AHA MOMENTS SKYSCANNER : APRESIASI KEARIFAN LOKAL, KEHANGATAN KOLEGIAL DAN BELAJAR HAL BARU

CSoNwZPUAAAWSl_

“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson

Benar adanya apa yang diungkapkan oleh Samuel Johnson (1709-1784), penulis dan kritikus besar sastra Inggris ini. Perjalanan itu tak sekedar “bertahta” dalam angan-angan belaka, tapi merasakan langsung sensasi yang ada sepanjang perjalanan itu sendiri adalah esensi sesungguhnya. Bagi saya, mengunjungi tempat-tempat baru unik dan eksotik, membawa spektrum pengalaman baru yang menyenangkan dalam rekam jejak sepanjang kehidupan saya.

Masih terbayang di benak, apa yang pernah terjadi saat saya masih kecil dulu, 37 tahun silam. Salah satu buku favorit saya waktu itu adalah buku “Atlas Persada dan Dunia”. Dengan gairah meletup-letup, antusias dan bersemangat, saya senantiasa membolak-balik buku yang memuat perspektif peta dunia tersebut tanpa bosan sembari membangun imajinasi kelak akan mengunjungi kota-kota indah di seantero dunia, jauh dari rumah saya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tak jarang, dengan tangan mungil seorang murid SD kelas 6 saya mengukur jarak lokasi kota yang menjadi impian saya itu dengan serius.

“Oh, kalau ke Jepang hanya 5 jengkal dari rumah. Tidak jauh kok. Paling jalan kaki 5 hari sudah sampai,” gumam saya senang dengan membayangkan jarak 5 jengkal tangan setara dengan 5 hari perjalanan saja ke negeri Matahari Terbit tersebut. Di waktu yang lain, karena begitu kepingin melihat binatang Kanguru, saya mengukur dengan jengkal tangan jarak ke Australia dari rumah saya sembari berharap, sometime, someday, bisa kesana. Geli rasanya mengenang kembali saat-saat itu.

Impian saya ke Jepang akhirnya terwujud setelah 16 tahun kemudian. Ketika itu, selama sebulan di bulan November 1996, saya mengikuti training di Kyoto sebagai karyawan baru di PT Matsushita Semiconductor Indonesia. Betapa senangnya saya, sampai-sampai, secara norak tanpa diketahui teman-teman yang mengikuti training tersebut, saya menyempatkan diri untuk cium tanah tak jauh dari hotel tempat kami menginap, lalu setelah itu berjingkrak-jingkrak riang. Saya sempat tertawa terpingkal-pingkal sendiri, ternyata ke Jepang jaraknya berjuta kali lipat dari jangkauan jengkal tangan mungil saya waktu kecil.

Walau memang tak bertemu dengan binatang Kanguru yang saya impikan, perjalanan saya ke Perth, Australia empat tahun silam dalam rangka pelatihan sistem ERP baru di Cameron Services International akhirnya terwujud. Dari kamar hotel Fraser Suites tempat saya menginap, saya menatap nanar keluar jendela lebar di sisi tempat tidur. Tak terasa mata saya basah. Apa yang saya bayangkan dulu, ketika semuanya hanya sebatas angan-angan, akhirnya menjadi kenyataan. Sensasinya sungguh menggetarkan hati.

Menjelajahi tempat-tempat baru, jauh dari rumah lalu merasakan aura dan suasana yang ada disana tak sekedar menghadirkan “relaksasi” di hati, namun ada sejumlah “Aha Moments!” yang membuat perjalanan lebih terasa bermakna dan bernilai. Saya menyajikannya beberapa hal itu dibawah ini:

Apresiasi Kearifan Budaya Lokal

 “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

Pernahkah anda membayangkan menyaksikan pertunjukan seni tari di tengah sawah ketika malam mulai mendekati puncaknya? Saya sendiri tidak pernah membayangkan itu sebelumnya. Dan ketika itu benar-benar terjadi saat saya menjadi salah satu pemenang lomba blog Mahakarya Indonesia 2013 dan mendapatkan hadiah Cultural Trip ke Madura, semua seperti mimpi adanya.

Malam itu, jelang akhir Desember 4 tahun silam, bersama para pemenang Lomba Blog Mahakarya Indonesia 2013 serta jajaran media, kami menyaksikan pertunjukan tarian topeng yang berlokasi di Selopeng sekitar 15 km dari hotel kami menginap. Sekitar pukul 20.30 malam, rombongan kami tiba. Rupanya daerah tempat pelaksanaan acara ini berada di pelosok desa dan diselenggarakan di tengah sawah. Mobil kami melintasi jalan kecil di kampung yang gelap dan hanya pas untuk dilewati satu mobil saja. Sama sekali tak bisa dilalui bila berpapasan dengan kendaraan dari arah depan. Perhelatan akbar ini dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai ekspresi rasa syukur dan selamatan memasuki musim penghujan.

DSCN7584

Untuk menuju ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang agak basah dan becek. Sebuah panggung besar terpacak megah dengan tulisan besar “Rukun Perawas” pada bagian atasnya. Tepat didepan panggung sejumlah pemusik gamelan siap mengiringi tarian. Rencananya, tepat pukul 22.00 malam acara akan dimulai dengan 16 babak pertunjukan semalam suntuk (hingga pukul 04.00). Para penonton yang terdiri dari masyarakat seputar desa Selopeng mulai ramai berdatangan. Pesta rakyat setahun sekali ini memang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sebagai sarana hiburan di kampung. Saya bersama teman-teman kemudian menuju ke belakang panggung menyaksikan persiapan pertunjukan.

DSCN7594

Dibelakang panggung nampak 2 orang penari lelaki sedang ber-make-up disaksikan sejumlah orang. Disamping kedua penari ini, ditata rangkaian jenis topeng yang akan dipakai untuk menari nanti. Topeng dipahat dari balok kayu untuk mendapatkan bentuk muka,hidung,mata dan sebagainya kemudian digambar dan diukir mengikuti pola gambar dengan piol (celurit mini), kemudian proses penghalusan dan pengecatan. Watak tokohnya tergambar dari motif gambar di topeng. Misalnya, watak halus digambarkan dengan mata yang sipit, watak keras dengan mata yang lebar, sementara topeng dengan warna dasar merah menggambarkan watak jahat dan warna putih untuk watak baik. Warna dasar lain juga ada misalnya warna hijau untuk kaum Janoko atau satria dan warna hitam untuk tokoh suci atau para dewa.

DSCN7565

DSCN7557

Kami lalu mendengarkan cerita Pak Merto seorang Maestro seni wayang topeng Sumenep yang berusia 50 tahun. Beliau bercerita bahwa grup tari topeng Rukun Perawas ini beranggotakan 35 orang yang terdiri atas penari, grup musik gamelan (pengrawit) dan kru panggung. Rukun Perawas berdiri sejak tanggal 9 September 1659. Pada setiap pertunjukan grup ini membawa 43 topeng untuk dipentaskan, 6 topeng diantaranya merupakan topeng tua yang usianya sudah ratusan tahun. Pak Merto mengaku membuat topeng untuk keperluan grup tarinya ini sendiri, bersama sang sepupu Pak Soleh. Khusus kepada topeng warisan, Pak Merto melakukan perlakuan spesial dengan ritual mengasapi topeng tersebut setiap malam selasa dan malam jum’at.

Tanpa terasa pertunjukan pun dimulai. Saya dan kawan-kawan bergegas menuju depan panggung dan ikut berbaur bersama penonton sambil duduk lesehan diatas tikar yang disediakan. Lampu diredupkan. Suara membahana sang presenter terdengar dari sound system canggih yang dipasang disekeliling panggung. Yang menarik adalah, efek cahaya warna-warni yang dipancarkan ke arah panggung berasal dari proyektor yang dikendalikan oleh laptop oleh operator yang duduk di dekat kami. Sungguh sebuah paduan mengagumkan antara seni tradisional dan teknologi komputer ?

DUERR !! . Tiba-tiba kami semua tersentak kaget. Suara petasan menggelegar seiring suara bariton sang presenter selesai menyampaikan acara. Saya sempat mengelus dada terkejut dan saya melihat kawan-kawan saya yang lain tertawa terpingkal-pingkal dibelakang menyaksikan kehebohan pengantar pertunjukan ini. Iringan musik gamelan terdengar kian cepat. Layar pertunjukan terangkat perlahan-lahan. Tarian pertama berjudul Gambu Tameng dipertunjukkan oleh seorang penari Pria dengan luwes dan gagah. Disusul kemudian tari Klono yang menampilkan dua penari pria dengan gerakan lebih atraktif dan dinamis.

Saya terpukau menyaksikan pertunjukan tari topeng Rukun Perawas ditengah sawah ini. Saat melirik kesamping, saya melihat seorang lelaki tua dengan pakaian batik, kopiah dan sarung begitu serius menyaksikan adegan-adegan diatas panggung, nyaris tak berkedip. Setiap pergantian tari, kembali sang presenter dengan suara yang cettar membahana plus ledakan petasan yang mengakhirinya, menceritakan secara singkat tarian yang akan dipersembahkan. Biasanya narasi disampaikan dalam bahasa Madura, namun karena kehadiran kami dari luar daerah, narasi cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia.

Saya sangat mengapresiasi kearifan dan keunikan budaya lokal yang saya alami langsung dalam setiap perjalanan. Pada acara Cultural Trip Madura empat tahun silam, saya menyaksikan dengan takjub keluhuran budaya asli lokal Madura mulai dari seni hingga kulinernya. Di pertunjukan tari Rukun Perawas saya takjub bagaimana masyarakat setempat menjaga akar budayanya dengan kuat dan konsisten meski didera kemajuan teknologi digital yang maju pesat. Saya melihat keindahan batik Gentongan di Tanjung Bumi yang dibuat dengan tekun serta teliti serta kemegahan Keraton Sumenep dengan keagungan filosofi makna dibalik keindahan arsitekturnya.

Pada perjalanan saya ke tempat-tempat lainnya juga seperti itu. Kearifan Lokal yang direfleksikan melalui berbagai artefak-artefak budaya serta pertunjukan seni membuat saya berkontemplasi sejenak bahwa, dalam banyak hal, warisan budaya kita sungguh kaya dan mengandung makna sejarah serta filosofi yang tinggi dan sangat layak untuk dilestarikan.

Kehangatan Interaksi Kolegial

madura65

“The more I traveled the more I realized that fear makes strangers of people who should be friends.” – Shirley MacLaine

Pertemuan dengan kawan-kawan baru dan menikmati setiap interaksi yang terjadi bersamanya sepanjang perjalanan, senantiasa saya syukuri dan nikmati sebagai sebuah berkah tak terhingga. Kehangatan kolegial yang terbentuk membangun kekompakan dan membuat kami merasa senasib dalam nuansa solidaritas dan kesetaraan suasana.

Saat ke Jepang 21 tahun silam, saya dan 4 orang kawan justru menikmati saat-saat ketika kami nyasar tak bisa kembali ke hotel ketika nekad jalan-jalan ke pusat kota di akhir pekan. Awalnya, kami saling berpandangan bingung, apalagi tak ada satupun diantara kami bisa berbahasa Jepang (selama training di negeri Sakura, perusahaan menyiapkan penerjemah khusus untuk kami). Setelah kami terdiam antara rasa takut, panik dan pasrah tiba-tiba akhirnya tertawa bersama dan bertekad mencari solusi terbaik bersama bagaimana bisa kembali ke hotel tanpa masalah berarti serta mengeluarkan ongkos yang banyak.

DSCN8955

Ketika menjadi pemenang lomba menulis Jelajah Gizi Bali dua tahun lalu, kehangatan interaksi kolegial terjalin baik antar para peserta. Walau berasal dari beragam latar belakang, baik blogger maupun awak media, menjalin komunikasi dan persahabatan dengan baik dan kompak, termasuk ketika mengikuti lomba-lomba meriah yang diselenggarakan panitia.

IMG_0913

Momen-momen seperti ini justru merekatkan hubungan persahabatan selama melakukan perjalanan bersama teman-teman. Berkenalan dengan kawan-kawan baru termasuk menjalin interaksi dengan orang-orang diluar semesta persahabatan itu sendiri pada lokasi tempat berkunjung, sungguh memberikan kekayaan batin luar biasa karena membuka cakrawala jaringan yang lebih luas dan terbuka. Kami bisa saling bercerita dan berbagi pengalaman, tanpa perlu didera rasa canggung. Kehangatan interaksi kolegial inilah yang membuat setiap perjalanan menjadi terasa sangat berarti.

Belajar Hal Baru

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

Melakukan perjalanan, bagi saya, tak sekedar sebuah aksi menjalani sebuah waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi juga sebuah kesempatan belajar hal-hal baru. Salah satu contohnya adalah ketika saya mengunjungi sentra pengrajin keris tradisional di Desa Aeng Tong-Tong, Madura 4 tahun silam, sebagai rangkaian acara Cultural Trip Mahakarya Indonesia.

Kami mendengarkan penjelasan dari bapak Fathur Rahman sebagai koordinator paguyuban pengrajin keris Mega Remang, Desa Aeng Tong-Tong. Filosofi nama paguyuban ini diambil dari legenda masa lalu Madura yakni nama Kuda Terbang yang dikendarai oleh ksatria Joko Tole. Sentra produksi Keris di Sumenep ini termasuk yang terbesar di Indonesia dan secara turun temurun diwariskan sejak 3 abad silam. Menurut beliau sentra produksi Keris di Sumenep tersebar di 3 kecamatan yaitu Bluto, Saronggi, dan Lenteng. Di 3 kecamatan tersebut menyebar pada 14 desa. Khusus di kecamatan Bluto sendiri terdapat 345 perajin, di kecamatan Saronggi terdaftar perajin mencapai 169 orang. Di Lenteng umumnya dilakukan proses Penempaan awal (kodo’an) yang merupakan cikal bakal bahan keris. Pandai besi disana melaksanakan penempaan dengan cara tradisional.

Adalah Pak Morkak yang menjadi inspirator berkembangnya pelestarian kerajinan keris di daerah ini dengan “menyambungkan” pengetahuan pembuatan keris dari empu-empu terdahulu dengan generasi sekarang sejak tahun 1963 di desa Aeng Tong-Tong. Perkembangan industri Keris kian maju pesat. Berkat jasa beliau, akhirnya oleh Kementerian Kebudayaan dan Industri Kreatif, pada tanggal 30 November silam dinobatkan sebagai maestro keris Indonesia.

DSCN7743

Keris Madura memiliki lok atau lekuk sejumlah 3 sampai 17. Bahkan ada pula yang mencapai 99 lok. Paling digemari keris dengan 11 atau 13 lok. Sangat berbeda dengan keris Jawa yang bermotif polos dan tak banyak ukiran, keris Madura justru begitu sarat dengan ukiran indah baik di besi kerisnya sendiri hingga warangka (gagang) maupun sarungnya.

Saya terkagum-kagum menyaksikan lekuk keris Madura dengan ukiran indah pada tepian gagangnya, termasuk sepuhan emas berkilau pada tangkai keris. Saya membayangkan tingkat kesulitan pembuatannya yang tentu membutuhkan keterampilan tersendiri.Warangka atau gagang bisa terbuat dari kayu atau gading. Pak Fathur Rahman menunjukkan beragam gaya keris yang dibuat pengrajin disana, mulai dari gaya Bali, Mataram hingga Bugis. Kreatifitas mereka dalam membuat keris sungguh memukau.

DSCN7774

Ukiran yang tersaji sangat halus dan dibuat dengan kualitas tinggi. Tak heran bila keris buatan pengrajin disini memiliki harga yang mahal dan laris hingga ke pasar mancanegara. Semakin detail dan sulit pengukirannya termasuk sentuhan akhirnya, maka kian mahal pula harganya. Banyak kolektor keris memesan sendiri desain dan sentuhan akhir sesuai keinginannya, misalnya pada bagian gagang mesti dilapisi emas 22 karat atau 24 karat.

DSCN7790

Saya bersama rombongan kemudian menyaksikan langsung 4 perajin keris di desa tersebut sedang bekerja. Mereka mengerjakannya secara manual dan sesekali dibantu oleh mesin gerinda penghalus jika dibutuhkan. Saya melihat salah seorang pembuat keris mengerjakan dengan tekun ukiran pada gagang keris secara terperinci hingga garis-garis terkecil dengan pahatnya. Pembuatan keris kerapkali melalui ritual tersendiri. Bila seseorang memesan keris maka biasanya diminta tanggal lahirnya agar kelak bisa dilakukan “sinkronisasi” batin dengan keris yang dipesannya itu.

Saya sama sekali tidak membayangkan sebelumnya pada sebuah kesempatan dapat belajar dan menyaksikan langsung proses pembuatan keris tradisional secara langsung di lokasi sentra pengrajinnya. Memahami betapa sulit dan panjang proses pembuatan keris tradisional membuat saya tahu dan sadar, bahwa mereka, para pengrajin, lebih dari sekedar menempa dan mengukir keris dengan indah, tapi juga menjaga tradisi dan warisan leluhur.

Menggapai Kebahagiaan Perjalanan Bersama Skyscanner

Merencanakan perjalanan di era kemajuan dunia digital saat ini semakin mudah, cepat dan murah. Kebahagiaan menikmati perjalanan bersama kawan-kawan dan orang-orang tercinta dapat kita rancang lebih awal dengan menggunakan situs Skyscanner.  Pada aplikasi pencarian tiket pesawat murah maupun tiket pesawat promo ini, kita bisa merencanakan perjalanan dengan mendapatkan harga tiket berharga sangat kompetitif melalui cara membandingkannya dengan tawaran harga dari ratusan situs web yang menjual tiket pesawat lainnya.

Skyscanner mengakomodirnya dengan baik, bahkan kita bisa menjadwalkan pembelian tiket pada bulan yang menawarkan harga termurah dan sesuai dengan rencana perjalanan kita. Fitur-fitur yang ditawarkan juga sangat interaktif dan memberikan kemudahan bagi para penggunanya. Tak hanya tiket pesawat murah, namun aplikasi Skyscanner juga menawarkan harga hotel dan sewa mobil.

Nah..mari nikmati setiap lintasan perjalanan, raih inspirasi dan kebahagiaan lewat menghayati keindahan kearifan lokal, kehangatan interaksi kolegial sembari belajar hal-hal baru ! 

Related Posts
PURI DAN JEJAK EPILOG INDAH YANG DITINGGALKANNYA
Kesedihan itu datang mendadak tadi pagi.Saat membuka halaman facebook saya, mendadak tatapan saya mengarah pada sebuah catatan pesan seorang kawan tentang berpulangnya Puri, salah satu penulis Kompasiana yang baru saja menambahkan saya ...
Posting Terkait
 Duka kembali merebak pada bangsa ini yang baru usia menyelenggarakan Pemilihan Capres/Cawapres pada periode 5 tahun mendatang. Seperti sudah diberitakan sejumlah media online hari ini, sebuah ledakan dashyat terjadi di ...
Posting Terkait
MALAIKAT JUGA TAHU, SIAPA YANG JADI JUARANYAA..
Saya sudah memiliki reputasi tersendiri sebagai seorang tukang jahil. Waktu masih sekolah dulu, beberapa kali saya melakukan aksi-aksi usil yang menyebabkan seseorang jadi korban. Tapi kadang-kadang juga justru malah saya yang ...
Posting Terkait
MENULIS, BLOGGING DAN PERGAULAN VIRTUAL
“Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go.” E. L. Doctorow quotes (American Author and Editor, b.1931) Taken from : www.thinkexist.com/quotation   MENULIS sudah menjadi bagian dari hidup ...
Posting Terkait
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya. Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
PENDEKATAN HOLISTIK UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
Pelepasan burung merpati oleh perwakilan komunitas Blogger seluruh Indonesia dalam acara Amprokan Blogger 2011 di Botanical Garden Kota Jababeka Cikarang, seusai mengunjungi pohon yang ditanam setahun sebelumnya pada event yang ...
Posting Terkait
BRIPTU NORMAN, PIYO-PIYOHU NGANA UTI ?
Tune, Piyo-Piyohu Ngana Uti ? emikian ucapan yang kerap saya dengar dari ayah saya di Makassar pada ujung telepon saat menanyakan kabar saya bersama keluarga di Cikarang. Ucapan dalam bahasa ...
Posting Terkait
BANK MANDIRI : MERENTANG HARAPAN, MENISCAYAKAN IMPIAN
da begitu banyak ekspektasi yang berkembang di benak saya dan istri seusai menikah di tahun 1999. Salah satunya yang begitu dominan adalah keinginan memiliki rumah sendiri, dan tak perlu lagi ...
Posting Terkait
MERAWAT BANGSA, BUKAN DENGAN SLOGAN (Kompas Siang,14 Agustus 2013)
Catatan: Ini adalah kali kedua tulisan saya dimuat di rubrik FORUM Kompas Siang, setelah sebelumnya dimuat tanggal 6 Agustus 2013 (baca disini) Saya kembali menulis dan dimuat di rubrik yang sama di ...
Posting Terkait
KERJA BAKTI DI MARKAS CIMART
  Para anggota UB Cimart berfoto bersama di depan "Markas" (foto by Pak Eko Eshape) Hari Minggu kemarin (29/3) saya menghadiri acara kerja bakti di "Markas" dan juga toko sekaligus silaturrahmi ...
Posting Terkait
PURI DAN JEJAK EPILOG INDAH YANG DITINGGALKANNYA
LEDAKAN BOM TERJADI LAGI DAN DUKA KEMBALI MEREBAK…
MALAIKAT JUGA TAHU, SIAPA YANG JADI JUARANYAA..
MENULIS, BLOGGING DAN PERGAULAN VIRTUAL
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
PENDEKATAN HOLISTIK UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM
BRIPTU NORMAN, PIYO-PIYOHU NGANA UTI ?
BANK MANDIRI : MERENTANG HARAPAN, MENISCAYAKAN IMPIAN
MERAWAT BANGSA, BUKAN DENGAN SLOGAN (Kompas Siang,14 Agustus
KERJA BAKTI DI MARKAS CIMART

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *