Category Archives: Curhat

Saya sudah memiliki reputasi tersendiri sebagai seorang tukang jahil.

Waktu masih sekolah dulu, beberapa kali saya melakukan aksi-aksi usil yang menyebabkan seseorang jadi korban. Tapi kadang-kadang juga justru malah saya yang kena batunya. Seperti ketika saya dengan jahilnya mengikat rambut kawan saya di SMP dulu tapi malah akhirnya jidat saya kena lemparan kapur tulis dari Ibu Guru.

Untunglah belakangan ini, setelah berkeluarga dan punya anak, saya sudah mulai (sedikit) insyaf. Saya katakan “sedikit” karena sebenarnya masih ada juga sih beberapa kelakuan usil yang pernah saya lakukan. Antara lain seperti yang pernah saya ceritakan disini dan yang paling akhir sewaktu kejadian dengan lelaki gemulai di salon bulan lalu.

Memang, seiring umur kian bertambah, seharusnya kita memang makin insyaf dan tidak berbuat usil serta menzalimi orang lain. Kalaupun keusilan itu dilakukan mesti yang membawa manfaat dan hikmah bagi yang bersangkutan (hehehe..emangnya ada usil yang bermanfaat ya? )

Entah sudah beberapa kali saya menerima SMS-SMS yang menyatakan saya telah menjadi pemenang dari sebuah undian. Hadiahnya bisa berupa mobil atau uang tunai. Saya tahu itu SMS tipu-tipu. Beberapa kali saya tidak pernah menggubrisnya. Malah langsung menghapusnya dari “incoming SMS” di handphone.

Beberapa kali pula saya iseng membalas SMS itu antara lain menyatakan , misalnya : “Anda juga beruntung karena anda baru saja mengirim SMS kepada saya Direktur Excelcomindo, saya akan lacak nomor anda dan melaporkannya ke Polisi” atau “Maaf, Sesama Tukang Tipu Jangan Coba Main Tipu”. Biasanya tak akan ada tanggapan balik dari mereka.

Saya pun ikut cuek dan hidup pun terus mengalir. Seperti biasa.

Setelah membaca di media bahwa ternyata banyak juga yang jadi korban dari SMS-SMS tipu-tipu itu, sayapun jadi gregetan. Pengen juga rasanya memberikan “pelajaran” pada para penipu itu. Alhasil, sekitar 3 tahun silam, sayapun melakukannya. Saat sedang makan siang dikantor, sebuah SMS masuk ke handphone saya dengan huruf kapital semua. “SELAMAT, ANDA BERHASIL MEMENANGKAN HADIAH UNDIAN 1 UNIT MOBIL KIJANG INNOVA TERBARU PADA ACARA GEBYAR PRO-XL 2004. SILAKAN HUBUNGI NOMOR 021-XXXXXX UNTUK KONFIRMASI”.

Seketika, penyakit usil saya kumat.

Read More…

Aristoteles sang filsuf Yunani beken pernah berkata bahwa musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Saya sepakat dengan itu. Soal selera memang berbeda-beda. Tapi tak apa-apa. Selera bermusik setiap orang tentu tak akan sama. Saya cenderung menyukai musik yang ke-mellow-mellow-an atau anda malah sebaliknya. Bagaimanapun itu tentang sebuah pilihan. Yang paling penting kesan yang ditinggalkan dari musik yang sudah didengar membawa kesan mendalam di hati serta bagaimana kita memaknainya dalam perjalanan hidup dan kehidupan.

Pada kesempatan ini, saya mencoba membagi 10 Lagu Gaek yang telah membuat hati saya termehek-mehek masing-masing 10 lagu barat dan 10 lagu Indonesia menjadi 2 bagian.

Saya akan menceritakannya kepada anda beserta kisah-kisah pendek yang menyertainya. Lagu-lagu inilah kerap menemani saya mencumbui malam sambil mengetik dilaptop. Membuat setiap serpih kenangan berlari kebelakang bersama jatuhnya derai-derai inspirasi bernas dari langit.

Di kesempatan pertama ini saya mulai dengan 10 Lagu Barat dulu, dan ini 5 diantaranya.

Read More…

Listening

“When you listen, you offer a package of the most valuable healing gifts you can give: compassion, consolation, and forgiveness”.
 — James Kullander, taken from Gaia Community Website

Menjelang tidur malam, usai menceritakan dongeng, saya selalu menyediakan sepasang telinga saya dan membukanya lebar-lebar, untuk mendengarkan anak-anak bercerita.

Tentang apa saja.

Seremeh apapun itu.

Rizky sebagai anak terbesar akan bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya hari itu.

Baik aktifitasnya disekolah maupun bermain bersama kawan-kawannya di dekat rumah. Ia menceritakannya lebih tenang, runtut dan terperinci. Namun ia kerap terusik ketika sang adik yang usil menganggunya ketika sedang bertutur.

Sementara si Bungsu Alya, biasanya bercerita lebih antusias, spontan, menggemaskan dengan gestur tubuh yang mendukung kisah-kisahnya, namun tidak sistematis. Ceritanya melompat-lompat, kadang membuat saya mesti lebih tekun dan serius menyikmaknya. Tapi tetap saja menarik dan saya sangat menikmatinya.

Wajahnya yang lucu membuat saya kerap tertawa terpingkal-pingkal melihatnya ketika ia bercerita. Kadang-kadang saat sedang asyik bertutur, tiba-tiba ia tertawa sendiri sambil menutup mulutnya menahan rasa geli tak tertahankan. Dan kami semua jadi bingung apa sebenarnya yang sedang ditertawakan serta apakah ada yang kami lewatkan dari ceritanya.

Menyenangkan rasanya mendengarkan kedua buah hati saya itu mengekspresikan kegembiraan, keresahan, kecemasan, harapan dan juga impian-impiannya, kepada saya, ayahnya, secara terbuka dan tanpa beban. Keharuan menyesak dada saat melihat binar kepuasan dimata jernih mereka usai menyajikan sepotong cerita pada saya.

Se-“tidak penting” apapun itu.

Bagi saya, dengan menjadi pendengar terbaik buat mereka, setidaknya saya bisa tahu apa yang terpendam dalam hati, memahami maksudnya, dan tidak hanya sekedar memberikan jawaban layaknya sebuah acara kuis. Saya berusaha membangun proses dialog diantaranya. Meski kadang-kadang “tidak nyambung” karena tentunya jangkauan pemikiran anak-anak saya itu masih terbatas, tapi bagi saya yang paling penting adalah, saya bisa meningkatkan kualitas hubungan personal dan emosional saya dengan Rizky dan Alya. Membuat mereka merasa berharga, nyaman dan didengar oleh orangtua mereka. Itu sebuah investasi besar buat hati.

Ketika anak-anak sudah tidur, saya dan istri saling ber-curhat ria. Saya bercerita, dia mendengarkan dan sebaliknya, saya mendengarkan dia bercerita. Ada banyak hal yang kami perbincangan, mulai dari soal rencana pendidikan anak-anak kami, bisnis MLM yang digeluti istri saya yang semakin banyak saingan di Cikarang, harga-harga bahan pokok yang kian melonjak walau harga BBM turun, soal pengemudi bis yang saya tumpangi tadi beraksi ugal-ugalan di jalan atau soal menu bekal makan siang apa yang ingin saya bawa dari rumah besok pagi ke kantor. Kami saling mengungkapkan isi hati dan berbagi. Sebuah upaya strategis untuk tetap memelihara cinta dan komunikasi yang intens diantara kami.

Read More…

SAYA tidak tahu, apakah anak saya telah mengalami sebuah indoktrinasi sistematis dari Mr.T tokoh bertubuh kekar yang–ironisnya– takut naik pesawat, sampai-sampai sang rekan Murdock mesti membiusnya dulu sebelum dibawa terbang (tokoh ini diperankan oleh B.A.Baracus dalam serial televisi terkenal The A-Team).

Awalnya ketika kami sekeluarga berencana pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya. Untuk alasan efisiensi waktu, saya sudah menetapkan agar kami sekeluarga mudik kesana dengan menggunakan pesawat terbang. Saya bahkan sudah mengontak travel agent langganan kantor saya untuk memesan tiket. Namun saat rencana itu saya ungkapkan, anak tertua saya, Rizky, ia tiba-tiba berseru kencang : “Aku tidak mau naik pesaawaaat! Takut Jatuh! Pokoknya tidak mauuu!!”.

Saya terperangah.

Dan saya makin tersentak kaget, ketika si bungsu putri kecil saya, Alya ikut-ikutan nyeletuk dengan suara cadelnya, “Aku juga gak mauu naik pecawat ! Takut Jatuh!”.

Saya menepuk jidat. Istri saya menelan ludah. Kami tercekam dalam kesunyian.

Peristiwa kecelakaan beruntun yang menimpa beberapa penerbangan di Indonesia, rupanya menjadi pangkal semua itu. Ada tragedi jatuhnya pesawat ADAM AIR di Perairan Majene dan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda Indonesia saat mendarat di Bandara Adisucupto yang menjadi referensi seram bagi kedua anak saya untuk anti naik pesawat terbang.

Tayangan televisi yang memberitakan peristiwa tersebut dan kerap memberikan pemandangan dramatis menambah ketakutan kedua anak saya.

Menurut istri saya, ketika menonton tayangan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto dan ada adegan seseorang memapah korban berlumur darah dari pesawat naas itu, kedua anak saya spontan menutup mata dengan kedua tangannya. Saya sempat menegur istri saya agar tidak mengarahkan kedua anak saya menonton tayangan “horor” di televisi. Tapi apa daya, hampir semua stasiun TV menayangkan kejadian itu dan meskipun televisi kami matikan, media non televisi lainnya seperti suratkabar (dimana saya berlangganan 2 suratkabar harian) ikut memberitakan peristiwa tragis tersebut.

Read More…

atg&family

Ada begitu banyak cara menikmati hidup.

Yang murah, menenangkan,menyenangkan dan melegakan.

Salah satunya adalah leyah-leyeh atau bersantai tanpa melakukan apa-apa. Just Doing Nothing.   

Saya tidak mengajarkan anda untuk bermalas-malasan dan menelantarkan pekerjaan. Tapi layaknya barisan huruf dan kata, yang akan kehilangan makna dan keindahan tanpa spasi diantaranya, maka leyah-leyeh adalah sebentuk tamasya batin. Sebuah tetirah untuk melakukan jeda sejenak dari segala rutinitas kehidupan yang menyesakkan. Membuat jiwa kita sekedar beristirahat dari kepenatan menanggung beban hidup yang kian berat dari waktu ke waktu.

Modalnya cukup dengan hanya sedikit waktu luang, tempat yang tenang dan hati yang lapang. Saya kerap melakukan ini bila baru saja usai menunaikan sholat malam. Ketika jiwa baru saja pulang “berkunjung” ke haribaan sang Khalik, ketika itu waktu yang tepat untuk berleyah-leyeh. Tidak perlu lama-lama, 15-30 menit sudah cukup untuk membuat batin menjadi segar kembali.

Di atas hamparan sajadah masih mengenakan kopiah, sarung dan baju koko,  saya tidur bertelekan kedua lengan dikepala sembari memandang langit-langit kamar, menyesapi kesunyian, mendaki puncak-puncak kenangan.

Read More…


marah2.thumbnailYang Paling saya tahu tentang Marah adalah, dia lebih banyak melukai diri sendiri ketimbang orang yang kita marahi  

— Oprah Winfrey, Pembawa acara TV Terkenal (dikutip dari Majalah Intisari Maret 2007)

Kejadian 12 tahun silam itu masih membekas di ingatan.

Dari tempat kos di Cawang, saya bermaksud menumpang Metromini ke Mall Kalibata untuk membeli buku.

Matahari bersinar sangat terik waktu itu. Rasanya ubun-ubun kepala bagai terbakar. Saya merutuk kesal lupa membawa topi yang sudah saya siapkan sebelumnya dikamar kos.

Saat akan turun, terjadilah musibah itu.

Bis yang saya tumpangi itu melaju kencang sebelum kaki saya benar-benar menapak kokoh dijalan. Tak ayal saya pun jatuh terguling-guling diatas aspal. Masih untung, saya memiliki “peredam kejut” yang lumayan mumpuni berupa bokong yang padat montok sehingga ketika tubuh jatuh berdebum di aspal tidak terlalu menghasilkan akibat yang parah.

Tapi tetap saja sakit.

Celana Jeans saya kotor dan ditambah rasa malu bukan main disaksikan sejumlah orang yang berada di depan mall.

Kemarahan saya seketika memuncak. Saya lalu berlari mengejar Metromini itu yang kebetulan sedang berjalan pelan karena tepat didepannya ada pintu perlintasan kereta api.   Akhirnya saya berhasil naik ke atas metromini dan langsung menuju tempat pengemudi berada.

Dengan geram saya langsung mencengkram kerah kaos kumal supir yang berperawakan lebih kecil dari saya itu seraya menatap tajam kepadanya. Sang kondektur mencoba membantu tapi ia tidak berani ketika saya sudah memasang kuda-kuda untuk menghajarnya bila ia mau mendekat. Saya telah siap menerapkan ilmu beladiri yang pernah saya pelajari untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Termasuk resiko bila dikeroyok.

Sang supir sangat ketakutan. Saya lalu melontarkan sejumlah makian pedas dan sumpah serapah terhadapnya telah memperlakukan penumpang secara tidak manusiawi, masih untung saya—lelaki muda, kekar dan sehat  😀 —yang jadi korban, bagaimana jika seorang ibu hamil, anak-anak atau orang cacat yang mengalami nasib serupa?.Bukankah hasinya akan lebih fatal?.

Read More…

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes


–“If Tomorrow Never Comes”, Dinyanyikan oleh Ronan Keating

SETIAP kali saat berangkat bekerja dipagi hari, saya selalu memeluk erat lalu mencium pipi dan kening kedua anak tercinta  serta istri saya, dengan rentang waktu yang cukup lama. Pada awalnya mereka rikuh dan tak nyaman. Apalagi sang istri yang sempat curiga dan menganggap tindakan aneh bin ajaib saya ini sebagai salah satu gejala awal penyakit “Puber Kedua” kronis yang konon kerap melanda pria-pria diambang usia 40.

Tapi belakangan ini, “prosesi ciuman” itu sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri.

Terlebih ketika saya katakan pada mereka bahwa bisa jadi Hari ini adalah Hari Terakhir Papa bersama kalian. Saya, Rizky, Alya bahkan sang ibu sekalipun tak akan pernah bisa menebak apakah dihari itu, saya , sang tulang punggung pencari nafkah keluarga, akan menemui ajal disuatu tempat, disuatu waktu yang tak seorangpun tahu dan tak akan pernah lagi bertemu dengan mereka setelah itu. Ini telah menjadi sebuah misteri kehidupan yang niscaya adanya. Tak terelakkan.

Apalagi jika melihat fakta bahwa setiap hari kerja  saya mesti menempuh perjalanan jauh antara Cikarang ke Cilandak yang berjarak 40 km dan tentu memiliki resiko sangat tinggi mengalami kecelakaan di Jalan.

Saya ingin memaknai  dihari saya berangkat kerja sebagai hari terakhir bertemu mereka. Dan akan mempergunakan hari itu dengan  tak akan melewatkan momen-momen terindah sedikitpun dengan orang-orang yang saya cinta.

Kelak bila “hal yang tak diharapkan tapi pasti datangnya” itu tiba, maka paling tidak tak ada rasa penyesalan yang tertinggal dibatin anak-anak dan istri saya, bila belum sempat melakukan ciuman terakhir untuk saya ketika masih hidup. Mungkin sebuah “tradisi” yang aneh dan menakutkan bagi segelintir orang. Terlebih bicara soal kematian, acapkali menjadi hal tabu yang dibicarakan.

Tapi bagi saya, dengan menganggap setiap hari adalah hari terakhir, maka  saya selalu terpacu untuk melakukan hal terbaik minimal buat diri saya dan keluarga. Saya akan menghargai hari tersebut dengan berusaha tampil berinteraksi dengan orang lain disekitar saya dengan tingkatan paling unggul.  Tak akan ada sedikitpun terlintas di benak saya untuk menebar rasa permusuhan serta kejahatan.

Read More…

Selalu ada kesedihan sekaligus kegembiraan menyeruak di dada ketika pergantian tahun tiba. 

Dan di penghujung tahun ini, saya kembali merasakan sensasi serupa. Kesedihan karena akhirnya meninggalkan tahun yang penuh kesan dan kenangan dimana ada berbagai jejak kiprah, karya, kisah bahkan kekonyolan sekalipun terpatri disana. Ada rencana-rencana yang terlaksana, ada yang tidak. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Ada yang hilang dan ada juga yang berbilang. Ada yang terang dan ada pula yang kelam. 

Seperti Pelangi, tahun 2008 membiaskan beragam warna. 

Pada saat yang sama menyongsong Fajar tahun 2009, saya selalu menetapkan optimisme kuat dalam hati untuk menjalani tahun yang konon kian berat pasca krisis ekonomi global yang tengah melanda dunia saat ini. Pemilu 2009 tak pelak juga menjadi momen penting dalam kehidupan bernegara di Indonesia dan tentunya kita semua berharap agar perhelatan akbar demokrasi di Indonesia berlangsung dengan aman dan tertib.

Read More…


Para Pembaca blog ini yang budiman,

Untuk mengenang kembali setahun peristiwa tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 lalu bersama ini saya persembahkan cerpen “Pengantin Mata Biru”.

Cerpen ini belum pernah dimuat dimedia manapun tetapi saya persembahkan khusus sebagai souvenir pernikahan untuk adik dan sahabat saya sesama mantan pengelola surat kabar kampus “Identitas” Unhas, Abdullah Sanusi dan Rusni Fitri, 2005. Souvenir yang unik karena berupa buku mungil yang berisi kumpulan cerpen dan puisi dari kawan-kawan dekat.

Mari kita berdoa semoga arwah para korban musibah Tsunami Aceh 2004 mendapatkan tempat terbaik disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah serta tawakkal melewati cobaan ini.  

Semoga berkenan.

————

AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Seonggok perahu tampak tergeletak di samping sebuah bangunan rumah yang telah luluh lantak. Beberapa bangkai perahu lainnya terserak di banyak tempat. Bau anyir mayat masih tercium dan meruap di udara.

Setelah usai bergelimang kesibukan membagi-bagikan bantuan logistik kepada korban tsunami daerah itu bersama rekan-rekan prajurit TNI sejak pagi hingga siang, aku berkesempatan melihat-lihat kondisi daerah tersebut lebih dekat. Senja mulai rebah ke peraduan dan matahari menyisakan redup sinarnya. Cahaya temaram sang raja siang itu begitu kontras dengan suasana muram di kampung nelayan yang terletak dikaki bukit Ujung Seudon tersebut. Kesunyian yang mencekam begitu terasa. Aku telah berjalan kurang lebih 1,5 kilometer dari basecamp. Dan terus berjalan.

Pada jarak kurang lebih dua meter dari tempatku berdiri, aku melihat sesosok lelaki muda dengan pakaian kumal duduk diatas sebongkah tembok bekas bangunan runtuh. Aku mendekati lelaki itu perlahan. Matanya menerawang seakan menembus garis batas cakrawala nun di ujung sana. Sekilas aku melihat sosok lelaki itu terlihat sedikit berbeda dengan lelaki korban pengungsi yang kutemui sebelumnya. Ia memiliki postur tubuh relatif jangkung, kulit putih kemerahan, rambut sedikit pirang, alis mata tebal dan bermata biru. Ya, bermata biru. Aku sedikit terkejut dan takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dihadapanku.

“Maaf, boleh saya duduk disini, disamping anda?” aku menyapa lelaki itu.

Lelaki itu tidak menjawab, lalu menggeser pantatnya ke kiri dan memberi ruang bagiku untuk duduk. Matanya masih menatap kosong kedepan.

Read More…


Hidup Sederhanaa..

Gak Punya apa-apa, tapi banyak cinta..

Hidup Bermewah-mewahan

Punya banyak harta, tapi sengsara

Seperti Para Koruptor..

(Seperti Para Koruptor, Slank, 2008)

Seorang pengamen jalanan melantunkan lagu anyar andalan Slank tersebut diatas bis yang saya tumpangi dalam perjalanan menuju ke kantor tadi pagi. Disamping saya duduk seorang pria tua dengan uban yang nyaris menutupi seluruh kepalanya nampak benar menikmati lagu itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama. Bibirnya menyunggingkan senyum.

“Lagunya enak ya dik,” katanya membuka pembicaraan.

Saya mengangguk setuju.

“Iya pak, pokoknya amit-amit deh, jangan sampai kita punya harta banyak tapi malah hidup sengsara,” saya menyahut pelan.

“Bener, dik. Hidup Sederhana, terlebih di zaman krisis finansial global seperti sekarang ini, jadi kunci utama membuat kita tetap bertahan,” jawab bapak tersebut bersemangat.

“Tapi pak, walau hidup sederhana, banyak cinta, namun duit gak ada, tetap aja sengsara lho pak,” kata saya mengadu argumen.

Si Bapak menyunggingkan senyum lebar. Ia menatap saya dalam-dalam.

Read More…

June 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed