, besok pagi (8/10), saya akan berangkat ke Jogyakarta bersama-sama tim Pesta Blogger 2010, Mbak Dos (alias Agatha) pengajar blogshop dari ...
Posting Terkait
FOTO KELUARGA DAN UPAYA MENGABADIKAN KENANGAN
emarin sore (15/1), kami sekeluarga berfoto bersama di sebuah studio foto di Mal Lippo Cikarang. Ini adalah kali kedua kami sekeluarga berfoto di studio foto setelah sebelumnya pada tahun 2007 ...
Posting Terkait
KUNJUNGAN SINGKAT KE MAKASSAR
um'at malam (23/12), saat saya bersama istri dan anak-anak tengah menyantap hidangan ala Sunda di Rumah Makan "Dapur Coet" sekedar merayakan hasil Ujian Akhir Rizky dan Alya yang memuaskan, tiba-tiba ...
Posting Terkait
DARI KOPDAR PERDANA KOMPASIANA: DI DUNIA NYATA MAUPUN MAYA, GAUL ITU NISCAYA
  Blogger Kompasiana (tua dan muda) ngobrol santai sebelum acara dimulai Bersama rekan se-hidup se-"Cikarang", Pak Eko"Eshape", saya berangkat bareng menuju Bentara Budaya Jakarta untuk menghadiri Kopdar alias kopi darat pertama blogger ...
Posting Terkait
1. Hosting Gambar & Foto di I-Gambar Dulu, sekitar 5 tahun lalu saya sering hosting gambar atau foto saya di Photobucket.com dan sekarang sejak ada layanan igambar.com saya lebih sering hosting ...
Posting Terkait
Komodo (sumber : Kompas.com)
Menarik sekali membaca blog Mas Priyadi yang membahas soal Fakta-Fakta di Balik New 7 Wonders yang digagas oleh sebuah perusahaan privat di Swiss untuk melakukan pemilihan 7 keajaiban dunia baru ...
Posting Terkait
Saya dan Rizky berfoto bareng di jalan sepi Car Free Day Bekasi
Matahari belum muncul utuh dari langit pagi, Minggu (18/7), ketika saya dan si sulung Rizky serta Mas Eko Eshape berangkat dari Cikarang menuju Bekasi. Hari itu kami bertiga akan menghadiri ...
Posting Terkait
HARBLOGNAS 2015 : MERAYAKAN KONSISTENSI, MERAWAT PERSISTENSI
elapan tahun sejak pencanangan Hari Blogger Nasional, aktifitas blogging tetap tak kehilangan gregetnya. Hari ini, rekan-rekan blogger se-Indonesia merayakan hari bersejarah itu dengan menyampaikan ucapan selamat di beragam kanal media ...
Posting Terkait
MEMAKNAI SAKIT SEBAGAI BERKAH DAN PERINGATAN
"Sudah sebelas tahun menikah, baru kali ini lho Papa dirawat di Rumah Sakit,"kata istri saya sembari geleng-geleng kepala keheranan. Saya hanya tersenyum tipis. Rasa sakit pada perut bawah sebelah kiri ...
Posting Terkait
SRIKANDI BLOGGER 2013 : INSPIRASI UNTUK AKTUALISASI PEREMPUAN INDONESIA DI ERA DIGITAL
uasana aula pertemuan lantai 6 Gedung F Kemendiknas Jl.Jenderal Sudirman Jakarta Selatan, Minggu (28/4), terlihat semarak ketika saya, bersama isteri dan kedua buah hati (Rizky dan Alya) tiba dilokasi. Setelah ...
Posting Terkait
KE JOGYAKARTA (LAGI)..
FOTO KELUARGA DAN UPAYA MENGABADIKAN KENANGAN
KUNJUNGAN SINGKAT KE MAKASSAR
DARI KOPDAR PERDANA KOMPASIANA: DI DUNIA NYATA MAUPUN
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (42)
NEW 7 WONDERS DAN KONTRAVERSI YANG MENYERTAINYA
BUGAR DAN CERIA BERSAMA BLOGGER BEKASI
HARBLOGNAS 2015 : MERAYAKAN KONSISTENSI, MERAWAT PERSISTENSI
MEMAKNAI SAKIT SEBAGAI BERKAH DAN PERINGATAN
SRIKANDI BLOGGER 2013 : INSPIRASI UNTUK AKTUALISASI PEREMPUAN

3 comments

  1. Semua yg ditulis mas amril adalah benar adanya. Dan kalau kita ingin anak cucu kita masih bisa hidup dengan oksigen alami, mulailah dari lingkup yang dasar. Kompleks perumahan. Lahan yang dibangun untuk Ruko Thamrin hanyalah salah satu bentuk dari kurang pedulinya manusia terhadap kegunaan lahan hijau. Mari kita doakan agar self-awareness Jababeka bisa tergugah untuk melihat fungsi lahan hijau ke depannya.

  2. Benar sekali, diatas lahan pepohanan tersebut ruko Tamrin akan dibangun. Coba dibayangkan, bukankah lahan ini sempit? karenanya mereka juga akan membangunnya diatas jalan. dan jalaur hijau yang ditengan akan dibabat menjadi jalan. Bukankah ini kezaliman yang nyata. Sementara jika kita bicara hak, maka warga cikarang barulah yang berhak memiliki lahan hijua ini karena penjual atau pengembang tentunya sudah memasukkan harga lahan ini pada harga rumah yang kita beli?
    ayoooooo pertahankan hak kita. jangan diam saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *