FLASH FICTION : CERMIN TOILET

Aku menatapnya. Takjub.

Dia menatapku. Marah.

Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.

Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya.

“Kenapa aku tidak pernah terlihat cantik saat bercermin ?,” rutuknya sembari menatapku kembali dengan mata menyala. Bekas-bekas bedak dan lipstick terlihat berlepotan diwajahnya.

Ah, kalau saja aku bisa meraih pipinya yang ranum lalu menepuknya lembut, maka akan kukatakan padanya, “Kamu sudah cantik. Sangat cantik malah. Meski tanpa polesan kosmetik apapun diwajahmu”.

Wanita itu menghela nafas panjang dan dengan gerakan kaku ia mengambil tempat bedak dari tas lalu memoleskannya kembali dipipi. Pelan. Penuh perasaan.

Aku menikmati ritual ini dengan antusias. Gerak gemulai tangannya saat memoles bedak mengingatkanku pada konduktor orkestra yang memainkan tangannya memandu lagu dengan elegan. Aku terkesan.

Begitupun saat ia memberikan sentuhan terakhir lipstick pada bibirnya. Ibarat seorang maestro lukis menambahkan tambahan warna menyolok diatas kanvas lukisannya. Berkali-kali ia memandangku untuk memastikan bahwa ia sudah cukup cantik dengan polesan kosmetik yang baru.

Mendadak pintu toilet terbuka lebar dan seorang lelaki muda bergegas masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu di depan wastafel toilet.

Ia mengernyitkan dahi, sebersit keraguan terpancar dimatanya.

“Apakah…saya salah masuk toilet ?,” tanya lelaki itu gusar.

“Tidak. Anda tidak salah masuk,” sahut wanita itu berusaha menata kegugupan yang menderanya. Dengan cepat ia merapikan kosmetiknya yang berserakan dan memasukkannya ke tas lalu beranjak keluar menuju pintu.

Lelaki itu hanya berdiri mematung. Tak percaya.

“Ini memang toilet lelaki. Nama saya Isman. Tapi biasa juga dipanggil Nana. Nana Sudonna,” tambah wanita itu yang kemudian melesat keluar dan hilang dibalik pintu. 

Related Posts
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
Berkali kali lelaki itu merutuki kebodohannya. Mengabaikan perasaannya paling dalam kepada perempuan sederhana namun rupawan yang dia sukai, hanya demi harga diri sebagai lelaki kaya, tampan dan terkenal--lalu kemudian, ketika semua ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PELET
Hancur!. Hatiku betul-betul hancur kali ini. Berantakan! Semua anganku untuk bersanding dengannya, gadis cantik tetanggaku yang menjadi bunga tidurku dari malam ke malam, lenyap tak bersisa. Semua gara-gara pelet itu. Aku ingat bulan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
Hening. Sunyi. Di ujung telepon aku hanya mendengar helaan nafasnya yang berat. "Jadi beneran mbak tidak marah?", terdengar suara adikku bergetar. "Lho, kenapa harus marah?", sergahku gusar "Karena Titin melangkahi mbak, menikah lebih dulu,"sahutnya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Istriku uring-uringan dan mendadak membenciku dua hari terakhir ini. "Aku benci tahi lalatmu. Tahi lalat Rano Karnomu itu!" cetusnya kesal. "Pokoknya, jangan dekat-dekat! Aku benciii! Benciii! Pergi sanaa!", serunya lagi, lebih galak. Aku ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : SEPERTI JANJIMU
Seperti Janjimu Kita akan bertemu pada suatu tempat, seperti biasa, tanpa seorang pun yang tahu, bahkan suamimu sekalipun. Kita akan melepas rindu satu sama lain dan bercerita tentang banyak hal. Apa ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : ROBOT
Seperti yang pernah saya lakukan diblog lama, saya akan menayangkan karya flash-fiction saya diblog ini secara teratur, paling tidak minimal 2 minggu sekali. Contoh koleksi flash-fiction lama saya bisa anda lihat ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
Menjelang berpisah, perempuan itu, yang sudah memiliki hatiku sepenuhnya, tersenyum samar. Pandangannya tajam namun mesra. "Kamu tetap sayang aku kan'?", tanyanya manja. Disentuhnya daguku pelan. Aku tersenyum. "Jawab dong, jangan hanya senyum doang",rengeknya. "Tentu ...
Posting Terkait
Dibawah ini adalah Flash-Fiction saya yang merupakan "modifikasi" dari salah satu posting saya dalam lanjutan cerita estafet (cerfet) forum blogfam yang berjudul "Bayang Hitam"  Nah..selamat menikmati: My Momma always said: Life was like ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: DUKUN
Lelaki tua yang mengenakan blankon yang duduk persis didepanku menatapku tajam. Pandangannya terlihat misterius.  Kumis tebalnya menambah sangar penampilannya. Menakutkan. Aku bergidik. Dukun itu mendengus dan mendadak ruangan remang-remang disekitarku menerbitkan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TUNTUTAN
Lelaki itu duduk didepanku dengan wajah tertunduk lesu. Terkulai lemas diatas kursi. Mendadak lamunanku terbang melayang ke beberapa tahun silam. Pada lelaki itu yang telah memporak-porandakan hatiku dengan pesona tak terlerai. Tak hanya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
Sebuah pesan tampil atraktif di layar handphone ku. Dari Rita, pacarku dan ia dengan yakin menyatakan aku adalah pacar pertamanya. "Kapan bisa ketemu say? Bisa hari inikah?" Aku menggigit bibir, memikirkan jawaban yang ...
Posting Terkait
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya. Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: SAAT REUNI, DI SUATU WAKTU
Takdir kerapkali membawa keajaibannya sendiri. Seperti saat ini, menatap wajahnya kembali pada sebuah reuni sekolah menengah pertama. Paras jelita yang seakan tak pernah tergerus waktu, meski hampir setengah abad telah terlewati. Diajeng ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL
Aku meradang. Merah. Juga bernanah. Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni. Sang pemilik bokong tampaknya kurang merasa nyaman atas kehadiranku. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL
Perempuan itu memandang mesra ke arahku. Aku pangling. Salah tingkah. Dia lalu memegang lenganku erat-erat seakan tak ingin melepaskan. Kami lalu berjalan bergandengan tangan di sebuah mall yang ramai. "Aku selalu berharap ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
FLASH FICTION: PELET
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
FLASH FICTION : SEPERTI JANJIMU
FLASH FICTION : ROBOT
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
FLASH FICTION : KESEMPATAN KEDUA
FLASH FICTION: DUKUN
FLASH FICTION: TUNTUTAN
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
FLASH FICTION: SAAT REUNI, DI SUATU WAKTU
FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.