sampan

Inspirasi foto : Suasana Sunset di Pantai Losari Makassar, karya Arfah Aksa Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia

Pada sampan yang sendiri.

Terdampar di sisi pantai Losari yang sunyi. Kita menyaksikan rona merah jingga mentari luruh di cakrawala dengan tatap nanar laksana Potret Mahakarya Indonesia yang terukir indah dikanvas lukisan . Dan sampan itu bercerita tentang segalanya. Apapun mengenai kita. Tentang luka, tentang kehilangan, tentang cinta, tentang harapan, tentang segalanya dimana kita ikut terkulai bersama sang raja siang yang jatuh di pelukan malam.

Kesendirian, katamu, memang menyesakkan. Terkadang itu bukan pilihan tapi sebuah takdir yang niscaya. Tak terlerai. Kita kerapkali menghadapinya tanpa pernah bisa mengabaikan. Apalagi berusaha untuk menundanya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti seharusnya.

Pada sampan yang sendiri, kita merefleksikan segala kisah yang telah terjadi diantara kita dengan hati gundah dan merasakan hasrat yang dulu tumbuh subur, lenyap tiba-tiba bersama angan yang terbang melayang ke kelam awan.

“Pernahkah kamu berfikir untuk berusaha menepis takdir, Tenri ? “, tanyamu pelan, disuatu waktu. Kata-katamu mengapung diudara, lalu hilang bersama desir lembut angin laut.

“Apa maksud Daeng?” tanyaku penasaran

Kamu lalu menghela nafas panjang seperti mengangkat sebuah beban berat menghimpit dada.

“Sebuah takdir yang bisa jadi tak pernah kita harapkan, yang membuat kita tak bahagia, yang membuat kita mesti menerimanya meski sekuat apapun kita mencegahnya datang, yang mungkin membuat kita menyesal berkepanjangan dan ingin kembali mengulang masa lalu ketika takdir tersebut belum tiba, lalu membuka lembaran hidup baru sesuai ekspektasi kita. Apakah menurutmu akan ada cara untuk menghalaunya atau, setidaknya menghindar, menjauh sampai ia tak bisa menjangkau kita?” sahutmu seperti tidak mengabaikan pertanyaanku.

488125_4284480279969_261376129_n

Foto karya Yusnawir Yusuf

“Jangan pernah coba-coba bermain dengan kedaulatan Tuhan, Daeng. Kita tak akan bisa melakukan semua itu. Semesta ini, termasuk kita, berada dalam kemuliaan GenggamanNya. Kita, harus menerima takdir yang telah ditetapkan dengan pasrah dan tabah, tidak peduli apakah kita mau atau tidak menerimanya”, kataku ketus.

Kamu lalu tertawa terkekeh. Aku tahu kamu berseloroh, tetapi ketika menyentuh hal-hal yang prinsipil apalagi soal Takdir yang sudah ditetapkan Tuhan, aku tak suka jika kamu berandai-andai untuk mencari cara konyol menghindarinya .

Kamu lalu menepuk pundakku pelan. Mencoba menghibur. Aku masih merengut.

“Maafkan. Tenri. Aku sama sekali tak bermaksud begitu. Hanya sekedar melontarkan pemikiran iseng. Jadi lupakan saja aku pernah mengungkapkan itu. Mari kita nikmati senja yang eksotik di Pantai Losari. Oya, mau makan pisang eppe’ gak? Aku pesan ya?”, katamu akhirnya melerai gundahku dengan senyum yang–seperti biasa–mengobrak-abrik hatiku.

Dan begitulah, waktu berjalan, sampai kemudian kita terpisah oleh jarak, juga takdir.

Dan disini, pada sampan yang sendiri, di akhir pertemuan, kita menyaksikan semuanya lenyap tak bersisa. Kenangan itu, tawa itu, tangis itu terbawa bersama desir angin senja. Kita, memang pada akhirnya tak bisa menepis takdir perpisahan ini. Pilihan yang menyesakkan memang ketika aku akhirnya menuruti keinginan orang tua atas nama kepatuhan dan cinta.

Seperti halnya kematian, perpisahan senantiasa menjadi hal yang selalu dihindari manusia. Meski dengan mengerahkan segala kekuatan terbaik yang aku punya untuk mempertahankan segala keinginanku, pada akhirnya, aku mesti pasrah pada kekuatan yang lebih besar dariku. Aku teringat pamanku yang berusaha sekuat tenaga menghalau kematian yang datang ketika ia menderita sakit parah. Berbagai alat penopang hidup menyokongnya, termasuk doa orang-orang tercinta, namun begitulah, bila takdir Tuhan menghendaki ia mesti kembali kepadaNya, maka kepasrahan menjadi muara. Pada titik ini perjuangan itu berhenti. Sama akhirnya ketika aku akhirnya menuruti keinginan kedua orangtuaku untuk menikahi lelaki yang tak kucintai.

“Dan sayangnya, itu bukan kamu, Daeng,”kataku terisak. Kamu lalu memelukku erat. Untuk terakhir kalinya.

Kita lalu menatap sampan yang sendiri, yang bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang pilihan, tentang takdir, tentang pengorbanan, tentang cinta yang kandas di ujung harapan. .

Seperti sampan yang sendiri

 

Related Posts
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA
My Momma always said: Life was like a box of chocholates You never know What you're gonna get -Tom Hanks, Forrest Gump,1994 Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah ...
Posting Terkait
NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA
Dia, yang menurutmu tak pernah bisa kamu mengerti, adalah dia yang kamu cinta. "Jadi apakah itu berarti, kamu membencinya?" tanyaku penuh selidik suatu ketika. "Ya, aku menyukai dan membencinya sekaligus, dalam ...
Posting Terkait
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN PEREMPUAN KILAU REMBULAN
Ia, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap ...
Posting Terkait
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT PETANG HARI
Dia tahu. Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin. Dia tidak sok tahu. Hanya berusaha memahami. Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh ...
Posting Terkait
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di ...
Posting Terkait
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA KELAM DIHATINYA
"Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya," suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum ...
Posting Terkait
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
ita selalu nyata dalam maya. Selalu ada dalam ketiadaan. Selalu hadir dalam setiap ilusi. Begitu katamu. Selalu. Entahlah, terkadang aku tak pernah bisa memahami makna kalimatmu. Absurd. Aneh. Juga misterius. Bagaimanapun kamu ...
Posting Terkait
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
Konon, katamu, secara zodiak kita berjodoh. Aku berbintang Aries, Kamu Sagitarius. Persis seperti nama depan kita : Aku Aries dan Kamu Sagita. Cocok. Klop. Pas. Kamu lalu mengajukan sejumlah teori-teori ilmu astrologi yang konon ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
Hai Perempuan Bermahligai Rembulan, Apa kabarmu? Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya--menurut ramalan meteorologi-- hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata ...
Posting Terkait
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA
Protected: NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

November 2013
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge