SAHABAT, KEKAYAAN NYATA BAGI JIWA

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti dipenuhi

Dialah Ladang Hati, yang kau taburi dengan kasih dan

Kau panen dengan penuh rasa terimakasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.

Karena kau menghampirinya saat hati lapar dan

mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.

–Kahlil Gibran, Persahabatan

Nasehat dua kawan saya, 16 tahun silam, yang menyajikan dua perspektif dan cara penyampaian berbeda untuk sebuah masalah yang sama, sungguh membuat hati saya lega. Esensi sebenarnya dari “kelegaan” yang saya maksud itu, adalah pada sikap empati dan peduli mereka terhadap sahabat baiknya yang sedang gundah gulana. Se-tidak simpatik apapun caranya mengungkapkan.

Kawan saya yang satu, dengan kemampuan mendengar dan menganalisa yang baik memberikan saya jalan keluar yang elegan, komprehensif dan santun untuk mengatasi persoalan hati ketika saya diputuskan secara sepihak oleh pacar saya (baca di “Sepasang Telinga, Seluas Samudera”), sementara pada kawan saya yang satunya lagi, untuk masalah yang sama, justru sebaliknya. Malah mencecar saya habis-habisan karena telah mengabaikan nasehatnya dulu untuk lebih banyak memberi perhatian pada sang pacar yang telah mem-PHK saya secara sepihak itu ketimbang mengurusi aktifitas kegiatan kemahasiswaan (baca di “Love at The First Voice”). Kawan saya yang satu ini memang dikenal dengan gayanya yang lugas dan ceplas-ceplos, selain reputasinya sendiri sebagai seorang playboy kampung. Tapi saya tahu, meski gayanya “nyeleneh” dan “slebor”, ia adalah orang yang tulus dan tak suka berpura-pura.

Semula, saya sangat meyakini dapat melalui cobaan itu dengan hati lapang dan tabah. Merelakan dirinya pergi dan menjalani hidup mengalir apa adanya, seperti biasa. Tapi ternyata tidak. Saya tak sekuat yang saya duga. Sepanjang malam saya tak bisa tidur merenungi kebodohan yang telah saya lakukan. Saya menyesal dan mengutuki diri sendiri atas kesalahan fatal yang sudah saya perbuat itu apalagi upaya saya untuk “rekonsiliasi” dan memohon maafnya sia-sia belaka. Semua hancur. Berkeping-keping dan hanya menyisakan serpih-serpih kecil disudut sanubari. Sakit sekali.

Akhirnya di keterpurukan hati yang kian dalam serta kesedihan yang menusuk jantung, saya mendatangi kedua sahabat saya tadi : membagi beban yang saya pikul dan mencari pencerahan terbaik dari mereka. Dan sungguh, setelah menerima kata-kata mereka–sepahit apapun caranya mengungkapkan–perasaan saya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah tepukan hangat dipundak yang dibarengi senyum manis sahabat, segera melerai gundah di hati. “Jangan sedih saudaraku, selalu ada hikmah terbaik di balik setiap peristiwa. Anggap saja apa yang kau alami sekarang adalah bagian dari prosesmu menjadi dewasa, menjadi lebih kuat lagi menghadapi tantangan hidup dimasa depan, ” ucap kawan saya lembut. Saya merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka.

Kita terkadang pernah merasa setangguh seperti yang selama ini kita banggakan, Sekuat seperti apa yang kita bayangkan. Sehebat seperti yang kita kira. Bahkan dengan pongah, kita mungkin pernah merasa mampu menanggulangi dan menaklukkan segala persoalan apapun yang dihadapi, sendirian. Tanpa perlu bantuan siapapun juga.

Padahal sesungguhnya, kita sendiri, dibalik semua kebanggaan, prasangka diri dan kehebatan yang sudah kita gembar-gemborkan dan pamerkan kemana-mana bisa jadi justru memiliki jiwa yang rapuh dibaliknya. Semuanya hanyalah sebuah “fatamorgana” semu dari sebuah kelemahan diri kita sebagai manusia biasa. Bisa dikatakan, seseorang menjelma menjadi seorang manusia yang sombong ketika ia sama sekali tak mengharapkan sosok sahabat sejati mengiringi langkahnya, walau hanya dengan sebait kecil alunan doa sekalipun.

Fitrah kita sebagai manusia biasa, tentu tak lepas dari kesalahan dan acapkali justru terjerumus dalam dunia maksiat bergelimang dosa. Kehadiran sahabat sejati dapat menjelma serupa cahaya yang menerangi hidup, yang mengingatkan kita saat khilaf, yang menyediakan bahunya untuk tangisan kita sewaktu bersedih, yang memberikan jalan keluar terbaik (tentu dengan segala keterbatasannya sebagai manusia) bagi setiap persoalan, yang menjadi teman tertawa saat kita bahagia, yang menghibur kita saat sedang berduka. Mereka hadir saat kita jaya maupun sengsara.

Ketika musibah anak saya Rizky tersiram air panas pada Agustus 2007 silam terjadi, keharuan terasa menyesak dada. Inbox Handphone saya sampai penuh oleh SMS sahabat-sahabat saya yang turut menyatakan keprihatinan atas kejadian yang menimpa putra sulung saya itu. Tak terhitung sudah beberapa kali saya menerima telepon dari sejumlah sahabat yang mengungkapkan keprihatinan serupa dan meminta saya tetap sabar serta tawakkal menghadapi cobaan ini. Belum lagi kunjungan langsung ke rumah sakit dimana Rizky dirawat. Bagi saya bentuk perhatian tulus dari para sahabat saya ini membuat batin saya menjadi lebih kaya. Jauh lebih berharga dari nilai materi. Sahabat yang saya miliki adalah salah satu harta yang paling nyata untuk jiwa.

Ajaran Islam secara gamblang memberikan penjelasan tentang pentingnya membina persahavbatan dan menjalin persaudaraan yang kokoh. Dalam sebuah hadis yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah menyebutkan salah satu di antaranya adalah, “Dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim). Dan di dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, berhak atas kecintaan-Ku ….” (HR Malik dan Ahmad).

Kini, saya memaknai sahabat-sahabat saya di alam nyata (rekan kantor, rekan alumni, tetangga, dll).dan maya (928 sahabat saya di Facebook, mailing list, pengunjung blog, kontak di Microblogging, dll) sebagai sebuah kekayaan jiwa yang berharga. Tentu termasuk beberapa orang caleg yang meng-add saya sebagai kawan walaupun saya tidak berada di daerah pemilihan yang sama. Mereka semua sahabat-sahabat saya, yang bersama-sama mengarungi hidup dan kehidupan.

Saya jadi ingin berdendang lagu “Arti Sahabat” yang dinyanyikan dengan indah oleh salah satu band favorit saya, Nidji sebagai manifestasi terimakasih telah menjadi sahabat saya:

tak mudah untuk kita hadapi
perbedaan yang berarti
tak mudah untuk kita lewati
rintangan silih berganti
kau masih berdiri
kita masih di sini
tunjukkan pada dunia
arti sahabat
kau teman sejati
kita teman sejati
hadapilan dunia
genggam tanganku
tak mudah untuk kita sadari
saling mendengarkan hati
tak mudah untuk kita pahami
berbagi rasa di hati
kau adalah..
tempatku membagi kisahku
kau sempurna
jadi bagian hidupku
apapun kekuranganmu

 

Related Posts
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2010
Januari 2010 Hari ini, Senin 25 Januari 2010, wajah saya yang imut, montok, menggemaskan dan bersahaja itu nongol di iklan Kompasiana di Harian Kompas. Ini adalah kali pertama saya bergaya — dengan ...
Posting Terkait
Ustadz Syuhada Memimpin Pengajian
abtu malam, 9 April 2011, bertepatan dengan perayaan ulang tahun saya ke 41, kami sekeluarga berinisiatif melaksanakan pengajian/pembacaan surat Yaasin di rumah sebagai wujud rasa syukur, selain atas bertambahnya usia ...
Posting Terkait
MELEPAS CEMAS DAN MELERAI GEMAS BERSAMA BUS AGRA MAS
erjalanan menuju ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta kerap kali kami lakukan. Biasanya moda transportasi kereta kami gunakan namun dengan diresmikannya tol baru yang memungkinkan akses menuju kampung halaman ...
Posting Terkait
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
  “Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you ...
Posting Terkait
Perjalanan lahirnya buku “Sop Konro untuk Jiwa” ini berawal dari keinginan anggota komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri (www.angingmammiri.org) untuk mempersembahkan tulisan-tulisan inspiratif pembangun dan penyemangat yang mampu mencerahkan jiwa guna ...
Posting Terkait
BERAKSI DI WORDCAMP, NAMPANG DI DETIK.COM
Wah..tak disangka, foto saya tengah mengetik di laptop dalam acara wordcamp hari ini, jadi berita di Detik dot com Bisa baca di:sini Berita soal ini, menyusul ya..masih capek nih
Posting Terkait
NIKMATI KEHANGATAN KOTA MAKASSAR DENGAN RENTAL MOBIL YANG HANDAL DAN TERPERCAYA
erkunjung ke kota kelahiran, Makassar kerapkali saya lakukan baik untuk keperluan pribadi maupun dinas kantor. Dalam setiap kunjungan tentunya saya membutuhkan fleksibilitas mobilisasi untuk alasan efektifitas, kemudahan dan kenyamanan. Rental ...
Posting Terkait
ANGINGMAMMIRI UNTUK ACARA WORDCAMP INDONESIA
ANGINGMAMMIRI.ORG berkontribusi untuk kegiatan bertaraf internasional: WordCamp Indonesia 2009 - Jakarta, 17-18 Januari 2009. WordCamp Indonesia 2009 adalah ajang kumpul dan diskusi para pengguna, pengembang dan orang-orang yang antusias pada Wordpress, salah blog ...
Posting Terkait
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA DJALIL
Judul Buku : Cintaku Lewat Kripik Balado Penulis : Linda Djalil Prolog : Putu Wijaya Epilog : Jodhi Yudono Penerbit : Penerbit Buku Kompas , Juni 2011 Halaman : xii + 244 Halaman Ukuran : 14 ...
Posting Terkait
MENEMANI AYAH MEROKOK
aya selalu merindukan "ritual" unik itu. Duduk di beranda, menemani ayah merokok. Didepan kami, sejumlah bunga dan tanaman kesayangan ayah tertata rapi di pot bunga. Kala malam mendekati pucuknya, lalu ayahpun ...
Posting Terkait
MENJAJAL WIMAX YANG MENAKJUBKAN DI PUSPITEK
"Yaa.. ampun, ini download Quicktime dan i-tune sebesar 70 MB hanya satu menit saja sudah masuk ke hard disk laptop!", kata Pak Eko Eshape kawan seperjalanan saya sesama blogger Kompasiana, ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2011 (7) : JELAJAH SITU BEKASI & TAMAN BUAYA CIBARUSAH
atahari seakan "membakar" Cikarang dengan teriknya yang menyengat saat Rombongan peserta Amprokan Blogger 2011 bergerak menuju lokasi kunjungan berikutnya dari Jababeka Cikarang menuju Situ Bekasi yang berada di Kec.Serang Kabupaten ...
Posting Terkait
SUNGGUH TAK MUDAH MENJADI AYAH
MENJADI ayah sungguh sangat tidak mudah. Terutama ketika mengatasi pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari Putra sulung saya, Rizky. Bocah yang akan memasuki usia kelima tanggal 25 November nanti ini nampaknya memang ...
Posting Terkait
KETIKA RIZKY MENJALANI OPERASI USUS BUNTU
ada Rabu siang (11/11), anak tertua saya Rizky yang baru pulang sekolah mengeluh sakit pada perutnya di bagian sebelah kanan bawah kepada sang bunda. "Ma, sakit sekali kalau jalan, lari ...
Posting Terkait
Saya dan kawan-kawan panitia Pesta Blogger 2009 saat ajang perkenalan panitia dipimpin oleh Mas Iman Brotoseno (24/10/09)
Untuk kedua kalinya, saya terlibat dalam kepanitiaan Pesta Blogger. Tahun silam, saya bergabung dengan Tim Panitia yang dipimpin oleh Mas Iman Brotoseno yang mengangkat tema "One Spirit One Nation". Pada Pesta ...
Posting Terkait
MEMAKNAI RASA SYUKUR
Di atas bis saat berangkat kerja tadi pagi, saya sempat tersenyum-senyum sendiri membaca kisah berjudul "Bersyukur dan Bersabar" yang ditulis oleh Makmun Nawawi pada buku kompilasi tulisan Hikmah REPUBLIKA bertajuk ...
Posting Terkait
MY BLOGGING KALEIDOSKOP 2010
KEJUJURAN KUNCI KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA
MELEPAS CEMAS DAN MELERAI GEMAS BERSAMA BUS AGRA
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
“SOP KONRO BAGI JIWA”, BUKU KEDUA KOMUNITAS BLOGGER
BERAKSI DI WORDCAMP, NAMPANG DI DETIK.COM
NIKMATI KEHANGATAN KOTA MAKASSAR DENGAN RENTAL MOBIL YANG
ANGINGMAMMIRI UNTUK ACARA WORDCAMP INDONESIA
NARASI KERESAHAN YANG LUGAS DAN PUITIS ALA LINDA
MENEMANI AYAH MEROKOK
MENJAJAL WIMAX YANG MENAKJUBKAN DI PUSPITEK
AMPROKAN BLOGGER 2011 (7) : JELAJAH SITU BEKASI
SUNGGUH TAK MUDAH MENJADI AYAH
KETIKA RIZKY MENJALANI OPERASI USUS BUNTU
JADI PANITIA PESTA BLOGGER (LAGI)
MEMAKNAI RASA SYUKUR

One comment

  • Apa yang pak daeng sebarkan, pak daeng sendiri akan memetik hasilnya. Saya pikir karena budi dan ahklak pak daeng juga sehingga bisa menemukan banyak sahabat. kalo kita punya pribadi yang ga baik, kayaknya kita juga akan susah untuk mendapatkan sahabat atau teman yang banyak. saya sendiri susah untuk mendapatkan teman sebanyak teman pak daeng. saya pernah melayat teman saya, begitu banyaknya orang yang mengantar ke pemakaman, dalam hati saya, berarti orang ini baik sekali, sehingga banyak yang mendoakannya. Semoga itu yang terjadi pada kita saat meninggal nanti.

    –Terimakasih Mbak, Insya Allah saya ikut mengaminkan harapannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.