CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – SABERIN BAGIAN KEDUA

Posted 12 Dec 2008 — by
Category Saberin

Sebuah Diary tua bersampul biru.

Lelaki itu memandang lekat sampul catatan hariannya yang telah usang dengan lidah kelu. Setiap kali, saat membuka lembar demi lembar Diary tersebut, sontak seluruh tubuhnya bergetar hebat. Barisan-barisan kenangan seperti melintas cepat dihadapannya. Berpendar-pendar riuh, kadang cemerlang, kadang kelam dan membuat batinnya ngilu seketika.

Tapi ia berusaha menguatkan hati.

Terakhir kali ia membuka dan membaca kembali diary itu tahun lalu, saat menulis sesuatu disana. Untuk terakhir kalinya, setidaknya hingga saat ini.

Perlahan lelaki itu membuka lembaran paling belakang Diary birunya. Jemarinya bergetar dan lirih ia lantunkan kalimat demi kalimat yang tertera disana.

Perempuan Bermata Lembut, perkenankan aku menulis sepucuk surat yang mungkin tak akan pernah sampai padamu lewat diary ini. Ratusan bahkan ribuan bilah-bilah waktu telah berlalu, tak akan pernah membuat surat ini usang. Karena pada setiap bilangan huruf, kata dan kalimat yang tertera, senantiasa ada seberkas rindu yang membasuh dan membuatnya seperti baru kembali.

Sepanjang masa dan tiap kali musim berganti.

Meski untuk itu, selalu ada rasa perih yang mengiringinya.

“Sabda” Kahlil Gibran yang berkata, Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba, bagaikan mendapatkan pembenaran ketika sosokmu perlahan menghilang dibawah bentangan lazuardi bertabur bintang. Kepergianmu meninggalkan begitu banyak jejak luka dihati. Yang aku yakin, tak akan pernah kamu sadari. Bahkan ketika bayang-bayangmu memudar dipusaran waktu yang menderu, sementara aku tergugu ngilu dalam pilu.

“Jangan mencariku. Aku yang akan menemukanmu dengan cara yang tak akan kamu duga sama sekali,” katamu lirih. Dan desau angin malam membawa desir suaramu berlalu.

Juga senyummu.

Lelaki itu menghela nafas panjang. Ia menutup Diary yang telah usang dibekap waktu itu dengan hati remuk. Hujan masih belum reda.

“Cinta telah melapisi hatimu. Begitu dalam. Hingga kemampuan deteksimu tak mampu menjangkau untuk mencari perempuan itu,” demikian ungkap Pak Hasan, sang guru telepatinya suatu ketika saat ia menanyakan kemungkinan mencari sang perempuan bermata lembut dengan kemampuan yang ia miliki.

Lelaki itu tercengang. Matanya bertanya.

Pak Hasan tersenyum misterius.”Kelak kau akan tahu jawabannya. Tapi belum sekarang,” sahutnya dengan nada lirih.

Lelaki itu mendesah.

Ditutupnya kembali diary tersebut dengan hati-hati dan kembali disimpannya di laci meja. Dengan gerakan kaku ia lalu menyalakan rokok berikutnya.

Sementara diluar, hujan masih belum berhenti.

Dalam hati, ia merutuk sendiri, kenapa harus jadi melankolis begini..

****

Selamat malam para pendengar setia 108.54 Matrix FM. Masih dengan saya, Mus Rakasiwi, tetap setia menemani anda melewatkan malam panjang yang indah ini dengan tembang-tembang cantik dalam acara”Mengiris Kenangan, Menoreh Angan”.

Andini tersenyum mendengarkan suara empuk penyiar favoritnya, Mus Rakasiwi, dari radio tape mobil Honda Jazz biru metaliknya. Ia lalu mengambil posisi senyaman mungkin dibelakang kemudi dengan membaringkan sandaran kursi, meluruskan kaki kedepan sekaligus meregangkan otot punggung yang pegal. Tak lupa ia membuka kaca jendela mobil lebar-lebar dan membiarkan sejuk angin malam berdesir menerpa wajahnya. Begitu menyegarkan.

Malam itu, ia sengaja keluar “mencari angin” sekedar “mengendapkan” kekesalan hatinya. Pada seorang lelaki bernama Randy, yang ternyata jauh lebih sibuk mengurusi karirnya sebagai selebriti baru di dunia film dibandingkan menyisihkan sebagian waktunya buat sang kekasih.

Andini tak lupa menon-aktifkan handphonenya untuk menghindari “gangguan” panggilan telepon dari siapapun. Ia ingin menikmati kesendirian di salah satu sudut taman tak jauh dari rumahnya .

Pendengar setia Matrix FM, membuka jumpa kita malam ini, mari kita nikmati satu tembang lawas yang manis dari Chicago “ Glory of Love”, semoga bisa mengiris kenangan dan menorehkan angan di hati anda:

Tonight it’s very clear
As we’re both lying here
There’s so many things i wanna say
I will always love you
I would never leave you alone
Sometimes I just forget
Say things I might regret
It breaks my heart to see you cryin’
I don’t wanna lose you
I could never make it alone

I am the man who would fight for your honor
I’ll be the hero you’ve been dreamin’ of
We’ll live forever
Knowing together that we
Did it all for the glory of love…..

Suara vokalis Chicago, Peter Cetera yang mengalun lembut menyeret Andini pada seorang lelaki dari masa lalu, yang bukan Randy.

“Panggil aku Made saja. Titik. Walau namaku sebenarnya adalah Ahmad, namun karena faktor kebiasaan dirumah yang kental menganut budaya bugis-makassar, maka aku kerap dipanggil dengan suku kata terakhir dibelakang namaku plus tambahan “e” menjadi “Made”. Memang mirip-mirip nama orang Bali. But that’s me, Just Made, Only Made” kata lelaki itu dengan mimik lucu saat memperkenalkan dirinya pertama kali pada Andini pada malam inagurasi kampus.

Ia menjulukinya dengan panggilan mesra : Pria berwajah teduh. Dan memang, keteduhan wajah sekaligus sorot mata tajam bagai elang dari Made yang membuatnya terpukau dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sambil memejamkan mata dan mencoba meresapi bait demi bait lagu itu. Samar-samar, wajah tampan lelaki itu muncul dalam lamunannya.

“Bagaimana rasanya ?” selidik Andini penasaran dan menatap tajam pada Made yang tengah mencicipi Nasi Goreng buatannya. Ini merupakan debut pertamanya membuat nasi goreng ketika Made memutuskan “wakuncar” malam minggu kali ini cukup dirumah Andini saja. Dan tidak melewatkan waktu nonton dibioskop atau nongkrong di café menikmati Live Music, seperti biasanya.

“Hmmm…enak..tapi kayaknya….”

“Kayaknya kenapa…?”

“Kurang garam dan kebanyakan cabe deh..”

Andini cemberut. Made melirik dengan pandangan jenaka.

“Tapi kalo lihat wajah kamu yang cantik, koq rasanya jadi enak banget gitu looh..,” goda Made seraya tertawa renyah dan siap-siap menunggu timpukan bantal sofa dari Andini.

Andini tersenyum sendiri mengingat kembali saat-saat indah itu. Perlahan ia membuka mata dan menatap keluar ke arah taman. Tampak sepasang muda-mudi sedang duduk berduaan dibangku, menikmati lembut cahaya bulan purnama yang muncul malu-malu diatas awan. Andini menghela nafas panjang.

Mencoba pasrah pada rasa kehilangan yang tiba-tiba datang menyelimuti hatinya. Ia lalu menikmati lagi kesendirian, larut dalam alunan lagu Peter Cetera.

You keep me standing tall
You helped me through it all
I’m always strong when you’re beside me
I have always needed you
I could never make it alone

I am the man who will fight for your honor
I’ll be the hero you’ve been dreamin’ of
We’ll live forever
Knowing together that we
Did it all for the glory of love

Like a knight in shining armor
From a long time ago
Just the time I’d save the day
Take you to my castle far away

Dan nostalgia itu terbayang kembali pada sebuah malam yang basah oleh gerimis disalah satu sudut café kegemaran mereka. Lagu yang sama seperti didengar Andini saat ini dibawakan dengan merdu oleh Anto penyanyi tetap café tersebut.

“Aku paling senang mendengar lagu ini. Sama seperti perasaanku padamu sekarang dan juga nanti,” kata Made lembut sambil menggenggam jemari Andini dan menatap kekasihnya itu penuh kemesraan.

“Gombal !” sergah Andini tersipu. Pipinya memerah tapi hatinya menjerit senang.

“Aku ingin kejayaan cinta yang sudah kita bangun tidak akan pudar sampai kapanpun. I’ll be the hero you’ve been dreamin’ of,” ujar Made seraya mengecup pelan jemari Andini.

Dalam sekejap Andini tiba-tiba seperti melambung di awang-awang. Langit-langit café menyemburatkan warna-warni pelangi. Berpendar-pendar melukis hatinya. Sebuah sensasi melenakan yang senantiasa ia alami dan rindukan ketika “soul-mate”nya itu memujanya. Penuh kasih.

Andini dan Made terdiam meresapi kebahagiaan yang membuncah di hati masing-masing. Mata mereka saling bertatapan mengalirkan cinta yang terus tumbuh bertunas dan berbunga dihati. Dari waktu ke waktu.

Andini menegakkan sandaran kursi, memegangi setir mobilnya lalu memandang lurus kedepan dengan hampa. Sepotong kenangan pahit kembali mengiris batinnya. Seburam kaca mobil yang mulai lekat oleh basah embun malam.

Pada suatu malam yang kuyup oleh deras derai hujan akhir Desember. Made sengaja menghentikan mobilnya agak jauh dari didepan gerbang rumah Andini sepulang menonton bersama konser tunggal Diva Musik Pop Indonesia, Rara Inayya.

“Din.”

“Ya ?”

“Aku punya sesuatu untukmu. Harap dibaca sekarang juga. Aku menunggu jawaban darimu,” kata Made pelan seraya mengangsurkan secarik kertas ke arah Andini.

Ia menerimanya dengan perasaan tak menentu lalu membacanya bait demi bait:

Pada pagi yang menguraikan embun
Pada kilau mentari yang menguak hari
Dan gelegak darahku yang berlalu amat gegas
Kupersembahkan untukmu,
Bidadari jelita bermahkota bulan
Cinta bersahaja
Dari lelaki yang luluh terkulai dalam pesonamu
Yang senantiasa membuat malam menggeliat resah
Dan kerap bertanya:
Sampai kapan engkau mencumbui bayang-bayang ?
Kini,
Dapatkah kujadikan dirimu nyata dalam dekapku ?

Andini terpukau dan tak dapat berkata sepatah katapun. Made meraih jemari gadis itu. Menggenggamnya erat seperti tak akan dilepasnya sedetikpun. Matanya menatap tajam kearah wanita pujaannya. Berharap jawab.

Andini tak perlu menunggu lama untuk mengangguk kemudian membalas genggaman jemari Made. Lebih erat.

Ia masih menyimpan rapi kertas puisi Made tersebut dalam dompetnya. Sebagai sebuah monumen abadi, yang membuatnya selalu merasa berharga dan tersanjung. Setiap hari. Setiap saat. Bahkan saat ia mesti meninggalkan lelaki berwajah teduh itu ke kota lain, mengikuti tempat penugasan baru orang tuanya.

Andini menarik nafas panjang seolah mengumpulkan kembali seluruh jiwanya yang telah terbang berkelana ke masa silam. Pelan tapi pasti ia menghidupkan mesin mobil. Kembali kerumah. Pada dunia nyata yang tidak sebatas angan. Tak lama kemudian, mobil Honda Jazz biru metalik itu pun meluncur mulus menembus malam ditemani suara empuk Mus Rakasiwi.

Pendengar setia Matrix FM. Sepotong kenangan pahit bisa jadi menggoreskan perih dihati. Tapi hidup, tak berhenti sampai disini. Jangan beranjak dulu, karena setelah pesan-pesan berikut, akan tampil penyanyi legendaris asal negeri sendiri, Chrisye dengan lagunya”Merpati Putih”.

Masih bersama saya menemani anda di malam panjang ini, Mus Rakasiwi…

–bersambung– 

9 Comments

  1. ah nama saya memang selalu jadi inspirasi *blushing*

    hihihihi…
    diva bo!

    –Hahaha..iya tuh Rara, jadi Diva bareng Ina.

    Reply
  2. beh, dari tadi nyari2 nama anto gak ketemu.
    Terpaksa pake jurus Ctrl+F. eh, ketemu 1. hehe..
    penyanyi cafe bo!… :)

    Reply
  3. erik

    daeng mantapna gombalanya made..high class pux boo.

    tasakko2 mi i2 made..

    mana lanjutan na daeng??

    Reply
  4. eric

    daeng..
    mantapna tawwa gombalannya made,,

    mana lanjutan ceritanya?
    nda sabar ka inie,,

    –Erick, tabahkan dan sabarkan hatimu. Lanjutannya akan muncul segera. Kunjungi terus DaengBattala.com

    Reply
  5. cerita yang bagus daeng, usul.. bisa nda ukuran font nya ditambah danl colur nya warna putih… tenkyu daeng

    –Thanks ya Syamsoe, pantengin terus Saberin ini. Sarannya akan saya pertimbangkan, Kebetulan tahun baru nanti saya ada rencana mau “ganti baju” template blog ini

    Reply
  6. saya ngambek…..
    masa seleb seperti saya ndak bisa diselipkan barang satu dua peran…manna mamo cocmeo ji kesiang…asal jangan jadi pemeran Dinda berbodi Doddi…:)

    –Hahahaha….sabar Rusle, saatnya akan tiba. Makanya ikuti terus Saberin! :D

    Reply
  7. daeng….tabe’ nah
    terlalu detail mungkin, tapi kayanya ada yg dikit ganjel nih :

    Quote : ” Dalam sekejap Tina tiba-tiba seperti melambung di awang-awang.”

    Ko ada Tina yah ? Tina itu siapa ? bukannya hanya ada Andini dan Made disitu ?

    –Astaga, salah ketik saya. Tina harusnya jadi Andini. Saya segera perbaiki, thanks atas koreksinya na’

    Reply
  8. Your blog is so informative ? keep up the good work!!!!

    Reply


Add Your Comment