DSCN7584Senja melingkupi ibukota Kabupaten Sumenep saat rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya tiba. Bis yang membawa kami memasuki halaman hotel C1 tempat kami kelak akan menginap. Saya menyempatkan diri meluruskan pinggang setelah duduk di kursi bis selama kurang lebih 2,5 jam sejak berangkat dari Tanjung Bumi. 

Selain hotel C1, ada hotel Family Nur yang letaknya berseberangan juga digunakan sebagai tempat menginap rombongan kami. Kebetulan saya diberikan tempat satu kamar bersama mas Danan Wahyu–salah satu pemenang lomba blog Potret Mahakarya–dikamar 26. Saat memasuki kamar, kami berdua sempat saling berpandangan bingung, soalnya tempat tidur yang tersedia adalah King Bed berukuran besar bukan Single Bed terpisah. “Wah, jangan sampai tempat tidurnya roboh nih ditempati kita berdua,” kata saya berseloroh mengingat badan kami berdua sama-sama montok menggemaskan :).

Setelah mandi dan berpakaian, kami segera menuju ke Hotel Family Nur dengan berjalan kaki. Disana sudah tersedia hidangan makan malam dengan kuliner khas Madura yang luar biasa : Kaldu Kokot !. Terus terang ini pertama kalinya saya melihat penampakan kaldu yang terdiri atas campuran daging dan kikil dengan santan kental plus kacang hijau.

DSCN7539

Tampilan kaldu Kokot ini sungguh sangat mengundang selera. Tak ayal, dalam waktu singkat, sayapun segera menghabiskan seporsi kaldu Kokot bersama 5 potong lontong dan sebuah kroket sebagai hidangan makan malam. Yang sangat mengesankan adalah, didalam Kaldu Kokot ini terdapat rebusan kacang hijau yang kian menambah sensasi keunikan kuliner khas Madura ini. Tak lama kemudian kawan-kawan dari Komunitas Blogger Madura, Plat M, tiba di ruang makan Hotel Family Nur dipimpin oleh mas Wahyu Alam dan mas Slamet. Mereka akan ikut bersama rombongan kami untuk menikmati pagelaran tari topeng Sumenep di desa Selopeng Kecamatan Rubaru.

DSCN7572

Karena jalanan yang tidak memadai dilalui oleh bis di desa Selopeng, kami menggunakan 6 mobil beriringan. Dari hotel tempat kami menginap, lokasi acara tari topeng kurang lebih 20 km. Sekitar pukul 20.30 malam, rombongan kami tiba. Rupanya daerah tempat pelaksanaan acara ini berada di pelosok desa dan diselenggarakan di tengah sawah. Mobil kami melintasi jalan kecil di kampung yang gelap dan hanya pas untuk dilewati satu mobil saja. Sama sekali tak bisa dilalui bila berpapasan dengan kendaraan dari arah depan. Perhelatan akbar ini dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai ekspresi rasa syukur dan selamatan memasuki musim penghujan.

DSCN7546

Untuk menuju ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang agak basah dan becek. Sebuah panggung besar terpacak megah dengan tulisan besar “Rukun Perawas” pada bagian atasnya. Tepat didepan panggung sejumlah pemusik gamelan siap mengiringi tarian. Rencananya, tepat pukul 22.00 malam acara akan dimulai dengan 16 babak pertunjukan semalam suntuk (hingga pukul 04.00). Para penonton yang terdiri dari masyarakat seputar desa Selopeng mulai ramai berdatangan. Pesta rakyat setahun sekali ini memang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sebagai sarana hiburan di kampung. Saya bersama teman-teman kemudian menuju ke belakang panggung menyaksikan persiapan pertunjukan.

DSCN7565

DSCN7557

Dibelakang panggung nampak 2 orang penari lelaki sedang ber-make-up disaksikan sejumlah orang. Disamping kedua penari ini, ditata rangkaian jenis topeng yang akan dipakai untuk menari nanti. Topeng dipahat dari balok kayu untuk mendapatkan bentuk muka,hidung,mata dan sebagainya kemudian digambar dan diukir mengikuti pola gambar dengan piol (celurit mini), kemudian proses penghalusan dan pengecatan. Watak tokohnya tergambar dari motif gambar di topeng. Misalnya, watak halus digambarkan dengan mata yang sipit, watak keras dengan mata yang lebar, sementara topeng dengan warna dasar merah menggambarkan watak jahat dan warna putih untuk watak baik. Warna dasar lain juga ada misalnya warna hijau untuk kaum Janoko atau satria dan warna hitam untuk tokoh suci atau para dewa.

DSCN7594

Kami lalu mendengarkan cerita Pak Merto seorang Maestro seni wayang topeng Sumenep yang berusia 50 tahun. Beliau bercerita bahwa grup tari topeng Rukun Perawas ini beranggotakan 35 orang yang terdiri atas penari, grup musik gamelan (pengrawit) dan kru panggung. Rukun Perawas berdiri sejak tanggal 9 September 1659. Pada setiap pertunjukan grup ini membawa 43 topeng untuk dipentaskan, 6 topeng diantaranya merupakan topeng tua yang usianya sudah ratusan tahun. Pak Merto mengaku membuat topeng untuk keperluan grup tarinya ini sendiri, bersama sang sepupu Pak Soleh. Khusus kepada topeng warisan, Pak Merto melakukan perlakuan spesial dengan ritual mengasapi topeng tersebut setiap malam selasa dan malam jum’at.

Tanpa terasa pertunjukan pun dimulai. Saya dan kawan-kawan bergegas menuju depan panggung dan ikut berbaur bersama penonton sambil duduk lesehan diatas tikar yang disediakan. Lampu diredupkan. Suara membahana sang presenter terdengar dari sound system canggih yang dipasang disekeliling panggung. Yang menarik adalah, efek cahaya warna-warni yang dipancarkan ke arah panggung berasal dari proyektor yang dikendalikan oleh laptop oleh operator yang duduk di dekat kami. Sungguh sebuah paduan mengagumkan antara seni tradisional dan teknologi komputer 🙂 .

DSCN7597

DUERR !! . Tiba-tiba kami semua tersentak kaget. Suara petasan menggelegar seiring suara bariton sang presenter selesai menyampaikan acara. Saya sempat mengelus dada terkejut dan saya melihat mas Wahyu Alam dan mas Slamet tertawa terpingkal-pingkal dibelakang menyaksikan kehebohan pengantar pertunjukan ini. Iringan musik gamelan terdengar kian cepat. Layar pertunjukan terangkat perlahan-lahan. Tarian pertama berjudul Gambu Tameng dipertunjukkan oleh seorang penari Pria dengan luwes dan gagah. Disusul kemudian tari Klono yang menampilkan dua penari pria dengan gerakan lebih atraktif dan dinamis.

DSCN7612

Saya terpukau menyaksikan pertunjukan tari topeng Rukun Perawas ditengah sawah ini. Saat melirik kesamping, saya melihat seorang lelaki tua dengan pakaian batik, kopiah dan sarung begitu serius menyaksikan adegan-adegan diatas panggung, nyaris tak berkedip. Setiap pergantian tari, kembali sang presenter dengan suara yang cettar membahana plus ledakan petasan yang mengakhirinya, menceritakan secara singkat tarian yang akan dipersembahkan. Biasanya narasi disampaikan dalam bahasa Madura, namun karena kehadiran kami dari luar daerah, narasi cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia. Sungguh sebuah pentas seni tradisional yang unik dan sangat menghibur. Sayangnya kami semua tak bisa mengikutinya hingga selesai. Pukul 23.30 malam, rombongan kami pamit dan kembali ke hotel.

(Bersambung)

 

Related Posts
WISATA BUDAYA MADURA (1) : NIKMATNYA BEBEK SONGKEM YANG SENSASIONAL
aat sedang menjaga putri bungsu saya, Alya, yang sedang sakit Typhus di rumah sakit Harapan International Cikarang di pekan pertama Desember 2013, mata saya "tertancap" di situs Potret Mahakarya Indonesia, ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (6) : KEMERIAHAN UPACARA PETIK LAUT & DAHSYATNYA JAMU MADURA!
ujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (5) : EKSOTISME ASTA TINGGI & SENTRA PERAJIN KERIS SUMENEP YANG MENGESANKAN
eusai menunaikan Sholat Dhuhur di Masjid Jami' Sumenep, rombongan kami kemudian bergerak ke kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep dan kerabatnya, Asta Tinggi, yang ditempuh kurang lebih 10 menit dengan bis. Asta ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (2) : MENYINGKAP “MISTERI” BATIK GENTONGAN MADURA
erjalanan kami para peserta Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia terus berlanjut. Setelah makan siang di Bebek Songkem Bangkalan, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Tanjung Bumi. Sambil duduk di ...
Posting Terkait
PUISI : SEPINGGAN KANGEN DI SUDUT KOTA SUMENEP
elah lama kita menikmati setiap rasa yang mengalir yang kerapkali merambati sekujur tubuh, saat kita bertemu Bersama kaldu kokot yang kental dan lezat sate Madura, kita menyelami kenangan pada sepinggan kangen yang dihidangkan ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (4) : KEMEGAHAN KERATON SUMENEP DAN PESONA MASJID JAMI’ YANG MENGGETARKAN
atahari bersinar cerah, hari Sabtu (14/12), saat kami semua berkumpul di ruang makan Hotel Family Nur Sumenep. Badan saya relatif sudah terasa lebih segar, seusai sarapan dan tidur cukup setelah ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (1) : NIKMATNYA BEBEK SONGKEM
WISATA BUDAYA MADURA (6) : KEMERIAHAN UPACARA PETIK
WISATA BUDAYA MADURA (5) : EKSOTISME ASTA TINGGI
WISATA BUDAYA MADURA (2) : MENYINGKAP “MISTERI” BATIK
PUISI : SEPINGGAN KANGEN DI SUDUT KOTA SUMENEP
WISATA BUDAYA MADURA (4) : KEMEGAHAN KERATON SUMENEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

December 2013
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge