MENAKAR POTENSI JOKOWI & JUSUF KALLA

Koleksi Ipadku 322Judul Buku : 9 Alasan Memilih Joko (Presiden-Wakil Presiden 2014)

Penulis: Ahmad Bahar

Penerbit : Solusi Publishing 2014

Editor : R.Toto Sugiharto

Jumlah halaman : 397

Pengambilan nomor urut Capres/Cawapres sudah dilaksanakan , Sabtu (31/5) di gedung KPU. “Pertarungan” antar dua kubu pasangan Capres & Cawapres pun dimulai. Dan kita, sebagai pemilih tentu dihadapkan pada situasi untuk memilih satu diantara dua dari pasangan putra-putra bangsa terbaik yang akan memimpin negeri ini 5 tahun mendatang.

Sebuah buku menarik minat saya saat berkunjung ke Gramedia Hypermall Bekasi pekan silam dengan judul mencolok “9 Alasan Memilih Joko” yang ditulis oleh Ahmad Bahar. Buku yang mengambil momentum yang pas dengan pelaksanaan Pilpres 2014 ini mengangkat tema aktual tentang mengapa harus memilih Capres/Cawapres Jokowi dan Jusuf Kalla. Alasan yang dikemukakan dalam sampul buku ini segera membetot perhatian untuk membeli dan membacanya.

Ahmad Bahar mengawali buku yang terdiri dari 4 bab utama ini dengan pembahasan mengenai filosofi mengapa perlu memilih presiden dengan 10 sub judul dimana pada empat bab utama ini masing-masing membahas tentang “Kriteria Presiden/Wakil Presiden”, “9 Alasan Memilih Jokowi”, “9 Alasan Memilih Jusuf Kalla” dan Kriteria “Jangan” Dipilih sebagai Presiden/Wakil Presiden. Buku setebal 397 halaman ini memang secara spesifik membahas tentang sejumlah pertimbangan memilih kandidat nomor urut dua sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode mendatang.

Di bab pertama Ahmad Bahar mengulas soal kriteria Presiden Ideal. Menurutnya,presiden ideal adalah pemimpin yang menjadi idola rakyat. Artinya rakyat punya cara tersendiri untuk menentukan siapa sebenarnya tokoh yang pantas menjadi pemimpin mereka. Secara nurani, mereka tahu, sosok seperti apa yang mereka harapkan. Masalahnya adakah presiden ideal yang mampu menjadi harapan dan keinginan rakyat? Untuk memenuhi harapan itu rasanya mustahil sebab rakyat negeri ini memiliki keragaman suku, budaya, adat istiadat, agama dan juga karakter.

Ahmad Bahar kemudian merumuskan kriteria ideal saat ini yakni sosok Presiden yang mengerti & memahami keinginan rakyat yang dipimpinnya. Memiliki karakter dan integritas yang tinggi. Memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, mampu melindungi dan mengayomi seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinnya. Ahmad Bahar kemudian membahas lebih dalam mengenai kriteria Presiden Pilihan Rakyat, Presiden yang demokratis hingga Sosok Negarawan yang dirindukan rakyat.

Pada Bab kedua, Ahmad Bahar mengupas secara gamblang Alasan memilih Jokowi sebagai presiden. Ia memaparkan 9 alasan yakni: “Presiden Indonesia itu hanya Gantian Saja”, “Pekerja Keras, Tegas dan Berani”, “Apa Adanya dan Bersahaja”, “Orang Jawa”, “Pencinta Seni”, “Cinta Tanah Air”, “Didukung PDI Perjuangan”, “Pemimpin Pencari Solusi” dan “Masih Muda”. Dari kesembilan alasan yang diungkapkannya, saya cukup tertarik pada alasan “Orang Jawa” & “Didukung PDI Perjuangan” yang menurut saya cukup “segmented” & eksklusif. Penjelasan Ahmad Bahar lumayan lugas mengenai hal ini. Menurutnya jumlah etnis Jawa ┬ádi Indonesia mencapai lebih dari 60%, maka dalam perhitungan konstelasi politik pun jumlah keterwakilan etnis Jawa di lembaga legislatif menjadi lebih besar dibandingkan etnis lain di Indonesia. Soal dukungan PDI Perjuangan, ulasan Ahmad Bahar cenderung konservatif. Ia menyatakan Dukungan PDI Perjuangan kepada Jokowi bukanlah pepesan kosong. Sejak kemunculan Jokowi dan terbukti eksistensinya diterima mayoritas warga kota Surakarta, Jawa Tengah, citra partai berlambang banteng moncong putih itupun menanjak naik. Dukungan PDI Perjuangan kepada Jokowi sebagai Capres merupakan pilihan sistematis dan strategis setelah melihat rekam jejaknya yang fenomenal serta simpatik.

Di Bab ketiga, Ahmad Bahar mengulas 9 alasan memilih Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden. Ia merumuskan masing-masing alasan yaitu “Jalan Hidup & Karier Politik JK Cemerlang”, “Memiliki Integritas & Dekat Dengan Rakyat”, “Seorang Politikus yang matang”, “Pemimpin yang religius, tegas dan berani”, “Aktif di Segala Bidang”, “Kapabilitas JK Tak Diragukan”, “Good Problem Solver”, “Elektabilitas dan Popularitas Jusuf Kalla Tinggi” dan “Peluang JK Menjadi Pemimpin Negara”. Ahmad Bahar menyajikan argumentasi kehadiran Jusuf Kalla sebagai cawapres Jokowi kali ini, memiliki makna mendalam. Kenapa harus Jusuf Kalla? Jawaban singkatnya adalah karena Indonesia butuh seorang pemimpin yang memiliki visi dan misi jauh kedepan, bukan untuk dirinya sendiri atau partainya, tapi untuk sebuah negara bernama Indonesia. Seorang pemimpin yang tanpa ragu mengambil keputusan, bukan seorang yang harus menunggu partai setuju baru keputusan itu ada. Seorang yang tidak mengejar popularitas semata, tapi lebih dari itu. Seorang yang tahu masalah dan tentu solusi dari masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.

Di Bab terakhir, Ahmad Bahar memaparkan apa saja kriteria tokoh yang jangan dijadikan figur Presiden. Ia menguraikan antara lain jajaran kriteria tersebut yaitu : “Punya Cacat Bawaan”, “Banyak Bicara, Minus Kerja, Banyak Teori, No Aksi”, “Sok Agamis hanya bukan Kyai”, “Suka Mengeluh”, “Merah Putih (bukan) harga mati”, “Memberikan Solusi Setengah Hati”, “Gara-gara Selebritas”, “Tergelincir dalam pusaran masalah” dan “Pemimpin yang tanggung-tanggung”.Di Bab ini Ahmad Bahar dengan tegas menjelaskan mengapa harus menolak calon pemimpin yang berkriteria “Jangan” untuk menghindari “nasib buruk” yang mungkin menimpa di masa depan. Bisa dibayangkan, tulis Ahmad Bahar, sebuah negara besar dipimpin oleh tokoh yang tidak berkompoten, tidak punya nyali, tidak punya niat baik, tidak punya keberanian, tidak punya solusi dan tidak-tidak yang lain, maka apa jadinya negara besar ini,

Terus terang membaca buku tebal ini, memang saya merasakan ulasan-ulasan yang cenderung normatif. Namun keberanian Ahmad Bahar memaparkan analisa kritisnya dalam hal menakar Capres/Cawapres Jokowi dan Jusuf Kalla layak diapresiasi. Gaya bahasa yang disajikan begitu lugas dan tegas, termasuk pemilihan judul di tiap bab yang “tidak biasa”. Pada akhirnya pilihan kembali kepada anda, kendati demikian, buku ini cukup layak jadi rujukan berfikir dan bertindak dalam memilih calon pemimpin bangsa ini dimasa datang.

 

 

 

 

Related Posts
TENDANGAN DARI LANGIT : TENTANG SEPAKBOLA, CINTA DAN JIWA PANTANG MENYERAH
utra sulung saya, Rizky, yang memiliki hobi sepakbola dan fans berat pada Irfan Bachdim sejak awal liburan lebaran lalu sudah meminta kepada saya untuk nonton film "Tendangan Dari Langit" yang ...
Posting Terkait
BERBAGI DAN BELAJAR DARI PENGALAMAN MELALUI ABC-P TRAINING PT.CSI
nisiatif pelaksanaan ABC-P (Aftermarket Best Practice Coaching Program) yang akan diselenggarakan pada tanggal 17-21 November 2014 di PT Cameron Services International, Cikarang (PT CSI) merupakan sebuah terobosan baru dalam upaya ...
Posting Terkait
CATATAN FRESH MEI 2009 :  DARI RICH MEDIA TECHNOLOGY SAMPAI HASIL SURVEY BLOGGER 2009
Ibu Vida dari Indopacific Edelman Mempresentasikan Hasil Survey Blogger yang dikerjakan bekerjasama dengan Komunitas Blogger Blogfam pada acara FresH 19 Mei 2009 Malam ini (Selasa, 19/5) saya baru saja menghadiri Forum ...
Posting Terkait
NGEBLOG ADALAH SALAH SATU CARA SAYA MENSYUKURI KEHIDUPAN
alam acara Blogilicious Jakarta yang diselenggarakan akhir Juni silam, saya sempat terhenyak pada pertanyaan seorang peserta kepada saya yang ketika itu membawakan materi mengenai "Tips Blogging". Peserta tersebut menanyakan, "Apakah ...
Posting Terkait
BUAT PARA AYAH YANG MENYIMPAN RESAH DENGAN SENYUM MEREKAH
KEJADIAN kemarin siang yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan ...
Posting Terkait
SURAT DARI ORCHARD (4)
Para peserta dan guru training berfoto bersama di hari terakhir acara Tanpa terasa, hari Jum'at (3/7), sampailah pada hari terakhir pelaksanaan training di NOV Singapura.Walau suasana terlihat lebih santai karena kami ...
Posting Terkait
IKUT MEJENG DI MAJALAH SWA
  etelah sebelumnya pernah mejeng di Harian Kompas (jadi model iklan Kompasiana), Majalah Tempo dan Majalah Internal Asuransi Bumiputera 1912, maka kali ini di Majalah SWA dalam edisi No.08/XXVII/14-27 April ...
Posting Terkait
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (3) : MERAYAKAN KEBERSAMAAN DALAM KEINDAHAN HARMONI IDUL FITRI
ema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang syahdu pada pagi, Kamis (8/8), seusai kami sekeluarga menunaikan sholat Subuh berjamaah. Ayah saya yang memimpin sholat terbata-bata penuh rasa haru melantunkan takbir dari ...
Posting Terkait
WISATA RELIGI KE MASJID KUBAH EMAS
Catatan: Tulisan saya dibawah ini pernah dimuat di Yahoo Travel Indonesia, 10 September 2010 dan saya tayangkan kembali di blog ini sebagai arsip tulisan. Selamat membaca.. Empat bulan silam, tepatnya pada hari ...
Posting Terkait
PENGALAMAN BERKURBAN (2) : ANTARA SAPI,PARTISIPASI DAN MUTILASI
Dua tahun silam, sama seperti pernah saya ceritakan disini, hari ini Rabu (17/11) tepat di Hari Raya Idul Adha 1431 H saya kembali berpartisipasi berpatungan bersama 6 orang warga RT ...
Posting Terkait
TENDANGAN DARI LANGIT : TENTANG SEPAKBOLA, CINTA DAN
BERBAGI DAN BELAJAR DARI PENGALAMAN MELALUI ABC-P TRAINING
CATATAN FRESH MEI 2009 : DARI RICH
NGEBLOG ADALAH SALAH SATU CARA SAYA MENSYUKURI KEHIDUPAN
BUAT PARA AYAH YANG MENYIMPAN RESAH DENGAN SENYUM
SURAT DARI ORCHARD (4)
IKUT MEJENG DI MAJALAH SWA
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (3) : MERAYAKAN KEBERSAMAAN
WISATA RELIGI KE MASJID KUBAH EMAS
PENGALAMAN BERKURBAN (2) : ANTARA SAPI,PARTISIPASI DAN MUTILASI

10 comments

  1. Wah mantaps ulasannya pak, membuka kemungkinan-kemungkinan yg tidak terpikirkan sebelumnya. di link situs ini ternyata juga ada foto Pak Jokowi juga sedang berumroh. Silahkan klik link di atas komentar ini kemudian cari Galeri Foto Jamaah –> Galeri Foto Tahunan. Bagaimana komentar rekan-rekan setelah melihat foto Pak Jokowi tsb?

Leave a Reply to Master138 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *