SETAHUN SETELAH AYAH PERGI..
Membaca kembali tulisan saya setahun silam, membuat mata saya basah. Sepagi ini.
Entahlah, mengapa saya tiba-tiba jadi sangat sentimentil, terutama mengenang almarhum ayahanda tercinta.
Sebagai anak lelaki tertua dari empat bersaudara, dimata ayah, saya menjelma menjadi sosok yang senantiasa menjadi harapan beliau, tak hanya sebagai teladan bagi ketiga adik saya, namun juga setidaknya mewarisi semangat dan daya juang beliau mengarungi kehidupan yang kian tak mudah, terutama kelak saat beliau berpulang.
Dalam berbagai kesempatan pertemuan, ayah selalu mengingatkan saya tentang betapa pentingnya posisi sebagai anak lelaki tertua. Sama seperti beliau yang mengayomi dan melindungi adik-adiknya, sebagai anak sulung.
“Kamu anak laki-laki papa yang tertua, tunjukkan ketangguhanmu menghadapi masalah. Jangan cengeng. Sekali melangkah, pantang mundur kebelakang. Jangan menyerah. Jangan mengeluh. Kamu akan jadi contoh terbaik untuk adik-adikmu,”kata ayah saat kami bercakap berdua di teras depan rumah sekitar sepuluh tahun silam saat saya pulang ke Makassar.
Saya ingat ketika itu, beliau menepuk pundak saya pelan kemudian bertutur kisahnya saat merantau naik kapal kayu dari Gorontalo ke Makassar. Kami larut dalam percakapan bernuansa nostalgia, ditemani kopi dan kue popolulu khas Gorontalo buatan ibu.
Beliau bercerita perjuangan kami sekeluarga saat di Bone-Bone dulu (baca kisahnya disini), ketika gaji ayah datang terlambat dan kami makan ketela rambat rebus atau singkong goreng serta aneka sayuran yang ditanam di kebun belakang rumah dengan riang gembira serta kebahagiaan yang meluap-luap.
Saya ingat bagaimana saya dan adik saya Budi, menarik batang pohon singkong dengan susah payah sampai kemudian berhasil mencabutnya hingga kami terjengkang ke belakang. Kami tertawa terpingkal-pingkal dan sungguh, ini menjadi pengalaman masa kecil yang indah tak terlupakan.
Ayah dan ibu tak pernah sekalipun memperlihatkan kesedihan atas kesusahan hidup yang kami alami disana. Ibu mendukung ayah dengan menerima order jahitan dari tetangga-tetangga. Dengan tabah, mereka berdua mengajak kami, keempat anaknya untuk menikmati segala keterbatasan yang ada dengan rasa syukur.
Ayah memiliki “tangan dingin”, tumbuhan apapun yang ditanamnya pasti akan tumbuh subur. Kebun kami dibelakang rumah dirawat ayah dengan tekun dan penuh semangat. Saya yang masih bersekolah di kelas 5 SD waktu itu, kerap ikut membantu beliau membersihkan rumput dan semak-semak di sekitar kebun.

Saat malam menjelang, kami berkumpul di teras seraya menyaksikan kunang-kunang menghiasi rimbun pepohonan akasia dengan latar pegunungan Velbeek. Ibu bercerita tentang kegiatannya hari itu juga pengalaman-pengalaman masa lalunya dan ayah mendengarkan dengan sesekali menyeruput kopi, bersama kami berempat yang menyimak di atas tikar pandan. Sesekali ayah bersenandung lagu dari penyanyi idolanya, Tom Jones atau Engelbert Humperdinck.
Saat pulang ke Makassar dan menjenguk ayah yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit Mitra Husada tahun lalu, saya mengelus tangannya yang kasar permukaannya serta membayangkan, tangan itulah yang kokoh menggenggam cangkul saat kami di Bone-Bone, menata dan memelihara kaktus di taman kecil depan rumah kami serta memperbaiki dinding rumah Perumteks kami di Maros.
Saya bersyukur, dapat menghadiri pemakaman ayah bahkan mengantarkan beliau hingga ke liang kubur, tempat peristirahatannya yang terakhir, Senin, 12 Juli 2022. Saat mengumandangkan adzan sebelum jasad ayah ditutupi tanah, keharuan terasa begitu meledak didada saya hingga tenggorokan saya tercekat.
Hari ini, setahun setelah ayah berpulang, keharuan kembali menyesak didada. Terkenang kembali ketegasannya, kebaikannya, kepeduliannya, suara baritonnya, semangatnya dan kehangatannya yang penuh cinta mengayomi kami semua.
Semoga arwah ayahanda tercinta diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah SWT..
Aamiin YRA.
Miss you dad..
Ya Allah… semoga beliau diterima segala amalnya dan diampuni segala salah/khilafnya… diberikan kenikmatan di alam kubur hingga ditempatkan di surga tertingginya Allah. Serta yang ditinggalkan dikuatkan dan dijadikan lebih baik ibadahnya…
semoga amal ibadahnya di terima tuhan.. amiin.