Tag Archives: potretmahakaryaindonesia

images (1)Telah lama kita menikmati setiap rasa yang mengalir

yang kerapkali merambati sekujur tubuh, saat kita bertemu

Bersama kaldu kokot yang kental dan lezat sate Madura, kita menyelami kenangan

pada sepinggan kangen yang dihidangkan bersama senja yang turun perlahan di Sumenep

Semesta dan cinta seakan bersekutu bersama

membentuk motif indah cemerlang laksana batik gentongan Tanjung Bumi

atau bagai ukiran menawan pada tepian gagang keris buatan pengrajin desa Aeng Tong-Tong

Kita menyaksikan segalanya dengan keharuan menikam kalbu

Read More…

1501261_10152061110298486_506449893_o

Hujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata disana : pantai Cemara Udang. Apa boleh buat karena kondisi cuaca tidak memungkinkan kami sepakat untuk membatalkan kunjungan kesana dan memilih untuk beristirahat di kamar hotel masing-masing.

Pukul 19.30, kami kembali berkumpul bersama-sama di Hotel Family Nur untuk kemudian menuju Cafe JBL yang letaknya tak jauh dari hotel kami untuk makan malam. Sesampai disana, ternyata hidangan sudah disiapkan di meja. Nampak sajian Tomyam, Udang Goreng Tepung, Ikan Bakar, Tumis Kangkung, serta kuliner bernuansa Seafood lainnya terhidang dan membuat kami tak sabar untuk segera menyantapnya 🙂

Read More…

DSCN7792

Seusai menunaikan Sholat Dhuhur di Masjid Jami’ Sumenep, rombongan kami kemudian bergerak ke kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep dan kerabatnya, Asta Tinggi, yang ditempuh kurang lebih 10 menit dengan bis. Asta Tinggi berdiri pada tahun 1644 M dan berada di desa Kebun Agung, 2,5 km arah Barat kota Sumenep. Lokasi ini berada di dataran tinggi dan direncanakan awalnya oleh Panembahan Somala lalu dilanjutkan pelaksanaannya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Sebuah gerbang besar berwarna kuning hijau menyambut kedatangan kami di bagian depan. Saya jadi teringat kompleks pemakaman Raja Gorontalo, Hubulo yang juga berada di dataran tinggi saat saya kunjungi tahun lalu.

Seperti diuraikan dalam buku “Asta Tinggi” karya Tadjul Arifin R yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupeten Sumenep, Kompleks Asta Tinggi dibagi menjadi 7 (tujuh) kawasan yakni Kawasan Induk yang terdiri atas 4 ruang/blok berisi 3 cungkup antara lain Cungkup Tumenggung Wirasekar dan Pangeran Pulangjiwo disebelah utara atau belakang, Cungkup Pangeran Jimat dan kerabatnya di depan dan Cungkup Bindara Saud, Ratu Tirtonegoro beserta kerabatnya di sebelah timur cungkup pangeran Jimat. Sementara itu Ruang/blok II terletak di sebelah timur bagian utara berisi cungkup berkubah adalah kuburan keturunan Bindara Saud. Di Ruang/blok III terletak di bagian barat berisi pendopo Bindara Saud sebagai prasasti tanpa tulis dalam peristiwa Patih Pulangjiwo. Dan yang terakhir Ruang/Blok IV terletak di sebelah timur bagian selatan  yang merupakan halaman utama juga disini terletak pintu gerbang utama untuk masuk ke kompleks Asta Tinggi. Ruang ini menghubungkan pada ruang III dan I, dengan melalui pintu gerbang bagian barat, dan menuju pada ruang II, dengan melalui pintu gerbang bagian utara.

Read More…

1477530_10152058681558486_1333993779_n

Matahari bersinar cerah, hari Sabtu (14/12), saat kami semua berkumpul di ruang makan Hotel Family Nur Sumenep. Badan saya relatif sudah terasa lebih segar, seusai sarapan dan tidur cukup setelah perjalanan panjang dari Surabaya, ke gerai batik gentongan Tanjungbumi hingga menonton pertunjukan tari topeng khas Madura tadi malam. Pagi itu, sebelum mengunjungi Keraton Sumenep, serta beberapa destinasi wisata budaya lainna, kami berkumpul sejenak untuk mendengarkan sharing dari budayawan muda mas JJ Rizal yang juga ikut dalam rombongan kami serta jumpa pers bersama teman-teman media.

Dibuka oleh mbak Adinda Kuntoro, perwakilan Dji Sam Soe-Sampoerna Group, pertemuan ini berjalan penuh nuansa kekeluargaan.Beliau mengungkapkan bahwa acara Cultural Trip ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan kompetisi foto dan blog Potret Mahakarya Indonesia. Selama 10 minggu berturut-turut sejak September 2013, dilaksanakan lomba blog yang mengambil inspirasi foto 24 finalis lomba foto Potret Mahakarya Indonesia. Pada minggu terakhir dipilih 4 blogger terbaik yang akan mengikuti acara Cultural Trip ke destinasi wisata budaya di Madura. Keempat blogger tersebut itu adalah saya, Dwi Ariyani alias Neng Biker, Syaifullah Daeng Gassing dan Danan Wahyu Sumirat.

Hadiah perjalanan wisata budaya ini sebagai bentuk apresiasi kepada para blogger serta diharapkan kelak mereka bisa menuliskannya kembali di blog masing-masing dan dibagikan secara luas kepada publik sebagai bagian dari upaya promosi wisata nusantara, khususnya daerah Madura. Pada kesempatan itu pula hadir Bapak Yasin Tofani Sadikin Brand Manager PT HM Sampoerna, Tbk yang khusus datang dari Jakarta tadi malam untuk mengikuti kegiatan ini.

Read More…

DSCN7584Senja melingkupi ibukota Kabupaten Sumenep saat rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya tiba. Bis yang membawa kami memasuki halaman hotel C1 tempat kami kelak akan menginap. Saya menyempatkan diri meluruskan pinggang setelah duduk di kursi bis selama kurang lebih 2,5 jam sejak berangkat dari Tanjung Bumi. 

Selain hotel C1, ada hotel Family Nur yang letaknya berseberangan juga digunakan sebagai tempat menginap rombongan kami. Kebetulan saya diberikan tempat satu kamar bersama mas Danan Wahyu–salah satu pemenang lomba blog Potret Mahakarya–dikamar 26. Saat memasuki kamar, kami berdua sempat saling berpandangan bingung, soalnya tempat tidur yang tersedia adalah King Bed berukuran besar bukan Single Bed terpisah. “Wah, jangan sampai tempat tidurnya roboh nih ditempati kita berdua,” kata saya berseloroh mengingat badan kami berdua sama-sama montok menggemaskan :).

Read More…

madura65

Perjalanan kami para peserta Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia terus berlanjut. Setelah makan siang di Bebek Songkem Bangkalan, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Tanjung Bumi. Sambil duduk di pinggir jendela, saya menikmati setiap detik perjalanan menyenangkan ini. Paduan antara kehijauan sawah, padang sabana, biru laut di pesisir pantai, menjadi pemandangan yang saya saksikan dari balik kaca jendela bis. Cuaca hari Jum’at (13/12) memang sungguh sangat bersahabat sehingga saya dapat menikmati panorama dengan lebih leluasa. Kurang lebih 1,5-2 jam perjalanan kami tempuh sampai akhirnya bis yang kami tumpangi memasuki gerai Zulfah Batik.

Kami diterima dengan ramah langsung oleh sang pemilik Zulfah Batik, Pak Alim ditemani sang isteri tercinta, di sebuah paviliun yang menjadi semacam ruang pamer batik, tak jauh dari rumah induk yang lumayan megah. Beliau kemudian menjelaskan bahwa budaya membatik merupakan warisan leluhur yang diturunkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Tanjung Bumi terletak di pesisir pantai, mempunyai sejarah yang lekat dengan perkembangan batik itu sendiri. Dahulu, sambil menunggu sang suami pulang berlayar ke negeri yang jauh, para perempuan Tanjung Bumi menghabiskan waktu luangnya dengan membatik.

Read More…

madura3

Saat sedang menjaga putri bungsu saya, Alya, yang sedang sakit Typhus di rumah sakit Harapan International Cikarang di pekan pertama Desember 2013, mata saya “tertancap” di situs Potret Mahakarya Indonesia, yang menampilkan nama saya sebagai salah satu dari 4 pemenang Grand Prize Kompetisi Blog yang dilaksanakan selama 10 minggu berturut-turut tersebut untuk berwisata budaya ke Madura .Saya memang berhasil memenangkan kompetisi blog di minggu kesembilan dan memang sama sekali tidak memiliki ekspektasi tinggi bisa memenangkan hadiah Grand Prize mengingat peserta kompetisi blog ini cukup banyak serta memiliki kualitas tulisan yang bagus pula. Makanya saya nyaris tak percaya atas apa yang saya lihat di monitor laptop!. Sampai-sampai sempat mengucek-ngucek mata, siapa tahu hanyalah ilusi optik belaka :). Tapi benar. Ini nyata. Saya memekik kecil dengan riang seraya mengepalkan tangan. Impian saya akan terwujud!.

Sudah lama sebenarnya saya memendam keinginan untuk mengeksplorasi lebih dalam suasana tradisi dan budaya di Madura yang konon memiliki karakter masyarakatnya nyaris sama dengan karakter khas masyarakat Makassar yang terkesan keras, berani dan dinamis. Saya jadi ingat Pak Koyyim, pengelola limbah kayu di kantor lama saya di PT Nofmas Chemical Industries Cibitung 13 tahun silam. Lelaki asal Bangkalan Madura ini saya kenal dekat karena biasanya mengambil kayu bekas yang kerap dipakai untuk support barang import didalam kontainer. Kayu-kayu bekas ini digunakan dan diolah Pak Koyyim menjadi furniture berkualitas tinggi di rumahnya yang sederhana di Tambun, Bekasi.

Beliau pernah menghadiahkan saya sebuah lemari kecil yang indah hasil buatan tangannya sendiri sesaat sebelum saya keluar dari perusahaan tersebut. “Ini lemari saya buat sendiri buat sampeyan, gak usah bayar, sebagai nang-kenangan supaya sampeyan sekeluarga biar bisa ingat terus sama saya, dan siapa tahu bisa sampeyan berkunjung ke kampung saya di Bangkalan, Madura,” kata Pak Koyyim dengan senyum tulus serta logat khasnya, dan tak pernah terlupakan hingga kini. Harapan Pak Koyyim–dan juga kemudian jadi harapan saya itu, kemudian bisa terwujud. Saya akhirnya bisa melancong ke Madura.

Read More…

May 2017
M T W T F S S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed