MUDIK LEBARAN KE YOGYA (2) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI

IMG_9183 (Copy)Pagi yang cerah menyambut kehadiran kami saat keluar dari Malioboro Palace Hotel, Rabu (30/7). Perut kami terasa kenyang setelah menyantap hidangan sarapan yang disiapkan di lantai 5. Dengan penuh semangat, kedua anak saya bergegas turun dari tangga dan menuju ke jalan. Hari itu kami kembali bermaksud menyusuri bahu jalan Malioboro menuju ke Museum Benteng Vredeburg yang berada di ujungnya.

Kami memang bangun agak kesiangan sehingga melewatkan suasana subuh yang hiruk pikuk di Malioboro. Tapi tak apa, meski matahari sudah bersinar lumayan terik di pagi itu, tidak mengurangi minat kami untuk mengeksplorasi kembali keunikan jalan yang fenomenal tersebut. Para penjual souvenir dan makanan sudah mulai membuka lapak mereka di “pesisir” jalan. Alya dan ibunya nampak antusias membeli dan menawar barang souvenir yang beragam.

IMG_9165 (Copy)

IMG_9173 (Copy)

Melewati pasar Beringharjo, pedagang didepan pasar semakin banyak juga bahu jalan kian padat oleh kendaraan yang parkir. Kami terpaksa “melipir” ke jalan utama, berbagi dengan kendaraan yang melintas untuk mendapatkan akses yang lebih leluasa. Tak lama kemudian sampailah kami didepan gerbang Museum Benteng Vredeburg. Setelah berfoto didepan gerbang Museum, kami masuk dengan membayar tiket lumayan murah Rp 2,000/orang.

IMG_9187 (Copy)

Benteng Vredeburg memiliki nilai sejarah yang penting bagi perjalanan republik ini. Seperti dikutip dari situs gudeg.net :

Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di keempat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.

Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama “Benteng Rustenburg” yang mempunyai arti “Benteng Peristirahatan” , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 – 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi “Benteng Vredeburg” yang mempunyai arti “Benteng Perdamaian”.

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 – 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 – 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

IMG_9193 (Copy)

Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi “Museum Khusus Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Yogyakarta”.

Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum.

IMG_9195 (Copy)

IMG_9213 (Copy)

IMG_9230 (Copy)

Di benteng yang ditata asri ini, selain menikmati diorama sejarah perjuangan Indonesia, kami juga sempat merasakan nuansa perang kemerdekaan yang disajikan secara interaktif baik melalui tayangan visual maupun game digital yang memikat. Bagian dalam ruangan museum juga diatur begitu apik, beberapa diantaranya masih meninggalkan jejak-jejak aslinya. Kami memasuki gedung Diorama pertama lebih dulu, kemudian dilanjutkan ke gedung Diorama kedua dan ketiga yang letaknya berdekatan.

10590572_10152578718643486_1462898725690208923_n 10487293_10152578725963486_901357223805082597_n

IMG_9253 (Copy)

IMG_9263 (Copy)

Kedua anak saya, Rizky dan Alya terlihat begitu antusias mulai dari mengamati diorama sejarah beserta penjelasannya, hingga kompak bermain game interaktif simulasi pertempuran di Maguwo. Pada gedung Diorama ketiga, kami melintasi simulasi perang gerilya yang menampilkan patung-patung pejuang kemerdekaan melawan pasukan penjajah Belanda. Saya begitu menikmati suasana tersebut apalagi sistem pencahayaan termasuk suara sangat mendukung dramatisasi kondisi yang dibangun. Setelah puas menikmati museum, kami duduk-duduk sejenak di halaman depan dengan barisan pepohonan rindang dan bangku taman yang nyaman.

Pukul 10.30 siang kami mengakhiri kunjungan di benteng Vredeburg dan beranjak pulang menuju hotel. Sebelumnya kami mampir sejenak membeli oleh-oleh kaos Dagadu di Posyandu (Pos Layanan Dagadu) di lantai dasar Malioboro Mall.

(Bersambung)


Related Posts
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (4) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI
obil yang kami tumpangi membelah malam menjelang subuh, pada hari Kamis (31/7). Didalam mobil yang dikendarai Ahmad, selain keluarga saya, terdapat pula keluarga mas Sukarjana. Rizky, Alya dan Alfi, masih ...
Posting Terkait
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI
esawat Citilink QG 102 yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Adisucipto Yogyakarta pukul 20.50 malam, hari Minggu (27/7). Meski telat sekitar 15 menit karena menanti giliran mendarat, disebabkan meningkatnya ...
Posting Terkait
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (3) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI
ekitar pukul 11.30 siang, Rabu (30/7), kami check-out dari hotel Malioboro Palace dan dengan menumpang taksi kami pulang ke Kuncen. Disana kami bertemu dengan kakak Ipar saya, mas Sukarjana yang ...
Posting Terkait
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (4) : DARI MUSEUM
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (3) : DARI MUSEUM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *