Archive for June, 2010

NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN PEREMPUAN KILAU REMBULAN

Posted 30 Jun 2010 — by amriltg
Category Narsis

Ia, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap tepian senja yang jatuh, setiap hari, dengan sebuah harapan sederhana : agar senja yang membawa lengket rindunya tadi akan menyapa rembulan yang sebentar lagi akan timbul dan bertahta di rangka langit. Bahwa pada cahaya yang dipantulkannya kembali ke mata sejuk perempuan kilau rembulan yang kerapkali menunggunya di beranda, menanti keajaiban apakah lelaki petang temaram akan turun, menjemputnya bersama lelehan senja menoreh cakrawala.

Sebuah “cara” bertemu yang aneh. Namun, begitulah adanya.

Rindu dan jarak, kerapkali menciptakan keanehan pada mereka berdua. Bahwa rindu pada akhirnya bisa melipat jarak, pada titik terdekat antara mereka. Bahwa jarak tak ubahnya hanya sebuah helaan nafas yang kuat menarik segenap semesta rindu yang terhampar luas dan membuat keduanya larut pada ekstase yang mungkin tak pernah bisa dipahami, kapan mulai dan selesainya. Semuanya begitu lekas dan menyisakan rasa di sudut batin.

Lelaki petang temaram kembali membaca puisi yang ditulisnya:

Kita tak akan pernah bisa menyepuh ulang segala impian

dan kenangan yang meranggas perlahan di ringkih hati

lalu menyemai harap, segalanya akan kembali seperti semula

“Karena apa yang tertinggal,” katamu,”seperti sisa jejak kaki

di bibir pantai yang lenyap terhapus hempasan ombak”

Kita hanya akan bisa bersenandung merepih pilu

Dan membuat segenap angan terbang liar mencabik cakrawala

seraya menyimpan segala asa dan rindu

pada diam,

pada keheningan

pada lagu lama yang kita lantunkan

dan bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari

“Karena apa yang kini ada”, ucapmu lagi,”Adalah tempat dimana

angin segala musim bertiup dan arus semua sungai bermuara yang kerap

membuat kita gamang pada pilihan : meniti samar masa depan ataukah

menggenggam nostalgia dan ikut karam bersamanya”

Bagai gelombang, waktu menggilas apapun tanpa peduli.

Kebahagiaan dan kesedihan sekaligus adalah buihnya. Mengapung-apung pada permukaan laut kehidupan, lalu kemudian lenyap ditelan gelombang waktu lalu berganti dengan buih-buih yang baru.

Betapapun itu, waktu boleh saja terus berubah, sejarah boleh jadi memangsa dirinya sendiri dan cinta, barangkali, hanyalah sepenggal ide keliru dari sebuah peradaban yang kian renta. Tapi tetap saja ada yang tak bisa berubah : atas nama kenangan beserta segala hal yang indah dan pahit yang telah dilalui, selalu saja ada ruang luntuknya. Dimana ia, lelaki petang temaram, melafalkan pelan namanya, sang perempuan kilau rembulan.

Dalam sesak rindu menikam dada. Pada pilu mencabik hati.

Dengan jemari gemetar, ia menekan tombol “SEND” untuk mengirim puisinya pada perempuan kilau rembulan.

Semua ini jadi jawaban terbaik atas segala pertanyaan naif yang kerap timbul dalam hatinya.

****

Menangani kesendirian, bagaimanapun, selalu melelahkan.

Dan perempuan kilau rembulan itu menyadari, pada sepi, pada kesendirian yang meresahkan itu, kerinduannya pada lelaki petang temaram kian menjadi. Menyakitkan. Tapi juga melenakan. Membuat ia selalu berusaha menikmatinya dari detik ke detik dengan ratap tertahan dan harapan yang menggantung sia-sia

Semuanya memang tak sama lagi, gumam perempuan itu dengan bibir bergetar. Takdir untuknya telah ditetapkan, dan ia, tak akan pernah bisa menepis, mengabaikan atau bahkan lari jauh dari kenyataan getir yang cepat atau lambat, suka maupun tidak, kelak akan ia hadapi.

Ia lalu membaca ulang puisi yang baru saja ditulisnya. Matanya mendadak menghangat saat bait demi bait puisi itu ditelusurinya.

Haruskah geliat rindu yang kau simpan

pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi

membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan

tepian sebuah perjalanan panjang?

Kegetiran ini, katamu, melelahkan

dan membuatmu

kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit

yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu

serupa hujan membasahi belantara tak berujung

Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan

adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,

kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita

untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu

Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala

lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:

“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,

dalam rindu yang menjelma

menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”

Perempuan kilau Rembulan menghela nafas panjang.

Aku toh tak selalu harus berada pada kemungkinan-kemungkinan tak membahagiakan, gumamnya perih.

Bagaimanapun hidup mesti dimaknai sebagai jalinan sinergis dan harmonis antara baik dan buruk, bahagia dan tak bahagia, menang dan kalah. Selalu akan ada kemungkinan mengalami kebahagiaan, juga sebaliknya. Dan kemungkinan yang terjadi — baik itu bahagia maupun tidak — akan menghadirkan serta membukakan pilihan-pilihan kemungkinan baru yang kelak pun akan segera ditentukan . Bila kemudian pilihan itu akan mengantarkannya kepada kemungkinan yang tidak membahagiakan, maka ia tak perlu risau, siapa tahu pada pilihan kemungkinan berikutnya justru hidup bahagia yang akan diraih. Dan memang demikianlah hidup mesti dijalani, juga disyukuri. Barangkali memang, kesedihan ini adalah sebuah jalan berliku menuju kesenangan. Ia akan menikmati proses itu, sebagaimana ia menikmati segala kenangan indah bersama lelaki petang temaram.

Sekali lagi, Perempuan Kilau Rembulan menghela nafas panjang seraya menekan tombol “SEND” untuk membalas email puisi untuk Lelaki Petang Temaram lalu bergumam pelan:

Dia harus pulang pada istrinya, sebagaimana aku harus kembali pada malam yang akan mendekapku erat dalam kehangatan tak bertepi,

WORKSHOP CARA CEPAT MEMBANGUN TOKO ONLINE

Posted 29 Jun 2010 — by amriltg
Category Kisahku

Tiga Komunitas Online Cikarang yaitu Komunitas Blogger Cikarang, Cikarang Online dan Komunitas Bisnis Cimart, kembali berkolaborasi dengan menggelar workshop Cara Cepat Membangun Toko Online yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 8 Agustus 2010 bertempat di Restoran Sami Kuring Cikarang.

Workshop yang akan membahas mengenai Pengenalan e-Commerce, Instalasi & Desain, Produk & Kategori, Metode Pembayaran, Jasa Pengiriman serta pengaturan domain dan hosting ini selain akan dibawakan oleh praktisi dibidangnya, juga para peserta bisa langsung praktek di tempat dengan menggunakan koneksi internet Wi-Fi super cepat yang disediakan oleh Restoran Sami Kuring.

Sebelumnya, pada tanggal 25 November 2009 bertempat di restoran Sami Kuring juga, ketiga komunitas online yang berbasis di Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka ini, telah menyelenggarakan workshop pembuatan blog dengan wordpress dan Joomla bertajuk “Duel Maut Blogger vs Joomla” yang sukses menghadirkan 50 peserta. Dalam acara itu saya tampil menyajikan materi pengenalan dan cara pembuatan blog berbasis wordpress.

samikuring-4
samikuring-5

samikuring-3

Gambar diatas adalah suasana pelaksanaan acara “Duel Maut Blogger vs Joomla” yang diadakan tahun lalu di restoran Sami Kuring Cikarang.

Bila Berminat ikut, Daftarkan diri anda ke

1. NETCOMM COMPUTER TELP. 89834102
2. IPUNG PURWANTO TELP. 081510901803
3. ARRY KURNIA TELP.08128138855
4. WAWAN DARMAWAN TELP. 085217260001

BIAYA PENDAFTARAN sebesar Rp 100.000, BISA TRANSFER KE REKENING BCA NO. 8730065885. DARMAWAN SAEFULLAH

THE A TEAM (2010) : MEREKA BERAKSI LAGI!

Posted 28 Jun 2010 — by amriltg
Category Kisahku

“Murdock, ada paket film 3D untukmu, dari Annabele Smith!,” kata seorang perawat rumah sakit jiwa di Jerman pada seorang pasien bertopi baseball yang bertampang lugu.

Lelaki yang dipanggil itu mendadak terperangah, matanya yang jenaka dan cerdas terlihat berbinar terang.  ”Saatnya sudah tiba, saatnya beraksi,” mungkin itu yang terlintas difikirannya. Senyum kemenangan terlihat diwajahnya.

Dan demikianlah, selanjutnya, kita lantas disajikan adegan laga yang sungguh ciamik dan spektakuler khas ala The A Team, sebuah film serial fenomenal yang begitu beken di Indonesia di tahun 80-an.

Film ini memang merupakan “remake” dari film seri terkenal itu. Saya selalu ingat, senantiasa menunggu aksi menakjubkan dari Hannibal Smith bersama anakbuahnya yang penuh kejutan dan lucu. Pertikaian antara BA Baracus dan si sableng Murdock, gaya Playboy si tampan Face menggoda wanita atau cara Hannibal mengisap cerutu dengan senjata tersandang di bahu masih melekat dalam ingatan saya.

Ketika akhirnya saya berkesempatan menonton film ini minggu lalu ada begitu banyak ekspektasi merajai benak. Tentu saja saya berharap menemukan kembali “spirit” para pahlawan-pahlawan masa kecil saya tetap menyala dalam film yang dibintangi oleh pemain-pemain baru ini. Dan, syukurlah, saya menemukannya. Malah terasa “jauh lebih gila, dashyat dan nekad” dibanding versi Televisi-nya dulu. Tentu saja karena semuanya didukung oleh teknologi film dan animasi yang telah maju demikian pesat saat ini, yang mampu menyajikan adegan spektakuler dan kerapkali tidak masuk akal. Karakter para tokoh juga terbangun dengan baik, paling tidak, saya kembali bisa bernostalgia menyaksikan bagaimana lucu dan nekadnya Murdock mengemudikan pesawat, kemampuan BA menghajar lawan-lawannya, cara Face merayu gadis yang diincarnya atau kehebatan tim ini membuat senjata dengan peralatan seadanya . Semua tersaji lengkap.

Aksi Liam Neeson, pemenang Oscar dalam film Schindler List, sebagai Kolonel Hannibal Smith sungguh memukau. Dengan cerdik ia merancang setiap aksi timnya secara teliti dan resiko minimal. Kepemimpinannya yang berwibawa dan juga jenaka, membuatnya sangat disegani oleh jajaran anak buahnya yang eksentrik : Templeton “Face” Peck (Bradley Cooper),  Baracas BA (Quinton “Rampage” Jaquemin),  dan HM “Howling Mad” Murdock (Sharlto Copley). Hadirnya Jessica Beihl yang memerankan agen Departemen Pertahanan AS Charisa Sosa yang juga mantan pacar Face, makin “mempermanis” kehadiran 4 jawara The A-Team. Di film ini, disajikan pula kisah mengapa sampai si kekar berambut ala Mohawk, BA Baracus, takut naik pesawat serta “sejarah” awal pembentukan tim pasukan khusus ex Ranger ini.

Dikisahkan dalam film yang diproduseri oleh Ridley Scott, Tony Scott, Stephen J. Cannell ini, Hannibal Smith dkk dijebak dan akhirnya dihukum atas aksi kejahatan yang tidak mereka lakukan. Setelah melalui aksi meloloskan diri yang tak terbayangkan, mereka lalu melaksanakan pengejaran pada orang yang telah mengelabui mereka sekaligus membersihkan nama baik yang sudah terlanjur tercoreng.

Di layar perak, adegan demi adegan berlalu cepat dengan ritme yang rapi. Saya sempat berdecak kagum pada beberapa adegan spektakuler seperti aksi mereka terjun dengan tank dari pesawat Hercules dengan dihujani tembakan dari pesawat jet robot, kejar-kejaran antar helikopter yang menegangkan dan akhirnya ditutup adegan  kolosal di akhir film yang menghadirkan pertempuran dashyat di terminal peti kemas. Semua tersaji begitu mengesankan dan menegangkan. Luar biasa!.

Penasaran mau nonton? Coba saksikan dulu trailer filmnya:

MEMENANGKAN IPOD NANO 8 GB DALAM KONTES YAHOO MIM

Posted 27 Jun 2010 — by amriltg
Category Artikel, Kisahku

Alhamdulillah sebuah kabar gembira datang dari Yahoo Indonesia yang menyatakan saya sebagai pemenang kontes mingguan berhadiah sebuah Ipod Nano 8 GB lewat kompetisi bertajuk Football Mim Minggu ini. Dalam kompetisi tersebut. saya mengikut sertakan foto saya ketika bermain bola memakai sarung dalam ajang lomba HUT Kemerdekaan Indonesia tahun 2008. bersama bapak-bapak yang tinggal di dekat rumah saya Jl.Antilop 5 Perumahan Cikarang Baru.

Ini adalah hadiah keempat Ipod Nano dalam kompetisi ini. Bila mau ikut di ajang dan tema berikutnya, baca keterangan lengkapnya di sini.

Terimakasih untuk Yahoo Indonesia atas penghargaan luar biasa ini!

RAPAT BLOGGER CIKARANG DAN PESTA BINDHE BILUHUTA

Posted 20 Jun 2010 — by amriltg
Category Kisahku

Tadi malam, Sabtu (19/6), saya menjadi tuan rumah penyelenggaraan rapat pengurus Komunitas Blogger Cikarang. Hadir dalam acara itu sang Presiden Blogger Cikarang Pak Ceppi Prihadi, Pak Eko Eshape, Pak Ruwi, Pak Ipung, Pak Wawan, Pak Arry Kurnia dan Pak Firman. Dalam acara tersebut, disela-sela pembahasan program Blogger Cikarang mendatang (tentu saja termasuk mengulas soal Piala Dunia 2010), kami menghidangkan “Bindhe Biluhuta”, hidangan khas Gorontalo (kampung kedua orangtua saya) yang sangat terkenal itu.

Proses pembuatan makanan khas ala Gorontalo ini memang penuh “perjuangan” karena kami mesti bolak balik telepon ke ibu saya di Makassar “minta petunjuk” agar mendapatkan rasa yang pas sesuai aslinya. Syukurlah istri saya berhasil “menangkap” dan menerjemahkan esensi cara pembuatan makanan ini dengan baik dan memuaskan kawan-kawan yang hadir.

Kami mesti melakukan modifikasi karena kalau di Gorontalo itu pake “duwo” alias ikan kecil sebesar ikan teri (di Cikarang jenis ikan ini tidak ada), jadi pagi sekali kami ke pasar dan beli ikan Tenggiri plus udang. Ikan Tenggirinya direbus lalu dibakar dan disuwir-suwir kecil. Usai sholat magrib semalam saya ikut berpartisipasi dengan memarut kelapa, konon kabarnya parutan kelapa manual lebih mantap rasanya ketimbang pake mesin :)

Nah..ini dia beberapa foto acara semalam yang diambil oleh fotografer handal Blogger Cikarang, Pak Firman

"Penampakan" Binde Biluhuta (foto by Pak Firman)

Hidangan Binde yang sebagian besar sudah licin tandas :)

Para Blogger Cikarang bernarsis ria

Narsis lagi...

Resep Bindhe Biluhuta bisa baca disini dan paling enak dimasak sambil mendengarkan lagunya yang didendangkan oleh Eddy Silitonga disini.  Mantaap!!

MENITI GARIS EDAR PESONAMU

Posted 09 Jun 2010 — by amriltg
Category Puisi

Bagai harum hutan pinus di sisi bukit atau

wangi melati di pekarangan

Aroma cinta yang kau taburkan

melayang lembut dengan konfigurasi warna-warni

pada lanskap kesunyian yang terhampar sepanjang perjalanan

pada atmosfir lara yang telah kita hirup dengan nafas tersengal

juga di sepanjang selasar kenangan dimana luka itu kita tinggalkan disana

“Melepasmu,” tuturmu dengan mata basah, “laksana mencabut cengkraman kuat akar sebatang pohon kecil dari tanah”

Menghentak. Memilukan. Menyakitkan.

Dan pada lengkung bianglala yang membentang di horison langit

hingga ujung batas cakrawala

Aku akan meniti garis edar pesonamu yang tak jua pudar

sembari menggenggam perih dan sesak rindu sekaligus

serta harapan yang luruh sia-sia

juga keheningan yang mencekam disudut hati

YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (34)

Posted 07 Jun 2010 — by amriltg
Category Kisahku

1. Tujuh Tanda Bila Anda Kecanduan Twitter

Anda sebaiknya mengenali tanda-tanda kecanduan Twitter  dengan membaca ketujuh gejala ini. Menarik juga. Mudah-mudahan saya tidak (atau belum?) mengalami kecanduan akut seperti ini.

2. Panduan Twitter bagi Pemula

Dengan bahasa populer yang mudah dicerna, Titiw menyajikan panduan dasar ngetweet dijejaring sosial Twitter. Panduan yang saya kira cukup praktis dan bisa menjadi pegangan bagi anda yang masih terbilang beliau ngetwit. Good Job Titiw. Thanks ya!

3. Pemenang Logo Pesta Blogger 2010

Logo diatas adalah logo resmi Pesta Blogger 2010 yang dibuat oleh Roni Lantip dan minggu lalu, kami, Panitia Pesta Blogger 2010 memilih logo ini sebagai pemenang menyisihkan 26 peserta pengirim lomba logo lainnya.

Selamat ya buat Roni Lantip! Tunggu perkembangan berita Pesta Blogger selanjutnya disana!

4. Video Presentasi Menarik Soal apa itu Blog, Social Networking dan Twitter

Luar biasa, ini adalah sebuah sajian presentasi yang menarik yang menjelaskan apa itu Blog, Social Networking dan Twitter. Mari simak videonya sebagai berikut:

PENGALAMAN KE MAKASSAR: SENSASI TRANS STUDIO DAN “NGIDAM”NASI GORENG MERAH (1)

Posted 04 Jun 2010 — by amriltg
Category Kisahku

Bulan  lalu kami sekeluarga berada di Makassar.

Berangkat dari Jakarta Hari Kamis pagi,13 Mei 2010 dengan pesawat Lion Air JT 788, saya, bersama istri dan 2 buah hati kami Rizky dan Alya bergegas ke Bandara Soekarno Hatta pukul 03.30 pagi untuk “mengejar” waktu tinggal landas pesawat jam 06.00 dari Cikarang dengan menumpang taxi Blue Bird.

Penumpang yang berjubel karena adanya hari libur “kejepit” membuat antrian kami di loket check in cukup panjang. Alya dan Rizky yang sudah bangun sejak jam 03.00 pagi terlihat sangat antusias. Mereka memang sengaja tidur lebih cepat agar bisa terjaga lebih awal.

Kami berempat lalu bergegas ke ruang tunggu dengan boarding pass ditangan.Tinggal 10 menit lagi pesawat akan berangkat. Istri saya terlihat panik, namun seorang bapak tua–kira-kira seumur ayah saya–yang ikut antri untuk boarding, menenangkan. “Tenang saja, pasti ditunggu kok,” katanya sambil tersenyum ramah. Dan memang benar, pesawat yang mengangkut kami ke Makassar akhirnya terlambat berangkat sekitar setengah jam karena menunggu penumpang yang masih berbaris panjang di antrian.

Di atas pesawat, Rizky dan Alya sangat menikmati penerbangannya. Syukurlah, mereka tidak dibayangi ketakutan naik pesawat terbang seperti yang pernah saya ceritakan dulu disini. Pada awalnya Alya sempat rewel karena sejak berangkat dari rumah perutnya belum diisi. Untunglah, kami sudah mengantisipasi dengan menyiapkan susu dan cemilan untuk anak-anak di pesawat. Setelah menghabiskan 2 botol susu, Alya kembali tenang dan bahkan mengajak bermain.

Saya, Rizky dan Alya duduk di kursi yang berkapasitas tiga orang, sementara istri saya duduk terpisah di posisi dekat lorong. Untuk melerai jenuh, saya mengajak anak-anak bermain tepuk-tepuk tangan dan tebak-tebakan. Tanpa terasa, setelah 2 jam masa perjalanan kami tiba di bandara Hasanuddin Makassar. Kemegahan Bandara baru itu begitu terasa sesaat setelah kami menginjakkan kaki di tanah tempat kelahiran saya itu. Terik mentari begitu menyengat.

Setelah mengambil bagasi, kami disambut oleh ibu saya,  suami adik saya Yayu,  Iwan serta ketiga anak lelaki mereka Yusril (yang akrab dipanggil Ruli, kini berusia 9 tahun), Yayan (3 tahun) dan Ivan (2 tahun) di gerbang penjemputan. Pada hari libur itu, adik ketiga saya, Yayu terpaksa mesti masuk kantor di BNI Jl.Jend.Sudirman Makassar.  Tak lama kemudian Mobil Toyota Avanza yang dikemudikan Iwan meluncur mulus menyusuri jalan tol ke arah Makassar. Menurut adik ipar saya ini, ia telah menjual mobil Peugeot 206 yang sudah dimilikinya selama dua tahun itu 3 bulan lalu dan membeli Toyota Avanza yang berkapasitas lebih besar.

Setiba dirumah orangtua saya di Bumi Antang Permai, kami disambut ayah saya yang telah menunggu didepan rumah. Beliau langsung memeluk erat dan mencium kami semua, terutama sang cucu perempuan satu-satunya (saat ini) Alya dari garis keturunan keluarga. Memang, adik-adik saya, semuanya memiliki anak lelaki. Dari 7 cucu ayah dan bunda saya, Alya-lah yang menjadi primadona, sang cucu wanita.

Suasana rumah mendadak hiruk pikuk. Kedatangan “pasukan” Cikarang sungguh membawa keadaan menjadi kian semarak. Rizky dan Ruly yang memang “computer mania” langsung bermain berdua di laptop yang saya bawa sementara Alya asyik bermain sebagai “ibu guru” bagi dua murid kecilnya : Yayan dan Ivan. Saya sendiri larut dalam nostalgia menikmati hidangan makanan lezat buatan ibunda tercinta.

(bersambung)