TIADA LAGI NASI KUNING LEZAT ALA MAMA KUNI

mamakuniSeusai menunaikan sholat Subuh tadi pagi, Jum’at (20/12), saya dikagetkan oleh dering suara telepon dari adik saya Budi di Balikpapan.

“Mama Kuni meninggal dunia dini hari tadi jam 02.25”, kata Budi dengan suara serak menahan keharuan di ujung telepon. Saya tersentak kaget dan spontan berucap “Innalillahi wa inna Ilaihi Roji’un”. Budi menyatakan sejak tadi mencoba menghubungi saya namun tak diangkat. Saya memang pulang cukup larut tadi malam karena lembur di kantor menjelang akhir tahun. Karena terlalu letih, dering telepon sempat tak bisa terdengar.

Saya terduduk lemas di kursi ruang keluarga. Kesedihan terasa begitu menyesak di dada. Kenangan saya tentang Mama Kuni, istri almarhum Papa Gode’  (Ridwan Gobel, adik kedua ayah saya yang telah wafat 13 tahun silam) terbayang-bayang di kembali.

Yang senantiasa teringat di benak adalah kehebatan beliau dalam membuat makanan lezat. Meski bernama asli Hartje Rauf Gobel, kami, para keponakannya lebih senang memanggil “Mama Kuni”. Nama itu terabadikan berkat kemampuan ibu dari empat anak ini membuat nasi kuning yang lezat. “Kuni” adalah akronim dari Nasi Kuning. Memang sangat istimewa dan fenomenal nasi kuning buatan Mama Kuni ini, legit dan warna kuningnya begitu cerah dan tajam serta sangat lezat. Tekstur yang dihasilkan sungguh berbeda dengan nasi kuning “konvensional”.

Tak hanya Nasi Kuning, Mama Kuni juga sangat piawai memasak jenis makanan lain mulai dari jenis makanan tradisional khas Gorontalo seperti Binthe Biluhuta, Ilabulo atau Popolulu hingga makanan dengan nuansa Eropa/Amerika. Kehandalannya ini membuat kami kagum dan kerapkali membuat kami rindu pada olahan makanan beliau yang dahsyat.

Bersama sang suami tercinta, Papa Gode’ , Mama Kuni’ senantiasa setia menemani penugasan hingga ke lokasi pertambangan PT INCO di Sorowako, hingga PT Kaltim Prima Coal, Sangatta. Saya masih ingat ketika Papa Gode’ sedang ditugaskan sementara di Jakarta pada kurun waktu 1997-1998, saya yang waktu itu masih kos di Jln.Anggrek 11 Kuningan senantiasa mampir ke rumah kontrakan Papa Gode/Mama Kuni’ di jalan Karbela (Karet Belakang). Dan tentu saja disana, saya bisa menikmati masakan beliau yang enaknya luar biasa itu. Saya kadang-kadang tersipu malu, ketika Mama Kuni’ datang dari belakang menepuk-nepuk pundak saya sambil tersenyum geli karena dengan “kalap” dan lahap menyantap hingga dua piring makanan buatan beliau.

Di perantauan, sosok Mama Kuni’ saya anggap sebagai pengganti ibu saya sendiri. Sosok beliau yang lembut, sabar dan penuh pengertian senantiasa menjadi tempat mengadu dan bertukar pikiran. Termasuk ketika pertama kali memperkenalkan pacar tersayang (yang kemudian menjadi istri dan ibu dari dua anak saya kini). Kepribadian Mama Kuni yang pendiam, kontras dengan sosok Papa Gode’ yang dinamis dan terbuka. Di mata kami, para keponakannya, Mama Kuni merupakan sosok yang selalu mendatangkan perasaan damai dan sejuk. Bersama almarhum Papa Gode, ditahun 1999,  Mama Kuni datang menghadiri acara resepsi pernikahan saya dan istri di Yogyakarta.

Setelah menderita sakit sekian lama, Mama Kuni akhirnya berpulang ke Rahmatullah, di kediaman putra tertuanya, Roni di Balikpapan, hari ini. Beliau dimakamkan pada liang lahat yang sama dengan almarhum suami tercinta, Papa Gode’ yang wafat 13 tahun lalu, siang tadi.

Saya masih ingat betul terakhir berjumpa langsung dengan beliau saat datang ke Jakarta 5 tahun silam. Beliau mengingatkan untuk senantiasa rukun dalam membina rumah tangga serta selalu menjaga silaturrahmi bersama keluarga. Sebelum berangkat beribadah Umroh bulan Agustus silam saya sempat bercakap-cakap dengan beliau via telepon dan saat itu saya mendoakan agar ibadah Umroh yang beliau jalankan bersama si bungsu, Laila, berjalan lancar dan selamat.  Nampaknya, saat itulah saya terakhir kali berinteraksi dengan beliau.

Kini Mama Kuni telah tiada. Tak ada lagi nasi kuning lezat yang fenomenal buatan beliau, tak ada lagi senyumannya yang selalu menyejukkan hati. Namun kebaikan dan ketulusan hati beliau selalu membekas di dalam dada. Selamat jalan Mama Kuni, semoga Allah SWT menerima amal ibadah Mama Kuni dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan..

 

Related Posts
MEMAKNAI SAKIT SEBAGAI BERKAH DAN PERINGATAN
"Sudah sebelas tahun menikah, baru kali ini lho Papa dirawat di Rumah Sakit,"kata istri saya sembari geleng-geleng kepala keheranan. Saya hanya tersenyum tipis. Rasa sakit pada perut bawah sebelah kiri ...
Posting Terkait
DARI PESTA BLOGGER 2008 KE ACARA BLOGGER MAKASSAR (3)
Saya, selaku penasehat komunitas blogger Makassar Anging Mammiri (AM), menyerahkan potongan tumpeng dan berjabat tangan kepada Rara sang Ketua AM pada momen HUT kedua Blogger Makassar di SPM MTC Karebosi ...
Posting Terkait
KISAH EMPLOYEE GATHERING (1) : MENIKMATI PESONA PULAU DEWATA YANG EKSOTIS
um'at pagi (24/2), pukul 04.30 Bandara Soekarno Hatta Rombongan Kloter (Kelompok Terbang) pertama PT Geographe Energy Indonesia (GEI) yang akan melaksanakan Employee Gathering di Bali sudah bersiap-siap check-in di counter ...
Posting Terkait
SETELAH 10 TAHUN BERLALU …
ampaknya, inilah jawaban atas doa-doa itu. Doa kedua anak saya, Rizky dan Alya, seusai sholat yang senantiasa mendoakan sang ayahanda tercinta selamat dalam perjalanan kembali ke rumah dan segera mendapatkan pekerjaan ...
Posting Terkait
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK KOKITA
inggu pagi (30/6) yang cerah tadi, saya menemani istri untuk mengikuti lomba masak nasi goreng yang dilaksanakan oleh Kokita di Pasar Bersih Cikarang. Awalnya, saya sama sekali tidak ada rencana ...
Posting Terkait
VOTING UNTUK DAENG BATTALA DI AJANG KOMPETISI BLOGGER INTERNASIONAL
Kawan-kawan yang baik, sebagai tindak lanjut posting saya sebelumnya, blog ini akhirnya terdaftar sebagai salah satu dari peserta kompetisi blog bertaraf Internasional, The Best Of Blogs yang diselenggarakan oleh ...
Posting Terkait
BUKU FLYING TRAVELER: “JURUS ANTI MAINSTREAM” ALA JUNANTO HERDIAWAN
Judul Buku : Flying Traveler (Berburu Momen Anti Mainstream) Penulis : Junanto Herdiawan Penerbit : B First (PT Bentang Pustaka) Penyunting : Sian Hwa dan Qha Tebal : 150 halaman ISBN : 978-602-8864-97-8 elalu menyenangkan membaca ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2011 (2) : TENTANG MATAHARI KECIL YANG MENGHANGATKAN & ATRAKSI ANGKLUNG YANG MEMUKAU
rosesi acara pembukaan Amprokan Blogger 2011 yang dibuka oleh Menkominfo Tifatul Sembiring (baca artikelnya disini) kemudian dilanjutkan diskusi tematik tentang Kebebasan Berekspresi di Internet. Dipandu oleh Presiden Blogger ASEAN chapter ...
Posting Terkait
DARI TALKSHOW “INTIP BUKU” : “MENULIS ADALAH DUNIA ‘ORANG BIASA’ “
uang pertemuan di lantai 3 Gedung Sjafruddin Prawiranegara pada kawasan perkantoran Bank Indonsia, Sabtu(28/4), Jl.MH.Thamrin, Jakarta Pusat telah diisi setengahnya ketika saya tiba disana. Sambutan hangat Om Jay--guru SMP Labschool--yang ...
Posting Terkait
MENJAGA AGAR KEHIJAUAN ITU TETAP NISCAYA DI KOTA JABABEKA
ailing list Cikarang Baru mendadak heboh terkait demonstrasi warga menolak pengalihan fungsi jalur hijau menjadi ruko. Adalah Pak Mualib Wijono yang kemudian menuliskan aksi warga itu di Kompasiana menjelaskan aksi ini ...
Posting Terkait
MEMAKNAI SAKIT SEBAGAI BERKAH DAN PERINGATAN
DARI PESTA BLOGGER 2008 KE ACARA BLOGGER MAKASSAR
KISAH EMPLOYEE GATHERING (1) : MENIKMATI PESONA PULAU
SETELAH 10 TAHUN BERLALU …
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK
VOTING UNTUK DAENG BATTALA DI AJANG KOMPETISI BLOGGER
BUKU FLYING TRAVELER: “JURUS ANTI MAINSTREAM” ALA JUNANTO
AMPROKAN BLOGGER 2011 (2) : TENTANG MATAHARI KECIL
DARI TALKSHOW “INTIP BUKU” : “MENULIS ADALAH DUNIA
MENJAGA AGAR KEHIJAUAN ITU TETAP NISCAYA DI KOTA

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *