SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU : “TUMBUH” MENJADI TUA BERSAMAMU (Refleksi Ultah Perkawinan ke-14)

Posted 10 Apr 2013 — by
Category Kisahku

547017_10151229673613486_242251541_n (1)Istriku sayang,

Seperti yang sudah aku lakukan dalam 4 tahun terakhir, hari ini Surat Cinta Terbuka buatmu kutulis kembali, memperingati 14 tahun usia pernikahan kita. Aku selalu membangun sebuah “monumen” abadi tiap tahun, mengenang saat-saat bersejarah kita saat ikrar dinyatakan, janji diteguhkan dan niat dikuatkan dalam sebuah ikatan pernikahan. Sebuah “lembaga” sakral dimana kita menyemai benih-benih cinta secara konsisten lalu menuainya dengan rasa bahagia yang membuncah. Tak terlerai.

Seperti dituliskan dalam buku Plato And The Theory Of Forms, Tim Ruggiero, Philosophical Society, July 2002, Plato mengisahkan semula kita dan pasangan kita sesungguhnya dilahirkan sebagai kembar. “Mereka diciptakan Tuhan dengan dua kepala, dua leher, dua badan, dua pasang tangan, dua pasang kaki, dan seterusnya, tapi mereka hanya dikarunia satu hati, satu jiwa. Dan mereka harus berbagi”, kata Plato filsuf Yunani Kuno terkenal itu. Suatu hari, karena takdir tertentu yang tak terjelaskan, mereka harus terpisah satu sama lainnya. Namun, sejauh apapun mereka berpisah, jiwa mereka akan saling “memanggil”, saling mengirimkan sinyal untuk saling mendekat, dan kelak—bila mereka mengikuti panggilan itu—mereka akan bertemu kembali.

Mungkin saja ada yang memaknai apa yang disampaikan Plato sebagai sesuatu yang absurd dan melankolis. Tapi tidak bagiku. Kehadiranmu disisiku, selama 14 tahun ini adalah bagian dari kesatuan hati kita yang dibagi bersama dalam suasana suka dan duka sepanjang mengarungi samudera kehidupan. Kisah Adam dan Hawa yang diciptakan Allah SWT dalam kondisi tubuh yang lengkap namun rusuk yang terbagi. Mereka terpisah dan akhirnya bertemu kembali di Jabal Nur (Gunung Cahaya) dan menyatukan diri dalam harmoni, berbagi dalam satu hati, satu jiwa.

Istriku sayang,

Bagiku kehadiranmu menggenapi segala kekosongan dan melengkapi semua kehampaan. Menikah adalah belajar untuk saling mengerti dan memahami setiap perbedaan. Menyadari bahwa keinginan kita untuk saling melampiaskan rasa rindu tiada akhir dengan berkomitmen bersama dan berikhtiar menggali lebih dalam esensi cinta dan kehidupan dalam setiap langkah perjalanan kita, adalah sesuatu yang niscaya. Sedih maupun Gembira. Suka maupun Duka. Kita “mewarnai” semuanya dengan indah, dengan corak yang kita sukai. Satu hati, Satu jiwa.

Aku ingin kita “tumbuh” hingga tua bersama, menyaksikan kedua buah hati kita Rizky dan Alya meniti masa dewasa, meraih impiannya, mengawal mereka ke masa depan dan kelak akan mempersembahkan kepada kita cucu-cucu yang cantik dan ganteng. Kita berdua akan duduk di serambi depan rumah, menyaksikan kilau mentari menuju peraduannya dan aku akan membisikkan larik-larik puisi buatmu

Kerapkali kita menyempatkan diri duduk diberanda

bercakap tentang hal-hal tak penting dan upaya-upaya menanggulangi kegetiran

seraya menatap gelap yang luruh perlahan dipelupuk mata

dan kunang-kunang melintas anggun membawa kerlip harapan

sementara rindu memantul-mantul gemas lewat debar lirih di jantung kita

Bintang tersipu dipelukan awan saat kisah-kisah manis kuceritakan

terbang bersama desir lembut angin yang menyibak rambut tipis di keningmu

“Kita telah menoreh malam dengan angan-angan,” ucapku haru

lalu hening melingkupi segenap semesta

atgfamily-resize

Kerapkali aku mengajakmu menatap kelam di lanskap langit

seraya berusaha merengkuh impian yang berkelebat bersama gegas waktu

dan memori yang selalu kita catat dengan hati riang,

senantiasa menjadi jejak menandai kehadiran dan ketidakhadiran,

juga perih kehilangan sepanjang perjalanan

karena kita selalu yakin, indah, selalu tiba pada saatnya,

senyata hembusan nafas dan delik cemburu rembulan diatas sana

janji yang telah dan akan kita tunaikan, tanpa rasa enggan

merasuk pada rangkaian musim dimana kiprah kita terpacak jelas

tak akan pernah ada rasa sesal

karena rasa telah nyata mengalir lewat kata-kata dan realita

dan hidupmu, hidupku, hidup kita menyatu dalam gemuruh cinta

pada impian gemilang serta pendar asa

yang telah kita toreh dengan jemari gemetar di pucuk malam..

Catatan:

Koleksi Surat Cinta Terbuka Untuk Istriku tahun-tahun sebelumnya bisa dibaca disini 

12 Comments

  1. selamat hari pernikahan yah om, luar biasa patutu dijadikan contoh nih, puisi dan suratnya bikin saya menggeliat kepanasan :D

    Reply
    • Amril Taufik Gobel

      Terimakasih ya atas apresiasinya.. waduuh, kok sampai menggeliat kepanasan begitu gara2 baca puisi dan surat saya? hehehe

      Reply
  2. Mantabb…luar biasa pak, langgeng dan cinta terus bersemi menjalar sampai kapanpun…,
    smoga2 yg bujang2 juga ikut jejak bapak.., :)

    Reply
    • Amril Taufik Gobel

      Aamiin…Terimakasih ya Daeng Oprek :)

      Reply
  3. Selamat ultah perkawinan ke 14 semoga bahagia dan diberi umur panjang agar bisa mengantar buah hati ke gerbang kesuksesan. Aminnn.

    Reply
    • Amril Taufik Gobel

      Aamiin..terimakasih ya atas ucapan selamat dan doanya

      Reply
  4. semoga langgeng, menjadi tua bersama seperti animasinya

    Reply
  5. Kereeeen! Jadi agak terharu bacanya T.T

    Reply
  6. wah,,selamat ultah pernikahanny ya,,,semoga selalu bahagia sampai akhir,,amin

    Reply
  7. Happy wedding anniversary ya, Pak. Semoga langgeng dalam samara. Aamiin.
    Salam

    Reply
  8. So sweet..
    Happy Anniversary ya Pak..
    Langgeng n bahagia terus..

    Salam kenal..

    Reply
  9. Selamat ultah perkawinan ke 14 semoga bahagia dan langgeng sampai akhir hayat..

    Reply

1 Trackbacks/Pingbacks

  1. UlangTahun Perkawinan | Eshape Blogger Jogja 29 12 13

Add Your Comment