Category Archives: Narsis

sampan

Inspirasi foto : Suasana Sunset di Pantai Losari Makassar, karya Arfah Aksa Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia

Pada sampan yang sendiri.

Terdampar di sisi pantai Losari yang sunyi. Kita menyaksikan rona merah jingga mentari luruh di cakrawala dengan tatap nanar laksana Potret Mahakarya Indonesia yang terukir indah dikanvas lukisan . Dan sampan itu bercerita tentang segalanya. Apapun mengenai kita. Tentang luka, tentang kehilangan, tentang cinta, tentang harapan, tentang segalanya dimana kita ikut terkulai bersama sang raja siang yang jatuh di pelukan malam.

Kesendirian, katamu, memang menyesakkan. Terkadang itu bukan pilihan tapi sebuah takdir yang niscaya. Tak terlerai. Kita kerapkali menghadapinya tanpa pernah bisa mengabaikan. Apalagi berusaha untuk menundanya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti seharusnya.

Pada sampan yang sendiri, kita merefleksikan segala kisah yang telah terjadi diantara kita dengan hati gundah dan merasakan hasrat yang dulu tumbuh subur, lenyap tiba-tiba bersama angan yang terbang melayang ke kelam awan.

“Pernahkah kamu berfikir untuk berusaha menepis takdir, Tenri ? “, tanyamu pelan, disuatu waktu. Kata-katamu mengapung diudara, lalu hilang bersama desir lembut angin laut.

“Apa maksud Daeng?” tanyaku penasaran

Read More…

Dalam banyak hal perempuan itu selalu merasa kalah.  Sangat telak. Terutama oleh cinta.

Pada bayangan rembulan di beranda, ia menangis. Menyaksikan cahaya lembut sang dewi malam itu menerpa dedaunan, menyelusup, lalu membias menjadi selaksa noktah-noktah kecil nyaris tak terlihat menimpa tanah pekarangan. Kali ini ia merasakan sebuah kekalahan yang sangat menyesakkan. Memang bukan yang pertama. Tapi baginya begitu menyakitkan, hingga ke rongga dada. Dan noktah-noktah cahaya kecil tadi seakan menjadi refleksi hatinya yang luluh dan terhempas.

Ia membuka kembali secarik kertas yang bertuliskan puisi karyanya sendiri. Keharuan menyentak saat perempuan itu membacakannya dengan bibir bergetar:

Read More…

Kita selalu nyata dalam maya.

Selalu ada dalam ketiadaan. Selalu hadir dalam setiap ilusi. Begitu katamu. Selalu.
Entahlah, terkadang aku tak pernah bisa memahami makna kalimatmu. Absurd. Aneh. Juga misterius. Bagaimanapun kamu memaknai hubungan kita, aku tetap menganggapnya sebagai jawaban atas keinginanku untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi tentang berbagai hal. Apa saja.

Mengenalmu pertama kali lewat jejaring sosial internet, membuatku merasa sangat beruntung “menemukanmu”. Sosok yang kuanggap senantiasa berada dalam mimpi-mimpiku selama ini, menjadi representasi dirimu. Ada. Nyata. Sekalipun kita belum pernah bersua. Percakapan-percakapan penting maupun tidak penting mempertautkan kita di ruang maya. Aku merasa dirimu tak berjarak denganku.

“Aku akan ke Bandung besok, mudah-mudahan bisa ketemu ya. Untuk pertama kalinya,” tulisku dengan jemari gemetar seraya menatap monitor LCD .

Jawaban tak segera datang. Dan beberapa saat kemudian…

“Oke, aku tunggu besok sore di Braga Citywalk ya,” tulismu. Aku menatap nanar barisan huruf demi huruf di ruang chatting. Tak percaya. Seperti mimpi. Kita akhirnya bertemu. Akhirnya.

Aku tersenyum-senyum sendiri dan membayangkan detik-detik saat berjumpa denganmu, sosok yang hanya hadir dalam impian dan angan-angan.

“Kok diam? Jadi gak mau ketemu nih? 🙂 ” godanya

Aku tersenyum. Kamu memiliki selera humor yang menyegarkan.

“Aku pasti datang. Tak akan melewatkan saat pertama bertemu denganmu di Braga,” balasku cepat.

“Siip…jangan lupa, bawakan aku puisi karyamu. Aku selalu senang membaca larik-larik sajakmu. Indah. Bermakna. Menggemaskan!,” sahutnya lagi.

Aku kembali tersenyum. Permintaan spesial ini harus dipenuhi, segera, gumamku bersemangat.

Malam itu aku tak bisa tidur. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya. Puisi pesanannya sudah aku tulis dengan cepat, hanya dalam hitungan menit cukup dengan membayangkan wajahnya saja dan betapa berharganya pertemuan pertama kami besok.

Read More…

 

Kamu selalu bercakap bagaimana sesungguhnya cinta itu dimaknai.

Pada sebuah sudut cafe yang redup dengan dendang suara Live Music terdengar pelan seraya memandang rimbun asap rokok menyelimuti hampir setengah dari ruangan, kamu mendesah pelan : “Cinta itu adalah fantasi”. Lalu tersenyum. Misterius. Ah, lagi-lagi kamu mengutip ucapan Summer (Zooey Deschanel) kepada Tom (Joseph Gordon-Levitt) dalam film 500 days of Summer. Ucapan yang selalu aku anggap absurd karena tampaknya itu hanyalah sejenis apologi atas ketidakmampuanmu menepis bayangnya, lelaki yang konon kamu anggap sebagai kekasih sejati tetapi justru hanya menganggapmu tak lebih sekedar teman bercakap belaka dan tak pernah memberi harapan apapun terhadap kelanjutan hubungan kalian.

Entahlah, setelah kepergian lelaki itu, kamu selalu mengidentikkan dirimu sebagai sosok “Summer” dalam film tersebut. Perempuan yang tidak percaya cinta sejati dan menganggap bahwa hidup harus dinikmati sepuasnya, dan karena memang itu sudah seharusnya. Namun aku selalu menangkap kilat mata sedih disana, dibalik segala upayamu untuk tetap tampil sebagai sosok yang tegar.

“Kamu masih mencintai lelaki itu. Matamu tak dapat berdusta,” kataku sambil menatap tajam kearahnya.

Lamat-lamat terdengar sang penyanyi cafe menyanyikan lagu “I’m Yours” dengan nada menghentak tapi terdengar pilu ditelingaku.

Read More…

Dia tahu.

Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin.

Dia tidak sok tahu.

Hanya berusaha memahami.

Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh dan pulih begitu saja laksana menghapus setitik debu pada kelembutan permukaan kain sutra. Punah sekejap hanya dengan satu sapuan tipis. Sayangnya, ia tak pernah bisa mengerti pemahamannya sendiri ketika menyadari bahwa semuanya tak sesederhana yang ia kira. Segalanya menjadi sangat berbeda ketika ia meyakini, luka itu, sakit itu, ternyata begitu jauh terbenam dalam hatinya, dalam fikirannya. Yang membuatnya terperangkap pada sebuah labirin, yang menyesatkan dan membuatnya seakan menyusuri lorong panjang tanpa ujung.

Perempuan itu menghela nafas panjang. Seperti melepaskan beban berat yang berada di pundak, tapi anehnya nafasnya tetap terasa sesak. “Beban” itu masih ada disana. Tak beranjak. Ia lalu memejamkan mata sebentar. Mengurai semuanya dalam helai-helai kenangan yang berlari cepat dan berkelebat difikirannya, sampai akhirnya berhenti pada satu titik. Satu wajah lelaki dimana ia pernah mendamparkan hati di “dermaganya”. Lelaki yang sesungguhnya kini ingin ia lupakan. Selamanya. Tapi tak bisa.

Ia mengenal lelaki sederhana bersorot mata teduh itu sebagai teman kuliah yang hangat dan menyenangkan. Baginya, berada selalu di dekatnya senantiasa menerbitkan rasa nyaman dan selalu membuatnya merasa dunia begitu ceria berwarna. Selera humor lelaki itu sangat menghiburnya, termasuk keluguannya dalam menyikapi sesuatu.

“Jadilah perempuanku dan bakal ibu untuk anak-anakku,” kata lelaki itu pelan pada sebuah senja yang basah oleh gerimis. Pada keteduhan matanya ia menangkap kepastian dan keyakinan.

Read More…

Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat menautkan segalanya dalam harmoni di bentangan lanskap tak bertepi. Pada tempat ia berada seharusnya, sebagaimana mestinya.

Dan seperti inilah, ucapmu lagi, yang terjadi padaku. Karena kamu. Menghentikan waktu dengan pesonamu. Menghalau galau dengan aura yang penuh daya pukau. Kamu lalu menatapku lekat. Telaga jernih di bola matamu menenggelamku seketika dalam sensasi yang tak terkatakan.

Aku tersenyum rikuh.

Kadang-kadang kamu terlalu mendramatisir sesuatu. Terlebih segala hal yang terkait dengan diriku. Tapi tak apa. Aku suka itu. Kepolosanmu. Kejujuranmu. Kelugasanmu memaknai hubungan kita selama ini.

Di Hongkong International Airport saat melepasku pulang kamu berbicara tentang jarak rindu. Sebuah definisi yang menurutmu adalah ketika rindu menjadi luluh sepanjang bentangan ruang dan waktu sesaat setelah perpisahan yang menyesakkan terjadi. Dimana serpihannya menjadi jejak cahaya yang terpatri indah di larik bianglala. Menjadi “kompas” untuk menunjukkan jalan pulang. Menujumu. Dan jaraknya menjadi tak berarti ketika rindu mengiris nurani. Tiap sayat luka yang terjadi adalah bagian dari kenikmatan mengenangmu. Mengingat segala yang indah dan pernah terjadi bersamamu. Memahami bahwa, pertemuan kembali bersamamu, disuatu saat, entah kapan, adalah niscaya.

Aku menggigit bibir. Kata-katamu persis seperti yang pernah kamu ungkapkan kepadaku dua tahun silam. Impianmu menjadi kenyataan pada akhirnya, meski tak lama.

Saat menyeruput teh di cafe tak jauh dari gerbang keberangkatan pesawatku, kamu terlihat mencoba mengulur lebih lama pertemuan singkat kita. Aroma khas teh yang lembut, kamu hirup pelan lalu meminumnya dengan “takzim”. Anggun. Juga mengesankan.

“Kamu menyesali pertemuan kita kali ini?” tanyaku hati-hati.

Suara hiruk pikuk penumpang lalu lalang sepanjang selasar terminal, derit suara roda koper yang ditarik, pengumuman keberangkatan yang bergema lantang, seakan menelan suaraku. Tapi kamu paham. Seperti bisa membaca gerak bibirku.

“Tak ada yang harus disesali, saat jarak rindu itu kita bentangkan kembali. Seperti dulu. Menjelang kita berpisah, di kota kecil kita,”sahutmu parau.

Kamu lalu membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Aku mendadak bisa mengenalinya dari tempatku duduk. Tulisan tanganku sendiri. Surat yang kuberikan padanya sebelum berangkat ke  Hongkong,

“Aku masih menyimpan ini, surat dan puisimu yang selalu kubaca. Bahkan sudah hapal di tiap baitnya,” katamu sembari mengangsurkan surat itu padaku. Aku lalu membacanya kembali. Meresapi maknanya, yang menohok, hingga ke ulu hati.

Senyap yang menggantung pada kelam kota kecil kita

Adalah desah nafas rindu yang kita tiupkan perlahan

pada langit, bulan separuh purnama, rerumputan pekarangan dan

desir angin yang mengalir lembut menerpa

pipimu yang telah basah oleh airmata

“Kesepian yang menyesakkan, ” katamu pilu.

Jawaban atas segala pertanyaanmu tak jua ditemukan

bagaikan kumbang merahasiakan makna dengungnya pada putik bunga,

Semua yang ada tak akan menjelaskan apapun

termasuk kehadiran kita di kota ini

tempat kita menganyam angan dan harapan

Kenangan itu akan kita kekalkan, mengukirnya di jagad hati dan

merangkai segala impian absurd seraya mengucap lirih namamu, namaku,

Dalam keheningan yang menikam

Di Kota kecil kita..

Ah aku ingat, surat itu kuserahkan padanya sesaat sebelum ia memasuki gerbang kereta yang akan membawanya ke Jakarta dari kota kecil kami.

“Jaga dirimu baik-baik, baca surat ini sesampainya kamu disana ya?,” kataku penuh rasa haru yang menyesak dada. Kamu hanya mengangguk pelan. Kristal-kristal bening mengalir melalui tebing pipimu. Aku lalu menyeka air matamu dengan punggung tangan.

“Tersenyumlah, masa depan menantimu disana,” ucapku dengan suara serak.

Pengumuman keberangkatan pesawatku membuyarkan lamunan. Sebentar lagi aku akan boarding.

“Saatnya yang kubenci ini akhirnya tiba,”keluhmu datar.

Aku lalu bangkit dan memeluknya erat-erat.

“Selamat tinggal, take care ya ?” ucapku

“Aku akan meniti jarak rindu kita, sesaat setelah kau berangkat,” katamu pilu.

Aku mengangguk pelan. “Ya, aku juga”.

Aku memeluknya kembali lebih erat. Dan lirih kudengar ditelingaku, kau membisikkan, “Sampaikan salamku pada istrimu ya?”

Catatan:

1. Narsis adalah singkatan dari Narasi Romantis dan kumpulan kisah Narsis saya sudah dibukukan melalui www.nulisbuku.com serta bisa anda pesan dengan prosedur yang saya uraikan disini

2. Foto-foto Bandara Hongkong International Airport diambil dari koleksi Foto Mas Priyadi. Thanks ya mas, fotonya keren!

 

 

 

 

 

Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di hati memang memberi jejak kepahitan dan warna kelam dari sebuah perjalanan.Tapi apa yang terjadi bukanlah sebentuk ketidakberdayaan dan kepasrahan menanggulangi kesedihan.

“Ini,”katanya dengan suara serak,”Bagian dari proses. Menuju cinta. Ketabahan menghadapinya adalah kemenangan atas ego dan amarah yang liar mendesak batin. Setiap waktu. Aku belajar untuk tegar dari rasa sakit, kepedihan, dan setiap tetes airmata yang jatuh. Menyimpannya rapat-rapat. Hingga waktu melerai segala gundah, hilang, hingga bahagia mengemuka. Suatu ketika”.

Senja terlihat memerah di batas cakrawala saat ia meraih cangkir cappuccino, menyeruputnya perlahan seakan meresapi setiap teguk membasahi tenggorokan.

“Hidup ini harus dirayakan, bukan diratapi. Tak ada yang patut disesali. Karena apa yang tengah dan telah kita jalani sekarang adalah hasil pilihan-pilihan kita sendiri sebelumnya. Soal apakah kelak itu adalah pilihan keliru, bukanlah jalan terbaik untuk mencari siapa yang salah. Tapi kita mesti menghadapinya, sebagai resiko atas segala konsekuensi”, katanya dengan sorot mata tajam menikam.

Ia lalu menggenggam tangan sahabatnya erat-erat seraya berkata lirih dengan intonasi tegas,”Bangkitlah!. Kamu berhak untuk bahagia! Patah hati seharusnya membuatmu kuat, bukan lembek begini. Come on my friend, hidup ini terlalu indah untuk dinikmati”.

Mereka lalu berpelukan. Erat sekali.

****

Perempuan itu menatap nanar layar monitor komputer dihadapannya.

Disampingnya tergolek pakaian badut yang kerap kali digunakannya mencari nafkah di sebuah taman bermain. Tak ada satupun keluarga maupun kawan-kawannya yang tahu apa profesi sebenarnya.   Ia enggan membagi kisahnya, pada siapapun. Tidak penting dan tak ada gunanya.

Apa yang dilakoninya saat ini merupakan rahasia dirinya. Yang disimpan rapat-rapat dalam brankas hati. Mendadak ia teringat ucapan Tony Leung yang berperan sebagai Tuan Chow dalam film “In The Mood for Love” (film ini memenangkan teknik film dan aktor terbaik pada festival film Cannes tahun 2000) di adegan percakapan dengan seorang pengunjung warung tempat ia biasa makan.

“Aku akan mencari sebuah pohon tertua di hutan, melubangi batang pohonnya dan membisikkan rahasia pada lubang pohon tersebut. Aku akan menutup lubang tersebut dengan lumpur atau sejenis tanah basah lainnya. Menunggunya hingga kering seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Dan beban itu telah terbagi. Rahasia itu telah tersimpan baik pada tempatnya”

Perempuan itu tersenyum sendiri dan membayangkan ada berapa banyak pohon yang dibutuhkan oleh penduduk dunia ini untuk menyimpan rahasia yang tak ingin dibaginya?. Lantas pertanyaan-pertanyaan lain datang mendera, bagaimana jika suatu waktu pohon itu ditebang, dipotong-potong dan menjelma jadi bentuk berbeda, apakah rahasia itu tetap akan aman disana?.  Perempuan itu menghela nafas panjang. Rahasia itu mungkin tetap aman disana, dalam daging pohon, di wujud apapun, tak perduli seperti apa bentuknya.  Ia lalu terkekeh pelan. Kenapa ia tiba-tiba jadi melankolis dan konyol begini?.

Jemarinya lalu menari pelan tuts-tuts keyboard netbooknya. Sebuah puisi lahir disana.

Menelisik potongan rindu yang entah kau letakkan dimana

seperti mengais serpih-serpih kenangan yang tercecer

bersama debu jalanan, belukar ilusi, hening malam dan

nyala lampu mercury yang membias hangat, memantulkan cahaya

pada genangan air di pinggir jalan

Gigil kangen ini, katamu pilu, serupa tatih langkahku yang gamang

meniti dari sunyi ke sunyi dengan tembang lirih melantunkan namamu

Kita merangkai segala kisah lama itu pada berlembar-lembar puisi

mencatatnya dengan jemari gemetar seraya meniupkan asa

pada setiap jejeran huruf yang menandai memori kolektif kita

Lembayung pucat dan semilir angin bertiup lembut

memahat getar asmara kita di langit,

menyisakan spektrum keheningan,

saat kita memulai pendakian hasrat itu sendiri-sendiri

lalu memandangnya dari kejauhan dengan tatap nanar

sambil berbisik lirih: bentang jarak adalah niscaya namun

cinta adalah episode yang tak akan usai dan

padam cahayanya di tungku hati..

Perempuan itu menangis seusai membaca kembali puisi yang baru saja ditulisnya.

Ia, sesungguhnya tak setegar seperti yang dibayangkan banyak orang. Tak sekuat dari apa yang ia sangka. Bahkan oleh sahabat terbaik sekalipun yang telah ia berikan nasehat terhebatnya untuk tetap tabah menerima segala nasib buruk yang menimpa, petang tadi di sebuah cafe.

Aku rapuh. Sangat rapuh, keluhnya pilu.

Pengkhianatan pedih yang dilakukan oleh lelaki pujaan hatinya membuatnya terpuruk dalam jurang kesedihan dan kesunyian.  Ia memilih untuk diam. Menyimpan segalanya dalam hati. Membiarkannya lapuk sendiri seiring waktu. Tapi ternyata itu tak mudah. Melupakan segala kenangan manis bersama lelaki itu butuh perjuangan berat, tidak sekedar membakar foto-foto bersamanya, surat-suratnya atau menghindari untuk pergi ke tempat-tempat dimana mereka sering kesana.

Ia memang bisa berusaha terlihat tegar, kuat dan optimis, tapi itu bukan dia. Tetap saja, ia adalah perempuan yang tak bisa berdamai dengan masa lalu bahkan dengan menutupi diri sebaik mungkin sebagai badut di sebuah taman hiburan. Kenangan buruk itu senantiasa membuatnya limbung dan kehilangan kendali.

Perempuan itu menyeka air matanya. Bagaimanapun semua ini harus diakhiri. Secepatnya.

****

Perempuan itu meletakkan pisau yang baru saja dipakainya membuat sebuah lubang di pohon pada tempat tersembunyi di taman hiburan tempatnya bekerja. Kepala badut yang berat diletakkan disebelah kakinya. Ia lalu melangkah pelan, mendekatkan mulut pada lubang pohon dan berucap lirih:

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-pertengkaran kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya

Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu

Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya

Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…

Perlahan ia menutup lubang itu dengan tanah basah.  Tak ada airmata mengalir.

Ia lalu melangkah ringan kedepan. Hidup ini, memang terlalu indah untuk dinikmati..

Cikarang,18 Februari 2011

Catatan:

Kisah-kisah Narsis (Narasi Romantis) lainnya bisa anda nikmati di Buku NARSIS. Silahkan baca cara memperoleh buku tersebut disini.

Jakarta, 2030, sebuah teras café

Lelaki tua itu tersenyum samar. Dipandangnya perempuan seusia dengannya yang duduk tepat dihadapannya dengan tatap takjub.

“Kamu tak banyak berubah, walau umur telah menggerogoti tubuh kita. Kamu masih mempesona seperti saat kita pertama bertemu dulu,” kata lelaki itu lirih.

Perempuan didepannya tertawa renyah.

“Ngawur kamu, mas! Ubanku sudah rimbun begini dikepala dan sebagian gigiku sudah diganti dengan gigi palsu, kamu bilang masih “kinclong” saat kita masih SMP dulu? Wake up old man!,” sergah perempuan itu seraya melontarkan canda

“Auramu itu, old lady, membuatku selalu jatuh rindu. Rembulan yang kau simpan dimatamu masih saja ada disana, tak akan pernah pudar digerogoti waktu. Purnama abadi yang sayang sekali, tak pernah sempat aku miliki, bahkan hingga kini,” Ujar lelaki itu dengan nada getir sembari menyeruput kopi cappuccino kegemarannya.

Batinnya mendadak perih.

Perempuan itu tertunduk. Dadanya terasa disesaki keharuan yang dalam.

Dan angan keduanya melayang jauh, disuatu waktu. saat mereka masih terlalu muda untuk menyadari arti cinta. Dan “rindu” menjadi kata paling hebat yang mewakili perasaan mereka saat itu

Lelaki tua itupun bertutur:

Makassar, 1983, di sebuah SMP,

Aku, lelaki kecil berbadan ceking, tak akan pernah lupa bagaimana pertama kali memendam kangen pada sosok perempuan muda berparas ranum dengan bibir yang selalu tersenyum. Perempuan itu, yang tak lain adalah kamu itu, kerap kali melotot tajam padaku ketika memergoki memandang diam-diam dari jauh dengan rasa takjub.

Aku masih ingat hingga kini, bagaimana caranya memainkan cincin di jari manis dengan ibu jari, memutar-mutarnya searah jarum jam sembari matamu tanpa berkedip memandang penjelasan bapak/ibu guru kita didepan kelas. Aku kerap menganggap setiap satu putaran cincinmu adalah sebuah tanda bahwa ulasan pelajaran dari bapak/ibu guru kita baru saja merasuki benakmu, meresapinya dalam hati. Membuatmu mengerti.

Aku sebenarnya punya keinginan untuk menjelaskan lebih rinci tentang suasana yang tengah bergejolak disanubari saat itu : merindukanmu. Lalu kubayangkan setiap kali ulasanku itu aku lontarkan, kamu akan memandangku tak berkedip, memutar cincinmu perlahan sebagai tanda, kamu mengerti, kamu sadar, ada aku, seorang lelaki kecil dan lugu yang sedang memendam rasa kangen tak terlerai terhadapmu.

Sayang aku tak memiliki keberanian yang cukup besar melakukan itu. Dan suatu ketika saat dengan jantung berdebar aku mengumpulkan nyaliku satu-satu untuk meminjam bukumu, sebuah harapan—disaat yang sama— terbit didada. Kamu hanya tersenyum kecil saat menyodorkan bukumu padaku. “Cepat kembalikan ya?”, kilat bintang kejora terlihat berpijar dari matamu.

Aku mengangguk pelan dan berkata , “Pasti. Terimakasih ya”. Lalu kamu berbalik pergi, meninggalkanku termangu menyaksikan sosokmu berlalu menuju rekan-rekan perempuan di kelas kita.

Andaikan kamu tahu, sejak itu, setiap mandi aku selalu membasuh lama-lama tubuh kecilku dengan sabun mandi Lifebuoy, agar wanginya menyebar kemana-mana. Secara sembunyi-sembunyi aku memakai minyak rambut lengket Tancho hijau milik ayah, hanya untuk membuatmu terkesan. Aku masih ingat mimik lucumu ketika menertawai penampilanku. “Sisiranmu itu, mirip Charlie Chaplin!” katamu sembari terkikik geli. Aku hanya tersenyum rikuh.

Dan saat kamu harus pindah sekolah, mengikuti kepindahan orangtuamu jauh ke luar kota kami, hatiku melepuh.

“Mudah-mudahan, kita bisa ketemu lagi ya?” katamu sembari menggigit bibir. Matamu terlihat basah, lalu kamu menyekanya cepat-cepat.

Aku menghela nafas panjang dan mengangguk. Mencoba tabah.

Lalu saat memandang punggungmu menjauh dariku, aku tahu, sepotong hatiku telah terbawa olehmu.

Yogyakarta,sebuah kantin kampus, 1993

Lagi-lagi kamu masih tak berubah.

Tidak hanya kegemaranmu memutar-mutar cincin masih persis yang pernah kamu lakukan 10 tahun silam, pijar mata kejoramu masih menyisakan pesona yang selalu membuatku karam pada daya pukaunya.

Kesempatan berharga menemuimu kembali ketika aku mewakili kontingen kampus dari Makassar menghadiri seminar ilmiah mahasiswa nasional membuatku tak mau membuang kesempatan berharga itu menjumpaimu. Setelah sekian lama tak jumpa.

“Aku sudah tidak sendiri lagi sekarang,” katamu pelan sembari menunduk tersipu.

“Aku hanya ingin menemuimu sebagai sahabat dari masa lalu, tidak menawarkan cinta atau harapan apapun padamu,” sahutku dengan tenggorokan tercekat.

“Aku tahu itu. Tapi matamu tak bisa berdusta padaku,” tukasmu cepat.

Ah, kamu selalu begitu. Spontan. Tanpa basa-basi. Dan angkuh.

“Maaf bila ini telah membuatmu tak nyaman. Sebaiknya saya pergi,” ucapku parau, lalu beranjak dari kursi.

Tiba-tiba tanganmu menangkap lenganku. “Duduklah. Tidak apa-apa. Maafkan, tidak sepantasnya saya berbuat seperti ini padamu yang sudah datang jauh-jauh”.

Aku menghela nafas. Dan duduk kembali.

“Kenapa?”, tanyaku penasaran.

“Karena aku…merindukanmu,” sahutmu pelan, hampir tak terdengar.

Dalam hati, aku terpekik riang.

“Tapi mari kita berbincang sebagai sesama sahabat lama saja. Aku ingin mendengar kabar kawan-kawan kita dulu di Makassar darimu,” katamu cepat mengalihkan perhatian sembari tersenyum. Aku mengangguk dan agak geli melihatmu terlihat salah tingkah.

Dan begitulah, kita bernostalgia bersama. Berbincang tentang banyak hal. Tentang masa lalu, tentang hal-hal indah yang menyertainya. Saat berpisah, aku menyodorkan sebuah surat.

“Bacalah, ini puisi buatanku yang kutulis khusus untukmu, sudah kusiapkan lama dan ingin langsung kuserahkan padamu kalau sewaktu-waktu datang ke Yogya”, kataku tersipu. Kamu mengangguk pelan dan memutar cincin di jari kananmu.

Saat naik becak pulang ke penginapan, dari jauh aku melihat kamu membuka surat yang baru kuserahkan dan membacanya.

Kenangan itu selalu berjalan tertatih dalam benak

meniti sebuah perjalanan panjang tentang sebuah rasa yang tertinggal

pada relung hati dimana sunyi bersemayam bersama rindu

“Kadangkala,” katamu,”pada lirih sajak yang kuterbangkan bersama angin

senantiasa ada harap disana untuk menghampirimu di suatu ketika

sembari bercerita tentang janji, obsesi memiliki juga cinta”

Ah, belahan jiwaku,

Pesonamu selalu memercik pada riuh rendah pundak Malioboro,

denting syahdu gamelan, warna coklat tua gudeg yang nikmat,

gemulai penari keraton, pepohonan rindang di Bulaksumur dan

keramaian pasar Beringharjo.

Kamu ada, bersama segala keindahan yang menyertai

gigil kangen saat angin lembut yang membawa sajakmu

menerpa kalbu, perlahan, saat mengenangmu, saat mengingatmu

Jakarta, akhir tahun 2009

Aku memelototi layar LCD Netbook-ku dengan rasa tak percaya dan gemuruh memantul-mantul hebat di dada.

“Anakku sudah tiga sekarang. Luar Biasa ! Facebook akhirnya telah mempertemukan kita kembali, secara tak terduga. Bagaimana kabarmu?”

Tulisanmu di pesan pribadi facebook-ku menyeret kembali segala kenangan tentangmu ke masa kini. Dan rindupun tertunai. Lewat dunia maya.

Kita lalu berkomunikasi,  saling memahami dan menghargai posisi masing-masing yang sudah memiliki keluarga mungil sendiri.  Kita menjaga “jarak” itu dalam batas komitmen sebagai sahabat. Tidak lebih.

Sampai kemudian…

Jakarta, 2030, sebuah teras cafe

“Kenangan hanyalah tinggal masa lalu old man, anak-anak kita telah tumbuh besar dan kita makin bertambah tua. Biarlah apa yang pernah ada kita simpan baik-baik di bilik hati masing-masing,” kata perempuan itu tenang.

“Kamu ternyata masih judes seperti dulu ya?”, tukas lelaki itu pura-pura ngambek.

“Oh, harus itu! Apalagi sebentar lagi, kamu akan jadi besan saya!,” sahut perempuan itu tertawa geli.

Lelaki itu juga tertawa lepas.  Senja telah tergantikan oleh pekat malam.

Dan kehidupan, masih akan tetap terus berlanjut.


petangIa, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap tepian senja yang jatuh, setiap hari, dengan sebuah harapan sederhana : agar senja yang membawa lengket rindunya tadi akan menyapa rembulan yang sebentar lagi akan timbul dan bertahta di rangka langit. Bahwa pada cahaya yang dipantulkannya kembali ke mata sejuk perempuan kilau rembulan yang kerapkali menunggunya di beranda, menanti keajaiban apakah lelaki petang temaram akan turun, menjemputnya bersama lelehan senja menoreh cakrawala.

Sebuah “cara” bertemu yang aneh. Namun, begitulah adanya.

Rindu dan jarak, kerapkali menciptakan keanehan pada mereka berdua. Bahwa rindu pada akhirnya bisa melipat jarak, pada titik terdekat antara mereka. Bahwa jarak tak ubahnya hanya sebuah helaan nafas yang kuat menarik segenap semesta rindu yang terhampar luas dan membuat keduanya larut pada ekstase yang mungkin tak pernah bisa dipahami, kapan mulai dan selesainya. Semuanya begitu lekas dan menyisakan rasa di sudut batin.

Lelaki petang temaram kembali membaca puisi yang ditulisnya:

Kita tak akan pernah bisa menyepuh ulang segala impian

dan kenangan yang meranggas perlahan di ringkih hati

lalu menyemai harap, segalanya akan kembali seperti semula

“Karena apa yang tertinggal,” katamu,”seperti sisa jejak kaki

di bibir pantai yang lenyap terhapus hempasan ombak”

Kita hanya akan bisa bersenandung merepih pilu

Dan membuat segenap angan terbang liar mencabik cakrawala

seraya menyimpan segala asa dan rindu

pada diam,

pada keheningan

pada lagu lama yang kita lantunkan

 

dan bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari

“Karena apa yang kini ada”, ucapmu lagi,”Adalah tempat dimana

angin segala musim bertiup dan arus semua sungai bermuara yang kerap

membuat kita gamang pada pilihan : meniti samar masa depan ataukah

menggenggam nostalgia dan ikut karam bersamanya”

Bagai gelombang, waktu menggilas apapun tanpa peduli.

Kebahagiaan dan kesedihan sekaligus adalah buihnya. Mengapung-apung pada permukaan laut kehidupan, lalu kemudian lenyap ditelan gelombang waktu lalu berganti dengan buih-buih yang baru.

Betapapun itu, waktu boleh saja terus berubah, sejarah boleh jadi memangsa dirinya sendiri dan cinta, barangkali, hanyalah sepenggal ide keliru dari sebuah peradaban yang kian renta. Tapi tetap saja ada yang tak bisa berubah : atas nama kenangan beserta segala hal yang indah dan pahit yang telah dilalui, selalu saja ada ruang luntuknya. Dimana ia, lelaki petang temaram, melafalkan pelan namanya, sang perempuan kilau rembulan.

Dalam sesak rindu menikam dada. Pada pilu mencabik hati.

Dengan jemari gemetar, ia menekan tombol “SEND” untuk mengirim puisinya pada perempuan kilau rembulan.

Semua ini jadi jawaban terbaik atas segala pertanyaan naif yang kerap timbul dalam hatinya.

****

termenungMenangani kesendirian, bagaimanapun, selalu melelahkan.

Dan perempuan kilau rembulan itu menyadari, pada sepi, pada kesendirian yang meresahkan itu, kerinduannya pada lelaki petang temaram kian menjadi. Menyakitkan. Tapi juga melenakan. Membuat ia selalu berusaha menikmatinya dari detik ke detik dengan ratap tertahan dan harapan yang menggantung sia-sia

Semuanya memang tak sama lagi, gumam perempuan itu dengan bibir bergetar. Takdir untuknya telah ditetapkan, dan ia, tak akan pernah bisa menepis, mengabaikan atau bahkan lari jauh dari kenyataan getir yang cepat atau lambat, suka maupun tidak, kelak akan ia hadapi.

Ia lalu membaca ulang puisi yang baru saja ditulisnya. Matanya mendadak menghangat saat bait demi bait puisi itu ditelusurinya.

Haruskah geliat rindu yang kau simpan

pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi

membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan

tepian sebuah perjalanan panjang?

Kegetiran ini, katamu, melelahkan

dan membuatmu

kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit

yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu

serupa hujan membasahi belantara tak berujung

Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan

adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,

kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita

untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu

Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala

lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:

“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,

dalam rindu yang menjelma

menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”

Perempuan kilau Rembulan menghela nafas panjang.

Aku toh tak selalu harus berada pada kemungkinan-kemungkinan tak membahagiakan, gumamnya perih.

Bagaimanapun hidup mesti dimaknai sebagai jalinan sinergis dan harmonis antara baik dan buruk, bahagia dan tak bahagia, menang dan kalah. Selalu akan ada kemungkinan mengalami kebahagiaan, juga sebaliknya. Dan kemungkinan yang terjadi — baik itu bahagia maupun tidak — akan menghadirkan serta membukakan pilihan-pilihan kemungkinan baru yang kelak pun akan segera ditentukan . Bila kemudian pilihan itu akan mengantarkannya kepada kemungkinan yang tidak membahagiakan, maka ia tak perlu risau, siapa tahu pada pilihan kemungkinan berikutnya justru hidup bahagia yang akan diraih. Dan memang demikianlah hidup mesti dijalani, juga disyukuri. Barangkali memang, kesedihan ini adalah sebuah jalan berliku menuju kesenangan. Ia akan menikmati proses itu, sebagaimana ia menikmati segala kenangan indah bersama lelaki petang temaram.

Sekali lagi, Perempuan Kilau Rembulan menghela nafas panjang seraya menekan tombol “SEND” untuk membalas email puisi untuk Lelaki Petang Temaram lalu bergumam pelan:

Dia harus pulang pada istrinya, sebagaimana aku harus kembali pada malam yang akan mendekapku erat dalam kehangatan tak bertepi,

ef3b5a11f0a08fdeb1229dd30c020c74Rintik gerimis senja selalu membawa lamunanku padamu. Ketika irisan-irisan air itu jatuh dari langit, kau akan senantiasa memandangnya takjub dari balik buram kaca jendela. Menikmatinya. Meresapinya. Tak berkedip.

“Menikmati gerimis senja pada latar senja yang luruh menjelang malam bagai membaca puisimu yang indah dengan pelan dan bibir bergetar. Rasanya melayang. Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting pepohonan, bubungan rumah hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun cemas. Ini akan menjadi salah satu hal indah yang akan selalu kukenang tentangmu,” katamu lirih lantas memaku pandangmu pada mataku yang mendadak rikuh tersipu.

Kamu selalu begitu pandai membuatku merasa berharga.

Senja luruh perlahan bersama gerimis disebuah café, tempat kita biasa bertemu, membincangkan banyak hal. Terutama tentang kita dan hanya kita.

Akupun kembali memilih duduk pada tempat favorit kita dulu, dipojok kiri café dengan kaca jendela berbingkai lebar disisinya. Aku ingat dulu kamu ngotot memilih tempat itu dan kita sempat berdebat panjang.

“Orang-orang yang berlalu lalang di sisi café tempat kita duduk membuatku malu. Kita pindah aja deh, ditengah-tengah atau ditempat yang tak ada jendela lebar disisinya,” tukasku kesal.

Kamu menghela nafas panjang dan menatapku tajam.

“Ini tempat yang paling strategis buat kita Tak peduli apa kata orang. Kenapa mesti malu? Aku menyukai tempat dimana kita bisa menikmati pancaran matahari senja turun perlahan melewati gedung-gedung pencakar langit dengan gurat cahaya merah jingga berpendar-pendar, meresapi warna-warni larik pelangi dibatas cakrawala, memandang percik gerimis yang menetes lembut di permukaan kacanya atau setidaknya menatap pantulan samar wajahmu yang bersembunyi malu-malu disudut sofa ,” katamu meyakinkanku. Ada kilat jenaka kulihat dimatamu saat melontarkan kalimat terakhir.

Tak lama kemudian kamu menggenggam erat tanganku dan berkata, “Yakinlah, aku janji, ini adalah tempat terbaik buat kita. Seperti aku, kamu pasti akan menyukainya”.
Aku tersenyum dan mengangguk. Kamu selalu mampu meyakinkanku bahwa akan selalu menepati setiap janji yang telah diucapkan. Buktinya, tempat ini justru menjadi tempat favoritku, ketika berkunjung kembali ke café tersebut.

Seperti hari ini, senja ini, 1 tahun setelah kamu menyampaikan janji itu.

“1 Tahun lagi, aku akan pulang dan datang menemuimu kembali, disini, di waktu dan tempat yang sama, pokoknya jangan sampai lupa” katamu setahun silam sebelum pergi pada hari, waktu dan tempat yang sama dengan hari ini. .

Dan begitulah, entah kekuatan apa yang menggerakkanku datang disini.

Sebuah waktu yang sesungguhnya sudah sangat aku nantikan sesaat setelah kamu pergi. Aku menandai hari demi hari di kalender mejaku dengan rasa rindu meluap-luap. Membayangkanmu datang menjemputku bak Pangeran menjemput sang puteri menunggang kuda sembrani bersayap cemerlang.

Menunggu saat ini tiba, sungguh sebuah siksaan berat bagiku, terlebih ketika kamu sama sekali tidak memberitahuku kemana akan pergi.

“Kamu akan tahu, nanti setelah aku pulang,” katamu misterius.

Aku menghirup coklat hangat yang aku pesan, sembari menikmati rintik gerimis berderai diseberang jendela kaca. Lalu lintas kendaraan diluar berjalan pelan,sementara di atas trotar sejumlah orang berjalan bergegas menghindari hujan deras yang sebentar lagi diperkirakan akan tiba.

Aku melirik jam. Sebentar lagi, tepatnya, setengah jam lagi kamu akan tiba, menunaikan janji. Rasanya tak sabar menantikannya.

Lamunanku kembali hinggap disuatu petang di pinggir pantai Losari. Kita berdua duduk di pinggiran tembok pantai sembari menyantap hidangan Pisang Eppe’ yang nikmat.

“Kamu tahu, kenapa kita mesti duduk menghadap kedepan, kearah hiruk pikuk arus lalulintas kendaraan yang melewati jalan Penghibur dihadapan Pantai Losari ?” tanyamu tiba-tiba.

Aku mendelik bingung dan menghentikan sejenak kunyahan pisang eppe’ dimulut.
‘Rasanya lebih asyik menatap kedepan menikmati riuh rendah kendaraan yang ramai melewati kawasan ini, kita jadi tidak merasa sendiri” ucapku asal-asalan.
Kamu terkekeh pelan.

“Karena kita adalah keindahan, dan itu harus kita tunjukkan pada mereka,” katamu spontan, penuh keyakinan.

Aku tertawa. “Kita berarti narsis dong!”.

Kamu tersenyum.

“Sekarang, mari kita berbalik, menghadap kearah laut yang ada dibelakang kita,” katamu lembut. Dan kita lalu merubah posisi duduk dengan berbalik sesuai perintahmu. Kebingungan kembali merayapi hatiku.

“Sekarang, kamu coba rasakan apa bedanya dengan yang tadi?” tanyamu lagiAku angkat bahu. Masih belum mengerti.

“Kita telah menjadi bagian dari keindahan semesta, keindahan laut, keindahan pantai Losari, keindahan yang lebih besar,” ujarmu seraya memaku pandang kearah batas cakrawala dimana mentari mulai beranjak ke peraduan. Aku terpaku.

“Dan Kinanti,” lanjutmu lagi,”kita sebut saja mereka, yang ada dibelakang kita itu sebagai para pencari keindahan”.

Aku trenyuh saat kamu kemudian meraih pundakku lalu membaringkan kepalaku dengan lembut ke bahumu. Gelap mulai merata, malam sudah tiba.

Kamu benar-benar begitu pandai membuatku merasa berharga. Menjadi bagian dari keindahan semesta adalah sebuah analogi yang unik dan menggetarkan untuk memaknai hubungan kita selama ini. Aku ingat, malam itu aku membuat puisi tentang Pantai Losari

Kaki langit tempat segala harapan kita berlabuh

Serta kepak camar menyapa cakrawala

Adalah muara segala impian yang telah kita rajut rapi

Bersama desir rindu dan riak semangat

Membangun rumah bersahaja tempat kita senantiasa pulang

Dan pantai Losari tempat kita berpijak kini

Adalah saksi segala keindahan, segala janji yang ditunaikan

Bahwa cinta yang didada kita,

akan selalu ada, tak akan pernah tiada


“Aku bawa puisimu ini ya, untuk mengingatkanku, aku punya rumah untuk pulang disini, pada hatimu,” katamu dengan bibir bergetar saat perpisahan itu tiba. Aku menggigit bibir dan berusaha melepasmu, setegar mungkin. Satu tahun lagi, rasanya seperti seabad bagiku, tanpamu.

“Maaf, mbak Kinanti?” sebuah suara tiba-tiba menyapaku dari arah belakang dan spontan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Seorang lelaki tegap dengan kumis melintang telah berdiri dihadapanku.

“Saya Budi, teman Andika,” seraya mengulurkan tangannya. “Dia banyak cerita tentangmu”.
Kecemasan tiba-tiba menggayuti hatiku.

“Ada apa dengan Andika, dimana dia?” tukasku tak sabar.Budi menghela nafas panjang. Seperti ada beban berat yang susah diungkapkan.

“Andika mengalami kecelakaan saat kami melakukan ekspedisi perahu cadik melintasi Samudera Pasific. Sesaat sebelum meninggal, ia menitipkan sesuatu padaku. Sebuah surat dan ini, sebuah kotak kecil merah berisi cincin, yang rencananya akan ia sematkan pada jarimu, sesuai janjinya, hari ini,” ujar Budi terbata-bata.

Air mataku jatuh. Kesedihanku datang menyeruak.

Aku memandang kearah jendela kaca disamping tempat kami biasa duduk. Hujan deras sudah turun menggantikan gerimis. Aku berusaha mencari pantulan wajah Andika di kaca yang kian buram itu. Berharap ia ada disana, menyematkan cincin itu pada jariku secara langsung, hari ini.

Dadaku disesaki keharuan mendalam. Ia menunaikan janjinya. Selalu, seperti biasa.

Dan kini, Andika telah menjadi bagian dari sebuah keindahan samudera, keindahan semesta, keindahan besar dan sejati yang selalu terpatri dalam hatiku..

Catatan:

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian cerita NARSIS alias Narasi Romantis saya. Bisa dibaca beberapa diantaranya disini

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed