
Saya sedang mengetik tulisan di ruang redaksi “Identitas” UNHAS tahun 1992
DALAM sebuah perbincangan santai saya bersama Budi Putra (Proffesional Blogger pertama di Indonesia dan CEO Asia Blogging Network), Syaifullah Daeng Gassing dan salah satu penggagas situs jurnalisme orang biasa Panyingkul, Kak Moch.Hasymi Ibrahim di food court Makassar Trade Center Karebosi, hari Sabtu sore 24 November 2007, kami tiba-tiba terkenang kembali pada jasa mesin ketik.
Benda itu begitu berharga terutama ketika, saya, Budi Putra dan Kak Hasymi memulai “karir” sebagai penulis beberapa tahun silam. “Suara mesin ketik yang kethak-kethok itu, justru membangkitkan imajinasi dan inspirasi untuk menulis. Seandainya saja suara ketikan di keyboard komputer sekarang bisa seperti itu,” ujar Budi Putra sambil tertawa berderai.
“Iya betul lho, suara tuts dan hentakan mesin ketik itu justru membuat kita semakin bersemangat menulis. Sungguh sangat beda dengan suara tuts keyboard komputer sekarang,” timpal Kak Hasymi yang juga adalah salah seorang penulis idola saya itu antusias.
Lamunan saya tiba-terlontar ke sekitar tahun 1990-an, ketika mesin ketik menjadi “senjata andalan” saya meraup rupiah dari hasil menulis. Karena rumah saya tepat di bagian belakang dari kantor ayah di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih VI Maros, maka saya kerap meminjam mesin ketik dari ruangan kerja ayah untuk menulis.
Aktifitas itu saya lakukan sore hari. Maka mesin ketik bergandaran besar dari kantor ayah saya usung kerumah dan bawa ke kamar. Lumayan beratnya, sekitar 10 kilogram, Tentu dengan lebih dulu meminta izin pada ayah saya. Biasanya, saya memulai mengetik tulisan seusai sholat Isya hingga tengah malam tiba.

Mengetik dirumah dengan mesin ketik bergandaran besar, tahun 1993
Pada awalnya, ayah, ibu dan adik-adik saya sempat keberatan dengan “tingkah aneh” saya ini, karena tentu saja menganggu kenyamanan tidur mereka dimalam hari. Tapi lama-lama mereka tidak protes lagi, selain karena kegiatan yang saya lakukan ini sudah menjadi sebuah ritual rutin harian (mungkin malah justru menjadi “nyanyian nina bobo” buat mereka..hehehe), juga tentu saja adik-adik saya sudah saya “sogok” dengan makanan serta kue-kue atau Majalah remaja (buat kedua adik perempuan saya) hasil honorarium penulisan saya di koran. Jadi protes mereka bisa diminimalisir.
Ibu sayapun sudah memaklumi “tabiat” begadang anak sulungnya. Kerapkali jika saya sedang asyik mengetik tulisan, segelas kopi panas beliau sajikan untuk saya serta mengingatkan agar jangan tidur terlalu malam.
Sayang anjuran beliau, jarang saya indahkan. Suara syahdu mesin ketik itulah yang membuat imajinasi dan inspirasi saya meluap-luap tanpa henti. Apalagi ditengah malam ketika suasana sunyi senyap, saya tak kuasa menghentikan keasyikan saya mengetik bahkan hingga azan subuh bergema. Suara mesin ketik yang kethak-kethok itu seperti “menyihir” pusat kesadaran saya, untuk terus berkreasi sampai lupa waktu.
Ah..jadi kangen suara mesin ketik.
Related Posts
ari Sabtu (26/9) saya berkesempatan hadir sebagai peserta dalam acara Pesta Wirausaha Bekasi 2015 (PWB2015) yang dilaksanakan di gedung UKM Center Cikarang Techno Park Kawasan Industri Hyundai Lippo Cikarang oleh ...
Posting Terkait
sia saya bertambah tepat ketika jarum jam berdentang duabelaskali di puncak malam. Empatpuluh Dua. Dan saya kembali merenungi berbagai kenangan dan kiprah yang sudah saya lewati sepanjang menjalani kehidupan hingga ...
Posting Terkait
Sungguh riang hati saya di bulan "kasih-sayang"ini. Beberapa rekan, baik dari Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri juga dari Majalah Online Blogfam mereview blog saya, sebagai wujud tanda kasih untuk saya. Thanks guys!
Kegiatan ...
Posting Terkait
Hari ini saya genap berusia 52 tahun. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT mengarungi kehidupan di dunia fana.
Berkesan sekali perayaan ulangtahun kali ini, tidak hanya karena saya merayakannya bersama ...
Posting Terkait
Mimpi itu dirajut di dua ruang "service shop" berlantai beton Sirkuit International Sentul, Jawa Barat, tahun 1996-1998. Dan saya, menjadi salah satu bagian dari para pemimpi itu : membangun industri ...
Posting Terkait
i penghujung Ramadhan 1434 H, Rabu (7/8), saya menikmati sajian sahur yang dibuat oleh isteri dan ibu saya dengan penuh rasa syukur. Betapa damai rasanya hati ini menyaksikan kedua orang ...
Posting Terkait
Thanks ya Chinca dan juga Monyet Pinter! :))
Posting Terkait
Hari ini, Senin 25 Januari 2010, wajah saya yang imut, montok, menggemaskan dan bersahaja itu nongol di iklan Kompasiana di Harian Kompas. Ini adalah kali pertama saya bergaya -- dengan ...
Posting Terkait
DALAM sejarah percintaan saya dari masa remaja di SMA hingga menyelesaikan kuliah, saya termasuk orang yang gagal melakoni indahnya romantisme itu. Saat masih SMA, seorang kawan yang memiliki reputasi sebagai playboy ...
Posting Terkait
khirnya, selesai sudah ajang GCC (Global Corporate Challenge) 2012 yang sudah saya ikuti selama 16 minggu berturut-turut mulai 24 Mei 2012 dan berakhir tanggal 12 September 2012. Seperti yang sudah saya ...
Posting Terkait
Keramahan khas Scotland tersirat diwajahnya saat menjabat tangan saya dengan hangat diruang kerjanya Gedung Aldevco Octagon Building lantai 2, suatu hari di bulan Juli 2001.
"Welcome Amril, my name Peter Fraser, ...
Posting Terkait
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia
elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya.
Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
Pagi belum sempurna benar melingkupi hari ketika kami sekeluarga bersiap mudik keYogya pada hari Senin (29/9). Kedua anak saya, Alya dan Rizky sudah siap dan sangat antusias menjajal pengalaman baru ...
Posting Terkait
Jejak lampau yang telah engkau lewati, anakku
menjelma serupa cahaya mengiringi langkahmu kedepan
seiring dentang usia dan gerimis November
serta pendar bening bola matamu menatap jauh
masa depan yang terbentang dan tak mudah
Seperti janji ...
Posting Terkait
Perhelatan akbar Blogger Seluruh Indonesia, Pesta Blogger 2010, memasuki tahap-tahap penting : Penentuan sang Ketua Panitia kopdar akbar yang tahun silam dihadiri oleh 1300 orang itu.
Di berbagai situs jejaring sosial, ...
Posting Terkait
resentasi dari SKK Migas yang dibawakan oleh Sulistya Hastuti Wahyu nampaknya menjadi salah satu materi yang ditunggu-tunggu oleh para peserta Lokakarya. Dalam presentasinya Sulistya yang juga adalah Vice President Management ...
Posting Terkait
PESTA WIRAUSAHA BEKASI 2015: MEMANTIK IDE, MERANGSANG
KATA MEREKA TENTANG BLOG SAYA
MIMPI ITU MENARI DI TIMORI
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (2) : MENIKMATI SENJA
TESTIMONI PENUH CINTA DARI CHINCA
TAMPIL SEBAGAI MODEL IKLAN KOMPASIANA
GCC 2012 BERAKHIR, KOMITMEN SEHAT DAN BUGAR TERUS
ANDERGAUGE, DALAM SEBUAH RUANG KENANGAN TAK TERLUPAKAN
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
MUDIK CERIA BERSAMA IDOLA CILIK, PETER PAN DAN
SEPERTI JANJI MATAHARI (Untuk Ananda Alya Dwi Astari)
CATATAN DARI LOKAKARYA ENERGI NASIONAL : KETAHANAN ENERGI
sa ingat dulu jari2 ku kapalan gara2 mengetik /menyalin satu buku ku yg dihilangkaN sepupuku..
sa ketik karena sa baru kursus 10 jari ehehehe
Daeng, di rumah saya sekarang suara mesin ketik terdengar lagi. Pasalnya anak pertama saya yang baru masuk UH (Agronomi) diharuskan menggunakan mesin ketik untuk menulis laporan dan tugas-tugas kuliahnya. Padahal di rumah ada komputer. Alasannya kata asdosnya biar tidak terjadi kasus co-pas oleh mahasiswa yang malas. Betul juga. Hidup mesin ketik!
lumayan tampan juga daeng amril sewaktu masih kuliah 🙂
hmm, jd inget mesin tik yg pertama, alhamdulillah skrg msh ada drmh, meski sdh tdk pernah lg dpake. Tapi emg bener, dulu klo dah bisa ngetik dgn lancar walo cmn pake mesin tik, rasanya bangga skali, keren skali mi bede. Rame kyk kelurahan..hehehe
wuih.. jadi ingat masa2 kuliah dulu khususnya pas waktu praktikum, semua laporan dibuat dengan mesin ketik …
alhasil jika masa praktikum tiba suasana Himpunan Mahasiswa Elektro yg dijadikan base waktu itu seakan menjelma menjadi kantor kelurahan, hehehe
hidup mesin tik…
apa jadinya kami tanpa mu :p
deh…gagahnya daeng battala waktu masih muda…
langsingki tawwa’
WAAAAAAAAAAAA
pernah ki kurus pade heuheuheuhe.. 😛
Pingback: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Merangkai Hari Di Perumteks
susah loh mas ngetik pake mesin itu… saya pernah sekali.. harus sabar2 aja… hihihi
dear all,
jika berkenan, saya ingin mengetahui tentang sejarah mesin tik yg daeng amril ketahui, ini berhubungan dengan sengketa tanah yg sementara saya dan keluarga alami, d mana terdapat salinan putusan di tahun 1959 yg menggunakan mesin tik. apakah d tahun itu penggunaan mesin tik d indonesia sudah ada?
Rupanya “alumni” pers kampus ya? Saya banyak kenal anak2 Identitas seperti M Dahlan Abubakar, Hamid Awaluddin (mantan Menkum HAM), Aidir Amin Daud (Dirjen AHU Kemenkumham), alm Andi Syahrir Makkuradde, sebab waktu kuliah di IAIN Alauddin saya juga masuk di jajaran redaksi sekalius reporter di pers kampus. Asyik memang mengetik di mesin ketik, itu sebabnya biar pun sudah era komputer dan saya masih eksis sebagai wartawan, mesin ketik menjadi kenangan manis seperti yang saya tulis di Kompasiana ini:
http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/09/21/inilah-harta-penunjang-saya-ketika-menulis-593772.html