PUISI : SAJAK UNTUK PEREMPUAN DI UJUNG SENJA

senjabyyusnawir

 

Kita pernah memaknai arti kebahagiaan, juga kehilangan itu, disini, di ujung senja

Saat mentari rebah perlahan di batas cakrawala

menampilkan monolog tentang kesunyian dan separuh hati yang tertinggal entah dimana

pada cemerlang cahaya petang kemerahan, kau lantas berdiri tegak

dan kepala tengadah sembari membiarkan helai rambutmu dibelai angin petang dengan lembut

“Kita mesti segera membetulkan letak harapan, pada tempat yang seharusnya” katamu gusar

Waktu mungkin kerapkali mampu memudarkan luka

dan musim demi musim yang berlalu tak jua membuat kita lelah untuk mengakui

bahwa cinta dalam genggaman hanyalah semu adanya, tak berarti apa-apa

tak bernilai apa-apa..

Duhai Perempuan di ujung senja,

Narasi kegundahan yang kau ucapkan menguap begitu saja bersama kelam langit

Kita telah bercakap dalam aksara yang sama namun dalam makna berbeda

Sesungguhnya, masa lalu yang kita sesali itu hadir

Adalah bagian dari rencana masa depan yang tak pernah bisa terjadi

dan tak akan pernah terlupa, sampai kapanpun

Kenangan itu kita bangun bersama perih

yang kita sematkan diam-diam pada kilau mentari petang hari

dengan cahayanya yang perlahan meredup

lantas meringkuk pilu di bawah rimbun pohon trembesi

membingkai segalanya dengan pigura berwarna suram

sementara, ketika malam kian erat memeluk sang senja

kita berdua berusaha meraih tepiannya dengan mata basah

dan harapan yang akan kita letakkan di tempat yang seharusnya

tercecer satu-satu menjadi serpihan-serpihan kecil

di sepanjang perjalanan,

tak tergapai, tak tercapai

Cikarang, 22112013

Foto oleh Yusnawir Yusuf

 

Related Posts
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA DJALIL
Judul Buku : Cintaku Lewat Kripik Balado Penulis : Linda Djalil Prolog : Putu Wijaya Epilog : Jodhi Yudono Penerbit : Penerbit Buku Kompas , Juni 2011 Halaman : xii + 244 Halaman Ukuran : 14 ...
Posting Terkait
PUISI : MENARI DI LINTASAN PELANGI
Sepagi ini kita bercakap tentang hujan yang jatuh dari langit laksana hunjaman jarum-jarum air Pada tanah basah tempat kita berpijak. dan rindang pepohonan dimana kita berdiri dibawahnya "Sebagaimana setiap kisah pilu dituturkan," katamu perih,"Seperti ...
Posting Terkait
PUISI : SEBUAH RUANG TANPA RATAP
Seperti mendengarkan dongeng cinta yang absurd Kita selalu terbuai dalam pesona yang kerap kita sendiri tak bisa menafsirkannya Dan pada malam, ketika bintang berkelip genit di rangka langit serta rembulan perlahan meredup dibalik ...
Posting Terkait
KETIKA PUISI-PUISI “BERPERANG”
Sebuah tantangan "menggairahkan" datang di kolom komentar posting saya di blog "Multiply". Tantangan itu datang dari Kalonica, salah satu blogger wanita dan komentator di blog saya yang menayangkan Puisi "Kita, Katamu". dan mengajak ...
Posting Terkait
PUISI : TENTANG DIA, YANG BERJARAK DENGAN RINDU PADAMU
Barangkali, kepanikan yang melanda dirimu hanyalah serupa gerhana yang melintas sekilas lalu pergi meninggalkan sebaris jelaga di hatimu bersama tangis getir disepanjang jejaknya Sementara dia, yang berjarak dengan rindu padamu tersenyum sembari membawa cahaya musim semi meninggalkan ...
Posting Terkait
PUISI : SEHELAI PASMINA BIRU UNTUK ISTRIKU
Kita telah lama membincang pagi dan senja, pada malam, ketika gelap meluruh pelan dari kisi-kisi jendela kamar kita dan kenangan yang telah kita rajut bersama larut dalam kelam Sehelai pasmina biru, untukmu, istriku, ...
Posting Terkait
MENARASIKAN UNTAIAN PUISI DI YOUTUBE
Beberapa waktu terakhir ini, saya mencoba eksperimen baru dengan menarasikan (membaca) puisi-puisi karya saya dan menayangkannya di Youtube. Dengan "persenjataan" yang masih "tradisional" yaitu handphone dan komputer serta software video ...
Posting Terkait
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN TERMANGU
  Riak air berwarna kusam mengalir pelan di sepanjang batang tubuhmu, Kalimalang Pada tepiannya aku termangu dan menyesap segala cerita tentang anak-anak yang tertawa riang menceburkan diri ke dalammu tentang sampah yang mengapung disekitarmu tentang tawa ...
Posting Terkait
PUISI : ELEGI DINI HARI
Sepi Malam dan Kerik Jengkerik di Beranda Adalah dendang nyanyian rindu terlukis diam-diam pada rangka langit dan bintang yang mendelik cemburu sementara embun luruh perlahan menyentuh pucuk rerumputan, kaca jendela, helai daun, juga bening mataku ...
Posting Terkait
Sajak Sebatang Lisong oleh WS Rendra menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak - kanak tanpa ...
Posting Terkait
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA
PUISI : MENARI DI LINTASAN PELANGI
PUISI : SEBUAH RUANG TANPA RATAP
KETIKA PUISI-PUISI “BERPERANG”
PUISI : TENTANG DIA, YANG BERJARAK DENGAN RINDU
PUISI : SEHELAI PASMINA BIRU UNTUK ISTRIKU
MENARASIKAN UNTAIAN PUISI DI YOUTUBE
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN
PUISI : ELEGI DINI HARI
MENGENANG WS RENDRA : SAJAK SEBATANG LISONG

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *