FILM “KARTINI” : TENTANG KEMERDEKAAN BERFIKIR & MELEPAS BELENGGU TRADISI

kartini4
Bila pekan lalu saya memenuhi janji anak sulung saya menonton film FF8 (sudah saya review filmnya disini), maka hari Minggu (23/4) siang, di bioskop yang sama, namun film yang berbeda, saya memenuhi janji putri bungsu saya Alya menonton film “Kartini” di Studio 3 Cinemaxx Theatre Orange County Cikarang.

Film biopik karya sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny memang sejak awal “menjanjikan” tontonan yang memikat lewat trailer film yang ditampilkan. Kisah fenomenal perempuan yang “harum namanya” ini mengangkat tema tentang upaya melepas belenggu tradisi wanita jawa di era 1900-an melalui pendidikan dan mengembangkan wawasan serta pergaulan lewat menulis atau membaca buku.

Kisah ini diawali dengan pergulatan batin sang Kartini kecil yang harus merelakan tidur terpisah dari sang ibunda Ngasirah (Nova Eliza) karena perbedaan strata sosial yang dimilikinya. Himpitan tradisi adat Jawa kuno yang mengharuskan perempuan saat melewati masa haid pertama harus dipingit sampai datangnya lelaki yang melamarnya untuk menjadikannya istri pertama, kedua bahkan ketiga membuat Kartini (Dian Sastrowardoyo) berontak dan berusaha melepaskan belenggu itu dengan caranya sendiri.

Sang kakak, RM.Sosrokartono (Reza Rahadian) yang bersekolah di Belanda membekali sang adik dengan buku serta literatur yang membuka wawasannya lebih luas. Perspektifnya dalam memahami kehidupan dan dunia di luar tembok pingitan berkelana jauh. “Tubuhmu boleh saja terkungkung, tapi fikiranmu harus tetap terbang sebebas-bebasnya,” ujar sang kakak Kartono sembari menyerahkan kunci lemari bukunya kepada sang adik sebelum berangkat ke negeri Kincir Angin.

Inspirasi dari sang kakak membuat Kartini bersemangat. Tidak hanya membaca, ia juga menulis artikel berbahasa Belanda bahkan salah satu diantaranya diterbitkan dalam jurnal berbahasa Belanda dengan menggunakan nama sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Dedy Sutomo). Kartini kemudian menjadi penulis handal dan kerap mengirimkan tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda, yaitu De Hollandsche Lelie.

kartini5

Kartini pun “menularkan” hobinya membaca dan menulis itu kepada kedua adiknya, Roekmini (Acha Septiarasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha). Ia bahkan membolehkan kedua adiknya memanggil namanya saja tanpa harus embel-embel gelar priyayi didepannya. Dengan gayanya yang santai, Kartini mendobrak tradisi feodal di “penjara” pingitan, tidak hanya dengan menulis artikel dan menulis surat kepada sahabat penanya Stella Zeehandelaar di Belanda, bahkan berani memanjat ke atas tembok keraton sambil ngemil kacang mede bersama kedua adiknya.

Kartini terlibat konflik dengan istri kedua ayahnya, Radeng Adjeng Moerjam (Djenar Maesa Ayu), terutama ketika sang adik Kardinah akan dinikahkan oleh seorang bangsawan Jawa yang sudah beristri. Hal serupa juga terjadi kembali ketika Kartini harus menjemput “takdir”-nya dengan menerima pinangan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat  (Dwi Sasono) sementara disaat yang sama ia menyaksikan kepedihan hati sang kakak, Sulastri (Adinia Wirasati) pulang ke rumah mereka karena kecewa sang suami menikah lagi. Kepada sang ibu, Ngasirah (Christine Hakim), ia mengungkapkan kegalauan hatinya, juga pemberontakannya.

kartini3

Karakter Kartini begitu hidup ditampilkan oleh Dian Sastrowardoyo dalam film yang rilis pertama kali 19 April 2017, dua hari sebelum peringatan hari kelahiran tokoh kebangkitan perempuan Indonesia tersebut. Gerak tubuh dan penghayatan bintang “Ada Apa Dengan Cinta” ini disajikan secara memikat, natural termasuk ketika berdialog lancar dalam bahasa Belanda maupun Jawa, pun ketika ia mengekspresikan “pemberontakan”-nya pada adat pingitan yang mengekang kemerdekaannya . Penampilan yang tak kalah menarik adalah sosok ibu Kartini, Ngasirah yang diperankan oleh bintang kawakan Christine Hakim.  Di film ini, Christine secara gemilang menghadirkan sosok ibu yang tangguh  dan tegar melindungi sang anak, sekaligus rapuh dan ringkih menghadapi tembok tradisi yang mengungkung.

kartini1

Harus diakui, membuat film biopik kerapkali dianggap membosankan, namun berkat kemampuan akting jajaran pemeran yang cemerlang serta “tangan dingin” sang sutradara Hanung Bramantyo, film tentang perempuan inspiratif dari Jepara ini jauh melampaui ekspektasi. Salah satu adegan yang menurut saya cukup “cerdas” dan memukau adalah ketika Kartini membaca novel dan disaat yang sama sang penulis novel itu berada disampingnya menjelaskan suasana pengadilan Belanda dimana pengacaranya adalah seorang perempuan. Sebuah terobosan imajinatif yang patut diapresiasi. Hanung pun secara konsisten menjaga ritme otensitas budaya lokal Jawa sepanjang filmnya dan memadukannya secara apik dengan ornamen masa kolonial Belanda.

kartini2

Suasana Jepara pada era tahun 1900-an nampak nyata seakan kita diajak “bertamasya” mengarungi mesin waktu ke masa itu.

Secara sinematografis, film “Kartini” menampilkan gambar-gambar indah nan mempesona, angkat jempol buat penata artistik Faozan Rizal yang sukses menyajikan atmosfer nuansa wilayah Jepara tempo doeloe. Dari sisi tata musik & suara, Andi Rianto dan Charlie Meliala berhasil membawa penonton pada suasana eksotisme dan romantisme budaya jawa masa silam.

Seusai menonton film ini, saya melihat ekspresi puas wajah putri saya, Alya yang katanya sangat terinspirasi pada film ini. Tiba-tiba saya membayangkan, ada sosok ibu Kartini tersenyum di depan sembari membaca salah satu tulisan pada suratnya pada Mevrouw Van Kol pada bulan Agustus 1901: “”…Our idea is open, as soon as we have the means, an institute for the daughter of native officials, where they will be fitted for practical life and will be taught as well the things which elevate the spirit, and ennoble the mind…”

 

Related Posts
FILM LEHER ANGSA : PADUAN KOMEDI & IRONI DARI KAKI GUNUNG RINJANI
ari Jum'at siang (28/6), saya memenuhi janji kepada putra tertua saya Rizky untuk menonton film "Leher Angsa" seusai 3 gigi susunya dicabut di Rumah Sakit Siloam Cikarang. Film ini ...
Posting Terkait
RESENSI BUKU “ARUS DERAS” : SENARAI KISAH TENTANG MISTERI CINTA DAN HIDUP YANG TAK MUDAH
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Arus Deras” Karya : Agnes Majestika, Ana Mustamin, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie Jumlah halaman : 172 halaman Penerbit : Kosa Kata Kita, 2017 ISBN : 978-602-6447-16-6 KETIKA buku ini tiba ...
Posting Terkait
REVIEW THE AVENGERS : MENIKMATI AKSI SUPERHERO YANG “HUMANIS”
abtu malam (5/5), bersama putra sulung saya, Rizky (9 tahun) berkesempatan menonton film The Avengers di Studio 2 Bioskop XXI Mall Lippo Cikarang. Sejak menonton trailer film ini di Disney ...
Posting Terkait
YANG “MELENGKING”DARI BLOGWALKING (23)
1. "Traffic Jam Reality Show" di Macet Lagi dot com Satu lagi berkah dari dunia internet. Situs MacetLagi dot com menyajikan sebuah informasi yang berbeda khususnya bagi para pengguna jalan khususnya di Jakarta ...
Posting Terkait
1. Situs Menulis Mudah Sangat menarik membaca tulisan-tulisan tentang kiat menulis di situs yang diasuh oleh Ersis W. Abbas di Banjarbaru, Kalsel, bersama Erwin D. Nugroho di Balikpapan, Kaltim ini. Patut ...
Posting Terkait
MENERANGI KOTA, MEMPERSEMBAHKAN SEMANGAT DAN SUKACITA
aat mengunjungi Bali untuk pertama kalinya pada bulan Februari tahun lalu dalam acara Employee Gathering kantor, saya senantiasa terpikat pada pemandangan malam kota ini. Saya masih ingat betul ketika itu, ...
Posting Terkait
MENYIMAK JOKOWI DALAM KONSTELASI PUSARAN PILPRES INDONESIA
Judul Buku : Indonesia Memilih Jokowi Penulis : Bimo Nugroho Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2014 Tebal : 236 Halaman ISBN : 978-602-03-0474-8 iruk pikuk kampanye Pilpres Indonesia 2014 sungguh ramai dan semarak. Tak ...
Posting Terkait
PETUALANGAN SERU WARTAWAN PEMBURU MUMI
nilah aksi “Tomb Rider” ala Perancis di awal abad 20-an! Demikian kesan saya seusai menonton “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” (selanjutnya disingkat menjadi “Adèle”) akhir pekan lalu. Film ini diadaptasi ...
Posting Terkait
RIVER’S NOTE : CATATAN REFLEKTIF SEORANG AYAH
Judul Buku : River's Note  Penulis : Fauzan Mukrim Penerbit : Noura Books Tebal  :  xii + 255 halaman Cetakan : Pertama, April 2012 Saat pertama kali membaca buku ini, ingatan saya melayang 10 tahun ...
Posting Terkait
SELAMAT DATANG MAKASSAR INTERNATIONAL WRITER FESTIVAL 2012 !
khirnya, pertemuan internasional penulis di Makassar (Makassar International Writer Festival) akan digelar juga untuk kedua kalinya mulai tanggal 13-17 Juni 2012 bertempat di Benteng Rotterdam. Seperti yang sudah ditulis pada ...
Posting Terkait
FILM LEHER ANGSA : PADUAN KOMEDI & IRONI
RESENSI BUKU “ARUS DERAS” : SENARAI KISAH TENTANG
REVIEW THE AVENGERS : MENIKMATI AKSI SUPERHERO YANG
YANG “MELENGKING”DARI BLOGWALKING (23)
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (7)
MENERANGI KOTA, MEMPERSEMBAHKAN SEMANGAT DAN SUKACITA
MENYIMAK JOKOWI DALAM KONSTELASI PUSARAN PILPRES INDONESIA
PETUALANGAN SERU WARTAWAN PEMBURU MUMI
RIVER’S NOTE : CATATAN REFLEKTIF SEORANG AYAH
SELAMAT DATANG MAKASSAR INTERNATIONAL WRITER FESTIVAL 2012 !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *