FLASH FICTION : AKHIR SEBUAH MIMPI

bungee-jumping-2.jpg

Lelaki itu berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun kepalanya. Panas dan membakar. Ia tidak peduli.

Jamal, lelaki itu, dengan dada telanjang dan otot berkilat keringat, menatap nanar kedepan. Kedua kakinya kuat mencengkeram ketanah tempat ia berpijak seperti akar pohon beringin yang kokoh tak tergoyahkan. Tangannya terkepal. Kedua ruas bahunya meregang kencang. Rahangnya mengeras. Tak ada rasa gentar dimatanya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.

Seberkas sinar menyilaukan mendadak datang dari kejauhan. Di ufuk cakrawala. Jamal memicingkan mata untuk lebih cermat melihat apa yang tengah terjadi saat itu. Cahaya pelangi muncul dari. Indah. Bercahaya. Berpendar. Membiaskan warna-warni cerah. Membentuk lengkung ibarat “jembatan” yang mengarah kearahnya. Ke tempat ia berdiri.

Jamal terkesima. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Disana, dari kejauhan, perlahan tapi pasti, sosok gadis yang sangat dikenalnya muncul. Dalam balutan gaun putih berkibar dan rambut panjangnya bergerai ditiup angin. Anggun berjalan meniti pelangi. Seperti peri menyapa pagi. Seperti bidadari melukis hari.

“Tina..,”bisik Jamal lirih. Penuh rindu. Juga pilu.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar ceria. Ia lalu mengulurkan tangan kearahnya.

Jamal menyambut uluran tangan itu dengan gemetar. Senyumnya pun mengembang. Hatinya berbunga menyambut kebahagiaan yang siap ia reguk sepuasnya. Tanpa henti.

Tapi hal yang tak terduga terjadi. Tebing tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh. Pijakan kakinya goyah. Dan iapun jatuh dengan tangan menggapai-gapai tak rela. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha meraih tangan Jamal. Tapi sia-sia.

Jamal meluncur deras kebawah. Tak terbendung. Ia berteriak sekuatnya memanggil nama Tina. Gema suaranya memantul pada dinding-dinding tebing. Tubuhnya melayang. Menuju laut yang ganas menerjang dan karang yang tajam menghunjam.

Lalu semua menjadi gelap. Pekat. Hitam. Kelam.

Samar-samar Jamal mendengar Kahlil Gibran melantunkan sepotong syairnya:

“Cinta tidak menyadari kedalamannya,
Sampai ada saat perpisahan”

Jamal terbangun dengan peluh mengalir di sekujur tubuhnya. Nafasnya memburu. Ia lalu bergegas meraih segelas air disamping pembaringannya. Diteguknya dengan rakus sisa air yang ada digelas itu. Tak bersisa. Ia lalu mengatur nafasnya perlahan, mengembalikan kesadarannya hingga benar-benar pulih. “Mimpi yang aneh,” gumamnya gusar.

Ditatapnya foto Tina, kekasih tercintanya yang memilih pergi meninggalkannya dan bersanding bahagia bersama lelaki lain. “Dia lebih memahami perasaan perempuan dibanding kamu. Jadi, selamat tinggal, sayang,” ucap Tina padanya saat mereka terakhir bertemu. Dan Jamal hanya tergugu pilu menyaksikan punggung kekasihnya itu berlalu pergi ketika senja mulai merona.

Jamal menggigit bibir. Sembari menghela nafas panjang ia bangkit dan berjalan ke arah meja kerja dimana laptopnya berada. Ia menyalakan komputer dan tak lama kemudian lelaki itu sudah asyik berselancar didunia maya. Senyumnya tersungging saat ia baru saja selesai menulis email kepada sebuah perusahaan pengelola wisata bungee jumping yang khusus menyediakan fasilitas lompat dari pinggir tebing disisi laut. Isinya:

“Saya tertarik untuk ikut mendaftar sebagai peserta bungee jumping di tempat anda. Saya siap membayar berapapun juga asal dengan satu syarat : saya ingin melompat dengan memakai gaun wanita. Tertanda, Jamal”

Catatan:

Flash Fiction ini merupakan sebuah versi modifikasi dari Cerita Estafet Blogfam “Selebritiku, Pulanglah!”di episode ke-11 yang saya tulis bersama 4 penulis yang lain.

Foto diambil dari sini 

Related Posts
FLASH FICTION: AYAH
Memanggilnya Ayah, buatku sesuatu yang membuat canggung. Lelaki separuh baya dengan uban menyelimuti hampir seluruh kepalanya itu tiba-tiba hadir dalam kehidupanku, setelah sekian lama aku bersama ibu. Berdua saja. "Itu ayahmu ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
Sebuah pesan tampil atraktif di layar handphone ku. Dari Rita, pacarku dan ia dengan yakin menyatakan aku adalah pacar pertamanya. "Kapan bisa ketemu say? Bisa hari inikah?" Aku menggigit bibir, memikirkan jawaban yang ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
Dia baru saja menuntaskan tugasnya sore itu: melubangi kepala seorang boss besar dengan peluru yang ditembakkan olehnya dari jarak jauh, atas order boss besar yang lain. Dia puas menyelesaikan tugasnya dan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : DALAM PENANTIAN
Baginya menanti adalah niscaya. Karena hidup itu sendiri adalah bagian dari sebuah proses menunggu. Begitu asumsi yang terbangun pada benak wanita yang berdiri tegak kaku di pinggir pantai dengan rambut tergerai ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: DUKUN
Lelaki tua yang mengenakan blankon yang duduk persis didepanku menatapku tajam. Pandangannya terlihat misterius.  Kumis tebalnya menambah sangar penampilannya. Menakutkan. Aku bergidik. Dukun itu mendengus dan mendadak ruangan remang-remang disekitarku menerbitkan ...
Posting Terkait
Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah. Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
Menjelang berpisah, perempuan itu, yang sudah memiliki hatiku sepenuhnya, tersenyum samar. Pandangannya tajam namun mesra. "Kamu tetap sayang aku kan'?", tanyanya manja. Disentuhnya daguku pelan. Aku tersenyum. "Jawab dong, jangan hanya senyum doang",rengeknya. "Tentu ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
Berkali kali lelaki itu merutuki kebodohannya. Mengabaikan perasaannya paling dalam kepada perempuan sederhana namun rupawan yang dia sukai, hanya demi harga diri sebagai lelaki kaya, tampan dan terkenal--lalu kemudian, ketika semua ...
Posting Terkait
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya. Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : SEPERTI JANJIMU
Seperti Janjimu Kita akan bertemu pada suatu tempat, seperti biasa, tanpa seorang pun yang tahu, bahkan suamimu sekalipun. Kita akan melepas rindu satu sama lain dan bercerita tentang banyak hal. Apa ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: SAAT REUNI, DI SUATU WAKTU
Takdir kerapkali membawa keajaibannya sendiri. Seperti saat ini, menatap wajahnya kembali pada sebuah reuni sekolah menengah pertama. Paras jelita yang seakan tak pernah tergerus waktu, meski hampir setengah abad telah terlewati. Diajeng ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL
Perempuan itu memandang mesra ke arahku. Aku pangling. Salah tingkah. Dia lalu memegang lenganku erat-erat seakan tak ingin melepaskan. Kami lalu berjalan bergandengan tangan di sebuah mall yang ramai. "Aku selalu berharap ...
Posting Terkait
Dibawah ini adalah Flash-Fiction saya yang merupakan "modifikasi" dari salah satu posting saya dalam lanjutan cerita estafet (cerfet) forum blogfam yang berjudul "Bayang Hitam"  Nah..selamat menikmati: My Momma always said: Life was like ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PELET
Hancur!. Hatiku betul-betul hancur kali ini. Berantakan! Semua anganku untuk bersanding dengannya, gadis cantik tetanggaku yang menjadi bunga tidurku dari malam ke malam, lenyap tak bersisa. Semua gara-gara pelet itu. Aku ingat bulan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
Bangga rasanya menjadi anak seorang dukun terkenal di seantero kota. Dengan segala kharisma dan karunia yang dimilikinya, ayah memiliki segalanya: rumah mewah, mobil mentereng dan tentu saja uang berlimpah hasil ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: AYAH
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
FLASH FICTION : DALAM PENANTIAN
FLASH FICTION: DUKUN
FLASH FICTION : CERMIN TOILET
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
FLASH FICTION : SEPERTI JANJIMU
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
FLASH FICTION: SAAT REUNI, DI SUATU WAKTU
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL
FLASH FICTION : KESEMPATAN KEDUA
FLASH FICTION: PELET
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.