Category Archives: cerpen

KYOTO masih seperti dulu, saya bergumam dalam hati ketika menapak tilas perjalanan saya kembali ke kota kebudayaan di negeri Matahari Terbit itu.

Gedung kuno dengan ornamen yang sarat imaji kontemporer seperti kuil Higashi Honganji,Sanjusangendo, Kiyomizu, dan Ryoanji, berpadu dengan bangunan berarsitektur modern berlatar belakang perbukitan yang indah, terbentang di hadapan saya.
Bau sake kelezatan tempura, sukiyaki, dan yakitori yang khas seperti menusuk hidung saya. Melempar saya kembali pada kenangan lima tahun silam….

*****

Saat salju turun bagai gumpalan kapas menyelimuti kota itu. Saya memandanginya penuh takjub dari jendela kamar di salah satu suite apartemen di pusat kota Kyoto. Salju dimana-mana, di puncak bukit, di bubungan rumah hingga jalan, dan trotoar. Suatu pemandangan yang sangat langka terjadi di Indonesia. Disamping saya duduk Asako, gadis Jepang lulusan Harvard University yang jadi penerjemah dan pemandu saya selama mengikuti pelatihan di Jepang. Ia memandang saya dengan tatapan heran.

“ Asako, salju itu indah!” saya bergumam pelan tanpa melepaskan pandangan ke luar.

Asako tertawa geli. Dengan penuh ingin tahu dia juga mengarahkan pandangan ke luar. Wangi parfum Shisuedonya memenuhi udara.

“ Anda lucu , Taufiq-san. Bagi saya turunya salju bukan sesuatu yang luar biasa,” katanya. Ia membalikkan badan dan berjalan mengambil minuman.

Read More…

Pengantar:

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar, Minggu 2 Oktober 1994. Saya tayangkan kembali disini tidak hanya sebagai arsip digital, namun menjadi bagian dari mengabadikan kenangan, semoga bermanfaat bagi yang membacanya 🙂

LELAKI muda itu memandang bintang berkelip di langit dengan tatap hampa. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari hidungnya. Bulan muncul sepenggal dari sisi langit sebelah timur, menyibak awan dan perlahan bergerak ke atas, menuju puncak malam.

Sinar redupnya menyinari hamparan sawah yang kering kerontang. Hasan, lelaki muda itu, tak juga bergeming dari tempatnya berpijak. Dengan gerakan kaku ia mengambil sebatang rokok dari kantong, lalu menyalakannya. Pijar api rokoknya menghiasi pekat malam. Asapnya menguap diserap udara malam yang dingin.

Read More…

LETNAN Dua Aryo Bimo memandang batu nisan didepannya dengan kepedihan tiada tara. Dibacanya berulang-ulang nama yang tertera disana dengan nada pilu. Arimbi Wulansari, bibirnya bergetar menyebut kekasih tercintanya itu penuh kerinduan yang teramat dalam. Seketika, pelupuk matanya basah, entah untuk kesekian kalinya dia menangis. Daun-daun kamboja yang menaungi makam Arimbi berguguran diterpa angin senja yang cukup kencang bertiup saat itu. Aryo menyeka air matanya perlahan dengan punggung tangan. “Tentara sebaiknya tidak boleh menangis,” terngiang jelas ucapan Arimbi didinding telinganya sesaat sebelum menaiki kapal yang akan membawanya ke Aceh 6 bulan lalu.

Ia teringat saat itu, sembari tersenyum, Arimbi menyodorkan sapu tangan warna biru kepadanya untuk membasuh linangan air mata dipipinya yang kemudian diterimanya dengan rikuh. Spontan Aryo meraba kantongnya. Saputangan biru itu masih ada disana, tersimpan rapi, supaya “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama” demikian ucap Arimbi waktu itu saat Aryo mengembalikan saputangan tersebut. Mendadak keharuan membuncah didada perwira muda itu, lalu pelan tapi pasti menyeret kenangan indah bersama Arimbi kembali…

—***—

“Jangan memandangku terus-terusan kayak gitu dong Mas Letnan. Malu aku,” kata Arimbi seraya mencubit mesra lengan Aryo, kekasihnya, suatu malam disalah satu sudut warung makan lesehan saat keduanya tengah menyantap hidangan seafood. Pipi gadis itu memerah.

“Matamu itu, Bi. Indah sekali seperti bulan purnama dimalam hari. Bulat bundar penuh pesona dan setiap kerjapnya membuatku hatiku tergetar setiap kali memandangnya,” sahut Aryo sambil meraih jemari Arimbi dan menggenggamnya dengan lembut.

“Gombal !. Aku laporin ke komandanmu nanti lho !,” timpal Arimbi yang kemudian mendaratkan cubitan lebih keras lagi dan bertubi-tubi ke lengan Aryo yang kemudian mengaduh kesakitan seraya memasang mimik lucu.

“Ampuuun..tuan putri Arimbi, hamba menyerah kalah,” kata Aryo pasrah mengangkat tangan. Mereka lalu tertawa renyah.

Pertemuan Aryo dengan Arimbi, gadis bermata purnama itu terjadi tanpa sengaja. Bermula ketika Aryo yang melintas dengan sepeda motor selepas mengawasi piket jaga disuatu siang yang terik, menemukan seorang gadis cantik kebingungan memandangi ban kempes didepan mobil Toyota Starlet birunya yang menghadang tepat didepan jalan. Aryo menepikan motornya dan menyapa gadis itu.

“Ada masalah apa, Dik ?”, sapa Aryo ramah.

“Ini Mas, ban mobilku kempes, aku…aku..tidak begitu mengerti cara mengganti dengan ban cadangan. Bisa tolong aku Mas ?”, sahut gadis itu dengan gugup dan raut wajah cemas.

“Ada ban penggantinya kandi bagasi ?” Tanya Aryo sambil menyingsingkan lengan baju seragam lorengnya. Gadis itu mengangguk. Terlihat peluh mengucur didahinya dan mengalir melalui jenjang lehernya yang putih. Namun hatinya mulai tenang mendapat bantuan spontan dari sang perwira muda.

Dengan sigap Aryo mengganti ban mobil gadis itu dengan ban pengganti dari dalam bagasi.

“OK, sudah selesai !”, kata Aryo beberapa saat kemudian sambil mengibas-ngibaskan celana hijau lorengnya dari debu jalan setelah bangkit dari bawah mobil melepas dongkrak. Bulir-bulir keringat terlihat didahinya.

“Terimakasih Mas, ini ada air kalau mau minum atau cuci tangan,” kata gadis itu menyodorkan sebotol air mineral. Aryo menerimanya kemudian meneguk minuman tersebut dan sisanya dipakai mencuci tangan.

Ups..habis nih,” ucap Aryo sambil memperlihatkan botol air mineral itu ke arah sang Gadis dengan pandangan mata bersalah.

“Nggak apa-apa koq. Nanti bisa beli lagi . O,ya..ngomong-ngomong, sebagai rasa terimakasih, boleh nggak aku ajak Mas makan bakso di warung sebelah sana ?”, ujar gadis itu menawarkan.

“Terimakasih dik, tapi saya mesti kembali ke Markas,” kilah Aryo.

“Tolong dong Mas, aku nggak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih pada anda. Sekali ini saja. Toh kita hanya makan semangkok bakso dan tidak perlu sampai menghabiskan waktu seharian. Nanti kalau komandannya marah, biar aku aja deh yang hadapi. Mau kan’ ?,” gadis itu merajuk manja. Aryo tertawa renyah ia tak kuasa menolak tawaran gadis manis itu.

“Baiklah, tapi aku parkir motor dulu ya ? Kamu tunggu aja duluan disana,” kata Aryo sambil berjalan ke arah motornya.

Pertemuan siang itu kemudian menjadi awal dari pertemuan demi pertemuan selanjutnya. Gadis itu, Arimbi Wulansari, , mahasiswa tingkat tiga sebuah universitas negeri dan puteri seorang pengusaha terkenal yang berdomisili dekat dari Markas Aryo. Jalinan kasih keduanya terjalin indah sampai kemudian saat menikmati senja yang indah dipantai, Aryo mengungkapkan berita yang cukup mengagetkan sekaligus menggelisahkan.

“Bi, mulai bulan depan aku akan dipindahkan tugas ke Aceh,” kata Aryo hati-hati dengan tenggorokan tercekat. Ekspresi bahagia Arimbi mendadak berubah. Raut mukanya terlihat tegang.

“Keputusan itu mendadak sekali. Baru tadi pagi saat kami briefieng di Markas. Tapi cuma enam bulan saja koq, sesudah itu balik lagi kesini sekalian melamarmu menjadi istriku,” imbuh Aryo sambil mengelus rambut kekasih tercintanya dengan lembut.

“Tapi itu cukup lama buatku,” sahut Arimbi sambil menatap hampa pada garis batas cakrawala merah saga di ujung laut. Mentari mulai beranjak ke peraduan. Ombak berdebur halus menghempas bibir pantai.

Aryo menghela nafas panjang. Ada beban menghimpit dadanya.

“Ini sudah menjadi resiko tugas sebagai aparat negara, Bi. Dan aku kira kamupun sudah siap menerima ini ketika kita menyatakan komitmen untuk menjadi calon pasangan suami isteri tempo hari. Cepat atau lambat, aku pasti akan menerima penugasan penuh resiko seperti sekarang,” kata Aryo menjelaskan. Arimbi terdiam, ia menunduk, menekuri butir-butir pasir di pantai. Pelupuk matanya mulai basah.

Aryo meraih bahu kekasihnya itu dan memeluknya erat-erat. Semilir angin senja menggeraikan rambut Arimbi.

“Tapi tidak secepat ini, Mas. Aku tak ingin kehilangan kamu,” isak Arimbi lirih. Aryo kembali mengelus lembut rambut kekasihnya.

“Aku pasti akan kembali kepadamu, Bi. Sepotong hatiku sudah ada padamu. Pijar mata purnamamu senantiasa akan mendampingiku selama disana Pada saatnya nanti setelah aku pulang dari Aceh, kita menikah membangun mahligai rumah tangga yang bahagia dan kamu kelak melahirkan anak-anak kita yang lucu.. Percayalah Bi, aku tidak akan tertembak oleh GAM dan pulang kembali padamu dalam keadaan sehat wal-afiat, “ hibur Aryo sambil mencoba berseloroh. Arimbi mencubit perut Aryo pelan. Perasaannya melambung dan membayangkan pesta perkawinannya nanti setelah Aryo pulang dari penugasannya di Aceh.

—***—

Arimbi memandang sosok lelaki pujaannya itu diatas geladak kapal yang akan membawanya ke Aceh. Dadanya terasa sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyentak. Dia begitu tampan dengan seragam militernya. Aku tak akan memperlihatkan tangisku didepannya karena aku tidak ingin terlihat rapuh menjelang dia pergi, Arimbi membatin dengan getir. Ia melihat, Aryo melambaikan tangan kearahnya sambil mengucapkan kalimat tanpa suara, Tunggu ya..aku akan kembali kepadamu. Arimbi yang dapat membaca bahasa bibir Aryo kemudian mengangguk. Ia balas melambaikan tangan kearah kekasihnya.

Peluit panjang kapal perang KRI.Teluk Limau bergema kencang. Tambang kapal sudah dilepas dan perlahan lambung kapal itu bergerak menjauhi pelabuhan. Sosok Aryo makin lama makin mengecil. Tapi dia masih disitu, diatas geladak kapal dan terus melambaikan tangan. Arimbi menggigit bibir, ia tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh bergulir disela-sela pipinya. Aryo, sepotong hatimu ada padaku,seperti sepotong hatiku pula kamu bawa bersamamu, ucapnya dalam hati.

—***—

Aryo baru saja menyalakan handphonenya pada Minggu pagi 26 Desember 2004. Gempa dashyat yang baru saja melanda Aceh. Setelah 4 bulan berada dimedan penugasan itu, tugas mendadak muncul sebagai sukarelawan membantu korban gempa yang berada disekitar markasnya. Atas pertimbangan kesibukan menjalankan tugas tersebut, ia memutuskan tidak menerima panggilan telepon lebih dulu dengan menon-aktifkan handphonenya. Dengan perasaan bingung, ia melihat sejumlah missed call dari Arimbi. Aryo baru saja mencoba menghubungi kembali Arimbi ketika ia dikejutkan oleh dering keras handphonenya .

“Aryo, ini Bunda, ibu Arimbi”, terdengar suara diseberang sana dengan nada panik.

“Ya, Bunda. Ada apa ? Tumben telepon pagi-pagi”, sahut Aryo mengenali suara calon mertuanya itu.

“Arimbi ada disana sekarang”

“Hah ? Disini ? Di Aceh ? Mau apa dia kesini Bunda ?”, Aryo kaget, hampir saja handphonenya terjatuh. Informasi tadi seperti membuat jantungnya copot seketika. Kecemasan mulai melanda hatinya apalagi melihat kenyataan gempa dashyat baru saja terjadi di ibukota serambi Mekkah itu.

“Ya, dia berangkat tadi malam dengan pesawat terakhir ke Aceh. Katanya kangen sama kamu dan minta Bunda merahasiakan kepergiannya kesana untuk menengokmu sehari saja dan kembali lagi ke Jakarta dengan pesawat sore ini. Arimbi mau bikin kejutan besar untuk kamu. Tapi pagi ini perasaan Bunda tidak enak dan semalaman bunda tidak bisa tidur, seperti akan terjadi sesuatu padanya. Tolong kamu cari dan temui dia secepatnya ya ?”tutur Ibu Arimbi.

Aryo terdiam dan tidak menyangka Arimbi berani melakukan kejutan penuh resiko seperti itu. Ia sengaja tidak menceritakan gempa besar yang baru saja terjadi di Aceh kepada calon mertuanya itu yang mungkin saja belum tahu, untuk meredam kecemasan lebih lanjut.

“Dia ada dimana sekarang Bunda ?”

Bunda menyebutkan salah satu nama hotel tidak jauh dari Markas Aryo saat ini.

“Baik, aku segera menyusulnya sekarang. Nanti aku kabari setelah ketemu, Bunda,” kata Aryo dan setelah memutuskan hubungan telepon segera berlari menuju motornya.

Baru saja ia menstarter motor, tiba-tiba terdengar kepanikan luar biasa. Aryo menoleh, dan terlihat serombongan orang berlari-lari kearahnya sambil berteriak histeris.

“Air..air…air !!..Cepat lari selamatkan diri!!”

Kengerian tiba-tiba menyeruak dalam dadanya saat menyaksikan dinding air setinggi pohon kelapa menuju kearahnya dengan kecepatan tak terduga. Aryo berlari sekencang-kencangnya, dalam fikirannya, ia harus menuju ke hotel tempat Arimbi menginap dan menyelamatkannya dari bencana tersebut. Namun, akhirnya ia tak kuasa ketika gelombang air tsunami itu menggulung tubuhnya lalu memutarnyadengan dashyat. Meluluh lantakkan semua yang dilaluinya. Tanpa kecuali. Seketika ia tidak ingat apa-apa lagi.

—***—

Aryo membuka mata dan melihat sekeliling ruangan yang serba putih. Pandangannya kabur dan samar-samar ia melihat kaki kirinya digips dan digantung.

“Alhamdulillah, dia sudah sadar,” ia mendengar suara yang begitu dikenalnya.

“Ayah ?” , kata Aryo lirih. Kesadarannya perlahan mulai pulih.

“Ya, ini ayah nak,” sahut lelaki tua itu seraya membelai rambutnya.

“Mana Arimbi ayah ? Mana dia ?”, tanya Aryo penasaran. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit tapi segera ditahan oleh beberapa orang perawat. Sekujur tubuhnya terasa sakit.

“Tenang nak. Kamu baru saja sadar dari koma selama 2 hari. Tim penolong menemukanmu tersangkut di sebuah pohon dengan kaki patah setelah tsunami sekitar 2 kilometer dari Markasmu. Kami lalu berinisiatif membawamu pulang kembali dan merawatmu di Jakarta. Syukurlah kamu selamat dari bencana ini dan sekarang sudah sadar,” tutur ayahnya pelan.

“Tapi dimana Arimbi ayah ? Dimana dia ?”, teriak Aryo putus asa.

Lelaki tua itu menghela nafas panjang, ada beban berat menghimpit dadanya saat itu. Aryo menatap lelaki tua itu penuh harap.

“Nanti saja Ayah ceritakan. Kamu perlu banyak istirahat. Ingat, hari ini kamu baru saja sadar dari koma. Butuh waktu yang tidak singkat untuk memulihkan kesehatanmu,” sahut ayahnya pelan. Aryo mendengus kecewa.

“Dia datang menjengukku ke Aceh, Ayah. Untuk aku. Tolong ceritakan bagaimana nasibnya. Sepahit apapun aku siap menerimanya. Tolong ayah,” kata Aryo sambil mencoba meraih tangan ayahnya. Suaranya terdengar putus asa. Ayahnya menelan ludah, mengumpulkan segenap keberanian dalam batinnya. Ia menggenggam jemari Aryo dengan erat, mengalirkan kekuatan. Dipandangnya salah seorang perawat di dekat pembaringan Aryo meminta persetujuan. Suster tersebut hanya mengangkat bahu dan sepertinya menyerahkan keputusan kepada ayah sang pasien sendiri.

“Baiklah, nak. Tentang Arimbi, calon istrimu,…dia..tewas dalam musibah dashyat ini. Jenazahnya ditemukan didepan hotel tempat ia menginap. Tampaknya dia baru saja bermaksud menuju ke markasmu pagi itu. Jenazahnya dibawa ke Jakarta bersamamu 2 hari yang lalu dan sudah dimakamkan,” Ayah Aryo menuturkan kisah tragis itu dengan kalimat terbata-bata. Kesedihan teramat dalam terpancar diwajah Purnawirawan Kolonel itu.

Aryo terdiam. Batinnya begitu terguncang mendengar berita tersebut. Arimbi, kekasih belahan hatinya telah pergi untuk selamanya. Ia datang ke Aceh untuk menjenguknya namun sekaligus menjemput kematiannya sendiri. Mendadak timbul rasa penyesalan teramat dalam di hati Aryo tidak menyalakan handphone ketika bencana gempa terjadi sebelum gelombang tsunami dashyat melanda. Arimbi telah berusaha menghubunginya berulang kali saat itu namun gagal. Ia mungkin saja masih bisa menyelamatkan nyawa kekasihnya apalagi mengingat jarak antara hotel Arimbi dan Markasnya tidak terlalu jauh. Perlahan pelupuk mata Aryo basah, genggaman jemari ayahnya makin erat.

“Tabahkan hatimu, nak. Doakan semoga Arimbi mendapat tempat yang layak disisiNya,” ujar ayahnya lirih. Aryo tak menjawab. Sembari menggigit bibir, menahan keharuan yang menyesak dada, Ia lalu menoleh keluar ke arah jendela kamar tempat ia dirawat. Gerimis mulai turun, menghantam kacadengan lembut dan menyisakan jejak buram. Arimbi, sekeping hatiku telah kaubawa bersamamu, desis Aryo perlahan.

—***—

Aryo mengusap batu nisan Arimbi dengan lembut, seakan mengelus kembali rambut kekasihnya yang panjang menggerai. Malam mulai turun di kompleks pemakaman itu. Bulan purnama muncul malu-malu dibalik langit. Aryo lalu mengeluarkan saputangan biru pemberian Arimbi.

Terngiang kembali ucapan Arimbi saat menyerahkan saputangan tersebut kepadanya, “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama”. Aryo mencium saputangan itu dengan penuh perasaan dan merasakan kehadiran kekasihnya didekatnya.

Wangi parfum kesayangan Arimbi tercium sangat lekat. Aryo tersenyum dan memandang langit. Disana, dalam redup lembut cahaya bulan, ia melihat mata purnama Arimbi berpijar. “Aku tak akan menangis lagi Arimbi karena dalam setiap purnama, kamu akan selalu hadir memandangku penuh rindu dengan mata indahmu”, bisik Aryo lirih ke pusara sang kekasih. Dingin malam mulai mendekap, desau angin dipemakaman mulai terasa menggigilkan tubuh, namun kehangatan cahaya bulan mengalir ke sekujur tubuh perwira muda itu.

Aryo bangkit dengan hati-hati dan dengan langkah tertatih sembari menggunakan kruk, ia berjalan meninggalkan kompleks pemakaman itu. Ditatapnya sekali lagi pusara Arimbi dan berdesis pelan, “aku akan menyimpan pijar purnama matamu dihatiku, Arimbi”.

Sumber Foto


Catatan Pengantar


Dibawah ini adalah Cerita Pendek saya yang dimuat di Harian Fajar Makassar 22 Mei 1994. Alhamdulillah, cerpen ini diangkat ke layar kaca dalam sinetron Pintu Hidayah RCTI 6 November 2006. Mohon maaf jika judulnya kurang berkenan.


Cerpen saya yang lain “Cinta Dalam Sepotong Kangkung” juga telah ditayangkan di sinetron Maha Kasih 2 RCTI tanggal 2 Desember 2006 dan ditayangkan ulang kembali pada tanggal 24 April 2009 di TPI. Silahkan baca disini


————————————————-


Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.
(“Sebuah Tanya”, Karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Selasa ,1 April 1969)

KEHIDUPAN berjalan seperti puisi. Saya senantiasa berpendapat demikian—meski saya bukan seorang penyair tapi tak lebih hanya penikmat puisi—karena saya melewatkan hari demi hari kehidupan dengan beragam nuansa : terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu. Seperti Puisi.

Saya telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Kemarin, saya mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksi saya. Sesungguhnya, saya tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab saya tahu, kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa , tubuh dan segenap aktifitas keseharian saya. Kalaupun kemudian, ia dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terimakasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas”jasa” saya, dan kemudian dengan halus saya menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah saya lakukan sudah menjadi tugas saya, komitmen saya untuk menjunjung tinggi “harkat ke-supir taksi-an” saya. Tak lebih. Lantas, dua minggu lalu, saya menolong seorang korban kecelakaan lalulintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Saya segera membawanya ke unit gawat darurat Rumah Sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang saya dapat peroleh andai saya tetap mengabaikan kejadian itu.

Semua terasa seperti tindakan”bawah sadar” yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayah almarhum menanamkan nilai-nilai kependekaran pesilat kampung dan kearifan petani penggarap. Kejadian-kejadian tadi seperti mengguratkan puisi-puisi indah dalam hidup saya.

Read More…

Pengantar

Cerpen dibawah ini saya tulis untuk menyongsong masa pensiun ayah saya dan dimuat 15 tahun silam di Harian Fajar Makassar edisi Minggu 24 April 1994. Selamat membaca..

———-

HIDUP tanpa sempat berbuat dan bekerja apa-apa memang teramat membosankan. Semua serba salah dan menjenuhkan. Lalu aku harus bilang apa ?. Masa pensiun yang baru saja kulewati lima hari–dengan dua anak yang telah dewasa dan menikah lalu mencari kehidupan sendiri-sendiri, serta status duda ditinggal istri tiga tahun silam, bermukim di rumah besar dan megah yang hanya didampingi si Ijah, sang pembantu dan si Otong, tukang kebun–benar-benar membuatku seperti kafilah yang tersesat di gurun pasir yang gersang. Sepi, sunyi dan yang paling kubenci : sendirian !.


Sebagai mantan kepala instansi pemerintah, aku telah sangat terbiasa dengan rutinitasku. Sarapan pagi ; berangkat ke kantor diantar Dirman , supir mobil dinas ; membalas sapaan “selamat pagi” dari para bawahan; menerima telepon ; memimpin rapat ; menandatangani surat-surat ; kembali ke rumah ; baca koran sore sambil minum kopi panas ; nonton TV ; tidur dan siklusnya berulang lagi dari awal. Begitu seterusnya. Ibarat roda berputar, selama 10 tahun aku memangku jabatan.


Kini semua telah hilang. Sejak serah terima jabatan dengan Pak Indra, lima hari lalu, segala bentuk “rutinitasku” seperti direnggut paksa olehnya. Bayangkan, semua yang telah menjadi bagian yang satu dengan jiwa dan hidupku mendadak sirna, sehari setelah acara serah terima jabatan—yang “brengsek”—itu.

Terus terang, aku sangat membenci itu semua. Kebencianku tiba-tiba naik ke ubun-ubun saat Dirman mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Pak, hari ini adalah hari terakhir saya mengantar Bapak. Besok, saya sudah harus mengantar Pak Indra. Maafkan atas segala kesalahan saya dan…”.

Read More…

dfPengantar:

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar tahun 1996 (saya lupa tanggalnya kapan karena arsip klipping saya hanyut dibawa banjir tahun 1998). Untunglah masih menyimpan file arsipnya di Makassar dan meminta orang tua saya mengirimkannya ke rumah. Saya ingin membaginya kembali disini.

——————

Sang Bidadari.

Begitu selalu saya memanggilnya. Teramat sering malah.

Mungkin, pesona kecantikan wajahnya yang anggun dan bercahaya serta senyumnya yang memukau, ibarat dewi khayangan turun ke bumi meniti pelangi, dapat menjadi alasan yang tepat mengapa saya memanggilnya dengan sebutan yang membuatnya agak rikuh tersebut.

“Jangan panggil saya seperti itu,” sergahnya dengan pipi memerah.

“Saya cuma memaparkan kenyataan. Tak lebih. Kamu memang pantas kusebut bidadari”, kata saya membela diri. Saya menatap manik-manik matanya yang mengerjap indah. Ia menunduk tersipu.

“Tapi itu bukan nama saya,” ucapnya lirih. Nyaris tak terdengar.

Memang.

Namanya adalah Niken Sulastri. Putri seorang priyayi kota gudeg, yang jago menari.

Saya mengenalnya pertama kalisaat menyajikan tari tradisional dalam acara ramah-tamah pertemuan ilmiah mahasiswa teknik nasional yang saya ikuti di pendapa salah satu universitas terkenal di Yogyakarta setahun yang lalu.

Keempat penari yang menawan, meliuk-liuk indah ditingkah suara gamelan seakan membawa kami pada wibawa magis keraton yang menggetarkan. Mereka berpadu seperti ombak pantai selatan. Berdebur kencang menerpa karang. Namun syahdu, lembut dan melenakan. Dan Niken adalah penari yang paling menonjol kelincahan geraknya. Lentik jemarinya membelai angin dan kelenturan tubuhnya membangun harmoni lebih hidup. Saya hanya memaku pandang ke arahnya. Tanpa berkedip. Dengan postur tubuh semampai ditambah wajah yang cantik, Niken—bagi saya—menjelma menjadi bidadari seloka yang melayang anggun diatas mega-mega putih.

Tariannya selesai tanpa saya sadari betul-betul. Saya masih terbawa arus kekaguman pada wanita penari itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak, saya menemui dia di belakang panggung. Setelah larak-lirik sejenak, saya mendapatkannya tengah berdiri sendirian sembari memegang sebuah teh kotak. Wangi parfumnya menyerbu hidung saat saya mendekatinya.

“Maaf, boleh menganggu sebentar ?,” saya menyapa sopan. Ia menoleh memberi respon lalu mengangguk pelan.

Saya menarik nafas lega. Sebuah awal yang baik.

Read More…

TAHUN 2095, Kampus Universitas Amburadui (UNBUL), Gempar! Sang Rektor dinilai mengeluarkan tindakan sepihak dengan mengeluarkan surat keputusan dengan mengeluarkan Gedung Jasa Boga dan membangun lagi kantin dari pondok-pondok bambo beratap rumbia. Tak pelak mahasiswa berdemonstrasi, para pengelola jasa boga turut melakukan unjuk rasa serta sejumlah petinggi rektorat mengecam keputusan rector (UNBEL) yang dinilai otoriter.
Sementara itu, Di ruang kerjanya, Sang Rektor UNBEL mengamati arus demonstrasi Mahasiswa bersama pengelola jasa boga dari layar TV Monitor , dengan hati tersayat. Caci maki, sumpah serapah terdengar lantang ditujukan ke arahnya dijejali sikap sentimen penuh provokasi. Rektor Diktator! Rektor Kuno, Batalkan keputusan gila! Demikian antara lain tulisan-tulisan yang tertera pada pamflet-pamflet yang diucapkan para demonstran. Sang rector tersenyum kecut. Ia pun mencoba menabahkan hati. Tergiang di telinganya dialog yang dilakukan bersama para pembantunya melalui fasilitas visual telephone, sejam yang lalu.
“ Bapak terlalu memaksakan kehendak, Kantin gubuk reot bukan lagi zamannya,kita berada di abad modern. Kenapa kita harus kembali ke era primitif, Baheula?. Bapak menghambat kemajuan” kata Pembantu Rektor VII bidang Rekayasa Teknologi dengan wajah tenang, seperti nampak pada layar monitor sang Rektor. Dari layar monitor lain, Pembantu Rektor X bidang Kebersihan Kampus ikut menimpali, “ Benar, pak. Lagi pula keputusan yang bapak keluarkan tidak melalui Musyawarah dengan senat guru besar serta pertimbangan Kompromi Dengan Komputer Induk Universitas. Lebih-lebih bila ditinjau secara higienis, praktis, Pembuatan Kantin Gubuk itu tidak sesuai dengan kebijakan program kebersihan kampus” katanya serius.
Sang rektor diam. Diamatinya satu-satu wajah stafnya itu dengan misterius. Sesaat kemudian ia berkata,
“ No comment. Tunggu penjelasan saya selanjutnya ”, Ia lalu memencet tombol “Off” untuk mematikan TV-Monitor. Ia tiba – tiba jadi muak pada komunikasi antar personal yang terkesan hambar itu.
TV-Phone disarakan sebagai tirai yang menghalangi ekspresi kejiwaan yang penuh muatan-muatan emosinya. Ia tak pernah melihat secara langsung lagi tubuh dan wajah stafnya secara “utuh”.
Yang disaksikan hanya bayang-bayang semu, yang direflesikan melalui layar TV. Monoton dan penuh kepura-puraan .
Ia merasa tiba-tiba kehilangan rasa humor, sebab tawa yang menggema menaggapi lelucon-leluconnya telah “dibungkus” sedemikian rupa pleh piranti Sound system canggih yang memungkinkan suara terdengar lebih jernih, empuk dan “menyenangkan”. Kantin Jasa Boga kini seperti “ tak ramah”lagi. Setiap meja disekat-sekat sedemikian rupa, dan setiap meja yang bersekat itu terdapat fasilitas Video, TV, Karaoke bahkan TV-Phone.
Setiap pengunjung Jasa Boga dilayani oleh Robot Pelayan yang siap menerima komando. Tak pernah lagi ada tawa canda, gurau tentang politik atau diskusi tentang perkembangan bangsa ini. Tragisnya, Gedung Jasa Boga justru dipakai sebagai arena judi dengan komputer sebagai”Bandarnya”. Mereka yang terlihat bagai larut di dalamnya sampai lupa berapa tagihan credit-card melayang sebagi taruhan.
Hidup, bagi mereka, adalah bagaimana dapat meraup keuntungan dari kemenangan – kemenangan di meja judi. Kuliah yang selama ini diikuti terasa menjenuhkan, karena system kuliah yang diberikan adalah Video seminar via satelit. Mereka, Mahasiswa , cukup memelototi wajah dosennya melalui layar TV yang tengah menyajikan kuliah. Suasana familiar tak tercipta lagi. Semua serba kaku, datar tanpa “ nuansa manusiawi”. Universitas harus melalui pertimbangan kompromi dengan komputer induk Universitas yang dianggap sebagai “ penasehat ahli”. Bukan main. Betapa perangkat teknologi telah mengangkangi peradaban manusia.
Sang rektor menghela nafas panjang. Ia mengeluh. Dunia telah banyak berubah, fikirnya prihatin. Perlahan, ia membuka laci mejanya. Diraihnya sebuah Diary usang dengan halaman-halaman menguning ‘dimakan’ waktu. Sebuah catatan harian. Diary tua itu milik kakek moyangnya yang ditulis 103 tahun yang lampau. Catatan-catatan di dalamnya telah meng-ilhaminya melahirkan keputusan controversial tentang pembangunan kembali kantin gubuk reot. Dibukanya satu-satu halaman diary tua itu. Kemudian dibacanya dengan seksama.

Kampus Perjuangan, 4 Januarai 1992.

Anil baru saja menerima honor penulisan puisinya pada sebuah majalah Sastra Ibukota. Ia mengabarkan, dengan bangga, kepada kami. Dirman yang tampan itu, meledek Anil untuk segera mentraktir kami, yang di-amin-I oleh teman-teman lain. Ani menyanggupi. Kami lalu “meluncur” ke Bambo House. Sebuah kantin sederhana dari bamboo, papan dari atap rumbia. “ Mulai dari isyu pacaranya si anu sampai pergumulan ide-ide actual tentang masa depan bangsa ini digulirkan dari sana, ungkap seorang teman suatu hari.
Dan kami tahu itu. Sebab di sana, kami dapat berbicara enak, tanpa tekanan-tekanan, intimidasi sembari mengunyah ubi goreng yang hangat.
Di tempat itu kami ketemu L. Wawan, Moel, Amy, Judi – kawan dan kakak yang progressif yang asyik berdiskusi tentang Lembaga Mahasiswa Kampus kami yang lagi loyo. “ Nah, kebetulan “ seru Wawan yang revolusioner itu menyambut kami. Lalu kami bertukar cerita.
Moel dengan prihatin bicara tentang tentang kasus “pencekalannya” pada Surat Kabar Kampus yang telah digelutinya selama 9 tahun atau Mas Judy tentang teori Berger yang filosofis itu sampai-sampai otakku tak mampu mencernanya atau Lily tentang cerpen terbarunya atau Kak Amy tentang naskah drama yang bakal dipentaskannya dalam waktu dekat ini bahkan Nasrun yang motornya mogok saat ia harus buru-buru asistensi tugas. Semua mengalir begitu saja seperti memperoleh muara. Dan terus terang, kami bahagia untuk itu…

Sang Rektor tercenung. Mereka semua harus diberi penjelasan , ya… mereka yang selayaknya tahu bahwa pembangunan kantin gubuk reot bukan tanpa alasan jelas. Saya tidak ingin membuat monumen atau mengulang nostalgia belaka, desis sang rektor.
“Saya ingin menbangun sebuah “ Bangunan Cinta” dimana transformasinya rasa, emosi dan harapan – harapan tidak diekspresikan melalui media-media yang tak mampu mewakili secara alami apa yang ingin diungkapkan. Saya ingin, “sentuhan manusiawi” melingkupi suasana kita” demikian kata-kata Sang Rektor yang ditulis pada Pamflet yang dipasang di dinding-dinding Universitas Amburadul.
Dibawah tulisan tersebut, ditempel pula salinan Catatan Harian Kakek Moyangnya. Dan Kampuspun tak geger lagi.
Dimuat di Surat Kabar Kampus “Identitas” Universitas Hasanuddin, 23 Juli 1992

 

BANDARA Hang Nadim menyongsong kedatangan saya dengan terik matahari yang menggemaskan. Udara gersang “ kota otorita”,  itu berhembus menerbang selaksa debu-debu, berputar tak teratur kemudian mewarnai Batam dalam nuansa suram  yang oritamental.

Saya menyeka paluh di kening sembari melihat sekeliling, kesibukan berada dimana mana. Orang –orang hilir mudik bagai robot. Nyaris tak punya rasa. “ Mungkin sebentuk kebudayaan baru:.

Saya membatin dengan getir.

Di dalam Taksi yang membawa saya ke hotel  di kawasan Nagoya, saya menikmati pemandangan sekeliling yang sungguh mengesankan. Taksi membela di aspal yang mulus, di kanan kiri dinding pepohonan dan rimbun bakau menyemarakkan. Sesekali terlihat aktifitas “ pembukaan tanah”, dalam rangka membangun wilayah Industri baru.

Alat-alat berat bekerja giat, dipanggang matahari. Dan beberapa buruh dengan otot berkilat berkutat serius pada pekerjaannya, diawasi dua orang mandor berdasi dengan helm proyek di kepalanya.

Saya menyadarkan  diri pada jok kursi yang empuk untuk lebih santai menikmati perjalanan ini. Saya tiba-tiba merasa tegang dan letih. Lagu “ To Love Somebody”, dari MIchael Bolton mengalun lembut dari tape taksi, melenakan saya untuk mengingat peristiwa 2 hari silam.

Hari itu kami mengadakan rapat redaksi masalah kerja. Saya merasa sangat  bosan dan sedikit mengantuk mendengar dari uraian dari direktur pelaksana yang bertele-tele, tentang disiplin wartawan, investigative reporting, dan sebagainya yang menurut saya kami sudah cukup tahu untuk itu!.

Dalam suasana kantuk yang makin berat, saya tiba-tiba tersentak kaget,  ketiks nani saya dipanggil.Saya menegok dengan acuh , memberi respon.  “ Lusa kamu berangkat ke Batam”. Liput kehidupan malam yang ada di sana  dan wawancarai salah seorang  wanita penghibur di situ. Segala biaya di tanggung perusahaan, untuk jangka waktu … hari demikian titah bung Mukhlis, sang redaktur  pelaksana majalah kami dengan tegas. “ Tapi pak….”, saya mencoba menyela. Namun Bung Muklis buru-buru memotong , “ tidak ada tapi. Surat tugasmu diambil besok pagi pada Nasrun, sekretaris redaksi. Sekalian segala urusan administrasinya. Jelas?,  Saya tiba-tiba membayangkan, Nina, pacar tercinta , akan memaki saya habis-habisan lantaran tidak menghadiri pesta ulang tahunnya.

“ Pak , sudah sampai,  pak ! , tiba-tiba pak sopir taksi membuyarkan lamunan saya. Saya kemudian keluar dan membenahi barang,  membayar ongkos taksi lalu  memasuki penginapan untuk check –in. Tiba di kamar saya langsung tertidur pulas dan bermimpi Nina datangi saya  dengan gaun putih, di lehernya seuntai kalung mutiara, rambutnya kusut masai dan meneteskan air mata. Kecantikannya memudar. Rupanya : I Have a Nightmare!.

*****

KEHIDUPAN malam di Batam betul-betul semarak. Di dekat hotel saya, kawasan Nagoya, malam seperti ditaburi cahaya. Gemerlap lampu diskotik, panti pijat  dan took berpendar-pendar penuh pukau. Nagoya seperti penuh warna dan menjanjikan kesenangan yang tiada tara.

Saya memasuki sebuah diskotik , dengan suasana hati yang tidak menentu. Musik yang berdentum keras segera menyongsong kedatangan saya dan beberapa pramuria dengan paras lumayan  mengantar saya kesebuah meja paling ujung.

Di lantai dansa sejumlah anak muda, menari dengan riang , melepas kepenakan dan membuka belenggu kehidupan. Suara musik yang membahana ditingkah kerlap-kerlip lampu disko yang pariatif serta gerak tubuh yang melenggak-lenggok mengikuti irama. Saya cukup terpesona oleh gaya mereka, tapi sama sekali tak tertarik untuk “turun” .

“ Anda perlu teman?” ,  tiba-tiba terdengar suara empuk terdengarkan. Saya menoleh. Di depan saya berdiri seorang gadis berusia sekitar 23 tahunan. Ia memakai baju You Can See berwarna merah bertuliskan Woman ‘ s Lib dengan parfum menyengat hidung serta Blue Jeans  ketat . Wajahnya cukup cantik, tetapi tidak lebih cantik dari Nina .

 

“ Kebetulan saya memerlukan teman duduk. Mari, silahkan !, “ saya mempersilahkan dengan ramah. Iapun duduk dengan anggun tepat di depan saya.

“ Kenalkan. Silvia”., katanya mengulurkan tangannya dengan hangat sambil memperkenalkan diri.

“Sendirian?” .   Tanya Silvia.

“ Seperti kamu lihat saya lagi solo karier,” saya menyahut, sedikit bergurau . Silvia tertawa samar.

“ Kayaknya, anda orang baru di Batam. Benar  kan?:, Silvia menebak. Saya mengangguk.

“ Saya baru tiba tadi pagi dari Jakarta, saya istirahat, lantas ke sini”, kata saya menjelaskan. Silvia mengguk-mangguk.

“ Kalau boleh saya tahu ada urusan apa di Batam ?” selidik Silvia. Saya tersenyum. Kayak detektif saja main interogasi segala. Saya membatin.

“ Cuma jalan-jalan. Sekalian bisnis sedikit”. Saya menjawab enteng. Kemudian Silvia manggut-manggut.

“ Kamu kerja disini, ya?”, saya bertanya. Tenang. Benar, sudah 3 tahun”, jawab Silvia tenang. Dia melemparkan pandangan ke lantai dansa, seperti menghindarkan diri dari pertanyaan selanjutnya yang terkait. Lagu disko Humpin Around  milik Bobby Brown  menghentak keras . Tak ada kata kata anatara kami.

Naluri wartawan saya tiba-tiba membisikkan sesuatu.

“ Silvia  kamu tidak keberatan menemani saya keluar, menikmati malam di kota Batam? Soalnya,…. di sini pengap sekali”, saya berkata dengan sangat hati-hati

“ Silvia tersenyum dan mengiyakan.

Tiba –tiba saya merasa sangat bahagia. Saya akan cepat pulang.

Pada kawasan Batu Ampar.

Di seberang sana, Kerlap-kerlip lampu kota Singapura seakan menghimbau. Di langit bulan purnama bersinar penuh, berkilau mempesona menambah suasana romantis.

“ Ada bisnis apa kamu di sini?” , Tanya Silvia memecah keheningan. Suaranya terdengar jernih. Saya menghela nafas panjang.

Saya merasa harus terus terang akan keberadaan saya disini, bersamanya.

“ Saya wartawan majalah Teropong ,” kata saya akhirnya.

Silvia memandang saya lekat-lekat. Saya seperti mau ditodong.

“ Saya ditugaskan untuk melipiut kehidupan malam di koto ini untuk materi penerbitan kami selanjutnya, lalu …”, saya menjelaskan.

“ Kamu ingin mewawancarai saya?,” potong Silvia tajam.

“ Kurang lebih begitu, kalau kamu tidak keberatan, saya menjawab dengan perasaan tidak enak. Terdengar resah angin gersang bertiup di sekeliling kami.

“ Saya tak keberatan,” jawab Silvia datar. Saya seperti kejatuhan durian runtuh. Ini peluang baik!.

Maka wawancarapun berjalan lancar . Kisahnya mengalir sendu. Silvia, yang dulu bernama asli  Ratna , adalah produk keluarga miskin–papa. Dia – sebagai anak sulung  – adalah satu – satunya tumpuan keluarga dan adik-adiknya.

Saat ini dia memutuskan untuk mengadu nasub di Batam sebagai seorang buruh harian pada sebuah kawasan industri, ia telah bertekat tak akan pulang dan biaya kehidupan di Batam., penghasilan sebagai tenaga buruh harian terasa tak cukup untuk makan sehari-hari. Seorang kawan mengajaknya teriun menjadi “penghibur” malam yang menjajikan honor lumayan.

Maka demikian, sejak 2 tahun lalu, ia bergelut dalam kehidupan maksiat, pemuas nafsu laki-laki, sekaligus tetap bekerja sebagai tenaga buruh harian pada pagi hari, meski ini tak sesuai dengan hati nuraninya, ia tak kuasa menolak deraan tuntutan hidup yang makin kejam.

“ Jadi selama ini kamu merasa tidak tentram?” saya bertanya, Silvia menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Ia  seakan melepaskan beban batin yang mengekang.

“ “ Saya cukup tentram, tapi tidak cukup tenang apalagi bahagia,” tukasnya diplomatis. Saya tersenyum mahfum.

“ Hidup harus lebih dari hanya sekedar karena dia adalah pelaksana cita-cita dan harapan. Juga karena ia adalah karena cinta dan keinginana memahami. Saya sangat percaya itu!” saya sangat percaya itu tuturnya dengan suara serak. Ia seperti menyimpan duka yang dalam.

“ Kamu pernah merasa terhina  oleh pekerjaanmu?”.

“ Sedikit, tapi cukup menyakitkan. Dan itu membuat saya untuk lebih tegar menghadapinya. Saya merasa cukup kuat dan tidak perlu menangis. Meski saya telah penuh luka. Sangat parah, “ Suara Silvia terdengar lirih. Ia lalu melempar puntung rokoknya jauh-jauh.

“ Bagaimana cara kamu merasakan suka  dan duka ?, saya tiba-tiba seperti melemparkan pertanyaan bodoh. Silvia  menyeringai, tapi tidak melecehkan , ia bagai mengejek angin.

“ Saya memandang bulan. Dia lambang kelembutan sekaligus keperkasaan alam, kemampuan bertahan, “ Silvia bertutur sembari menatap bulan yang sinarnya keperakan menerpa tempat kami. Ia menyulu rokok kedua.

“ kalau bulan tidak muncul?”, saya iseng bertanya.

“ Saya memandang langit. Dia lambang kepasrahan dan kelapangan menerima ,” jawabnya datar.

“ Apa selama ini kamu bahagia?”.

“ Selalu,. Tapi semu,” jawabnya  singkat.

“ Mengapa semu?”.

“ karena kebahagiaan yang saya miliki, adalah kebahagiaan yang diwujudkan dengan materi, uang bahkan nafsu. Bukan cinta”.

“ Kamu pernah jatuh cinta?”.  Silvia tersenyum. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam. Matanya menerawang jauh seperti mengenang sesuatu.

“ Pernah. Tapi saya berfikir itu tidak ada gunanya,” ujarnya getir. Namun bibirnya bergetar. Dia menyimpan keharuan yang dalam.

“ Mengapa?”.

“ Sebab saya adalah cinta itu sendiri,’ kata Silvia dengan mata berkaca-kaca. Saya tercenung. Dia terlalu pintar untuk seorang WTS .”

“ Kamu tidak pernah berfikir untuk menjalani kehidupan berkeluarga yang lazim seperti wanita-wanita seusiamu?”.

“ Itu juga, bagi saya, tidak berguna.  Saya cukup puas dengan keadaan saya sekarang. Saya tidak ingin untuk menambah dan menguranginya.”

“ Pernah ada keinginana untuk…insaf kembali ke jalan yang benar dan lurus?”.

“ Saya pernah memutuskan untuk melakukannya . Tapi tak jadi. Saya selalu kotor hina dan penuh luka. Dan saya menganggap itu…itu…itu…juga tak akan berguna, jawab Silvia tersendat, air mata mengalir di pipinya. Ia menunduk.

“ Maaf, saya telah membuatmu menangis,” saya berkata dengan penuh penyesalan , Silvia menengadah, dan menyeka air matanya. Bibirnya kembali menyungingkan senyum.

“ Tak apa. Saya tiba-tiba merasa berharga,” ucap Silvia nyaris tak terdengar. Saya menepuk pundaknya.

“ Jangan berkata begitu. Semua orang berharga di mata Tuhan, Pencipta Alam Semesta. Tinggal bagaimana kita, menempatkan diri lebih istimewa  pada penghargaaNya, tergantung dari seberapa jauh kita mengikuti perintahNya, taqwa padaNya dan senantiasa sadar kita dalam pengawasanNya.” Saya bertutur panjang menghibur Silvia. Dia tiba-tiba menatap saya dengan tajam menghujam. Seperti mencari makna dan kepastian . Mendadak sontak ia memeluk saya erat-erat , menangis tersedu-sedu  di dada saya.

“ Saya selalu berusaha mencari ketenangan dan kearifan memandang hidup. Dan saya menemukannya kini.,” kata Silvia sesunggukan. Saya menghela nafas. Terlalu banyak yang saya peroleh malam ini.

“ Silvia,. Sudalah , mari saya antar pulang, sudah malam, “ kata saya mengajak. Kamipun beranjak pergi. Saya sempat melirik bulan di atas sana. Bulan seperti berdarah, dan luka parah. Saya tidak mampu menjelaskan peristiwa ini. Terlalu samar atau bahkan sama sekali tidak berharga.

Maros, 12 Desember 1993

Cinta adalah sebuah jaring yang menjerat hati bagaikan seekor ikan

(Muhammad Ali, Mantan Juara Dunia Tinju Kelas Berat, dari “Reader Digest Indonesia” edisi Januari 2005)

          HUJAN masih menyisakan gerimis sore itu. Rintik demi rintiknya membasahi baju seragam biru kantor saya. Matahari yang mulai beranjak ke peraduan, mengintip  malu-malu disela-sela awan merah jingga. Sebuah suasana senja yang sungguh eksotik. Saya berlari kecil menuju halte bis persis didepan kantor Pajak disamping gedung Sentra Mulia Jl.Gatot Subroto. Ini hari pertama saya masuk kerja di salah satu perusahaan kontraktor minyak dan gas sebagai engineer trainee.

Seusai menamatkan study di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta, ayah dan ibu meminta saya untuk tinggal kembali bersama mereka di rumah kami di Cikarang dan meninggalkan tempat kos yang sudah saya huni selama kurang lebih 3 tahun. “Kamu sudah terlalu lama meninggalkan kami sejak kuliah di Jakarta, jadi mulai sekarang, kamu harus tinggal di Cikarang, meski kamu bekerja di Jakarta. Tidak ada istilah tinggal di kos-kosan lagi”, demikian titah ayahku yang kemudian di-amini oleh ibuku. Saya hanya mengangguk pelan. Saya memahami keputusan ayah, karena sejak beliau pensiun dari pekerjaannya disalah satu pabrik di kawasan industri di Cikarang dan terlebih sejak Kak Intan menikah kemudian diboyong Mas Hari, suaminya ke Balikpapan, ayah dan ibu kesepian dan butuh teman untuk mendampingi mereka selama melewati masa tuanya. Namun tak urung, sempat terbayang dalam benakku menjadi pekerja komuter yang bolak-balik Jakarta-Cikarang yang berjarak kurang lebih 35 km. Betapa sangat melelahkan.

Maka demikianlah, sejak saat ini saya menjadi pelanggan tetap bis Mayasari Bakti No.AC-121 Jurusan Cikarang-Blok M atau Bis Eksekutif Lippo Cikarang dengan jurusan yang sama. Setiap pukul 06.00 saya berangkat dari rumah menuju ke kantor di daerah Jalan Warung Buncit Jakarta Selatan dan pulang setiap pukul 17.00 sore. Sebuah rutinitas yang menurutku bakal membosankan.

Saya duduk di halte bis sambil menebar pandangan ke sekeliling. Nampak 2 orang penjual teh botol/minuman ringan, seorang penjual bakso gerobak dan seorang penjual siomay sepeda menjajakan hidangannya. Sejumlah karyawan kantoran tampak pula menikmati hidangan pedagang-pedagang itu yang saya yakin sebagian besar diantaranya juga adalah pekerja komuter yang tinggal di daerah sekitar Bekasi, Bogor atau Cikarang, seperti saya. Mereka duduk di bangku halte ataupun di kursi plastik yang disiapkan oleh sang penjaja makanan. Para penunggu bis lainnya ada yang saling bercakap-cakap dan ada pula dengan khidmat membaca Koran terbitan sore. Lalu lintas di jalan Gatot Subroto demikian padatnya. Asap knalpot kendaraan meruap diudara dan perlahan hilang disaput gerimis senja.

“Nah, itu dia!”, saya membatin saat melihat dikejauhan, bis AC-121 akan melintas didepan halte. Beberapa diantara penunggu bis berdiri dari tempat duduknya dan merapat kepinggir halte. Dan ketika bis mendekat para pekerja komuter itupun berebutan naik keatas bis.  Saya lalu menghenyakkan pantat pada sebuah kursi kosong formasi 2 tempat duduk. Sambil menghela nafas lega saya menoleh kesamping kearah tetangga duduk yang mengambil posisi dipinggir dekat jendela. Untuk kedua kalinya saya menarik nafas lega dengan helaan lebih panjang. Tetangga duduk saya ternyata seorang gadis manis berkacamata dibungkus gaun blazer dan rok hitam, berusia sekitar 25-26 tahun, berkulit putih dengan hidung mancung aristokrat dan sedang serius membaca sebuah novel berjudul “Jomblo” karya Adhitya Mulya. Ia tampaknya tidak begitu terganggu dengan kehadiran saya disampingnya. Dengan ketenangan luar biasa, ia terus membaca lembar demi lembar novel tersebut. Saya mencoba mencuri-curi pandang ke arahnya menikmati sosok karunia Tuhan yang begitu sempurna itu. Sesekali saya melihat ia tersenyum samar bahkan tertawa tertahan sambil menutup mulut dengan tangannya yang mungil dengan mata tetap lekat pada novel yang dibaca.

Ini dia, sosok wanita idaman yang senantiasa menjadi impian. Seketika adrenalin dalam tubuh saya bergolak menyentuh kisi-kisi hati yang paling dalam. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama, demikian gema hati saya berdentam keras. Bis yang telah memasuki gerbang tol didepan Hotel Kartika Chandra, melaju dengan lambat. Kemacetan yang sudah menjadi “tradisi Jakarta” menghambat pergerakan bis kami di kawasan Pancoran. Gadis itu sejenak menghentikan kegiatan bacanya dengan meletakkan novel di pangkuan sembari membuka kacamata ovalnya kemudian memijat sudut sekitar alis dan bagian atas hidung dengan ujung jempol dan telunjuk jari tangan kanannya. Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menyapa gadis itu sesaat setelah ia menyelesaikan kegiatannya.

“Jadi jomblo ternyata nggak enak ya ?”, kata saya membuka percakapan dengan melontarkan sebuah pertanyaan konyol. Gadis itu menoleh kearahku dan tersenyum tipis. Ia tak berkomentar apapun.

Saya menelan ludah dan berusaha untuk tidak menyerah, setidaknya saya telah mencuri perhatiannya.

“Sebagai seorang jomblo, saya benar-benar merasakan betapa sepinya hidup tanpa wanita. Disitulah letak tidak enaknya,” saya mencoba menetralisir suasana dengan menceritakan pengalaman pribadi yang  saya alami saat ini. Namun belakangan saya merasa menjadi orang paling tolol sedunia dengan melontarkan pernyataan tadi.

Gadis itu tertawa tanpa suara. Ia lalu menutup novel yang dibacanya sambil menanggapi seraya menatap tajam kearah saya.

“Sebagai jomblo, saya merasa enjoy aja  tuh. Saya tidak pernah merasa tersiksa rasa sepi tanpa pasangan”

           Ia mencoba menyanggah argumenku, saya membatin. Saya lalu memperbaiki letak duduk sekaligus menata kegugupan yang tiba-tiba melanda.

“Yaaa…tiap orang kan’ punya pendekatan berbeda dalam menyikapi ke-jomblo-annya. Saya cenderung menanggapinya secara sentimental sementara anda melihat itu secara lebih rileks. Itu mungkin yang membuat kita berseberangan dalam hal ini”

“Ini bukan soal pendekatan menyikapi. Ini soal prinsip. Jadi jomblo bukan sebuah curse atau kutukan koq. Itu sebuah proses alamiah dalam hidup, yang, mungkin disadari atau tidak akan dialami semua orang. Tanpa kecuali. Termasuk anda dan saya. Jika kemudian itu terjadi, sudah seyogyanya dipandang sebagai bagian dari sebuah proses kehidupan dan tidak lantas tiba-tiba menganggap diri sebagai pecundang. Jadi, take it easy-lah,” sahut gadis itu santai. Tanpa beban. Saya langsung mengagumi cara berfikirnya yang demikian sederhana namun cerdas itu.

“Lantas bagaimana jika jadi jomblo terus-menerus, masa’ harus “take it easy” melulu sih ?”, saya mencoba memancing pendapatnya lebih mendalam.

“Saya tidak melihat itu sebagai hambatan yang patut diwaspadai. Rezeki, Jodoh dan Mati terkadang datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak kita perkirakan sebelumnya. Tuhan telah memberikan garis nasib seseorang sejak ia lahir kedunia termasuk siapa yang bakal menjadi pasangan hidupnya kelak.”, jawab gadis itu—lagi-lagi—dengan santai. Ia lalu melontarkan pandangan kearah jendela bis. Lalulintas masih padat, kendaraan berjalan tersendat. Bis kami sudah mendekati tol Jakarta-Cikampek disekitar Cawang namun terhambat di persimpangan tol dalam kota yang menuju Tanjung Priok.

Saya terkekeh, analisa gadis ini sangat pragmatis tapi menyentuh.

“Saya baru menemukan gadis jomblo setangguh anda,” kata saya sambil menatap lekat matanya yang tanpa kacamata oval itu. Mata jernih ibarat bintang kejora yang memancarkan kecerdasan. Hati saya makin menggelepar-gelepar karenanya.

Gadis itu tertawa renyah. Barisan giginya yang rapi semakin memancarkan aura kecantikannya. Terlihat pula dekik pipinya yang membuat ia terlihat mempesona.

“Jangan coba bermain-main dengan asumsi anda,” sahutnya disela-sela tawanya yang “indah” itu.

“Oya, Kita belum kenalan, nama saya Andika, ” saya mengangsurkan tangan kearah gadis itu untuk berkenalan.

“Alya Maharani, panggil saja Alya,” balas gadis itu menyambut uluran tangan perkenalanku dengan hangat. Suasana kaku antara kami langsung mencair. Sepanjang perjalanan, kami bercerita tentang banyak hal mulai dari kegemaran kami berdua membaca buku, film-film terbaru dan juga tentang diri kami masing-masing. Sejak setahun terakhir ini, sejak lulus dari akademi sekretaris terkemuka, Alya bekerja sebagai sekretaris General Manager di salah satu perusahaan telekomunikasi di salah satu gedung di bilangan  Jalan Sudirman. Sebagai anak tunggal kesayangan, ia tidak diizinkan untuk kos di Jakarta dan tetap diminta tinggal bersama keluarganya di Cikarang. Jadilah ia pekerja komuter Cikarang-Jakarta, seperti saya. Kami berbincang dan bercanda dengan akrab, tanpa jarak, bagai dua sahabat yang lama tidak bertemu. Bis kami memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek dan melaju dengan kecepatan konstan. Gerimis sudah reda dan matahari beringsut menuju ke peraduannya meninggalkan jejak-jejak merah saga.

Tanpa terasa, bis telah memasuki gerbang tol Cikarang Barat dan kami mengakhiri percakapan karena Alya harus turun lebih dulu di salah satu kompleks perumahan yang dilewati oleh bis kami. Sebelumnya kami telah saling bertukar nomor handphone, alamat serta e-mail dan berjanji untuk saling menghubungi satu sama lain. Saya sempat menyaksikan sekilas senyumnya yang memukau itu sesaat sebelum turun dari bis. Malam telah menurunkan tirainya di Cikarang.

Keesokan paginya, saat saya baru naik bis AC 121 dari gerbang depan kompleks didepan rumah saat dering SMS di handphone saya terdengar. Dari Alya.

            Sdh naik bis blm ? Klu sdh, Sisain t4 ddk  ya ?Sy nunggu didpn kompleks. Thanx

Saya tersenyum membaca pesan pendek itu dan tak lama kemudian jari-jari saya dengan lincah mengetik balasannya : Jgn khawatir. Masih ada koq ,t4-mu disisiku.

Untuk kedua kalinya saya tersenyum. Rutinitas yang sebelumnya saya curigai bakal membosankan. Ternyata tidak juga. Pagi yang cerah ini seperti diwarnai berjuta pelangi. Indah sekali.

“Hai, Selamat Pagi” sapa Alya ramah. Sang Bidadari pagi sudah datang. Kali ini dia mengenakan blazer warna biru dengan paduan celana panjang yang harmonis. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung.

“Selamat pagi juga, yuk duduk disini”, saya berdiri dan mempersilakannya duduk disamping tempat duduk saya, didekat jendela, tempat favoritnya.

“Terimakasih, sudah disediakan tempat,” katanya tulus. Saya tersenyum dan kembali memandangnya takjub. Dia begitu cantik hari ini.

Kamipun terlibat pembicaraan yang hangat tentang banyak hal. Saya seperti menemukan cakrawala baru dalam kehidupan saya sejak berkenalan dengan Alya. Kami selalu menemukan materi percakapan yang menarik disetiap pertemuan kami, Sejak saat itu, setiap pagi hingga sore, pada hari kerja, kami selalu bertemu di bis favorit kami. Perasaan cinta padanya semakin tumbuh subur dalam hati saya, dari waktu ke waktu, Namun saya belum punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya secara terbuka, termasuk mencoba bertamu ke rumahnya meski kompleks perumahan kami relatif berdekatan. Sampai pagi ini, pada pertemuan kami yang ke-34, Alya menyatakan sesuatu yang membuat saya tersentak kaget.

“Mulai besok, kita mungkin tidak akan bertemu lagi seperti sekarang,” kata Alya pelan. Saya menahan nafas, tenggorokan saya terasa tercekat. Saya lalu memandang tajam kearahnya.

“Saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan study di Sydney, dan mulai besok saya akan pindah sementara ke rumah paman di Jakarta untuk mengurus kelengkapan administrasi keberangkatan saya nanti. Bulan depan, jika tak ada aral melintang, saya akan ke Sydney dan mengundurkan diri dari kantor saya sekarang,” Alya melanjutkan dengan suara serak dan bibir bergetar. Ia kemudian menundukkan kepala, menekuri lantai bis yang kusam. Saya tercenung, berita ini sungguh mencengangkan dan membuat batin saya begitu terpukul. Amat telak. Untuk sejenak kami berdua terdiam. Ada keharuan melingkupi kesenyapan itu. Seorang pengamen jalanan sedang mendendangkan lagu dengan suara parau dan membosankan.

“Kenapa kamu tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya ?”, saya bertanya dengan nada putus asa. Mata kejora Alya lalu menatap saya memancarkan apologi sekaligus kepedihan mendalam.

“Saya tak bermaksud menyembunyikan ini semua dari kamu. Saya merasa tidak memiliki cukup keyakinan untuk bisa lolos dalam seleksi penerimaan beasiswa itu. Dan atas alasan itulah saya tidak menyampaikan hal ini kepada kamu,. Sampai semalam, sepulang dari kantor, ibu menyampaikan kabar tersebut serta rencana-rencana selanjutnya,”, jawab Alya seraya memandang keluar jendela. Saya memahami kegalauan hatinya saat ini. Mendung menggayuti langit, hujan sebentar lagi turun. Bis kami sudah memasuki gerbang tol Pondok Gede Timur dan sang pengamen terlihat mulai berkeliling ke seluruh penumpang bis sembari menyodorkan topi lusuhnya untuk mendapatkan sekedar imbalan atas nyanyiannya yang sumbang tadi.

Kami saling tidak bercakap-cakap lagi sesudah itu.  Saya segera membayangkan betapa kebersamaannya selama satu-dua jam yang begitu berarti dalam tiap jejak kehidupan saya melalui roda-roda bis Jakarta-Cikarang dan sebaliknya, di tiap pagi dan sore akan berakhir secepat ini. Tragisnya, saya belum sempat mengungkapkan perasaan cinta yang bergelora dalam hati kepadanya, Alya, sang bidadari pagi pemilik mata kejora itu.  Saya menghela nafas panjang, menyerap oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dada yang terasa sesak oleh berita kepergiannya . Saya melirik ke samping, Alya terlihat lebih sering menatap keluar jendela bis, entah apa yang berkecamuk dipikirannya saat ini. Gerimis yang mulai turun menghantam kaca jendela bis meninggalkan jejak-jejak buram.

Seperti biasa, saya turun lebih dulu di halte Polda DKI dan Alya masih melanjutkan perjalanan sekitar satu kilometer lagi setelah saya.

“Saya turun duluan ya, sampai ketemu sore nanti,” kata saya pamit. Untuk terakhir kali, batin saya bergumam pedih. Alya mengangguk pelan dan menatapku sayu.

Seperti biasa, sore harinya, saya bertemu Alya lagi, namun dengan nuansa muram tidak seperti biasanya. Saya telah menetapkan hati dan menguatkan nyali untuk mengungkapkan perasaan saya padanya, sekarang. Saya tidak peduli, betapa norak menyatakan cinta diatas bis ini.

“Alya, boleh saya mengungkapkan sesuatu padamu ?”, kata saya hati-hati sambil menatap wajahnya yang begitu jelita. Ia mengangguk pelan. Matanya mengerjap indah.

“Saya mencintai kamu, jadilah kekasih saya untuk sekarang dan seterusnya. Dari kebersamaan kita selama ini, membuat saya yakin kamulah wanita yang  pantas mendampingi saya, selama hidup dan saya berharap kamupun punya keyakinan yang sama. Saya tidak berusaha untuk bermain dengan asumsi, saya bersungguh-sungguh untuk membuat kamu bahagia,” ucap saya lirih dengan tenggorokan tercekat. Alya terdiam, ia seperti terguncang oleh pernyataan saya yang mungkin tidak sepantasnya diungkapkan diatas bis yang sedang melaju. Saya menelan ludah, menata kegugupan yang mendera. Degup jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Saya lalu memberanikan diri meraih dan menggenggam tangannya. Ia tidak berusaha menghindar dan memandang saya dengan tajam.

“Kebetulan, saya juga punya keyakinan yang sama,” sahut Alya dengan bibir bergetar, tangannya balas menggenggam tangan saya lebih erat, mengalirkan segenap perasaan yang membuncah saat itu. Jantung saya tiba-tiba seperti berhenti berdetak menerima respon yang demikian menggembirakan itu. Alya tersenyum manis dan segera merebahkan kepalanya di bahu saya. Seketika warna-warni pelangi terpampang didepan mata, membias lugas menembus kaca-kaca jendela bis yang sedang melaju kencang. Saya menoleh keluar jendela disamping Alya duduk, seraya meremas lembut jemarinya.

Bis kami baru saja melewati daerah Bekasi Timur, tepat di kilometer dua puluh tiga dari Jakarta.

 

Jakarta, 31 January 2005

June 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed