MAKANYA, GAUL DONG!

Posted 15 Dec 2008 — by
Category Intermezzo

Kemarin sore (14/12) bersama si sulung Rizky, saya menuju ke tempat cukur langganan kami dengan mengendarai motor Suzuki Shogun butut kami. Rambut kami berdua sudah gondrong dan relatif “cukup umur” untuk dipotong. Sebenarnya, rencana awalnya adalah pagi hari namun karena minggu pagi itu ada acara kerja bakti bersama bapak-bapak di sekitar lingkungan rumah saya, maka rencananya ditunda ke sore harinya.

Ternyata, di dua tempat tukang cukur langganan kami semuanya penuh. Antriannya panjang banget. Kami bisa dapat giliran setelah–paling tidak–2 jam menunggu. Dan Rizky, paling tidak betah menanti lama-lama.Saya lalu memutuskan mencari tempat cukur alternatif. Dan terdamparlah kami disebuah Salon yang letaknya kurang lebih 2 km dari rumah kami. Ini adalah kali pertama kami berdua bercukur di salon. Tak apalah, sekalian menjajal pengalaman baru dan tentu tidak perlu lama-lama menunggu. Setelah memarkir motor, saya mengajak Rizky turun dari motor dan beranjak menuju Salon..

Saya menguak pintu salon dengan gugup. Rizky masih takut untuk masuk.

“Oooh…mari masuk Om. Siapa nih yang mau dicukur?” sambutan hangat datang menyongsong kami dari seorang pria gemulai berkemeja warna-warni. Sangat seronok ditambah lagi sebuah bando bermotif kembang menghias di kepala. Senyumnya mengembang dan menerima kami berdua seperti tamu yang sudah lama ditunggu-tunggu kehadirannya.Wangi parfum begitu keras menyengat hidung saya ketika ia mendekat.

“Yang mau cukur saya dan ini nih, anak saya, Rizky” kata saya sambil memeluk pundak putra sulung saya itu.

“Wah..ya ampyun, ganteng banget ini anak,” kata si pria gemulai itu sambil mencubit pipi Rizky dengan gemas.

“Oo..tentu dong, ketampanan sang ayah, bagaimanapun juga, pasti menurun ke anaknya,” sahut saya dengan Pe-De sembari tertawa renyah.

Pria gemulai itu melirik. Ia memandang saya dari atas ke bawah, persis seperti satpam baru menangkap maling jemuran.

“Kayaknya bukan dari bapaknya deh ih, mungkin justru dari kecantikan ibunya. Gak mungkin banget deh gantengnya turun dari si Om,” ujar si Pria Gemulai itu ngeledek seraya menggiring Rizky ke kursi cukur. Ia tertawa melengking keras yang kedengarannya bagaikan tawa seorang nenek sihir baru mendapatkan mangsa.

“Jangan marah Om, cuma bercanda kok,” katanya setelah tawanya reda.

Saya keki berat. Dalam hati saya merutuk kesal, sialan juga nih, berani amat nih orang ngeledek. Saya merancang “aksi pembalasan”.

Rizky pun masuk arena pencukuran. Terlihat ia sangat tegang. Tidak seperti biasanya, bila di tempat cukur langganan kami, ia sangat aktif bergerak dan ngomong tentang apa saja, namun di Salon, ia hanya diam. Tentu ini cukup menguntungkan karena waktu cukur si pria gemulai itu lebih cepat.

“Om, sebenarnya sih, kalo lihat dari tampang, Om ini gak jelek-jelek amat kok, cuma kurang perawatan aja,” tiba-tiba si pria gemulai itu nyeletuk dengan kalimat yang sungguh mengguncangkan hati saya.

“Perawatan apaan sih?,” tukas saya ketus seraya meletakkan majalah yang saya baca di meja. Lama-lama bikin kesel juga nih orang, saya membatin.

“Paling tidak gini nih Om, seminggu sekali datang kek kesini buat luluran, facial, creambath atau Meni-Pedi, lumayan kok, bisa bikin ganteng Om 3 kali lipat,” kata si pria gemulai itu cekikikan genit.

“Meni Pedi? Apaan tuh? Ortopedi kali’ maksudnya”, saya balas bertanya dengan lugu.

Yaelah..Om..Om, makanya, gaul dong!. Meni Pedi itu ye, Menicure Pedicure atau perawatan kuku tangan dan kaki. Emang si Om ini jarang ke Salon ya?”, jawab si pria gemulai itu cengengesan.

Saya menghela nafas. Gemas. Kayaknya asap mulai keluar deh dari ubun-ubun kepala saya. Tabahkan hatimu Daeng Battala, kata saya menghibur diri lalu meraih kembali majalah yang saya baca tadi.

15 menit kemudian, Rizky sudah selesai. Kini giliran saya.

“Mau dicukur kayak gimana nih Om,” kata si pria gemulai seraya “membungkus” badan saya dengan mantel cukur.

“Biasa aja, dibikin cepak deh,”sahut saya cepat.

“Ooo…model ABCD ya Om. ABRI Bukan Cepak Doang, beres Om,” ujar si pria gemulai itu memulai aksi cukurnya.

Tak lama kemudian, ia pun nyerocos membahas berbagai hal-hal aktual yang sedang berkembang di dunia infotainment. Mulai dari kasus Marcella Zalianty/Ananda Mikola vs Agung, kontraversi warisannya alm Suzanna, sampai Afghan–idola si pria gemulai–yang konon kabarnya makin ganteng aja. Saya hanya manggut-manggut mengiyakan sembari berdoa semoga “penderitaan” ini lekas berakhir.

“Eh..mbak..eh..mas, namanya siapa sih?”, tanya saya iseng.

“Dinda, Om”, sahut si pria gemulai.

“Apa?”

“Dinda Om…Dinda,” ia mengulang kembali seraya terus konsentrasi mencukur.

Sontak saya berdiri, membalikkan tubuh dan memandangnya lekat-lekat. Ia kaget dan mundur kebelakang. Guntingnya lepas dan jatuh ke lantai.

“Kamu rupanya yang sudah lama dicari-cari selama ini,” kata saya sambil menuding pria gemulai dengan tatapan misterius. Terkesan mengancam.

Ia terlihat shock dan sangat tegang. Matanya seperti menyiratkan kalimat, “Eddy Sud Rahmat Kartolo, Maksud Lo?”


“Di..Di…dicari sama siapa, Om?” ujar si pria gemulai itu gugup. Nafasnya memburu, ia sangat stress kelihatannya. Dari dalam ruangan, 2 orang temannya–juga pria gemulai–datang tergopoh-gopoh. Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi.

Saya menghela nafas panjang. Menggeleng-gelengkan kepala penuh penyesalan sambil menekuri lantai Salon.

“Siapa yang cari Om? Siapa?,” tanya si pria gemulai tadi. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca dan ketakutan tersirat di wajahnya.

“Kamu dicari oleh….,” saya menggantung kalimatnya, sembari menghela nafas panjang kembali, seperti begitu berat mengutarakannya.

“Siapa Om?”, desaknya lagi. Ia terlihat tak sabar.

“Katon Bagaskara”, saya menjawab singkat.

Semuanya melongo. Ketiga-tiganya.

“Kok malah kaget? Ya..iyalah, Dinda itu, sudah lamaaaa sekali dicari oleh Katon Bagaskara. Ingat gak lagunya, Dinda dimana. Yang begini nih lagunya, Dindaaaaa dimana kau beraaada, Rindu aku ingin jumpaaa…meski lewat nadaaa….” (silahkan lihat klip lagu komplitnya di Youtube), kata saya sembari bernyanyi dan berjoged dengan mimik jenaka. Rizky tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi babenya.

Spontan ketiga pria gemulai itu ikut tertawa kencang. Seorang diantara mereka malah meledek si Dinda dengan ekspresi : kecian deh lu.

Si Dinda cemberut dan dengan gemas ia melancarkan tinju ke arah lengan saya.

“Waduh..sakit!,” saya menjerit.

“Itu bukan Dinda, Om. Tapi dari Udin,” katanya geram.

“Udah..lanjutin lagi cukurnya! Masa’ model tanggung kayak gini!,” saya lalu kembali naik ke kursi cukur. Dalam hati saya bersyukur, “aksi pembalasan” itu akhirnya tiba juga.

Hingga prosesi cukur saya selesai, tak henti-hentinya si pria gemulai itu mengulang-ngulang lelucon dari saya. Beberapa kali ia tertawa cekikikan sendiri tanpa sebab. Akibatnya proses pencukuran agak terhambat.

Saat mengangsurkan biaya cukur, si Dinda berucap,” Om, salam ya sama Katon Bagaskara, bilang aja Dinda-nya udah ketemu”. Ia tertawa cekikikan lagi.

Diatas motor, Rizky berbisik ke telinga saya, “Pa, jangan cukur disitu lagi dong!”.

Saya tersenyum dan menjawab,”OK my boy, let’s go!”

Motor sayapun melaju ke arah rumah. Saya sempat menengok kebelakang, di ambang pintu salon, si Dinda melambaikan tangan kearah kami.

Masih tertawa.