MENGENANG TANTE TIA, KEMBANG DI PEKARANGAN DAN KUE TITIPAN UNTUK SANG CUCU

Ibu saya dan Tante Tia (duduk)
Kabar duka yang tiba di pagi nan teduh, Kamis (5/10) sungguh membuat hati saya terguncang hebat dan nyaris tak percaya. Tante Tia, istri tercinta dari paman saya Miki Igirisa (adik ibu), meninggal dunia karena sakit mendadak di Maros, Sulawesi Selatan. Tanpa terasa pelupuk mata saya basah. Terkenang kebaikan beliau yang tak terlupakan.

“Kapan pulang ke Jakarta, nak? Ada titipan kue buat cucu-cucuku di Cikarang. Nanti kita ketemu saja di Bandara, Tante Tia dan Aba Miki bawa kuenya kesana ya dari Maros. Tunggu kita diluar, jangan masuk check-in dulu,” demikian suara empuknya terdengar di ujung telepon. Saya memang selalu pulang ke Makassar untuk urusan pekerjaan maupun memenuhi undangan sebagai narasumber workshop atau seminar blog, dan setiap kali beliau tahu saya datang, tak pernah lupa beliau menitipkan oleh-oleh kue buatan sendiri buat kedua anak saya. Terkadang saya merasa tidak enak hati, karena telah merepotkan beliau. “Tidak merepotkan ji ini, nak. Ini sebagai ganti diri kami buat anak-anakmu disana. Tante Tia sengaja bikinkan ini buat mereka. Jangan kamu tolak,”sergah Perempuan Kelahiran Bantaeng 61 tahun silam itu sembari tersenyum lalu mengangsurkan bungkusan kue. Sebentuk perhatian sederhana seperti ini dari sosok Tante Tia yang selalu saya rindukan.

Perayaan ulangtahun Perkawinan ke-25 Tante Tia dan Aba Miki, 2 Mei 2017 di Maros

Pada saat sang putri tunggalnya, Rachmi, mengikuti pelatihan karyawan Telkomsel di Bandung, 3 hari sebelum beliau berpulang, Tante Tia masih sempat membuatkan kue buat adik saya Budi, yang kebetulan sedang tugas di kota kembang tersebut. Sayangnya, Budi mendadak ada penugasan ke Jakarta dulu dari Balikpapan sebelum berangkat ke Bandung dan baru kesana hari Jum’at (6/10) kemarin. Tak ayal, kue yang dititipkan Rachmi di resepsionis hotel tempat Budi menginap di Bandung menjadi kue terakhir buatan tangan Tante Tia.

Kue terakhir buatan Tante Tia buat Budi, adik saya, yang dititipkan lewat sang putri yang mengikuti pelatihan karyawan Telkomsel di Bandung

Budi menangis terharu saat menerima kue titipan tersebut dari resepsionis hotel. Dia membayangkan bagaimana tangan lembut Tante Tia membuatkan kue untuknya dan sang putra Raihan di Balikpapan. “Tak tega rasanya memakan kue ini dan akan saya jadikan kenang-kenangan terindah dan terakhir dari Tante Tia,” ujarnya dengan nada sendu.

Saya ingat kue seperti itu pulalah yang kerap Tante Tia persembahkan buat kedua anak saya, Rizky dan Alya. Beliau senantiasa memberikan nasehat kepada saya untuk selalu berbuat baik kepada sesama, terlebih kepada keluarga sendiri.

“Saya selalu memelihara prasangka baik dalam setiap menjalin pergaulan dengan siapapun, nak. Manusia tidak dapat mengukur kedalaman hati kita. Semua kembali ke niat kita. Walaupun kita berbuat dengan tulus dan ikhlas, bukan tidak mungkin ada yang berpendapat berbeda. Tak perlu cemas, Allah SWT Maha tahu apa yang ada di balik setiap perbuatan yang kita lakukan. KepadaNya kita harus selalu berserah diri dan pasrah,”katanya pada saat pertemuan kami terakhir saat saya pulang ke Makassar merayakan 50 tahun usia pernikahan orang tua saya, akhir Maret lalu. Waktu itu Tante Tia dan Aba Miki serta Rachmi yang bermukim di Maros mengantar saya ke Bandara Sultan Hasanuddin untuk pulang kembali ke Jakarta.

Kembang yang menghiasi kuburan Almarhumah Tante Tia dari para pelayat yang hadir saat dimakamkan, Kamis sore (05/10)
Foto terakhir saya bersama Tante Tia dan para ponakan seusai acara perayaan ulangtahun perkawinan ke-50 kedua orang tua saya di Makassar, Maret 2017
Aba Miki, adik ibu saya, duduk mendoakan sang istri tercinta di depan pusara Tante Tia, Kamis sore (5/10)

Tante Tia adalah sosok yang tekun dan rajin dalam merawat tanaman. Di pekarangan rumahnya di Maccopa, Maros, kembang tumbuh dengan indah, rapi dan tertata. Apalagi sejak pensiun sebagai pegawai negeri Dinas Pertanian Kabupaten Maros, beliau semakin intens merawat kembang kesayangannya. Saat kami sekeluarga kesana akhir tahun silam, istri saya sempat diberikan bibit tanaman kembang untuk ditanam di halaman rumah saya.

Pukul 16.30 jenazah almarhumah Tante Tia dikuburkan di Kompleks Pemakaman “Rumah Masa Depan”, Antang Makassar. Tak ada lagi senyum tulus Tante Tia menitipkan kue-kue buatan sendiri untuk cucu-cucunya di Cikarang, juga tangan-tangan tulus dan cekatan yang dengan telaten merawat kembang nan indah di pekarangan. Semoga Allah SWT menerima segala amal baik dan memberikan tempat terbaik buat arwah Tante Tia disisiNya dan segenap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan. Aamiin..

 

 

 

 

Related Posts
PERAYAAN 50 TAHUN USIA PERNIKAHAN AYAH BUNDA
Hari Minggu (26/3) kediaman orang tua saya di Bumi Antang Permai terlihat begitu meriah. Sebuah tenda besar berdiri dengan jajaran kursi 200 buah terhampar di depan rumah. Seketika semangat saya ...
Posting Terkait
Bersiap berangkat mudik ke Yogya bersama Toyota Rush, Rabu,8 September 2010
Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu.  Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai ...
Posting Terkait
MEMPERKENALKAN : DAENG GAMMARA DOT COM
Hari ini, saya meluncurkan secara resmi blog baru anak saya, Muhammad Rizky Aulia Gobel, www.daenggammara.com (Gammara dalam bahasa Makassar berarti Tampan atau Ganteng). Blog ini diniatkan sebagai kelanjutan dari blog ...
Posting Terkait
FOOD REVOLUTION DAY 2014 : MENGANGKAT CITRA HANDAL KULINER NUSANTARA
ari Minggu (18/5) kemarin, saya bersama keluarga diundang oleh Yayasan Omar Niode untuk menghadiri acara Food Revolution Day 2014: Local Culinary Delicacy Kuliner Gorontalo, yg diadakan di Cook Shop Jl.Hang ...
Posting Terkait
MEMBANGUN SILATURRAHMI DENGAN BUKA PUASA BERSAMA WARGA
"Buka Puasa Bersama warga Jl.Antilop V Blok H 3 dan I 1 Cikarang Baru ini adalah sebuah upaya untuk membangun silaturrahmi penuh nuansa kekeluargaan. Bagaimanapun keluarga terdekat kita saat ini ...
Posting Terkait
SMES MAUT SI ATLET MONTOK MENGGEMASKAN !
  Minggu malam (21/2) saya berkesempatan kembali menjajal kemampuan lama saya sebagai pemain tenis meja dalam rangka pertandingan olahraga memperingati HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2009 mewakili RT 02 melawan RT ...
Posting Terkait
TENTANG CINTA PERTAMA, SEBUAH KENANGAN TAK TERLUPAKAN
Kau datang membawa Sebuah cerita Darimu itu pasti lagu ini tercipta Darimu itu pasti lagu ini tercipta Dari jendela kelas yang tak ada kacanya Tembus pandang kekantin bertalu rindu Datang mengetuk pintu hatiku (Iwan Fals, "Jendela Kelas ...
Posting Terkait
KETIKA RIZKY DAN ALYA NAIK PENTAS SENI GALAKSI
ebyar Aktifitas Lakon dan Kreatifitas Siswa (Galaksi) kembali digelar di SDIT An Nur Cikarang, Sabtu (29/3). Kedua anak saya Rizky (kelas 5) dan Alya (kelas 3) dengan antusias mengikuti kegiatan ...
Posting Terkait
FOTO KELUARGA DAN UPAYA MENGABADIKAN KENANGAN
emarin sore (15/1), kami sekeluarga berfoto bersama di sebuah studio foto di Mal Lippo Cikarang. Ini adalah kali kedua kami sekeluarga berfoto di studio foto setelah sebelumnya pada tahun 2007 ...
Posting Terkait
DAN DIA ADALAH, RARA..
Perhelatan akbar Blogger Seluruh Indonesia, Pesta Blogger 2010, memasuki tahap-tahap penting : Penentuan sang Ketua Panitia kopdar akbar yang tahun silam dihadiri oleh 1300 orang itu. Di berbagai situs jejaring sosial, ...
Posting Terkait
PERAYAAN 50 TAHUN USIA PERNIKAHAN AYAH BUNDA
KISAH MUDIK 2010 (1) : MENIKMATI PERJALANAN DENGAN
MEMPERKENALKAN : DAENG GAMMARA DOT COM
FOOD REVOLUTION DAY 2014 : MENGANGKAT CITRA HANDAL
MEMBANGUN SILATURRAHMI DENGAN BUKA PUASA BERSAMA WARGA
SMES MAUT SI ATLET MONTOK MENGGEMASKAN !
TENTANG CINTA PERTAMA, SEBUAH KENANGAN TAK TERLUPAKAN
KETIKA RIZKY DAN ALYA NAIK PENTAS SENI GALAKSI
FOTO KELUARGA DAN UPAYA MENGABADIKAN KENANGAN
DAN DIA ADALAH, RARA..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *