Author Archives: Amril Taufik Gobel

Saya merasa tersanjung sekali hari ini.
Nama saya masuk dalam daftar penerima Schoomze Award ala Yaya di blognya (Thanks, Yaya!). Apakah gerangan penghargaan itu?. Dari informasi yang tertera di link ini, dapat dimaknai bahwa Schmoove Award itu adalah sebentuk penghargaan yang diberikan kepada seorang blogger yang telah bekerja keras membangun reputasinya dengan berkomentar di blog lain, berpartisipasi aktif di komunitas blog, membalas setiap komentar yang berada di blognya dan akhirnya, secara keseluruhan, menjadi bagian interaksi tak terpisahkan dengan blogger lainnya.Definisi lain dari istilah Schmooze berdasarkan tulisan di blog ini adalah mengacu pada pengertian di http://www.dictionary.com/, yang menyatakan “Schmoozing as defined by Dictonary.com is the ability “to converse casually, especially in order to gain an advantage or make a social connection.” When it comes to blogging, schmoozing is your ticket to making new friends, getting yourself noticed and building a reputation.

Read More…

Sekitar tahun 1996 (11 tahun silam, tanggal tepatnya saya lupa), ketika itu saya masih kost di daerah Klender-Jakarta Timur dan bekerja sebagai salah seorang karyawan di PT.KADERA-AR INDONESIA Pulogadung.Bersama 4 orang kawan (semua lelaki dan berstatus Jojoba atau Jomblo-jomblo bahagia), kami berinisiatif melakukan hal”sableng” yaitu: Nonton Bioskop di Studio 21 di Plaza Klender (sebelum terbakar karena peristiwa Mei 1998) dengan sarung paling bau. Peraturannya gampang. Masing-masing dari kami harus menyiapkan satu sarung paling bulukan yang mereka miliki (paling tidak belum pernah dicuci selama satu bulan terakhir) dan mengenakannya didalam bioskop dengan posisi sarung menutup kepala.

Maka demikianlah, pada Hari-H, kami semua datang ke bioskop dengan dandanan perlente dan rapi (tapi masing2 dari kami menenteng tas plastik berisi sarung). Setelah membeli karcis (filmnya waktu itu adalah Die Hard-3 dibintangi oleh Bruce Willis), kami masuk melalui pintu bioskop. Petugas bioskop sama sekali tidak menaruh curiga. Kami duduk di deretan tengah secara berurutan.

Read More…

BERBEDA seperti hari-hari biasanya, sepulang dari kantor hari Rabu (18/7), saya begitu memendam harapan dapat bertemu dan akhirnya ikut dengan “shuttle bus” Nomor 121 A jurusan Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Dari tiga alternatif angkutan umum dengan rute Blok M menuju ke rumah saya di kawasan Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka, hanya bis ini saja yang menyediakan fasilitas Televisi untuk ditonton oleh para penumpangnya. Meski untuk itu, kompensasinya adalah tarifnya relatif lebih mahal dari dua bis angkutan alternatif lainnya. Kebanyakan para penumpang bis ini adalah pekerja komuter yang bekerja di Jakarta namun berdomisili di Cikarang.Harapan saya terkabul. Tepat Pukul 17.35, bis 121 A melintas tepat didepan halte bis yang berada didepan Wisma Mulia Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dimana saya telah menunggu kurang lebih sepuluh menit lamanya. Ketika naik dan duduk dikursi penumpang di baris kelima dari depan, saya sudah merasakan aura histeria yang demikian besar dari kurang lebih 30 orang penumpang menyaksikan tayangan siaran langsung laga sepakbola babak Penyisihan Group D Piala Asia antara Indonesia melawan Korea Selatan. Semua mata tertuju pada Televisi 14 inchi yang dipasang diposisi tengah depan tepat diatas bahu kiri sang supir.

Read More…

SAYA tidak tahu, apakah anak saya telah mengalami sebuah indoktrinasi sistematis dari Mr.T tokoh bertubuh kekar yang–ironisnya– takut naik pesawat, sampai-sampai sang rekan Murdock mesti membiusnya dulu sebelum dibawa terbang (tokoh ini diperankan oleh B.A.Baracus dalam serial televisi terkenal The A-Team).


Awalnya ketika kami sekeluarga berencana pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya. Untuk alasan efisiensi waktu, saya sudah menetapkan agar kami sekeluarga mudik kesana dengan menggunakan pesawat terbang. Saya bahkan sudah mengontak travel agent langganan kantor saya untuk memesan tiket. Namun saat rencana itu saya ungkapkan, anak tertua saya, Rizky, ia tiba-tiba berseru kencang : “Aku tidak mau naik pesaawaaat! Takut Jatuh! Pokoknya tidak mauuu!!”.


Saya terperangah.


Dan saya makin tersentak kaget, ketika si bungsu putri kecil saya, Alya ikut-ikutan nyeletuk dengan suara cadelnya, “Aku juga gak mauu naik pecawat ! Takut Jatuh!”.

Read More…

BANDARA Hang Nadim menyongsong kedatangan saya dengan terik matahari yang menggemaskan. Udara gersang “ kota otorita”,  itu berhembus menerbang selaksa debu-debu, berputar tak teratur kemudian mewarnai Batam dalam nuansa suram  yang oritamental.

Saya menyeka paluh di kening sembari melihat sekeliling, kesibukan berada dimana mana. Orang –orang hilir mudik bagai robot. Nyaris tak punya rasa. “ Mungkin sebentuk kebudayaan baru:.

Saya membatin dengan getir.

Di dalam Taksi yang membawa saya ke hotel  di kawasan Nagoya, saya menikmati pemandangan sekeliling yang sungguh mengesankan. Taksi membela di aspal yang mulus, di kanan kiri dinding pepohonan dan rimbun bakau menyemarakkan. Sesekali terlihat aktifitas “ pembukaan tanah”, dalam rangka membangun wilayah Industri baru.

Alat-alat berat bekerja giat, dipanggang matahari. Dan beberapa buruh dengan otot berkilat berkutat serius pada pekerjaannya, diawasi dua orang mandor berdasi dengan helm proyek di kepalanya.

Saya menyadarkan  diri pada jok kursi yang empuk untuk lebih santai menikmati perjalanan ini. Saya tiba-tiba merasa tegang dan letih. Lagu “ To Love Somebody”, dari MIchael Bolton mengalun lembut dari tape taksi, melenakan saya untuk mengingat peristiwa 2 hari silam.

Hari itu kami mengadakan rapat redaksi masalah kerja. Saya merasa sangat  bosan dan sedikit mengantuk mendengar dari uraian dari direktur pelaksana yang bertele-tele, tentang disiplin wartawan, investigative reporting, dan sebagainya yang menurut saya kami sudah cukup tahu untuk itu!.

Dalam suasana kantuk yang makin berat, saya tiba-tiba tersentak kaget,  ketiks nani saya dipanggil.Saya menegok dengan acuh , memberi respon.  “ Lusa kamu berangkat ke Batam”. Liput kehidupan malam yang ada di sana  dan wawancarai salah seorang  wanita penghibur di situ. Segala biaya di tanggung perusahaan, untuk jangka waktu … hari demikian titah bung Mukhlis, sang redaktur  pelaksana majalah kami dengan tegas. “ Tapi pak….”, saya mencoba menyela. Namun Bung Muklis buru-buru memotong , “ tidak ada tapi. Surat tugasmu diambil besok pagi pada Nasrun, sekretaris redaksi. Sekalian segala urusan administrasinya. Jelas?,  Saya tiba-tiba membayangkan, Nina, pacar tercinta , akan memaki saya habis-habisan lantaran tidak menghadiri pesta ulang tahunnya.

“ Pak , sudah sampai,  pak ! , tiba-tiba pak sopir taksi membuyarkan lamunan saya. Saya kemudian keluar dan membenahi barang,  membayar ongkos taksi lalu  memasuki penginapan untuk check –in. Tiba di kamar saya langsung tertidur pulas dan bermimpi Nina datangi saya  dengan gaun putih, di lehernya seuntai kalung mutiara, rambutnya kusut masai dan meneteskan air mata. Kecantikannya memudar. Rupanya : I Have a Nightmare!.

*****

KEHIDUPAN malam di Batam betul-betul semarak. Di dekat hotel saya, kawasan Nagoya, malam seperti ditaburi cahaya. Gemerlap lampu diskotik, panti pijat  dan took berpendar-pendar penuh pukau. Nagoya seperti penuh warna dan menjanjikan kesenangan yang tiada tara.

Saya memasuki sebuah diskotik , dengan suasana hati yang tidak menentu. Musik yang berdentum keras segera menyongsong kedatangan saya dan beberapa pramuria dengan paras lumayan  mengantar saya kesebuah meja paling ujung.

Di lantai dansa sejumlah anak muda, menari dengan riang , melepas kepenakan dan membuka belenggu kehidupan. Suara musik yang membahana ditingkah kerlap-kerlip lampu disko yang pariatif serta gerak tubuh yang melenggak-lenggok mengikuti irama. Saya cukup terpesona oleh gaya mereka, tapi sama sekali tak tertarik untuk “turun” .

“ Anda perlu teman?” ,  tiba-tiba terdengar suara empuk terdengarkan. Saya menoleh. Di depan saya berdiri seorang gadis berusia sekitar 23 tahunan. Ia memakai baju You Can See berwarna merah bertuliskan Woman ‘ s Lib dengan parfum menyengat hidung serta Blue Jeans  ketat . Wajahnya cukup cantik, tetapi tidak lebih cantik dari Nina .

 

“ Kebetulan saya memerlukan teman duduk. Mari, silahkan !, “ saya mempersilahkan dengan ramah. Iapun duduk dengan anggun tepat di depan saya.

“ Kenalkan. Silvia”., katanya mengulurkan tangannya dengan hangat sambil memperkenalkan diri.

“Sendirian?” .   Tanya Silvia.

“ Seperti kamu lihat saya lagi solo karier,” saya menyahut, sedikit bergurau . Silvia tertawa samar.

“ Kayaknya, anda orang baru di Batam. Benar  kan?:, Silvia menebak. Saya mengangguk.

“ Saya baru tiba tadi pagi dari Jakarta, saya istirahat, lantas ke sini”, kata saya menjelaskan. Silvia mengguk-mangguk.

“ Kalau boleh saya tahu ada urusan apa di Batam ?” selidik Silvia. Saya tersenyum. Kayak detektif saja main interogasi segala. Saya membatin.

“ Cuma jalan-jalan. Sekalian bisnis sedikit”. Saya menjawab enteng. Kemudian Silvia manggut-manggut.

“ Kamu kerja disini, ya?”, saya bertanya. Tenang. Benar, sudah 3 tahun”, jawab Silvia tenang. Dia melemparkan pandangan ke lantai dansa, seperti menghindarkan diri dari pertanyaan selanjutnya yang terkait. Lagu disko Humpin Around  milik Bobby Brown  menghentak keras . Tak ada kata kata anatara kami.

Naluri wartawan saya tiba-tiba membisikkan sesuatu.

“ Silvia  kamu tidak keberatan menemani saya keluar, menikmati malam di kota Batam? Soalnya,…. di sini pengap sekali”, saya berkata dengan sangat hati-hati

“ Silvia tersenyum dan mengiyakan.

Tiba –tiba saya merasa sangat bahagia. Saya akan cepat pulang.

Pada kawasan Batu Ampar.

Di seberang sana, Kerlap-kerlip lampu kota Singapura seakan menghimbau. Di langit bulan purnama bersinar penuh, berkilau mempesona menambah suasana romantis.

“ Ada bisnis apa kamu di sini?” , Tanya Silvia memecah keheningan. Suaranya terdengar jernih. Saya menghela nafas panjang.

Saya merasa harus terus terang akan keberadaan saya disini, bersamanya.

“ Saya wartawan majalah Teropong ,” kata saya akhirnya.

Silvia memandang saya lekat-lekat. Saya seperti mau ditodong.

“ Saya ditugaskan untuk melipiut kehidupan malam di koto ini untuk materi penerbitan kami selanjutnya, lalu …”, saya menjelaskan.

“ Kamu ingin mewawancarai saya?,” potong Silvia tajam.

“ Kurang lebih begitu, kalau kamu tidak keberatan, saya menjawab dengan perasaan tidak enak. Terdengar resah angin gersang bertiup di sekeliling kami.

“ Saya tak keberatan,” jawab Silvia datar. Saya seperti kejatuhan durian runtuh. Ini peluang baik!.

Maka wawancarapun berjalan lancar . Kisahnya mengalir sendu. Silvia, yang dulu bernama asli  Ratna , adalah produk keluarga miskin–papa. Dia – sebagai anak sulung  – adalah satu – satunya tumpuan keluarga dan adik-adiknya.

Saat ini dia memutuskan untuk mengadu nasub di Batam sebagai seorang buruh harian pada sebuah kawasan industri, ia telah bertekat tak akan pulang dan biaya kehidupan di Batam., penghasilan sebagai tenaga buruh harian terasa tak cukup untuk makan sehari-hari. Seorang kawan mengajaknya teriun menjadi “penghibur” malam yang menjajikan honor lumayan.

Maka demikian, sejak 2 tahun lalu, ia bergelut dalam kehidupan maksiat, pemuas nafsu laki-laki, sekaligus tetap bekerja sebagai tenaga buruh harian pada pagi hari, meski ini tak sesuai dengan hati nuraninya, ia tak kuasa menolak deraan tuntutan hidup yang makin kejam.

“ Jadi selama ini kamu merasa tidak tentram?” saya bertanya, Silvia menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Ia  seakan melepaskan beban batin yang mengekang.

“ “ Saya cukup tentram, tapi tidak cukup tenang apalagi bahagia,” tukasnya diplomatis. Saya tersenyum mahfum.

“ Hidup harus lebih dari hanya sekedar karena dia adalah pelaksana cita-cita dan harapan. Juga karena ia adalah karena cinta dan keinginana memahami. Saya sangat percaya itu!” saya sangat percaya itu tuturnya dengan suara serak. Ia seperti menyimpan duka yang dalam.

“ Kamu pernah merasa terhina  oleh pekerjaanmu?”.

“ Sedikit, tapi cukup menyakitkan. Dan itu membuat saya untuk lebih tegar menghadapinya. Saya merasa cukup kuat dan tidak perlu menangis. Meski saya telah penuh luka. Sangat parah, “ Suara Silvia terdengar lirih. Ia lalu melempar puntung rokoknya jauh-jauh.

“ Bagaimana cara kamu merasakan suka  dan duka ?, saya tiba-tiba seperti melemparkan pertanyaan bodoh. Silvia  menyeringai, tapi tidak melecehkan , ia bagai mengejek angin.

“ Saya memandang bulan. Dia lambang kelembutan sekaligus keperkasaan alam, kemampuan bertahan, “ Silvia bertutur sembari menatap bulan yang sinarnya keperakan menerpa tempat kami. Ia menyulu rokok kedua.

“ kalau bulan tidak muncul?”, saya iseng bertanya.

“ Saya memandang langit. Dia lambang kepasrahan dan kelapangan menerima ,” jawabnya datar.

“ Apa selama ini kamu bahagia?”.

“ Selalu,. Tapi semu,” jawabnya  singkat.

“ Mengapa semu?”.

“ karena kebahagiaan yang saya miliki, adalah kebahagiaan yang diwujudkan dengan materi, uang bahkan nafsu. Bukan cinta”.

“ Kamu pernah jatuh cinta?”.  Silvia tersenyum. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam. Matanya menerawang jauh seperti mengenang sesuatu.

“ Pernah. Tapi saya berfikir itu tidak ada gunanya,” ujarnya getir. Namun bibirnya bergetar. Dia menyimpan keharuan yang dalam.

“ Mengapa?”.

“ Sebab saya adalah cinta itu sendiri,’ kata Silvia dengan mata berkaca-kaca. Saya tercenung. Dia terlalu pintar untuk seorang WTS .”

“ Kamu tidak pernah berfikir untuk menjalani kehidupan berkeluarga yang lazim seperti wanita-wanita seusiamu?”.

“ Itu juga, bagi saya, tidak berguna.  Saya cukup puas dengan keadaan saya sekarang. Saya tidak ingin untuk menambah dan menguranginya.”

“ Pernah ada keinginana untuk…insaf kembali ke jalan yang benar dan lurus?”.

“ Saya pernah memutuskan untuk melakukannya . Tapi tak jadi. Saya selalu kotor hina dan penuh luka. Dan saya menganggap itu…itu…itu…juga tak akan berguna, jawab Silvia tersendat, air mata mengalir di pipinya. Ia menunduk.

“ Maaf, saya telah membuatmu menangis,” saya berkata dengan penuh penyesalan , Silvia menengadah, dan menyeka air matanya. Bibirnya kembali menyungingkan senyum.

“ Tak apa. Saya tiba-tiba merasa berharga,” ucap Silvia nyaris tak terdengar. Saya menepuk pundaknya.

“ Jangan berkata begitu. Semua orang berharga di mata Tuhan, Pencipta Alam Semesta. Tinggal bagaimana kita, menempatkan diri lebih istimewa  pada penghargaaNya, tergantung dari seberapa jauh kita mengikuti perintahNya, taqwa padaNya dan senantiasa sadar kita dalam pengawasanNya.” Saya bertutur panjang menghibur Silvia. Dia tiba-tiba menatap saya dengan tajam menghujam. Seperti mencari makna dan kepastian . Mendadak sontak ia memeluk saya erat-erat , menangis tersedu-sedu  di dada saya.

“ Saya selalu berusaha mencari ketenangan dan kearifan memandang hidup. Dan saya menemukannya kini.,” kata Silvia sesunggukan. Saya menghela nafas. Terlalu banyak yang saya peroleh malam ini.

“ Silvia,. Sudalah , mari saya antar pulang, sudah malam, “ kata saya mengajak. Kamipun beranjak pergi. Saya sempat melirik bulan di atas sana. Bulan seperti berdarah, dan luka parah. Saya tidak mampu menjelaskan peristiwa ini. Terlalu samar atau bahkan sama sekali tidak berharga.

Maros, 12 Desember 1993

Cinta adalah sebuah jaring yang menjerat hati bagaikan seekor ikan

(Muhammad Ali, Mantan Juara Dunia Tinju Kelas Berat, dari “Reader Digest Indonesia” edisi Januari 2005)

          HUJAN masih menyisakan gerimis sore itu. Rintik demi rintiknya membasahi baju seragam biru kantor saya. Matahari yang mulai beranjak ke peraduan, mengintip  malu-malu disela-sela awan merah jingga. Sebuah suasana senja yang sungguh eksotik. Saya berlari kecil menuju halte bis persis didepan kantor Pajak disamping gedung Sentra Mulia Jl.Gatot Subroto. Ini hari pertama saya masuk kerja di salah satu perusahaan kontraktor minyak dan gas sebagai engineer trainee.

Seusai menamatkan study di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta, ayah dan ibu meminta saya untuk tinggal kembali bersama mereka di rumah kami di Cikarang dan meninggalkan tempat kos yang sudah saya huni selama kurang lebih 3 tahun. “Kamu sudah terlalu lama meninggalkan kami sejak kuliah di Jakarta, jadi mulai sekarang, kamu harus tinggal di Cikarang, meski kamu bekerja di Jakarta. Tidak ada istilah tinggal di kos-kosan lagi”, demikian titah ayahku yang kemudian di-amini oleh ibuku. Saya hanya mengangguk pelan. Saya memahami keputusan ayah, karena sejak beliau pensiun dari pekerjaannya disalah satu pabrik di kawasan industri di Cikarang dan terlebih sejak Kak Intan menikah kemudian diboyong Mas Hari, suaminya ke Balikpapan, ayah dan ibu kesepian dan butuh teman untuk mendampingi mereka selama melewati masa tuanya. Namun tak urung, sempat terbayang dalam benakku menjadi pekerja komuter yang bolak-balik Jakarta-Cikarang yang berjarak kurang lebih 35 km. Betapa sangat melelahkan.

Maka demikianlah, sejak saat ini saya menjadi pelanggan tetap bis Mayasari Bakti No.AC-121 Jurusan Cikarang-Blok M atau Bis Eksekutif Lippo Cikarang dengan jurusan yang sama. Setiap pukul 06.00 saya berangkat dari rumah menuju ke kantor di daerah Jalan Warung Buncit Jakarta Selatan dan pulang setiap pukul 17.00 sore. Sebuah rutinitas yang menurutku bakal membosankan.

Saya duduk di halte bis sambil menebar pandangan ke sekeliling. Nampak 2 orang penjual teh botol/minuman ringan, seorang penjual bakso gerobak dan seorang penjual siomay sepeda menjajakan hidangannya. Sejumlah karyawan kantoran tampak pula menikmati hidangan pedagang-pedagang itu yang saya yakin sebagian besar diantaranya juga adalah pekerja komuter yang tinggal di daerah sekitar Bekasi, Bogor atau Cikarang, seperti saya. Mereka duduk di bangku halte ataupun di kursi plastik yang disiapkan oleh sang penjaja makanan. Para penunggu bis lainnya ada yang saling bercakap-cakap dan ada pula dengan khidmat membaca Koran terbitan sore. Lalu lintas di jalan Gatot Subroto demikian padatnya. Asap knalpot kendaraan meruap diudara dan perlahan hilang disaput gerimis senja.

“Nah, itu dia!”, saya membatin saat melihat dikejauhan, bis AC-121 akan melintas didepan halte. Beberapa diantara penunggu bis berdiri dari tempat duduknya dan merapat kepinggir halte. Dan ketika bis mendekat para pekerja komuter itupun berebutan naik keatas bis.  Saya lalu menghenyakkan pantat pada sebuah kursi kosong formasi 2 tempat duduk. Sambil menghela nafas lega saya menoleh kesamping kearah tetangga duduk yang mengambil posisi dipinggir dekat jendela. Untuk kedua kalinya saya menarik nafas lega dengan helaan lebih panjang. Tetangga duduk saya ternyata seorang gadis manis berkacamata dibungkus gaun blazer dan rok hitam, berusia sekitar 25-26 tahun, berkulit putih dengan hidung mancung aristokrat dan sedang serius membaca sebuah novel berjudul “Jomblo” karya Adhitya Mulya. Ia tampaknya tidak begitu terganggu dengan kehadiran saya disampingnya. Dengan ketenangan luar biasa, ia terus membaca lembar demi lembar novel tersebut. Saya mencoba mencuri-curi pandang ke arahnya menikmati sosok karunia Tuhan yang begitu sempurna itu. Sesekali saya melihat ia tersenyum samar bahkan tertawa tertahan sambil menutup mulut dengan tangannya yang mungil dengan mata tetap lekat pada novel yang dibaca.

Ini dia, sosok wanita idaman yang senantiasa menjadi impian. Seketika adrenalin dalam tubuh saya bergolak menyentuh kisi-kisi hati yang paling dalam. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama, demikian gema hati saya berdentam keras. Bis yang telah memasuki gerbang tol didepan Hotel Kartika Chandra, melaju dengan lambat. Kemacetan yang sudah menjadi “tradisi Jakarta” menghambat pergerakan bis kami di kawasan Pancoran. Gadis itu sejenak menghentikan kegiatan bacanya dengan meletakkan novel di pangkuan sembari membuka kacamata ovalnya kemudian memijat sudut sekitar alis dan bagian atas hidung dengan ujung jempol dan telunjuk jari tangan kanannya. Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menyapa gadis itu sesaat setelah ia menyelesaikan kegiatannya.

“Jadi jomblo ternyata nggak enak ya ?”, kata saya membuka percakapan dengan melontarkan sebuah pertanyaan konyol. Gadis itu menoleh kearahku dan tersenyum tipis. Ia tak berkomentar apapun.

Saya menelan ludah dan berusaha untuk tidak menyerah, setidaknya saya telah mencuri perhatiannya.

“Sebagai seorang jomblo, saya benar-benar merasakan betapa sepinya hidup tanpa wanita. Disitulah letak tidak enaknya,” saya mencoba menetralisir suasana dengan menceritakan pengalaman pribadi yang  saya alami saat ini. Namun belakangan saya merasa menjadi orang paling tolol sedunia dengan melontarkan pernyataan tadi.

Gadis itu tertawa tanpa suara. Ia lalu menutup novel yang dibacanya sambil menanggapi seraya menatap tajam kearah saya.

“Sebagai jomblo, saya merasa enjoy aja  tuh. Saya tidak pernah merasa tersiksa rasa sepi tanpa pasangan”

           Ia mencoba menyanggah argumenku, saya membatin. Saya lalu memperbaiki letak duduk sekaligus menata kegugupan yang tiba-tiba melanda.

“Yaaa…tiap orang kan’ punya pendekatan berbeda dalam menyikapi ke-jomblo-annya. Saya cenderung menanggapinya secara sentimental sementara anda melihat itu secara lebih rileks. Itu mungkin yang membuat kita berseberangan dalam hal ini”

“Ini bukan soal pendekatan menyikapi. Ini soal prinsip. Jadi jomblo bukan sebuah curse atau kutukan koq. Itu sebuah proses alamiah dalam hidup, yang, mungkin disadari atau tidak akan dialami semua orang. Tanpa kecuali. Termasuk anda dan saya. Jika kemudian itu terjadi, sudah seyogyanya dipandang sebagai bagian dari sebuah proses kehidupan dan tidak lantas tiba-tiba menganggap diri sebagai pecundang. Jadi, take it easy-lah,” sahut gadis itu santai. Tanpa beban. Saya langsung mengagumi cara berfikirnya yang demikian sederhana namun cerdas itu.

“Lantas bagaimana jika jadi jomblo terus-menerus, masa’ harus “take it easy” melulu sih ?”, saya mencoba memancing pendapatnya lebih mendalam.

“Saya tidak melihat itu sebagai hambatan yang patut diwaspadai. Rezeki, Jodoh dan Mati terkadang datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak kita perkirakan sebelumnya. Tuhan telah memberikan garis nasib seseorang sejak ia lahir kedunia termasuk siapa yang bakal menjadi pasangan hidupnya kelak.”, jawab gadis itu—lagi-lagi—dengan santai. Ia lalu melontarkan pandangan kearah jendela bis. Lalulintas masih padat, kendaraan berjalan tersendat. Bis kami sudah mendekati tol Jakarta-Cikampek disekitar Cawang namun terhambat di persimpangan tol dalam kota yang menuju Tanjung Priok.

Saya terkekeh, analisa gadis ini sangat pragmatis tapi menyentuh.

“Saya baru menemukan gadis jomblo setangguh anda,” kata saya sambil menatap lekat matanya yang tanpa kacamata oval itu. Mata jernih ibarat bintang kejora yang memancarkan kecerdasan. Hati saya makin menggelepar-gelepar karenanya.

Gadis itu tertawa renyah. Barisan giginya yang rapi semakin memancarkan aura kecantikannya. Terlihat pula dekik pipinya yang membuat ia terlihat mempesona.

“Jangan coba bermain-main dengan asumsi anda,” sahutnya disela-sela tawanya yang “indah” itu.

“Oya, Kita belum kenalan, nama saya Andika, ” saya mengangsurkan tangan kearah gadis itu untuk berkenalan.

“Alya Maharani, panggil saja Alya,” balas gadis itu menyambut uluran tangan perkenalanku dengan hangat. Suasana kaku antara kami langsung mencair. Sepanjang perjalanan, kami bercerita tentang banyak hal mulai dari kegemaran kami berdua membaca buku, film-film terbaru dan juga tentang diri kami masing-masing. Sejak setahun terakhir ini, sejak lulus dari akademi sekretaris terkemuka, Alya bekerja sebagai sekretaris General Manager di salah satu perusahaan telekomunikasi di salah satu gedung di bilangan  Jalan Sudirman. Sebagai anak tunggal kesayangan, ia tidak diizinkan untuk kos di Jakarta dan tetap diminta tinggal bersama keluarganya di Cikarang. Jadilah ia pekerja komuter Cikarang-Jakarta, seperti saya. Kami berbincang dan bercanda dengan akrab, tanpa jarak, bagai dua sahabat yang lama tidak bertemu. Bis kami memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek dan melaju dengan kecepatan konstan. Gerimis sudah reda dan matahari beringsut menuju ke peraduannya meninggalkan jejak-jejak merah saga.

Tanpa terasa, bis telah memasuki gerbang tol Cikarang Barat dan kami mengakhiri percakapan karena Alya harus turun lebih dulu di salah satu kompleks perumahan yang dilewati oleh bis kami. Sebelumnya kami telah saling bertukar nomor handphone, alamat serta e-mail dan berjanji untuk saling menghubungi satu sama lain. Saya sempat menyaksikan sekilas senyumnya yang memukau itu sesaat sebelum turun dari bis. Malam telah menurunkan tirainya di Cikarang.

Keesokan paginya, saat saya baru naik bis AC 121 dari gerbang depan kompleks didepan rumah saat dering SMS di handphone saya terdengar. Dari Alya.

            Sdh naik bis blm ? Klu sdh, Sisain t4 ddk  ya ?Sy nunggu didpn kompleks. Thanx

Saya tersenyum membaca pesan pendek itu dan tak lama kemudian jari-jari saya dengan lincah mengetik balasannya : Jgn khawatir. Masih ada koq ,t4-mu disisiku.

Untuk kedua kalinya saya tersenyum. Rutinitas yang sebelumnya saya curigai bakal membosankan. Ternyata tidak juga. Pagi yang cerah ini seperti diwarnai berjuta pelangi. Indah sekali.

“Hai, Selamat Pagi” sapa Alya ramah. Sang Bidadari pagi sudah datang. Kali ini dia mengenakan blazer warna biru dengan paduan celana panjang yang harmonis. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung.

“Selamat pagi juga, yuk duduk disini”, saya berdiri dan mempersilakannya duduk disamping tempat duduk saya, didekat jendela, tempat favoritnya.

“Terimakasih, sudah disediakan tempat,” katanya tulus. Saya tersenyum dan kembali memandangnya takjub. Dia begitu cantik hari ini.

Kamipun terlibat pembicaraan yang hangat tentang banyak hal. Saya seperti menemukan cakrawala baru dalam kehidupan saya sejak berkenalan dengan Alya. Kami selalu menemukan materi percakapan yang menarik disetiap pertemuan kami, Sejak saat itu, setiap pagi hingga sore, pada hari kerja, kami selalu bertemu di bis favorit kami. Perasaan cinta padanya semakin tumbuh subur dalam hati saya, dari waktu ke waktu, Namun saya belum punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya secara terbuka, termasuk mencoba bertamu ke rumahnya meski kompleks perumahan kami relatif berdekatan. Sampai pagi ini, pada pertemuan kami yang ke-34, Alya menyatakan sesuatu yang membuat saya tersentak kaget.

“Mulai besok, kita mungkin tidak akan bertemu lagi seperti sekarang,” kata Alya pelan. Saya menahan nafas, tenggorokan saya terasa tercekat. Saya lalu memandang tajam kearahnya.

“Saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan study di Sydney, dan mulai besok saya akan pindah sementara ke rumah paman di Jakarta untuk mengurus kelengkapan administrasi keberangkatan saya nanti. Bulan depan, jika tak ada aral melintang, saya akan ke Sydney dan mengundurkan diri dari kantor saya sekarang,” Alya melanjutkan dengan suara serak dan bibir bergetar. Ia kemudian menundukkan kepala, menekuri lantai bis yang kusam. Saya tercenung, berita ini sungguh mencengangkan dan membuat batin saya begitu terpukul. Amat telak. Untuk sejenak kami berdua terdiam. Ada keharuan melingkupi kesenyapan itu. Seorang pengamen jalanan sedang mendendangkan lagu dengan suara parau dan membosankan.

“Kenapa kamu tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya ?”, saya bertanya dengan nada putus asa. Mata kejora Alya lalu menatap saya memancarkan apologi sekaligus kepedihan mendalam.

“Saya tak bermaksud menyembunyikan ini semua dari kamu. Saya merasa tidak memiliki cukup keyakinan untuk bisa lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa itu. Dan atas alasan itulah saya tidak menyampaikan hal ini kepada kamu,. Sampai semalam, sepulang dari kantor, ibu menyampaikan kabar tersebut serta rencana-rencana selanjutnya,”, jawab Alya seraya memandang keluar jendela. Saya memahami kegalauan hatinya saat ini. Mendung menggayuti langit, hujan sebentar lagi turun. Bis kami sudah memasuki gerbang tol Pondok Gede Timur dan sang pengamen terlihat mulai berkeliling ke seluruh penumpang bis sembari menyodorkan topi lusuhnya untuk mendapatkan sekedar imbalan atas nyanyiannya yang sumbang tadi.

Kami saling tidak bercakap-cakap lagi sesudah itu.  Saya segera membayangkan betapa kebersamaannya selama satu-dua jam yang begitu berarti dalam tiap jejak kehidupan saya melalui roda-roda bis Jakarta-Cikarang dan sebaliknya, di tiap pagi dan sore akan berakhir secepat ini. Tragisnya, saya belum sempat mengungkapkan perasaan cinta yang bergelora dalam hati kepadanya, Alya, sang bidadari pagi pemilik mata kejora itu.  Saya menghela nafas panjang, menyerap oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dada yang terasa sesak oleh berita kepergiannya . Saya melirik ke samping, Alya terlihat lebih sering menatap keluar jendela bis, entah apa yang berkecamuk dipikirannya saat ini. Gerimis yang mulai turun menghantam kaca jendela bis meninggalkan jejak-jejak buram.

Seperti biasa, saya turun lebih dulu di halte Polda DKI dan Alya masih melanjutkan perjalanan sekitar satu kilometer lagi setelah saya.

“Saya turun duluan ya, sampai ketemu sore nanti,” kata saya pamit. Untuk terakhir kali, batin saya bergumam pedih. Alya mengangguk pelan dan menatapku sayu.

Seperti biasa, sore harinya, saya bertemu Alya lagi, namun dengan nuansa muram tidak seperti biasanya. Saya telah menetapkan hati dan menguatkan nyali untuk mengungkapkan perasaan saya padanya, sekarang. Saya tidak peduli, betapa norak menyatakan cinta diatas bis ini.

“Alya, boleh saya mengungkapkan sesuatu padamu ?”, kata saya hati-hati sambil menatap wajahnya yang begitu jelita. Ia mengangguk pelan. Matanya mengerjap indah.

“Saya mencintai kamu, jadilah kekasih saya untuk sekarang dan seterusnya. Dari kebersamaan kita selama ini, membuat saya yakin kamulah wanita yang  pantas mendampingi saya, selama hidup dan saya berharap kamupun punya keyakinan yang sama. Saya tidak berusaha untuk bermain dengan asumsi, saya bersungguh-sungguh untuk membuat kamu bahagia,” ucap saya lirih dengan tenggorokan tercekat. Alya terdiam, ia seperti terguncang oleh pernyataan saya yang mungkin tidak sepantasnya diungkapkan diatas bis yang sedang melaju. Saya menelan ludah, menata kegugupan yang mendera. Degup jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Saya lalu memberanikan diri meraih dan menggenggam tangannya. Ia tidak berusaha menghindar dan memandang saya dengan tajam.

“Kebetulan, saya juga punya keyakinan yang sama,” sahut Alya dengan bibir bergetar, tangannya balas menggenggam tangan saya lebih erat, mengalirkan segenap perasaan yang membuncah saat itu. Jantung saya tiba-tiba seperti berhenti berdetak menerima respon yang demikian menggembirakan itu. Alya tersenyum manis dan segera merebahkan kepalanya di bahu saya. Seketika warna-warni pelangi terpampang didepan mata, membias lugas menembus kaca-kaca jendela bis yang sedang melaju kencang. Saya menoleh keluar jendela disamping Alya duduk, seraya meremas lembut jemarinya.

Bis kami baru saja melewati daerah Bekasi Timur, tepat di kilometer dua puluh tiga dari Jakarta.

 

Jakarta, 31 January 2005

June 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed