Category Archives: Traveling

rajaampat1

Sumber foto : wikipedia

Raja Ampat, Papua, memiliki keindahan alam serta kekayaan flora dan fauna yang tidak ternilai, seperti sebuah surga yang terbentang di Timur Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, nama Raja Ampat semakin populer seiring berita dan cerita keindahannya yang tersebar melalui berbagai media. Turis lokal maupun mancanegara memimpikan untuk bisa pergi ke sana.

Namun, lokasinya yang sulit dijangkau serta akses transportasi yang panjang dan tidak mudah, membuat Raja Ampat seakan tersedia bagi orang-orang yang memiliki tekad kuat. Selayaknya surga yang harus dicapai dengan usaha keras manusia.

Raja Ampat dapat diakses melalui Bandara Sorong yaitu Domine Eduard Osok, sejauh ini penerbangan menuju ke sana hanya tersedia dari 3 kota; Jakarta, Makassar dan Manado. Itu pun jika Anda mengambil rute perjalanan dari Jakarta, biasanya pesawat harus transit terlebih dahulu di kota Surabaya atau Makassar.

Ada beberapa maskapai yang bisa Anda pilih, salah satunya Pesawat Sriwijaya yang memiliki jadwal rutin menuju Sorong. Untuk ketersediaan dan harga tiketnya, Anda dapat cek tiket pesawat di Traveloka.

Dari Sorong, Anda masih harus menyebrang menggunakan kapal feri menuju Wasai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Tersedia dua pilihan kendaraan, pertama menggunakan feri ekspres dengan waktu tempuh 2 jam untuk menyebrang. Kisaran biayanya mencapai Rp130.000 – 220.000 dan bergantung pada kelas yang dipilih. Sementara pilihan kedua, feri lambat memerlukan waktu tempuh sekitar 4 jam dengan biaya Rp140.000.

Selanjutnya Anda dapat menggunakan perahu untuk mengunjungi pulau-pulau yang tersebar di Raja Ampat. Sebaiknya Anda meminta bantuan untuk mencari perahu yang bisa disewa kepada pemilik penginapan Anda, termasuk tarif yang biasanya diberikan. Hal ini disebabkan para penyewa perahu seringkali memasang harga sewa terlalu tinggi dan sulit ditawar.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan dan nikmati saat berada di Raja Ampat.

  1. Diving dan snorkeling

Diving biasanya menjadi tujuan utama bagi wisatawan yang datang ke Raja Ampat. Terdapat 4 gugusan pulau yang semuanya merupakan lokasi diving yang sangat menarik, yaitu Pulau Misool, Salawati, Waigeo, dan Batanta.

Menurut berbagai sumber, di sana terdapat sekitar 1000 jenis ikan, 500 lebih jenis terumbu karang, 700 jenis moluska yang bisa Anda lihat dari dekat. Raja Ampat disebut-sebut memiliki 75% spesies karang yang ada di seluruh dunia.

Anda bisa melakukan diving dan snorkeling kapan saja, namun saat terbaiknya, pada bulan Oktober hingga November. Bulan tersebut umumnya bertepatan dengan cuaca yang baik, saat air sangat jernih hingga jarak pandang ketika menyelam sangat jelas.

Di setiap lokasi penyelaman yang berbeda, Anda akan melihat keindahan berupa keragaman spesies ikannya. Hal serupa akan terjadi ketika Anda menyelam di Chicken Reef. Anda akan menyelam dikelilingi ribuan jenis ikan, seperti tuna, snappers, giant trevellies, barakuda, hiu karang, hingga penyu. Sementara di Manta point, Anda akan berenang ditemani ikan pari manta.  Dan di Batanta atau Waigeo Anda juga bisa melihat dugong dan ikan duyung.

rajaampat2

                                                                  sumber foto : Mayaanik.wordpress.com

  1. Trekking

Raja Ampat bukan hanya memiliki wilayah perairan yang memesona. Selain diving, Anda juga bisa melihat keindahan alamnya dengan menelusuri pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Terdapat beragam flora dan fauna yang sangat menarik. Anda dapat melihat burung cedrawasih merah, beberapa jenis burung nuri, kakatua, maleo, dan kus kus di habitat aslinya. Anda juga dapat melihat keindahan anggrek yang beraneka ragam.

rajaampat3

   sumber foto : Penulispro.net

  1. Melihat peninggalan sejarah

Di pegunungan Misool, Anda bisa melihat sebuah cap tangan yang menempel di dinding batu karang, sebuah peninggalan prasejarah berusia sekitar 50.000 tahun.

Jika Anda sempat menyelam di Pulau Wai, Anda juga bisa melihat bangkai pesawat yang telah karam saat perang dunia ke-2.

rajaampat4

sumber foto : .log.viva.co.id

  1. Melihat atraksi lokal

Menjelang akhir tahun yang biasanya jatuh pada bulan Oktober, diadakan festival Marine atau festival bahari untuk menarik minat wisatawan. Hal ini dilakukan karena Raja Ampat merupakan destinasi wisata bahari favorit di seluruh dunia. Dalam festival tersebut, Anda dapat menyaksikan atraksi suling tambur yang dilakukan warga setempat, diiringi musik lokal dan tarian yang menyerupai tarian hula-hula.

rajaampat5

Sumber foto : Kompasiana.com

Informasi pentingnya, ketika menuju ke Raja Ampat sebaiknya tidak bertepatan ketika hari minggu. Umumnya penduduk setempat yang merupakan pemilik penginapan atau perahu sewaan wisatawan akan berlibur untuk beribadat dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau komunitas mereka. Sehingga, demi menghormati tradisi lokal, seluruh pelayanan yang Anda butuhkan juga akan libur. Sebagai tambahannya, tetaplah berpakaian dan bersikap dengan sopan.

So, sudah siap berkeliling dan menemukan keindahan surga di Raja Ampat kan? Enjoy your trip!

 

IMG_0823Pagi baru saja merekah di Ubud, Sabtu (31/10),  saat dua bis berukuran sedang yang membawa rombongan Jelajah Gizi bergerak menuju pelabuhan Benoa dari Hotel Grand Sunti. Cahaya matahari nan hangat bersinar cerah seperti semangat kami untuk menjelajahi Pulau Nusa Lembongan dengan menumpang kapal catamaran Bali Hai Cruise 2. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, kami akhirnya tiba di pelabuhan tanjung Benoa tempat kapal Bali Hai Cruise 2 bersandar. Sekilas saya melihat di pinggir dermaga, kapal yang akan kami tumpangi nanti ke Nusa Lembongan itu agak mirip dengan jenis kapal penyeberangan Batam-Singapura.

Read More…

_MG_5580

Pesawat Lion Air JT-030 yang ditumpangi rombongan peserta Jelajah Gizi 2015 mendarat mulus di bandar udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Jum’at (30/10) setelah mengalami keterlambatan selama satu jam lebih akibat kendala teknis .Cuaca terlihat begitu cerah, matahari bersinar terang menyapa hangat kehadiran kami di pulau dewata. Ini adalah kali ketiga saya ke Bali. Pada tahun 2012 lalu saya datang bersama rombongan kawan-kawan kantor PT Cameron Services International melaksanakan Employee Gathering dan Akhir Maret 2014, saya datang sebagai blogger menghadiri kampanye PDIP. Kali ini saya bersama 10 orang blogger pemenang lomba plus wartawan dari sejumlah media ke Bali lagi untuk menguak potensi pangan, kekayaan nutrisi dan kearifan lokal nan eksotis di lokasi wisata fenomenal ini lewat Jelajah Gizi. Setelah semua berkumpul kami lalu beranjak menuju bis yang disediakan. Berhubung waktu sholat Jum’at telah tiba, sebelum melanjutkan perjalanan ke Ubud, rombongan kami mampir ke salah satu masjid tak jauh dari Bandara untuk menunaikan sholat Jum’at secara berjamaah.

Read More…

1501261_10152061110298486_506449893_o

Hujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata disana : pantai Cemara Udang. Apa boleh buat karena kondisi cuaca tidak memungkinkan kami sepakat untuk membatalkan kunjungan kesana dan memilih untuk beristirahat di kamar hotel masing-masing.

Pukul 19.30, kami kembali berkumpul bersama-sama di Hotel Family Nur untuk kemudian menuju Cafe JBL yang letaknya tak jauh dari hotel kami untuk makan malam. Sesampai disana, ternyata hidangan sudah disiapkan di meja. Nampak sajian Tomyam, Udang Goreng Tepung, Ikan Bakar, Tumis Kangkung, serta kuliner bernuansa Seafood lainnya terhidang dan membuat kami tak sabar untuk segera menyantapnya 🙂

Read More…

DSCN7792

Seusai menunaikan Sholat Dhuhur di Masjid Jami’ Sumenep, rombongan kami kemudian bergerak ke kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep dan kerabatnya, Asta Tinggi, yang ditempuh kurang lebih 10 menit dengan bis. Asta Tinggi berdiri pada tahun 1644 M dan berada di desa Kebun Agung, 2,5 km arah Barat kota Sumenep. Lokasi ini berada di dataran tinggi dan direncanakan awalnya oleh Panembahan Somala lalu dilanjutkan pelaksanaannya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Sebuah gerbang besar berwarna kuning hijau menyambut kedatangan kami di bagian depan. Saya jadi teringat kompleks pemakaman Raja Gorontalo, Hubulo yang juga berada di dataran tinggi saat saya kunjungi tahun lalu.

Seperti diuraikan dalam buku “Asta Tinggi” karya Tadjul Arifin R yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupeten Sumenep, Kompleks Asta Tinggi dibagi menjadi 7 (tujuh) kawasan yakni Kawasan Induk yang terdiri atas 4 ruang/blok berisi 3 cungkup antara lain Cungkup Tumenggung Wirasekar dan Pangeran Pulangjiwo disebelah utara atau belakang, Cungkup Pangeran Jimat dan kerabatnya di depan dan Cungkup Bindara Saud, Ratu Tirtonegoro beserta kerabatnya di sebelah timur cungkup pangeran Jimat. Sementara itu Ruang/blok II terletak di sebelah timur bagian utara berisi cungkup berkubah adalah kuburan keturunan Bindara Saud. Di Ruang/blok III terletak di bagian barat berisi pendopo Bindara Saud sebagai prasasti tanpa tulis dalam peristiwa Patih Pulangjiwo. Dan yang terakhir Ruang/Blok IV terletak di sebelah timur bagian selatan  yang merupakan halaman utama juga disini terletak pintu gerbang utama untuk masuk ke kompleks Asta Tinggi. Ruang ini menghubungkan pada ruang III dan I, dengan melalui pintu gerbang bagian barat, dan menuju pada ruang II, dengan melalui pintu gerbang bagian utara.

Read More…

1477530_10152058681558486_1333993779_n

Matahari bersinar cerah, hari Sabtu (14/12), saat kami semua berkumpul di ruang makan Hotel Family Nur Sumenep. Badan saya relatif sudah terasa lebih segar, seusai sarapan dan tidur cukup setelah perjalanan panjang dari Surabaya, ke gerai batik gentongan Tanjungbumi hingga menonton pertunjukan tari topeng khas Madura tadi malam. Pagi itu, sebelum mengunjungi Keraton Sumenep, serta beberapa destinasi wisata budaya lainna, kami berkumpul sejenak untuk mendengarkan sharing dari budayawan muda mas JJ Rizal yang juga ikut dalam rombongan kami serta jumpa pers bersama teman-teman media.

Dibuka oleh mbak Adinda Kuntoro, perwakilan Dji Sam Soe-Sampoerna Group, pertemuan ini berjalan penuh nuansa kekeluargaan.Beliau mengungkapkan bahwa acara Cultural Trip ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan kompetisi foto dan blog Potret Mahakarya Indonesia. Selama 10 minggu berturut-turut sejak September 2013, dilaksanakan lomba blog yang mengambil inspirasi foto 24 finalis lomba foto Potret Mahakarya Indonesia. Pada minggu terakhir dipilih 4 blogger terbaik yang akan mengikuti acara Cultural Trip ke destinasi wisata budaya di Madura. Keempat blogger tersebut itu adalah saya, Dwi Ariyani alias Neng Biker, Syaifullah Daeng Gassing dan Danan Wahyu Sumirat.

Hadiah perjalanan wisata budaya ini sebagai bentuk apresiasi kepada para blogger serta diharapkan kelak mereka bisa menuliskannya kembali di blog masing-masing dan dibagikan secara luas kepada publik sebagai bagian dari upaya promosi wisata nusantara, khususnya daerah Madura. Pada kesempatan itu pula hadir Bapak Yasin Tofani Sadikin Brand Manager PT HM Sampoerna, Tbk yang khusus datang dari Jakarta tadi malam untuk mengikuti kegiatan ini.

Read More…

DSCN7584Senja melingkupi ibukota Kabupaten Sumenep saat rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya tiba. Bis yang membawa kami memasuki halaman hotel C1 tempat kami kelak akan menginap. Saya menyempatkan diri meluruskan pinggang setelah duduk di kursi bis selama kurang lebih 2,5 jam sejak berangkat dari Tanjung Bumi. 

Selain hotel C1, ada hotel Family Nur yang letaknya berseberangan juga digunakan sebagai tempat menginap rombongan kami. Kebetulan saya diberikan tempat satu kamar bersama mas Danan Wahyu–salah satu pemenang lomba blog Potret Mahakarya–dikamar 26. Saat memasuki kamar, kami berdua sempat saling berpandangan bingung, soalnya tempat tidur yang tersedia adalah King Bed berukuran besar bukan Single Bed terpisah. “Wah, jangan sampai tempat tidurnya roboh nih ditempati kita berdua,” kata saya berseloroh mengingat badan kami berdua sama-sama montok menggemaskan :).

Read More…

madura65

Perjalanan kami para peserta Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia terus berlanjut. Setelah makan siang di Bebek Songkem Bangkalan, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Tanjung Bumi. Sambil duduk di pinggir jendela, saya menikmati setiap detik perjalanan menyenangkan ini. Paduan antara kehijauan sawah, padang sabana, biru laut di pesisir pantai, menjadi pemandangan yang saya saksikan dari balik kaca jendela bis. Cuaca hari Jum’at (13/12) memang sungguh sangat bersahabat sehingga saya dapat menikmati panorama dengan lebih leluasa. Kurang lebih 1,5-2 jam perjalanan kami tempuh sampai akhirnya bis yang kami tumpangi memasuki gerai Zulfah Batik.

Kami diterima dengan ramah langsung oleh sang pemilik Zulfah Batik, Pak Alim ditemani sang isteri tercinta, di sebuah paviliun yang menjadi semacam ruang pamer batik, tak jauh dari rumah induk yang lumayan megah. Beliau kemudian menjelaskan bahwa budaya membatik merupakan warisan leluhur yang diturunkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Tanjung Bumi terletak di pesisir pantai, mempunyai sejarah yang lekat dengan perkembangan batik itu sendiri. Dahulu, sambil menunggu sang suami pulang berlayar ke negeri yang jauh, para perempuan Tanjung Bumi menghabiskan waktu luangnya dengan membatik.

Read More…

madura3

Saat sedang menjaga putri bungsu saya, Alya, yang sedang sakit Typhus di rumah sakit Harapan International Cikarang di pekan pertama Desember 2013, mata saya “tertancap” di situs Potret Mahakarya Indonesia, yang menampilkan nama saya sebagai salah satu dari 4 pemenang Grand Prize Kompetisi Blog yang dilaksanakan selama 10 minggu berturut-turut tersebut untuk berwisata budaya ke Madura .Saya memang berhasil memenangkan kompetisi blog di minggu kesembilan dan memang sama sekali tidak memiliki ekspektasi tinggi bisa memenangkan hadiah Grand Prize mengingat peserta kompetisi blog ini cukup banyak serta memiliki kualitas tulisan yang bagus pula. Makanya saya nyaris tak percaya atas apa yang saya lihat di monitor laptop!. Sampai-sampai sempat mengucek-ngucek mata, siapa tahu hanyalah ilusi optik belaka :). Tapi benar. Ini nyata. Saya memekik kecil dengan riang seraya mengepalkan tangan. Impian saya akan terwujud!.

Sudah lama sebenarnya saya memendam keinginan untuk mengeksplorasi lebih dalam suasana tradisi dan budaya di Madura yang konon memiliki karakter masyarakatnya nyaris sama dengan karakter khas masyarakat Makassar yang terkesan keras, berani dan dinamis. Saya jadi ingat Pak Koyyim, pengelola limbah kayu di kantor lama saya di PT Nofmas Chemical Industries Cibitung 13 tahun silam. Lelaki asal Bangkalan Madura ini saya kenal dekat karena biasanya mengambil kayu bekas yang kerap dipakai untuk support barang import didalam kontainer. Kayu-kayu bekas ini digunakan dan diolah Pak Koyyim menjadi furniture berkualitas tinggi di rumahnya yang sederhana di Tambun, Bekasi.

Beliau pernah menghadiahkan saya sebuah lemari kecil yang indah hasil buatan tangannya sendiri sesaat sebelum saya keluar dari perusahaan tersebut. “Ini lemari saya buat sendiri buat sampeyan, gak usah bayar, sebagai nang-kenangan supaya sampeyan sekeluarga biar bisa ingat terus sama saya, dan siapa tahu bisa sampeyan berkunjung ke kampung saya di Bangkalan, Madura,” kata Pak Koyyim dengan senyum tulus serta logat khasnya, dan tak pernah terlupakan hingga kini. Harapan Pak Koyyim–dan juga kemudian jadi harapan saya itu, kemudian bisa terwujud. Saya akhirnya bisa melancong ke Madura.

Read More…

derawan-1

Sebuah “nirwana” tropis berada di salah satu pulau pada wilayah Propinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan berada di Selat Sulawesi tak jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi wisata bahari pilihan yang menawan buat anda yang menyukai  pesona alam pantai dengan hamparan pasir putih lembut yang bersih dan berkilat serta air yang jernih apalagi ditambah “bonus” menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita melakukan penyelaman.  Terkadang  saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur disana.

Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil ditengahnya,  membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam yang begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja serta menyisakan kenangan mendalam di batin.

Read More…

April 2017
M T W T F S S
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge