PUISI : PADA GENANGAN KELAM, PADA RATAP YANG TERDEKAP

nasib1

Deras Hujan yang datang malam ini

seperti kidung melankolis yang datang membuai perlahan

tapi juga mengusung ketakutan tak terkatakan

Kita menyaksikannya dengan tatap nanar

sembari mendekap erat ratap yang tak terungkap

Pada genangan kelam yang datang bersama gemuruh bah tak terlerai,

debu vulkanik dan goncangan gempa yang kerap dihadapi nyaris tiap hari

nasib2

Kita mengalirkan gundah, air mata, dan lara, disana

membiarkannya hanyut menuju ke hilir

bersama nyaring suara politisi bertutur tentang derita, utopia dan angka-angka,

kerlip lampu kamera wartawan yang menangkap potret pilu kita

juga tulus semangat para relawan yang datang membantu

nasib3

Di tengah kepul asap kompor dapur umum

dan teriak lantang anak-anak berbaju lusuh bermain di depan tenda darurat

serta sosok lelaki berdiri mematung dengan mata basah menyaksikan

sawah tergenang banjir dan lahan pertaniannya musnah tak bersisa

Kita hanya bisa menuai harap : pelangi indah di langit senantiasa muncul

seusai hujan dan selalu ada harapan untuk meraih impian

seperih apapun itu..

sekelam apapun itu..

 

Cikarang, 29-1-2014

Duka Cita mendalam untuk korban bencana di Indonesia

Sumber Foto:

Mailing List Cikarang Baru (dari Pak Abdul Malik) yang merekam suasana banjir yang melanda di desa Sukakarsa Cikarang, 19 Januari 2014 

Related Posts
PUISI : PURNAMA TERISAK DI PUCUK MALAM
Purnama yang mengapung di rangka langit malam ini seperti bercerita tentang sebuah kehilangan yang pedih dan jejak-jejak luka yang tertinggal pada sepanjang bias cahaya lembutnya Purnama yang menggigil di kelam malam adalah pilu kegetiran yang kau ...
Posting Terkait
PUISI : MENJEJAK LANGKAH DI JEMBATAN SEJARAH
Waktu yang telah kau untai dengan tekun  bersama jejak-jejak ceria dan lukaberbaris di sepanjang selasar kenangan adalah tapak-tapak kiprahmu yang telah kau torehkan pada tahun-tahun dimana  kelam kecewa dan bening harapan menghiasi sekujur jembatan sejarah hidupmu bersama ratap ...
Posting Terkait
PUISI : HUJAN MEMBAWA BAYANGMU PERGI…
  Sudah lama, aku menyulam khayalan pada tirai hujan menata wajahmu disana serupa puzzle, sekeping demi sekeping, dengan perekat kenangan di tiap sisinya lalu saat semuanya menjelma sempurna kubingkai lukisan parasmu itu dalam setiap leleh ...
Posting Terkait
SAJAK SEORANG IBU UNTUK ALMARHUM ANAKNYA DI GAZA
Bermimpilah yang indah, anakku saat kucium keningmu dengan mata basah lalu kukalungkan selendang berkotak pada lehermu dimana serpih mortir Israel laknat itu menembusnya dan membuatmu meregang nyawa lalu menyebut nama ibu dan ayah berulang-ulang menahan rasa ...
Posting Terkait
PUISI : SAJAK UNTUK PEREMPUAN DI UJUNG SENJA
  Kita pernah memaknai arti kebahagiaan, juga kehilangan itu, disini, di ujung senja Saat mentari rebah perlahan di batas cakrawala menampilkan monolog tentang kesunyian dan separuh hati yang tertinggal entah dimana pada cemerlang cahaya ...
Posting Terkait
PUISI : REMBULAN MENGAPUNG DI BERANDA MATAMU
Adakah Kilau Rembulan Yang Mengapung indah di beranda matamu adalah sebuah ruang renung untuk memahami lebih dalam setiap desir luka, serpih tawa, isak tangis, jerit rindu dan keping kecewa yang memantul pelan dari dinding ...
Posting Terkait
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN TERMANGU
  Riak air berwarna kusam mengalir pelan di sepanjang batang tubuhmu, Kalimalang Pada tepiannya aku termangu dan menyesap segala cerita tentang anak-anak yang tertawa riang menceburkan diri ke dalammu tentang sampah yang mengapung disekitarmu tentang tawa ...
Posting Terkait
PUISI : CAHAYA DI TUNGKU HATI
Menelisik potongan rindu yang entah kau letakkan dimana seperti mengais serpih-serpih kenangan yang tercecer bersama debu jalanan, belukar ilusi, hening malam dan nyala lampu mercury yang membias hangat, memantulkan cahaya pada genangan air di ...
Posting Terkait
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA DJALIL
Judul Buku : Cintaku Lewat Kripik Balado Penulis : Linda Djalil Prolog : Putu Wijaya Epilog : Jodhi Yudono Penerbit : Penerbit Buku Kompas , Juni 2011 Halaman : xii + 244 Halaman Ukuran : 14 ...
Posting Terkait
SAAT SENJA, KETIKA RAMADHAN PERGI
Saat senja, ketika Ramadhan pergi Keharuan menyentak dikalbu, menyentuh nurani Seiring semburat merah jingga bertahta di rangka langit Bulan Suci beranjak perlahan, menapak dalam keheningan meninggalkan jejak-jejak cahaya hingga batas cakrawala Dan aku luruh dalam ...
Posting Terkait
PUISI : PURNAMA TERISAK DI PUCUK MALAM
PUISI : MENJEJAK LANGKAH DI JEMBATAN SEJARAH
PUISI : HUJAN MEMBAWA BAYANGMU PERGI…
SAJAK SEORANG IBU UNTUK ALMARHUM ANAKNYA DI GAZA
PUISI : SAJAK UNTUK PEREMPUAN DI UJUNG SENJA
PUISI : REMBULAN MENGAPUNG DI BERANDA MATAMU
PUISI : DI TEPI KALIMALANG, AKU DUDUK DAN
PUISI : CAHAYA DI TUNGKU HATI
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA
SAAT SENJA, KETIKA RAMADHAN PERGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *