Tag Archives: Saberin

Kawan-kawan yang baik para penggemar Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) berjudul “Cinta dan Jalan Pulang Tak Bertepi”, dengan segala kerendahan hati dan rasa penyesalan yang mendalam, setelah melihat perkembangan beberapa waktu terakhir berupa respon interaktif pembaca yang kurang menggembirakan serta pertimbangan kesibukan saya dikantor yang meningkat tajam, saya memutuskan untuk tidak meneruskan proyek eksperimental “Saberin” di blog saya ini.

Semoga saja bila sempat dan tak diburu tenggat saya akan menyelesaikan sendiri episode-episode Saberin selanjutnya dalam bentuk novel. Mohon doa anda semua dan maafkan bila pada akhirnya, Saberin, harus berhenti sampai disini. Anda masih bisa membaca 4 episode awalnya di link ini.

Terimakasih atas atensi dan tanggapan anda semua yang telah berkunjung kesana.

goodbye.jpg

Putry memasuki salon langganannya yang terletak disebuah mal dengan wajah keruh. Gadis muda cantik bertubuh langsing, berkulit putih dengan rambut sebahu itu lalu memandang sekeliling salon. Terlihat 3 orang kapster sedang sibuk melayani pelanggan dan beberapa diantara mereka sedang duduk-duduk mengobrol disudut ruangan. Deru suara Hair Dryer terdengar berisik ditingkah tawa – canda kapster yang sedang istirahat atau menunggu pelanggan berikutnya.

Mata kejora Putry spontan berbinar, saat melihat kapster lelaki kemayu yang begitu dikenalnya. Ia berjalan beringsut menghampiri sosok yang sedang tertawa renyah itu menanggapi canda rekan-rekannya.

“Pssst…Dinda..sini,”panggilnya pelan.Sosok kemayu yang dipanggil Dinda itu menoleh dan dalam sepersekian detik,senyuman khasnya mengembang.

Ai-ai-ai-ai...apa kabar nih my darling ?. Tumben, datang lagi. Kan’ baru kemarin creambath disini say,” sahut Dinda heboh sembari mendaratkan ciuman ke pipi kiri dan kanan Putry.

“Ssst..jangan keras-keras. Kamu ada waktu nggak ?. Aku mau curhat kodong.”

“Kapan ? Sekarang ?” 

Putry mengangguk.

Dinda melirik jam tangannya kemudian dengan setengah berteriak ia meminta izin ke sang atasan yang sedang berdiri didekat meja kasir.

Wooii…Mbak Anie. Mau ka’ keluar sebentar na’?. Biasa ji, ada pelanggan setia salon kita yang mau nraktir makan dirikyu,” ujar Dinda sambil melirik genit ke Putry yang kemudian tersenyum rikuh.

“Iya nih, mbak Anie mau pinjam Dinda sebentaaaar ji saja. Boleh kan’ ?” pinta Putry dengan raut wajah se-memelas mungkin.

“OK. Jangan lama-lama lho ya. Sekalian tolong dong bungkuskan ka’  satu Juice Alpukat. Awas kalo nggak !” balas Mbak Anie seraya mengepalkan tinjunya kearah Dinda.

Embbheeer….” sahut Dinda memonyongkan bibirnya seraya menarik lengan Putry keluar salon. Mereka tertawa berderai.

Limabelas menit kemudian, keduanya telah berbincang serius sambil menyantap hidangan bakso disebuah kantin yang terletak tidak jauh dari salon.

Read More…

Ia berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun kepalanya. Panas dan membakar. Ia tidak peduli.

Made, lelaki itu, dengan dada telanjang dan otot berkilat keringat, menatap nanar kedepan. Kedua kakinya kuat mencengkeram ketanah tempat ia berpijak seperti akar pohon beringin yang kokoh tak tergoyahkan. Tangannya terkepal. Kedua ruas bahunya meregang kencang. Rahangnya mengeras. Tak ada rasa gentar dimatanya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.

Seberkas sinar menyilaukan mendadak datang dari kejauhan. Di ufuk cakrawala. Made memicingkan mata untuk lebih cermat melihat apa yang tengah terjadi saat itu. Cahaya pelangi muncul dari sana.

Indah. Bercahaya. Berpendar. Membiaskan warna-warni cerah. Membentuk lengkung ibarat “jembatan” yang mengarah kearahnya. Ke tempat ia berdiri.

Made terkesima. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Disana, dari kejauhan, perlahan tapi pasti, sosok gadis yang sangat dikenalnya muncul. Dalam balutan gaun putih berkibar dan rambut panjangnya bergerai ditiup angin. Anggun berjalan meniti pelangi. Seperti peri menyapa pagi. Seperti bidadari melukis hari.

“Andini..,”bisik Made lirih. Penuh rindu. Juga pilu.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar ceria. Ia lalu mengulurkan tangan kearahnya.

Made menyambut uluran tangan itu dengan gemetar. Senyumnya pun mengembang. Hatinya berbunga menyambut kebahagiaan yang siap ia reguk sepuasnya. Tanpa henti.

Tapi hal yang tak terduga terjadi. Tebing tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh. Pijakan kakinya goyah. Dan iapun jatuh dengan tangan menggapai-gapai tak rela. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha meraih tangan Made. Tapi sia-sia.

Made meluncur deras kebawah. Tak terbendung. Ia berteriak sekuatnya memanggil nama Andini. Gema suaranya memantul pada dinding-dinding tebing. Tubuhnya melayang. Menuju laut yang ganas menerjang dan karang yang tajam menghunjam.

Lalu semua menjadi gelap. Pekat. Hitam. Kelam.

Made terbangun dengan nafas tersengal. Perlahan ia menyeka bulir-bulir keringat didahinya. Sebuah mimpi buruk, umpatnya kesal.

Sementara itu, ratusan kilometer dari tempat Made, Andini terbangun dengan mimpi yang persis sama. Dalam remang kamar, Andini mendesah pelan. “Dia akan datang, dengan menawarkan kesempatan kedua”.

***

My Momma always said:

Life was like a box of chocholates

You never know

What you’re gonna get

-Tom Hanks, Forrest Gump,1994

Andini tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah “post-it” warna kuning disamping komputer Ira.

“Artinya dalem kan’?” ujar Ira seperti menebak arah fikiran kawan dekatnya itu.

Andini mengangguk.”Kamu koq sempat-sempatnya nulis dan pasang ungkapan konyol kayak gitu sih ? Di samping komputer lagi. Norak banget deh!” komentarnya lugas.

Ira terkekeh pelan.

“Lucu sekaligus mencerahkan, An. Membacanya tiap hari, membuatku untuk senantiasa merenung bahwa, dalam hidup ini apa yang kita jalani belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Seperti sekotak cokelat,” sahut Ira seraya menepuk pundak Andini.

“Yaa..paling tidak,”lanjutnya, “aku mesti berusaha agar apa yang aku capai dalam menjalani kehidupan cukup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Meski tidak persis-persis amat. Yang penting ada usaha ke arah sana. Dan itu, you know, membahagiakan”.

Andini manggut-manggut mafhum. Ira meraih kursi dan mempersilahkan Andini duduk disana. Ia sendiri memilih duduk dipinggir meja kerjanya tepat disamping kursi tersebut.

“Duduklah, say. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Wajahmu terlihat begitu kusut, tidak seperti Andini yang aku kenal dulu. Coba katakan mudah-mudahan aku bisa bantu,” kata Ira lembut.

Andini mendesah panjang dan segera duduk di kursi yang disodorkan sahabat baiknya itu. Read More…

Sebuah Diary tua bersampul biru.

Lelaki itu memandang lekat sampul catatan hariannya yang telah usang dengan lidah kelu. Setiap kali, saat membuka lembar demi lembar Diary tersebut, sontak seluruh tubuhnya bergetar hebat. Barisan-barisan kenangan seperti melintas cepat dihadapannya. Berpendar-pendar riuh, kadang cemerlang, kadang kelam dan membuat batinnya ngilu seketika.

Tapi ia berusaha menguatkan hati.

Terakhir kali ia membuka dan membaca kembali diary itu tahun lalu, saat menulis sesuatu disana. Untuk terakhir kalinya, setidaknya hingga saat ini.

Perlahan lelaki itu membuka lembaran paling belakang Diary birunya. Jemarinya bergetar dan lirih ia lantunkan kalimat demi kalimat yang tertera disana.

Perempuan Bermata Lembut, perkenankan aku menulis sepucuk surat yang mungkin tak akan pernah sampai padamu lewat diary ini. Ratusan bahkan ribuan bilah-bilah waktu telah berlalu, tak akan pernah membuat surat ini usang. Karena pada setiap bilangan huruf, kata dan kalimat yang tertera, senantiasa ada seberkas rindu yang membasuh dan membuatnya seperti baru kembali.

Sepanjang masa dan tiap kali musim berganti.

Meski untuk itu, selalu ada rasa perih yang mengiringinya.

“Sabda” Kahlil Gibran yang berkata, Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba, bagaikan mendapatkan pembenaran ketika sosokmu perlahan menghilang dibawah bentangan lazuardi bertabur bintang. Kepergianmu meninggalkan begitu banyak jejak luka dihati. Yang aku yakin, tak akan pernah kamu sadari. Bahkan ketika bayang-bayangmu memudar dipusaran waktu yang menderu, sementara aku tergugu ngilu dalam pilu.

“Jangan mencariku. Aku yang akan menemukanmu dengan cara yang tak akan kamu duga sama sekali,” katamu lirih. Dan desau angin malam membawa desir suaramu berlalu.

Juga senyummu.

Lelaki itu menghela nafas panjang. Ia menutup Diary yang telah usang dibekap waktu itu dengan hati remuk. Hujan masih belum reda.

Read More…

creationblearthsky.jpg

Lelaki itu mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat melalui kedua lubang hidung. Rimbun asapnya mengepul-ngepul disekitar ruangan. Aroma nikotin yang pekat begitu terasa diudara. Dan lelaki itu seperti berusaha menikmati kepulan-kepulan asap rokok yang berseliweran liar didepannya, tanpa peduli sedikitpun tanda “dilarang merokok” yang terpampang jelas di sudut ruang.

Lelaki itu lalu mematikan rokoknya yang belum benar-benar habis di asbak, lalu berjalan kearah jendela.

Diluar, hujan deras turun mengguyur bumi. Irisan-irisan air jatuh menerpa kaca jendela yang lalu membuatnya buram. Sesekali kilat terlihat menyambar di awan yang demikian pekat disaput mendung. Lelaki itu mendesah. Telunjuknya lalu ia tempelkan di atas permukaan kaca jendela yang lembab. Dingin dan basah. Begitu banyak kenangan yang pernah ia lalui bersama hujan.

Seperti dulu.

Read More…

 kesalahan-penulis-nubie2.jpg

Minggu ini saya akan mencoba sesuatu yang baru dalam kiprah per-blogging-an saya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang ada dan kemampuan menulis yang ala kadarnya, saya memulai sebuah eksperimen penulisan kisah fiksi yang saya namakan sebagai : Saberin atau Kisah Bersambung Interaktif. Konsepnya sama sekali berbeda dengan Cerita Estafet atau Cerfet yang dipopulerkan pertama kali oleh komunitas blogger Blogfam, yang juga beberapa kali saya ikuti. Karena disini hanya saya yang menjadi penulis tunggal.

Untuk pengenalan karakter tokoh dan mengintrodusir potensi konfliknya, pada episode pertama hingga ketiga, saya akan menulis tanpa melibatkan pembaca sebagai kontributor ide lanjutannya. Di episode keempat dan seterusnya, secara interaktif saya akan membuka kesempatan kepada setiap pembaca Saberin untuk berpartisipasi dan berkontribusi menyumbangkan ide lanjutan cerita kisahnya, melalui kolom komentar.

Read More…

March 2017
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge