1501261_10152061110298486_506449893_o

Hujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata disana : pantai Cemara Udang. Apa boleh buat karena kondisi cuaca tidak memungkinkan kami sepakat untuk membatalkan kunjungan kesana dan memilih untuk beristirahat di kamar hotel masing-masing.

Pukul 19.30, kami kembali berkumpul bersama-sama di Hotel Family Nur untuk kemudian menuju Cafe JBL yang letaknya tak jauh dari hotel kami untuk makan malam. Sesampai disana, ternyata hidangan sudah disiapkan di meja. Nampak sajian Tomyam, Udang Goreng Tepung, Ikan Bakar, Tumis Kangkung, serta kuliner bernuansa Seafood lainnya terhidang dan membuat kami tak sabar untuk segera menyantapnya 🙂

BbcrenICAAEBeGh.jpg large

967195_10152060675213486_1101250514_o

Setelah menikmati hidangan makan malam yang lezat, kami mendengarkan kata sambutan dari bapak Yasin Tofani Sadikin selaku perwakilan PT HM Sampoerna, Tbk selaku penyelenggara kegiatan Cultural Trip Potret Maha Karya Indonesia menyatakan kegembiraannya atas pelaksanaan acara yang baru pertama kali dilaksanakan ini dalam rangkaian kegiatan Potret Maha Karya Indonesia.

“Dengan perjalanan wisata budaya seperti ini, kita akan semakin banyak mendapatkan pengalaman dan wawasan mengenai kekayaan khasanah budaya Indonesia, khususnya dari Madura,”kata beliau. Di saat yang sama itu pula, disampaikan kejutan (lagi) yang menyenangkan, bahwa kami, keempat blogger terbaik dari kompetisi blog Potret Mahakarya Indonesia berhak mendapatkan hadiah berupa Kamera Canon EOS 650D dan Laptop Acer Slim V5, dan saat itu sedang dalam tahap pengiriman ke alamat masing-masing.

BbcrJKWCcAAU29m.jpg large

Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur atas anugerah luar biasa ini. Mendapatkan kesempatan berwisata budaya ke Madura saja sudah merupakan berkah tersendiri yang begitu mengesankan dalam perjalanan karir saya sebagai blogger, apalagi mendapatkan hadiah tambahan saat pulang ke Cikarang nanti. Seusai kata sambutan, dilanjutkan dengan acara santai yaitu bernyanyi diiringi organ tunggal. Saya ikut menyumbangkan suara dengan menyanyikan lagu “Biarlah Bulan Bicara” dan “My Way” sementara mas Danan menyumbangkan suara dengan lagu “Butiran Debu”. Oya, menjelang akhir acara, Pak Bram dari GELAR membagikan goodie bag kepada kami semua. Yang menarik adalah selain berisi majalah TAMASYA dan kaos ala Madura, terdapat pula obat ramuan madura untuk kesehatan seksual salah satunya adalah “Tongkat Wasiat” !. Wow !

DSCN7803

Keesokan harinya, Minggu (15/12), seusai sarapanpagi, kami bergegas check-out dari hotel dan menuju ke bis. Pukul 08.15 kami meninggalkan kota Sumenep dan beranjak menuju Pamekasan. Kami akan menuju ke desa Padelegan, Pamekasan dimana sedang diadakan acara Rokat Tasek atau Petik Laut yang merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan pesisir kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rezeki dan keselamatan.

Setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan, kami tiba di desa Padelegan. Konon upacara Rokat Tasek ini diselenggarakan dua tahun sekali dan saat kami tiba adalah prosesi pesta perayaan yang sangat meriah. Acara larung berkah dengan melepas 40 jenis sesaji baru akan dilaksanakan keesokan harinya sebagai ekspresi rasa syukur dan berterimakasih pada alam. Rombongan kami menyaksikan kemeriahan upacara pembukaan Rokat Tasek antara lain ada musik Daul yakni musik perkusi dengan irama atraktif dan dinamis. Para pemusik berada disebuah kendaraan hias dengan warna meriah beraneka ragam. Masyarakat datang berduyun-duyun menyaksikan pesta rakyat ini.

893064_10152061111383486_1363906933_o (1)

DSCN7833

Tiba-tiba muncul barongsai hitam dan penari topeng menambah semarak suasana. Tariannya kocak dan sungguh menggoda. Para pengunjung berebut memberikan saweran kepada sang barongsai melalui mulutnya. Semakin banyak sawerannya, semakin heboh goyangannya, bahkan hingga jungkir balik segala. Sangat menghibur. Kami memang tak bisa lama-lama berada disana karena mesti ke Bandara Djuanda Surabaya untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat sore. Sambil berjalan kaki menuju bis, kami sempat singgah memotret sejumlah kapal-kapal nelayan yang dihias warna-warni indah berlabuh di pelabuhan kecil di pinggir pantai desa Padelegan. Mereka bersiap membawa persembahan yang akan dilarung ke tengah laut. Para penjual makanan dan minuman termasuk mainan anak-anak ikut meramaikan upacara ini dengan menggelar dagangan mereka disekitar lokasi.

DSCN7862

DSCN7853

Dari desa Padelegan, bis yang membawa kami beranjak menuju kota Pamekasan. Disana kami mengunjungi gerai Jamu Tradisional “Mahkota Madura” yang diasuh oleh ibu Fachruzah. Peracik jamu tradisional ini mengaku mendapatkan keahliannya secara turun temurun selama bertahun-tahun. Tidak hanya meracik jamu, ibu Fachruzah juga menjual bahan-bahan pembuat jamu di gerainya yang mungil.

“Bila jamu-jamu di Jawa banyak menggunakan bahan “Temu” maka di jamu Madura banyak menggunakan bahan Manjakani sebagai material dasar jamu,”kata ibu Fachruzah. Jamu yang dijual sangat bervariasi namun konon kata ibu Fachruzah jamu yang jadi “best seller” di gerainya adalah jenis jamu kuat serta jamu kesehatan reproduksi wanita. Banyak pelanggan ibu Fachruzah berasal dari luar kota Madura, bahkan ada yang berasal dari Jakarta maupun mancanegara. Khasiatnya yang dahsyat meningkatkan gairah dan vitalitas menjadi ikon dari ramuan jamu Madura. Sejumlah kawan membeli jamu racikan ibu Fachruzah sebagai buah tangan untuk dibawa pulang.

Dari gerai jamu “Mahkota Madura”, kami mampir membeli oleh-oleh khas Madura disalah satu toko di Pamekasan. Setelah itu kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Djuanda Surabaya. Diatas bis saya sempat menyampaikan ucapan terimakasih atas nama pribadi dan juga teman-teman blogger yang ikut dalam perjalanan ini, kepada penyelenggara kegiatan Potret Maha Karya Indonesia Dji Sam Soe PT HM Sampoerna Tbk serta pemandu kami dari GELAR Cultural Trip atas pengalaman yang luar biasa selama melakukan perjalanan wisata budaya ke Madura. Semoga bisa berjumpa pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Saat pesawat Garuda Indonesia GA 325 mengangkasa menuju ke Jakarta, rasa senang dan bahagia membuncah di dada. Perjalanan Wisata Budaya Potret Mahakarya Indonesia ke Madura kali ini, meski waktunya begitu singkat, namun telah menorehkan kenangan mendalam di hati. Saya didera kekaguman yang luar biasa pada kekayaan dan keindahan budaya bangsa Nusantara khususnya di Madura dan rasanya ingin berseru lantang dengan penuh haru dan rasa bangga : Damn, I Really Love My Country !! 

 (Selesai)

 

Related Posts
WISATA BUDAYA MADURA (4) : KEMEGAHAN KERATON SUMENEP DAN PESONA MASJID JAMI’ YANG MENGGETARKAN
atahari bersinar cerah, hari Sabtu (14/12), saat kami semua berkumpul di ruang makan Hotel Family Nur Sumenep. Badan saya relatif sudah terasa lebih segar, seusai sarapan dan tidur cukup setelah ...
Posting Terkait
PUISI : SEPINGGAN KANGEN DI SUDUT KOTA SUMENEP
elah lama kita menikmati setiap rasa yang mengalir yang kerapkali merambati sekujur tubuh, saat kita bertemu Bersama kaldu kokot yang kental dan lezat sate Madura, kita menyelami kenangan pada sepinggan kangen yang dihidangkan ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (2) : MENYINGKAP “MISTERI” BATIK GENTONGAN MADURA
erjalanan kami para peserta Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia terus berlanjut. Setelah makan siang di Bebek Songkem Bangkalan, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Tanjung Bumi. Sambil duduk di ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (1) : NIKMATNYA BEBEK SONGKEM YANG SENSASIONAL
aat sedang menjaga putri bungsu saya, Alya, yang sedang sakit Typhus di rumah sakit Harapan International Cikarang di pekan pertama Desember 2013, mata saya "tertancap" di situs Potret Mahakarya Indonesia, ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (5) : EKSOTISME ASTA TINGGI & SENTRA PERAJIN KERIS SUMENEP YANG MENGESANKAN
eusai menunaikan Sholat Dhuhur di Masjid Jami' Sumenep, rombongan kami kemudian bergerak ke kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep dan kerabatnya, Asta Tinggi, yang ditempuh kurang lebih 10 menit dengan bis. Asta ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (3) : KEHEBOHAN PAGELARAN SENI TARI TOPENG DI TENGAH SAWAH
enja melingkupi ibukota Kabupaten Sumenep saat rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya tiba. Bis yang membawa kami memasuki halaman hotel C1 tempat kami kelak akan menginap. Saya menyempatkan diri meluruskan pinggang ...
Posting Terkait
WISATA BUDAYA MADURA (4) : KEMEGAHAN KERATON SUMENEP
PUISI : SEPINGGAN KANGEN DI SUDUT KOTA SUMENEP
WISATA BUDAYA MADURA (2) : MENYINGKAP “MISTERI” BATIK
WISATA BUDAYA MADURA (1) : NIKMATNYA BEBEK SONGKEM
WISATA BUDAYA MADURA (5) : EKSOTISME ASTA TINGGI
WISATA BUDAYA MADURA (3) : KEHEBOHAN PAGELARAN SENI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

December 2013
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed